Nourma

Nourma. Gadis berbulu mata lentik itu namanya Nourma. Tatapannya sejuk dan halus budinya. Segala tentang Nourma bagaikan galon dengan isinya, yang kucari hanya dikala aku dahaga. Ketika ingat galon, ingat Nourma. Ketika ingat Nourma, ingat galon juga. Kejam? Itu bukan cinta? Mungkin memang itu bukan cinta. Namun tak kan mungkin aku dapat mendustakan kebenarannya.

Tamat
.

Jembatan Kehidupan

July, 15th 02:35 PM

“Halo? 30 Menit lagi aku sudah berada di stasiun.”

Laki-laki itu melihat arloji hitam di tangan kirinya kemudian melirik pada secarik kertas bernomor 49, nomor urut antriannya. Ia menghela dan menahan nafas lebih lama dari waktu yang diperlukan oleh jarum detik untuk bergerak dari angka 7 menuju angka 8.

“Hemm baiklah, kita segera bertemu di sana.”

July, 15th 04:15 PM

Di dalam stasiun, di depan loket, pada barisan kursi-kursi kosong, seorang perempuan terlihat sedang duduk, wajahnya kusam kelelahan, dan ia tampak sangat kesal. Ada banyak orang di stasiun itu, namun ia memilih untuk mengasingkan diri bersama carrier besarnya. Ia telah lama menunggu seseorang yang berjanji untuk menjemputnya. Beberapa saat yang lalu ia tampak gembira tiba di stasiun kota itu. Ia memandang kesana-kemari mencari-cari dari arah mana penjemputnya kira-kira akan tiba, ia bahkan telah memilih tempat yang paling strategis agar keberadaannya mudah di temui; di lorong stasiun yang paling dekat dengan tempat parkir. Namun setelah meneit-menit yang terlalu lama bagi orang yang paling sabar sekalipun untuk menunggu dan menyadari tak seorangpun datang menjemputnya ia menjadi begini; duduk menahan amarah dan menjadi cuek, jutek dan sangat judes terhadap semua orang yang berada di sekitarnya.

Continue reading

Menulis Membuatku Bersyukur

Hallo Amigos! Lama sekali tidak jumpa di jejakandi ini. Bagaimana kabarmu? Kuharap selalu baik-baik saja. Di hari terakhir bulan Februari ini, aku menyempatkan diri untuk meng-update jejakandi. Well Amigos, sepanjang hari ini langit begitu mendung, dan masih sama seperti beberapa bulan terakhir ini: musim hujan masih berpadu dengan musim untuk merindu. Berbeda dengan tetesan yang jatuh dari langit yang cair dan kemudian mengalir bahkan memenuhi sungai-sungai dengan luapan-luapan yang begitu deras, rindu ini masih menggumpal dan membeku. Rindu ini menjadi semakin kuat oleh gerimis yang jatuh dan kelabu langit yang masih pekat.

writing-diary
Sumber gambar klik di sini

Bertahun-tahun aku selalu tenggelam di bulan Januari dan Februari. Meskipun air mata tak pernah jatuh dari pelupuk mataku, namun seiring hujan yang masih selalu deras aku menangis begitu hebat di tahun-tahun yang telah lewat. Tangisanku selalu begitu kuat di bulan Januari dan Februari. Namun tidak di tahun ini. Tahun ini aku berhasil mengatasi trauma dari kegelapan yang terbawa dari masa lalu dengan sangat baik. Beruntung sekali ketika aku menangis aku masih selalu bisa menjaga kestabilan.

Kau tahu, Amigos? Apa yang membuatku tetap stabil ketika aku dalam tangisan terhebatku di tahun-tahun yang telah berlalu? Aku melaluinya dengan menulis. Bravo! Kali ini aku berhasil membuktikan ucapan Leonhardt yang aku kutip bertahun-tahun yang lalu.

“Menulis juga dapat melepaskan diri dari permasalahan. Salah satu poin penting dalam menulis adalah dapat membantu mengatasi trauma masa lalu. Menulis akan menjaga kesetabilan mengarungi masa-masa sulit secara aman. Kebiasaan membuat catatan harian atau berusaha memfokuskan pengalaman ke dalam cerpen atau puisi, bisa menjadi bagian penting dari pemulihan seseorang (Leonhardt, 2002).”

Banyak hal telah aku tulis di dalam buku catatan harian, di komputer dan di twitterku @anndyriyan. Aku tidak pernah berpikir akan jadi apa tulisan-tulisanku kelak, tapi setelah menulis selama bertahun-tahun kini aku yakin bahwa ada banyak hal yang bisa aku pelajari dari tulisanku sendiri. Sekarang perkenankanlah aku menuliskan kembali kutipan dari seorang Nazril Ilham : “Tulislah apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang, tidak harus secepatnya berguna suatu hari nanti pasti akan memiliki arti.”

Well Amigos! Selamat hari Selasa, selamat menikmati sisa hari terakhir di bulan Februari tahun 2017 ini. Aku berharap pada Tuhan semoga hari kita selanjutnya selalu berlimpahan inspirasi sehingga kita selalu bisa memaknai kehidupan ini dengan penuh rasa syukur, selalu. Sebab, hidup ini hanyalah tentang rasa syukur dan bagaimana cara mensyukurinya (andyriyan, 2015).

At last but not the least, ini dari QS Ibrahim: 7

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 

Masih Hujan Dengan Segala Rasanya

I came to arrive and be unity with the fall. Under those pouring rain I infilterate in theme of music which singing a song of the world of old. I die in longing for the love I hold and none left but skin and bones. —Andyriyan—

Hujan masih merinai-rinai di hari terakhir bulan September itu. Di desa hujan, Duri, aku tertahan dan terjebak dalam kekosongan. Pada setiap kekosongan—seperti halnya pada sebuah benda yang berongga—ada sebuah selimut yang menyelubunginya. Dan aku tertahan pada kekosongan di ruang-ruang hampa itu tanpa sekalipun batas pikiranku pernah mampu menembus selimut-selimut di suatu tempat di alam semesta.

Aku jelas tidak akan mungkin memahami keseluruhan hidup ini, tapi aku adalah lelaki yang menjadi semakin baik setiap harinya. Aku melewatkan beberapa kesempatan, memang. Dan kesempatan tidak terulang untuk yang kedua kalinya.Tapi aku bisa membuat kesempatan datang berkali-kali. Sebab, aku tumbuh setiap harinya untuk menyelami tidak hanya apa yang ada melainkan juga makna padanya.

I arrive with butterflies. They sing me a song. The changed worlds coming. I sleep in peace between the stars. –Andyriyan–

img_1912
Masih hujan dengan segala rasanya

Kini; Duniaku yang begitu lembut, sungguh aku sangat menyukainya. Berbaring di sana seolah hanya menghabiskan waktu yang tersisa sebelum usia senja datang menyapa. Kabut-kabut kelabu dengan dingin yang menyatu pada butiran hujan, melingkar dan menggantung di awang-awang tanpa benang di setiap ku memandang.

Duniaku yang membentang tidak hanya terdefinisi pada rentang terbit matahari hingga senja datang melainkan, seluruh waktu yang menjejak tepat dalam imajinasiku. Tidak ada langkah yang terlambat atau terlalu awal. Duniaku adalah putaran dalam lingkaran, sudut tak berbatas, dan jari-jari-nya dapat direntangkan. Semua mimpi yang sejuk dalam sepi dan semua angan yang melampaui kenangan ada dalam lapisan kenyataan dan melampaui senandung tentang hujan. Semua pilu di dunia itu adalah seni kehidupan, dan setiap seni kehidupan memiliki maknanya. Kau harus tahu Amigos!. Berkawan dengan bintang adalah kemesraan paling menjanjikan dan cinta adalah kenyataan paling memilukan. Seperti hujan yang sama namun memiliki rasa yang berbeda, atau seperti rasa yang sama ketika butiran-butiran itu jatuh untuk mencumbu bumi dalam keadaan yang sama sekali berbeda.

Berikut akan kuceritakan padamu, Amigos. Tentang kenyataan yang menceritakan lagu-lagu dari dunia purba, yang aku hanyut di dalamnya, mati karena kerinduan oleh kenyataan cinta yang telah ada miliaran tahun yang lalu, iya se-purba itu.

Dulu, telah aku tuliskan kata-kata ketika segar masih terasa karena baru saja tersiram butiran embun serupa mutiara. Rasa yang sama yang kutuliskan ke dalam jiwa yang semuanya masih terasa seperti hari kemarin, masih terasa segar karena ingatanku padanya selalu melintasi setiap waktu.

“Ah apa kata semalam…” desahku waktu itu.

Sama seperti hari yang sudah-sudah, aku selalu menanti kabarnya dari deretan kata-kata yang tertulis untuk mengisi lubang-lubang di alam semesta.

“Brengsek..!!”

“Semuanya menjadi benar-benar brengsek…! Apa yang terjadi padaku hingga tak ingin melewatkan hal-hal terkecil tentangmu?”

Aku benar-benar dibuat seolah-olah bermain dengan perasaan manusia. Aku tersenyum, tertawa, sedih dan kecewa. Mengutuki diri sendiri, menyumpah-nyumpah dan memaki. Semuanya tidak lebih hanya karena kata-kata yang tak kupahami maksudnya. Sudah bukan menjadi tanda tanya lagi, bahwa benar aku mencintai dirinya, tapi rasa hati-hati itu yang sesekali menyela, menginterupsiku agar aku sejenak untuk benar-benar mengerti perasaannya. Dan itu adalah kenyataan paling memilukan, yang aku sama sekali tak mampu mengendalikannya.

Pelan-pelan ku rajut kata-kata, pelan-pelan kucoba dekati dirinya, sentuh hatinya dengan rasa sayang. Namun, semakin kucoba mendalami kisahnya, semakin ku rasakan bahwa air mata yang akan jatuh nanti adalah air mata yang tak sanggup untuk melukai dirinya. Semakin jauh aku melayangkan pikiran, semakin kuat kurasa getaran keinginannya, tapi sesekali aku bertanya-tanya; sebenarnya apa yang sesungguhnya kamu inginkan?

Bila puisi adalah cermin dari rasaku. Maka tak ada dusta ataupun kebenaran padaku yang akan tersembunyi padamu. Sekalipun tak lagi bernapaskan cinta. Puisiku yang mati dari rasa yang terhenti, masih memantul di kedalaman hati. Lelap tidurmu akan kujaga. Sekalipun bila langkahmu yang senyap memaksa tuk berhenti berharap. Karena ada tatap yang tak kuanggap; ganjil yang kan menggenap.

Sebenarnya aku sudah tak sanggup bermain dadu untuk menguji keyakinanku. Barangkali rasa sayang yang sudah kian tumbuh subur di dalam diriku, menjadikanku tak berhasrat lagi untuk memenuhi egoku. Aku tersenyum, aku tertawa dan aku bersedih melihatmu, menantimu dan untuk berjumpa dengan mu. Barangkali ini adalah perasaan rindu, ya… rindu yang serindu-rindunya. Seperti kata senja yang rindukan purnama. —Andyriyan, 11 november 2013—

masih-hujan-dengan-segala-rasanya2
Be unity with the fall

Pintaku pun masih berderap dalam selimut-selimut hangat. Seperti ketika aku datang dan meyatu dengan tetesan yang jatuh dari langit. Di bawah rintik-rintik resah dan sahdu itu, aku meresap kedalam musik dan aku mati dalam kerinduan menjaga cinta dan tak ada apapun yang tersisa kecuali luka.

Cinta, biarkanlah aku kembali padamu. Selimut hangat, malam ini boleh menggantikanmu. Tapi esok nanti, tak boleh lagi kau menghempaskan aku. Tak ada pujaan yang perih, Kekasih. Meski lukaku lebih karenamu. Memang harus begitu, Kekasih. Aku yang membalut lukamu.

Tetesan pertama, hujan deras di pipiku, adalah bahagia yang menyentuh kalbu. Bahwa pernah satu kali aku sanggup kurangi lukamu. Sekarang katakan padaku, Kekasih. Bahwa engkau menyambutku. Atau aku hanya melintas di hadapanmu. Sebab aku tak tahu, kau ada untukku. Atau terserah engkau saja, Kekasih. Malam ini aku cukup dengan hangat selimut biru. Sebab, segala hujan selalu ada rasanya dan selimut hangat ini memelukku begitu mesra.

–Masih Hujan Dengan Segala Rasanya (C) Andyriyan–

Sebagai seorang Matematikawan, kita memandang hidup ini untuk memahami ‘definisi’ dan membuktikan ‘teorema’ yang kemudian orang-orang religius memandang definisi sebagai ‘ayat kauniah’ atau bahkan ‘ayat qouliyah’ dan teorema sebagai ‘sunnatullah’. Dan hukum tertinggi dalam Matematika adalah ‘Kekonsistenan’.

-AR-

Kurangi Lukaku

Yang aku katakan kemarin; untuk ku yang sedang berjalan menjemput gelap, masih adakah pintu kembali ke jalan cahaya? Bila masih ada, bawalah aku ke sana. Rinduku adalah pada setitik embun dan hangatnya mentari. Rinduku adalah pada cahaya pagi yang berikan terang di bukit tinggi nan sunyi. Sebab, bila aku tetap di sini, ingatan tentang semua keindahan dunia yang bergelimang cahaya itu akan pudar; ingatan tentang saat-saata aku setia melangkah bersama cahaya, berjalan dengan gagah raih cerianya semesta. Ingatan itu akan pudar bila aku tetap di sini, tetap dalam kegelapan.

“Kau telah melihatku terpuruk. Sekarang lihatlah kebangkitanku.”

Jreeng!

Dawai-dawai gitar pada akord A minor aku getarkan. Sejenak aku terhenti dalam menggumam. Teringat derita lama yang buat aku jatuh dan terbangunkan, teringat akan keringat-keringat tak ramah dunia-dunia.

Jreeng! Tek! Jreeng!

Dawai-dawai gitar pada akord G major aku bunyikan. Aku teringat jalan kepastian yang harus ku tempuh. Berhenti mengeluh. Berhenti bersenandung duka. Berdiri dan hadapi dunia.

Jreng je jreeng je jreng je je jreng!

Dawai-dawai pada gitar menemukan kunci chromatic; C major, F major dan A major ku hajar dalam tempo cepat. Terkurung sepi! Tegar berdiri; kuat melangkah. Pantang menyerah. Pantang kalah berpikir dan terus berpetualang. Sadar akan otak yang masih teramat picik. Berpetualang mendaki gunung menuruni lembah. Berpetualang sampai menemukan arti sejati sebuah kehidupan, arti sejati akal yang ideal. Terus berpetualang terbang dan berlari tuk kurangi luka ini.

Andy Riyan; Februari 2017

Kebenaran, Ilusi Yang Kadung Kupercaya

Aku dibutakan oleh ilusi.
Sementara kemurnian dalam diriku sedang teracuni.
Aku tak bisa melihat kebenaran.
Aku tak bisa meraskan kebenaran.

Setiap kali aku bernafas,
terasa sesak di dada.
Dunia ku begitu sempit.
Aku begitu buta.
Jauh dari cahaya kebenaran.
Aku asing di dunia.

Ketika kamu asing di dunia,
kamu akan merasa kesepian.
Dan kesepian akan membuatmu selalu terjaga.
Aku tak mengambil tempat
kecuali kekosongan.

Katakan padaku bahwa di luar sana
ada dunia yang tak tersentuh dusta.
Katakan padaku bahwa kebenaran
menginginkan aku tuk menemukannya.

Hatiku begitu sempit untuk bahagia.
Cinta begitu sulit untuk menembusnya.
Aku menyatu dalam kekosongan.
Relung-relung jiwa yang tak bermakna.

Kebenaran yang sendu,
aku begitu rindu padamu.
Telah mati rasanya hanya jiwa yang berjalan.
Mengembara tanpa tujuan.
Setelah ilusi yang kadung ku percaya.

Aku merindukan bintang.
Di malam-malamku, lama sudah ia tak datang.
seperti kali ini, aku tersesat dan tak menemukannya
seperti dulu: selalu datang.

Tunjukkanlah wajahmu
dan biarkan aku pinjam sinarmu
tuk terangi jalan.
Aku ingin kebenaran.
Bertemu dengannya atau menemukannya.

Lama sudah sinarmu tak menyala
di hatiku. Begitu lama.
Lama sudah waktu berselang
sejak ia menjadi supernova.
Pinjamkan sinarmu, Bintang,
untuk ku menuju kebenaran.

Aku begitu rindu kebenaran,
setelah ilusi yang kadung ku percaya;
setelah gelap yang membuatku mati rasa.

Aku Ingin Kebenaran (C) Andy Riyan