Kliwon Brengsek

“Kliwon? Ngapain kamu di sini?” Kataku kaget, ketika tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe yang berada di pinggir jalan di desa kawasan pegunungan berkilo-kilo meter jauhnya dari kota Temanggung.
“Ngopi lah… sesekali cari udara segar di luar!”
Biasanya aku dan Kliwon bersama-sama dengan Kang Paidi dan Kang Paijo sering menghabiskan waktu di brak di perempatan 3/2 yang dekat dengan warung Angkringan Kang Juned. Tetapi hari itu aku ada janjian dengan seseorang. Perempuan. Perempuan cantik kalau harus diceritakan lebih spesifik. Di Kafe itu. Kafe yang sekarang kedatangan seorang manusia yang aku berharap dia tidak ada di sini sekarang ini. Dan dia sekarang ada di sini tepat di depan mataku. Sungguh mengacaukan suasana. Saat itu aku sungguh-sungguh berharap Kliwon tidak pernah dilahirkan. Ya Tuhaaaaaaan! Kenapa makhluk ini ada di sini?
“Kamu sendiri ngapain di sini? Kopi di rumah sudah gek enak lagi ya?” Kliwon nyengir.
Sesungguhnya wajah itu sangat lucu. Giginya yang tidak beraturan membuat definisi yang berbeda tentang wajah yang menyenangkan. Rambutnya yang selalu klimis di potong semi mohawk itu sungguh tidak sesuai dengan tampangnya yang lugu. Tapi betapapun menyenangkannya Kliwon dan betapapun aku sungguh menyayanginya, sore itu aku sungguh-sungguh benci padanya. Hanya benci mengapa ia ada di sini sekarang.
“Hanya kebetulan aja lewat sini dan sialnya ketemu kamu.” Kataku jengkel. Aku berbalik dan pergi meninggalkan Kliwon.
“Woi kok buru-buru, gak mampir?” Teriak Kliwon.
Aku menyalakan motorku dan menatap Kliwon “Enggak. Males!”

***

Mas di mana kamu sekarang? Aku sudah sampai.

Bunyi WA dari seseorang yang kontaknya aku beri nama Pipi Tembem.
Aku menggeser layar ke atas, membaca percakapan sebelumnya. Aku lega. Pada janjian kali itu aku tidak menuliskan pesan seperti yang sudah menjadi ciri khasku setiap kali ada pertemuan dengan siapa saja. Misalnya, 15 menit lagi sampai. Atau, aku sampai di sana dalam 27 Menit. Atau aku akan menunggumu pukul 15. 45 mampir sebentar ke Musholla. Aku tidak melakukannya hari itu karena aku belum pernah memperhitungkan lamanya perjalanan menuju kafe yang memiliki pemandangan langsung menghadap pada lebatnya hijau rerumputan dan pohon-pohon rimbun di kawasan perhutani. Aku bernafas lega. Tapi ini akan menjadi yang pertama kalinya aku mesti berbohong pada PPT (Perempuan Pipi Tembem).

Ketemuannya di cancel aja, ya. Aku baru inget, aku harus ngaji gantiin Ustadzah Arikah.

Aku merasakan tanganku gemetaran cukup hebat. Aku khawatir akan terjadi kebohongan yang beruntun. Beruntungnya percakapan ini melalui pesan teks, coba pesan suara, aku tak bisa membayangkannya. Bodoh! Kenapa malah nyari perkara gini sih! Dasar bodoh! Gali lubang untuk diri sendiri.

Ya sudah! Bilang dong dari tadi.

Aku cuma membalas dengan emot icon tangkupan tangan sebanyak tiga kali.
***

Hari berikutnya.

“Yah kamu, Yan… Coba kemarin kamu jadi nongkrong di Kafe Jeruk Legi itu.” Kata Kliwon tiba-tiba ketika aku sedang asik ngajari Kang Paidi bermain game tetris menggunakan hapeku.
“Memangnya kenapa, Won?” Jawabku acuh.
Kang Paidi tidak peduli dia tampak serius memandangi layar hape. “Piye to iki… kok gak iso di pejet!” Kata Kang Paidi agak gugup.
“Jempol mu gegeden, Di! Gak bakat sampeyan dolanan smartphone.” Ujar Kang Paijo.
“Bukannya nongkrong tapi malah pergi. Memang bukan rejekimu, Yan.” Kliwon terus nyerocos. Aku melirik ke arah Kliwon. Kliwon tersenyum puas, “Beberapa saat setelah kamu pergi, ada cewek cakep datang, Yan! Beneran cakep! C A K E P!”
Nyas! Dadaku berdesir-desir tidak karuan.
“Ha kenalan ora? Ora kenalan percuma…” Sahut Kang Paijo.
“Kenalan dong…! Siapa dulu Kliwooooon!” Kliwon menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan perasaan bangga.
Hatiku terasa sangat panas. Jangan-jangan itu Pipit, kataku dalam hati.
Sopo jenenge, Won?” Tanya Kang Paidi datar tanpa memalingkan mukanya dari layar hape.
“Rini, Kang!” Kliwon tersenyum.
Huh. Aku mendesah lega. Tapi mendadak kepalaku pusing, pandangan terasa sangat gelap. Rini? Pasti enggak salah lagi! Pipit Pusparini!
“Punya fotonya enggak?” Tanya Kang Paijo.
“Punya… untungnya aku sempat nyolong pas dia lewat di depanku.” Kliwon kemudian sibuk mengutak-atik smartphone nya. “Niiiiih cantik gak?” Kliwon menunjukkan foto itu di depan kami bertiga.
Dengan dongkol aku berteriak: “KAMPREEEEEEEET KOE WOOOOOOON!!”

Keterangan, sumber photo : pxhere.com

Advertisements

Tentang Kisah Bu Sarah dan Pak Jono

“Masa njenengan tidak pernah jatuh cinta lagi sejak saat itu, Pak? Apa dia begitu tak tergantikan?” Sarah menatapku nanar.

Aku kira ia memang bersungguh-sungguh untuk membantuku bangkit. Tak sehari pun ia tak pernah memotivasiku. Seolah-olah jika lewat sehari saja, maka aku akan semakin terpuruk dan tenggelam dalam kegelapan.

“Ha ha ha… Cinta… ” Aku tersenyum getir, “Cinta adalah perkara yang paling konyol dalam hidupku… rasanya ah gitu deh!”

“Ah njenengan sok kayak gitu… sok gak butuh… seolah kata cinta itu seperti buah yang terlalu masak hingga rasa aslinya sudah tak mengundang selera untuk membicarakannya. Padahal pun kalau ada jambu yang masak njenengan ambil dibuat jus.”

“Bu Sarah sendiri… Ketika menikahi Pak Jono…” Sarah tampak gelisah, ia menahan napas. Aku ragu. Akankah aku terlalu kejam menyerang sisi ini? Aku kira Sarah lebih suka menghindari topik ini. Aku menahan. Lebih baik tidak dilanjutkan.

Sarah menghela napas panjang. Kemudian sejenak ia tampak berpikir menyusun kata-kata. Sarah menelan ludah, kemudian ia berkata : “Semuanya akan berubah sejalan dengan waktu, Pak!”

Aku menekan kuat-kuat gejolak batin yang akan meledak. Waktu. Waktu adalah hal yang bahkan tiap satuan terkecilnya adalah hal terbesar yang aku miliki. Apa katanya? Berubah sejalan dengan waktu? Apakah aku hanya akan membiarkan waktu berjalan begitu saja? Jika bukan karena Sarah-lah yang membantu membuatku nyaman di tempat ini, mungkin aku tak mau capek-capek mengendalikan diri.

“Siapa pun, pasti akan mengalami sebuah kekecewaan setelah menikah… yang aku rasakan kepada Pak Jono juga seperti itu. Enatah kebodohan apa yang telah membuatku mau menerima lamaran Pak Jono. Rasanya aku seperti tersihir.”

“Tak ada cinta? Ketika menikah dengan Pak Jono?”

“Jangankan cinta, Pak. Bahkan aku tak pernah membayangkan kalau aku akan menikah dengan Pak Jono. Aku selalu selalu menjawab : ‘Wah mboten ah… moso Pak Jono sih. Mboten pokok e,’ Setiap kali temen-temen di sini menggodaku untuk menikahi Pak Jono.

Sarah kemudian menceritakan padaku awal mula kisah pernikahannya dengan Pak Jono, kisah pernikahan yang tidak pernah melewati masa pacaran. Kali itu aku sadar, kalau Sarah tidak menganggapku hanya sekedar partner kerja. Dia bahkan merasa aman dan mempercayaiku menceritakan kisah pribadinya.

Dengan Pak Jono, Sarah tidak mengalami kisah cinta yang berbunga-bunga seperti remaja yang bertemu dengan cinta pertamanya tidak pula mengalami gejolak perasaan yang meledak-ledak seperti kisah cinta orang-orang masa kini pada umumnya. Singkat cerita, pada suatu ketika Pak Jono hanya mengirim sms kepada Sarah. Melalui SMS itu ia bercerita, bahwa ia bermimpi bertemu dengan Sarah. Karena bingung dengan maksud Pak Jono, mengapa ia menceriakan mimpi konyol itu, Sarah tak membalas SMS itu. Selang beberapa hari Pak Jono mengirim SMS ke Sarah lagi. Isinya hanya sekedar permintaan ijin—menurut Sarah— tak kalah konyol dari SMS sebelumnya : “Seandainya saya suka sama Bu Sarah, Boleh?”

Dengan jengkel Sarah membalas : “Pak Jono maunya apa? Kalau Pak Jono mau serius, datang saja langsung ke rumah dan minta ijin sama Bapak.”

Pak Jono yang tidak siap dengan jawaban yang teramat kejam itu, ia membalas kalau ia mau datang ke rumah Sarah sore hari berikutnya.

“Y” balas Sarah.

“Ha ha ha ha…” aku tertawa terpingkal-pingkal, “Sesingkat itu, Bu? Hanya jawab dengan huruf ‘Y’ aja?”

“Iya, Pak. Gak kepikiran waktu itu.”

“Terus… terus gimana ceritanya?” aku penasaran.

“Pak Jono dateng beneran, Pak!” Sarah menepuk bahuku kuat-kuat “Waduh piye kiye…! Perasaannya jan mak nyas! … aku lak bingung to Pak. Tak kiro ora arep teko, jebul teko tenanan.” Ia meraba dadanya kemudian kedua telapak tangan Sarah menempel di pipi menirukan ekspresinya dulu. Kemudian ia tertawa sendiri sampai terbungkuk-bungkuk mengenang masa lalunya. Aku pun ikut tertawa, padahal aku bingung, ia ngetawain apa sih?

Sarah bercerita menurut ceritanya Pak Jono, ketika Pak Jono menyanggupi tantangan Sarah, Pak Jono seperti benar-benar mengalami kengerian yang luar biasa. Lututnya gemetaran dan tubuhnya terasa sangat gerah sekali, kemringet!. Di tengah perjalanan menuju rumah Sarah, Pak Jono sempat ragu dan berbalik arah mau pulang, “Piye kiye, arep sido pora ya.” Katanya. Setelah lama berpikir dan mengumpulkan nyali, Pak Jono berbalik arah lagi menuju rumah Sarah. Tapi baru satu meter ia berhenti lagi, bahkan sampai harus turun hingga berjongkok dan berpikir untuk kesekian kaliya. Rasanya ia mau menangis. Campuran antara isin ditolak atau isin tak sanggup dengan tantangan yang sudah disanggupinya. Akhirnya ia membulatkan tekadnya: “Kalau ditolak, aku mau resign aja. Keluar dai kantor.” Katanya.

 

 

Gambar fitur : Google

Ditawari Janda

“… … … dua puluh lima, Pak?”

“Apanya, Bu, yang dua puluh lima?” tanya ku pada sahabat yang sekaligus menjadi partner kerja sehari-hari di kantor, aku tidak begitu memperhatikan pertanyaannya, beberapa kalimat awal terdengar hanya seperti gumaman.

“Kalau rencananya dua puluh lima, sekarang sudah mundur dua tahun.”

Aku hanya diam namun tetap menerka-nerka kemana arah pembicaraan itu.

“Selamat ulang tahun, Pak!”

Aku tersentak, lalu memeriksa Arlojiku, tanggal berapa hari ini? Seperti tidak yakin, sebab aku lantas mengayunkan kursi. Roda-roda itu segera meluncur mendekatkan ku pada sebuah dinding dan menempatkan jemariku pada kalendar bulan ini. Tertegun sejenak, iya ya, sekarang hari ulang tahunku. Sesungguhnya pagi ini pun aku terbangun tanpa mengingat hari ulang tahunku. Semalam juga aku tak ingat apapun, melainkan jatuh tertidur di atas manuskrip-manuskrip yang belum tersusun rapi dengan laptop masih menyala, yang tetap kubiarkan tak tersentuh ketika alam bawah sadarku mengrakkan tubuh untuk berpindah ke ranjang tidur.

“Sekarang sudah yang ke-27 kalinya njenengan sampai di bulan April. Semoga semakin didekatkan dengan jodohmu, Pak!” Dia menatapku dengan pandangan yang serius. “Ayolah ndang diniati, biar lekas bertemu.”

“Sebetulya aku sudah berniat di usiaku yang ke-24,” Aku kembali berapologi mengulang sebuah alasan sambil menerawang kembali pada ingatan masa lalu, “Seperti yang aku ceritakan waktu itu, kalau di akhir tahun aku akan melamar dia setelah upacara wisuda.”

“Sudahlah… jangan disesali…”

Aku berjengit, mendengar kata sesal yang dialamatkan padaku. Aku tidak pernah nyaman dengan sebuah penyesalan. Aku merasa sangat bodoh dan terlalu lemah jika berhadapan dengan penyesalan. Aku sangat tidak suka jika dituduh bahwa aku menyesali sesuatu. Tetapi aku tetap diam saja, walau sebetulnya, hatiku menggugat dan sangat inin mendebat. Dan sahbatku ini tidak tahu perasaan itu dalam hatiku, dia meneruskan.

Njenengan tidak akan pernah menang jika terus melawan alasan itu.”

Apakah dia mengeti? Aku bertanya-tanya.

“Gimana… Aku punya kenalan… Janda cantik dan masih muda.”

“Ha ha ha ha…” Spontan aku tertawa, aku tak bisa menahannya.

“Tenan lho, Pak! Cantik dan umurnya di bawah aku, masih tua an njenengan lah.”

Mainan Baru

IMG_20180310_193552[1]Woaaah! Hari ini aku dapat mainan baru! Dan sejak pulang kerja tadi, tidak bosan-bosannya aku memainkanya. Sebuah paket lengkap Violin itu aku pinjam dari temanku. Dari dulu aku selalu penasaran dengan alat musik yang satu ini. Violin amat berbeda dengan gitar walau sama-sama merupakan alat musik dengan senar atau dawai. Mungkin karena gitar lebih populer jadi cara memainkannya pun, menurut saya, mudah gitar. Dari pengalaman hari ini, aku tahu, ternyata aku adalah tipe orang yang mudah bosan, sebab aku mudah tertarik dengan hal-hal baru dan langsung giat mempelajarinya. Dan beberapa hal yang sudah aku kuasai biasanya menjadi tidak lagi menarik.

Namun, sampai tulisan ini dibuat aku masih sanggup mencoba dan terus mencoba bahkan sampai menuliskan beberapa lagu (bukan lagu utuh). Aku memang demen banget deh kayaknya soal menulis lagu. Sudah tak terhitung lagi lagu-lagu telah aku tulis, beberapa sudah aku aransemen menggunkan aplikasi Gutar Pro 5. Tapi dasarnya aku memang gak bakat sama musik, jadi lagu-lagu yang aku tulis sering berubah nadanya sesuai dengan suasana hati. Di kesempatan yang lain lupa sama melodinya. Dan untuk kasus lagu yang sudah pernah aku karang-karang liriknya bisa lupa liriknya. Dulu liriknya gak kayak gini, enaknya gini. Ya seperti itu deh. Hahahaha

Aku memang seneng banget nyoba hal-hal baru kecuali game. Aku paling mudah bosan dengan game, paling lama nyobain game itu sekitar sepuluh menitan lah, kecuali game sepak bola. Eh tapi, teka-teki silang dan catur itu termasuk game bukan ya? Kayaknya itu juga game… jadi yang aku maksud dengan game disini tentu permainan yang ada di hape atau PS gitu. Ah apa mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai video game saja?

Oh ya, sebetulnya malam ini aku sedang fokus nonton sepak bola, antara MU vs Liverpool, ya mumpung lagi tengah main, aku sempatkan menulis dulu, itung-itung nyicil.

Tentang pertandingan kali ini, MU mainnya cukup bagus malam ini. Dan ada yang aneh dalam perasaan saya: setiap bola bergerak kemanapun saya masih selalu memperhatikan pergerakan Nemanja Matic, aku benar-benar rindu dengan dia. Dan Jose Mourinho…. Well, walau kisah cintaku dengan dia sudah usai saat dia menyebrang ke Carrington Road, aku masih selalu mendo’akan dia untuk menjadi nomor dua. Aku tidak pernah menginginkan dia menjadi juara bersama MU. Aku hanya menginginkan dia menjadi nomor dua, dimanapun di Inggris. Mantan memang tidak boleh bahagia dengan orang lain! Wkwkwkwk.

Bolanya sudah mulai lagi, aku pending dulu.

Dan yak…. Aku telah kembali, dan skor akhir 2-1 untuk kemenangan MU. Permainan babak kedua memang tipikal Mourinho banget. Kalau klub yang dia pimpin sudah unggul, dia memang sering kayak gitu, aku dulu juga kesel banget pas masih di Chelsea, mainnya malah bertahan melulu. Yak sebagai True Blue, rasanya jengkel banget diserang habis-habisan. Beruntung malam ini MU mampu memperthankan keunggulan. Coba keunggulan sirna atau malah kalah… sakitnya tuh gimana gitu rasanya.

Oh ya kembali pada Violin. Baru beberapa jam saja aku latihan dengan alat musik bersenar empat itu, lengan tangan ku rasanya sudah sakit sekali. Aku pasti benar-benar tidak tahu teknik yang benar bagaimana cara pegang Violin atau Biola. Kalau lihat di panggung atau di live konser, kok pemusik-pemusik itu bisa betah ya berjam-jam manggul alat itu. Ah rasanya memang seperti itu tidak ada cara khusu. Benda itu tinggal di tahan di atas dada kiri, dan dagunya di tumpangin di bagian badan Violin. Tapi kok aku tersiksa banget ya.

Ah tapi bagaimanapun juga, pengalaman ini sangat menyenangkan… setidaknya aku pernah benar-benar memegang dan mencoba memainkan alat musik, yang menurut beberapa musisi, merupakan alat musik paling sulit. Ia sulit banget cara menentukan nada yang tepat soalnya tidak ada freet-freetnya sperti di gitar, tidak ada pembatas yang jelas antara tangga nada yang satu dengan yang lain. Meskipun bisa dipelajari dengan teknik, memainkan benda ini tetap mendewakan feeling.

Untuk kamu yang belum pernah mencoba… yakin kamu harus mencobanya. Sekian dari saya. Saya Andy Riyan, bukan seorang musisi. Hah hah hah!

Keterangan: Foto merupakan dokumen pribadi penulis.

Apa Judul Yang Harus Aku Berikan Untuk Tulisan Kali Ini?

Duduk. Kemudian menyalakan komputer dan membuka aplikasi wordproressor… dan… kemudian bingung apa yang harus dituliskan. Satu menit dua menit masih terpaku menatap layar monitor. Jari-jari kemudian bergerak-gerak menuliskan entah apa, selanjutnya tanpa sadar betul apa yang tengah dilakukannya, telunjuk kanan menekan tombol backspace hingga tak satu karakter pun tertulis di layar. Karena bosan, akhirnya ada sebuah keputusan untuk menyalakan internet. Tapi Ironi! Hal yang pertama kali dilakukannya adalah membuka wordpress–mungkin karena rindu ingin menuliskan sesuatu di sana. Kemudian cemas dan bingung lagi mau menuliskan apa. Tidak hanya sekali dua kali aku tersiksa dengan aktivitas semacam ini. Sudah lama sekali bahkan sejak aku belum membuat blog di wordpress bahkan lebih jauh lagi sebelum di tumblr.

Aku bisa saja mempraktikkan semua teknik untuk menulis dan mengalirkan ide. Tapi semua teknik itu hanya ampuh ketika aku tulis di buku harian dan di draft komputer… dan tulisannya hanya layak untuk dikonsumsi pribadi. Tidak untuk dibagikan atau di post di blog. Continue reading “Apa Judul Yang Harus Aku Berikan Untuk Tulisan Kali Ini?”

Perjalanan Pulang

The Journey Home by Andy Riyan. A diary of a man who struggling to regain his bravery to fight for dream and overcome reality.

Suatu ketika sahabat penaku berkata: “Senja adalah saat ketika seseorang kembali pulang kepada keluarganya, mengistirahatkan lelah dari penat dunia yang terus berputar.” Dan aku sudah melewati banyak senja, tidak hanya sekedar sesekali saja, tidak hanya puluhan, ratusan kali aku telah melewati senja, namun aku belum menemukan rumah. Senja yang sama, masih tetap luka yang sama.

Senja tidak mengembalikan diriku pada kemanusiaanku yang semakin memudar. Sebagaimana aku masih terjebak pada pencarianku. Aku yang masih belum menemukan arti pulang meski kakiku telah menapak pada lantai-lantai di seluruh rumah. Aku masih belum merasakan pulang meski jemariku telah menyentuh dedaunan dari tanaman-tanaman yang tumbuh di halaman, yang senantiasa tercium dingin rerumputan sekalipun rumput-rumput itu telah menjadi kelabu. Aku masih gamang dengan aroma pulang meski paru-paruku telah penuh dengan manis dan sedapanya aneka masakan di dapur tempat pelipur lara itu.

Seharusnya hanya segelas kopi yang terhidangkan sementara aku menceritakan kisah-kisah tentang pengembaraanku dan seharusnya aku hanya duduk menemani dunia yang sepi ini dengan semua cerita apa saja yang telah memninggalkan jejak agar ku mengenangkannya.

Sekarang aku benar-benar percaya tentang pentingnya manajemen waktu. Ketika waktu yang aku miliki untuk dapat melakukan banyak hal terasa begitu sempit, begitu mencekik dan sungguh terbatas. Seringnya dalam berkelana, aku kecapekan. Aku ingin pulang menyelesaikan draft yang telah aku mulai. Ternyata bukan hanya waktu yang begitu mencekik, pikiran pun rasanya sudah terkuras. Sehingga apa yang ingin aku tuliskan pun tersendat-sendat. Aku mulai benar-benar iri dengan para penyair dan seniman yang sudah sangat produktif. Aku begitu iri akan para content creator yang tetap bisa mengisi lembaran-lembarannya dengan teratur disamping pekerjaan dan pengembaraannya dan perjalanan pulangnya yang sangat menuntut kegigihan dan kesabaran.

Aku ingin pulang. Ingin sejenak mengistirahatkan lelahku, sejenak bermimpi, mengembalikan energi dan semangatku yang pernah menggelora seperti dulu kala sebelum akhirnya aku harus melesat lebih gesit dan cepat. Aku membutuhkan pulang sebelum aku kemudian pergi lebih jauh dan menantang badai yang dahsyat di musim dingin. Kemanakah arah menuju rumah? Kemanakah langkah-langkah kaki ini harus tertuju? Aku ingin pulang.

Perjalanan Pulang, Andy Riyan, Maret 2018

I don’t know how to overcome this pain that I’ve held, for my regret of failing to take care of my mother because of overwhelming in work.

My Lord! I cried for whatever tears may become. I beg Your Mercy. Help me! Show me the way out to overcome this nightmare.

Cerpen : Orang-Orang Muslih dan Para Perusak

rahasia-kiamat
Sumber Gambar : Klik di sini

“Waduh tobat! Tobat… Tobat tobat nek kayak ngene carane.” Seru Kang Paijo ketika aku dan Kliwon sampai di Brak tempat kami–Aku, Kliwon, Kang Paijo dan Kang Paidi–saban sore ngumpul.

“Ada apa to, Kang?” Tanya Kliwon “Wong lagunya aja enak begini…”

“Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan, Payung Teduh!” aku mengangkat dua jempolku dan menjentikkannya untuk mendukung Kliwon.

“… Kok misuh-misuh kayak orang kesurupan aja?”

“Njaluk disajeni!”

“Enak e, disajeni opo, Yan? Semprong atau gelas?” Kang Paidi meyahut celetukanku dengan kepingkal-pingkal dan tiada hentinya memukul-mukul alas duduk dari bambu.

“Nah pas banget, Kang! Ada dua gelas pecah, tuh, di rumahku tak ambilin po?” Aku pun ikutan memukul-mukul alas karena geli.

“Yan! Tega bener kamu, kamu juga Kang Paidi… ” Kliwon mecucu ke arahku dan Kang Paidi berganti-gantian. “Sahabat lagi susah bukannya menghibur tapi malah mengejek kayak gitu.”

Aku dan Kang Paidi bertatapan mata seoalah sedang saling mencari raut penyesalan antara satu sama lain. Kang Paidi menaikkan alisnya dan memberi isyarat ‘Kliwon sok suci tuh’ dengan gerakan kepalanya. Aku mengangkat bahu memberi isyarat ‘lah terus aku kudu piye?’. Kang Paidi malah mengulangi isyarat yang tadi.

“Ada apa to, Kang Paijo, sik bagus koyo Wedhus? Wajah riangmu sore ini pergi kemana?” Aku tak bisa merayu lebih manis lagi.

“Bagus koyo wedhus, raimu!” Jawab Kang Paijo. “Wajah riang! Wajah riang! Sok penyair kamu!”

“Ya kamu itu kenapa? Macam wong edan di pinggir jalan!” Tukas Kliwon tiba-tiba.

Aku dan Kang Paidi yang mendengar Kliwon berkata begitu, sontak langsung melempari kliwon dengan kulit. Aku melemparinya dengan kulit kacang, sementara Kang Paidi melemparinya dengan Kulit Pisang. “Sok suci!” dengus Kang Paidi. Kliwon marah, langsung mengambil kulit pisang yang mengenai pundaknya dan hendak melempar kembali ke arah Kang Paidi.

“Stooooooooooooooooooooooooooooooooooop!!!” Teriak Kang Paijo panjang keras sekali. Lalu membrendel kami bertiga dengan khotbah yang entah datang dari pikiran yang mana. Telunjuk kanannya menuding-nuding kami bertiga, sementara tangan kirinya berdecak di pinggang. Ia mendeliik menyeramkan, “Kalian semua telah berbuat aniaya! Kalian bukan orang muslih lagi! Kalian bukan Muslihin. Kalian bukan Muslihun! Dasar tukang-tukang berbuat kerusakan!”

Kami bertiga yang memang pada dasarnya adalah yunior dari Kang Paijo pun ketakutan. Kang Paijo tertua, disusul Kang Paidi, kemudian aku dan Kliwon. Aku dan Kliwon seumuran. Meski aku dan Kliwon adalah sarjana, sedangkan Kang Paijo dan Kang Paidi hanya lulusan SMA, kami hormat kepada mereka. Kalau mau cerita tentang bagaimana permulaan persahabatan kami, ah itu adalah cerita sangat panjang.

Masih ketakutan, aku kemudian mengambil tempat duduk mendekat ke Kang Paidi, Kliwon juga ngusel-ngusel ke sisi kami.

“Ngusel wae!” bisik ku ke Kliwon. Kliwon mendengus keras.

Kang Paidi memberi isyarat dengan telunjuknya yang ditempelkan ke bibir kepada aku dan Kliwon.

“Kang Paidi memukul-mukul alas duduk yang tidak bersalah, kamu itu berbuat aniaya… di tambah melempar kulit pisang kepada Kliwon, berarti Kang Paidi berbuat aniaya satu di tambah dua kuadrat.”

“Edaaaan! Aniaya wae ada kuadratnya, ha ha ha…” celetuk ku, tak bisa menahan tawa.

“Aniaya kuadrat untuk kamu juga, YANTO!!!” Kang Paijo mendelik sangar, marah padaku. Aku terkesiap dan mendadak tak bisa berkata-kata. “Kamu telah melmparkan kulit kacang yang tidak punya salah apa-apa ke kamu, terlebih lagi kamu melemparkannya ke saudara Kliwon dengan esmosi…”

“Emosi, Kang.”

“Sak karepku!” Bentak Kang Paijo kurang suka ceramahnya di potong oleh Kliwon. “Kamu berbuat aniaya kuadrat, Paham!”

Aku mengangguk-angguk, meskipun aku tidak paham betul yang dimaksud Kang Paijo.

“Kalian itu sudah berbuat aniaya dan berbuat kerusakan, tidak bisa disebut orang muslih lagi.”

“Interupsi Kang Paijo…” Kata Kang Paidi, “Mungkin yang dimaksud ‘kalian’ oleh Kang Paijo itu hanya Kliwon dan Yanto, saya tidak termasuk, wong tadi saya benerin Kandang Sapi nya Pak Lurah, seperti yang Kang Paijo saksikan sendiri.”

“Kamu juga termasuk!” Kang Paijo menuding Kang Paidi.

“Aku memperbaiki kok dibilang merusak…”

Tiba-tiba Kliwon bergumam : ”Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab: “Sesungguhnya hanya kami orang-orang muslih.” Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang benar-benar perusak, tapi mereka tidak menyadari.”

“Apa lagi itu Kliwon?” Tanya Kang Paijo lunak.

“Kutipan surat Al-Baqoroh Ayat sewelas rolas.” Jawab Kliwon.

“Bentar! Bentar dulu, ojo main dolanan ayat sik. Sini sekarang kita diskusi aja. Kita nyatai saja dan lupakan ketegangan di antara kita, yang sudah berlalu biarlah berlalu.” Kata kang Paijo tiba-tiba lunak.

Aku ragu-ragu, tetapi melihat Kliwon dan Kang Paidi duduk bersila dengan nyaman di dekat Kang Paijo, aku pun meyakinkan diri untuk ikut berdiskusi.

“Begini loh… “ Kang Paijo mulai bercerita. Pagi itu Kang Paijo pergi madrasah tempat anaknya bersekolah, bermaksud mau membayarkan SPP bulanan yang sudah nunggak selama satu semester. Pagi itu di madrash sedang ada upacara rutin hari Senin, tanpa sengaja, dari luar sekolah, Kang Paijo mendengar amanat Pak Habib, pembina upacara hari itu. Kang Paijo tertegunb dengan isinya, bahwa seorang siswa tidak mudah akanmendapatkan ilmu kalau ia menganiaya. Menganiaya teman, menganiaya kepada apa saja yang tidak berbuat salah, mencoret-coret meja atau tembok misalnya.

“Nah Won…!” Kata kang Paidi kemudian.”Sekarang coba terangkan kepada kami, ayat tadi yang kamu sampaikan kepada kita, sepertinya pas banget tuh dengan topik yang saya dengar dari Pak Habib tadi.”

“Begini…” Kliwon mengambil tasnya dan mengambil buku catatanya lalu mengambil posisi kemudian menerangkan dengan gaya akademisinya.

“Sobyek ‘mereka’, menurut Profesor Quraish Sihab dalam tafsirnya adalah orang-orang munafik. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwasannya orang-orang munafik ditegur oleh Allah, dikatakan kepada mereka melalui nabinya, janganlah membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab sesungguhnya ‘hanya’ kami orang-orang muslih.

Selanjutnya menurut yang dijabarkan Profesor Qurais Sihab, orang muslih, yakni orang-orang yang mengadakan perbaikan, lebih lanjut orang muslih adalah siapa yang menemukan sesuatu yang hilang atau berkurang nilainya tidak atau berkurang fungsinya dan manfaatnya sedemikian sehingga ia melakukan aktifitas perbaikan yakni menjadikan sesuatu itu menjadi lebih memiliki nilai, menjadi lebih bisa diambil manfaatnya tanpa merusak atau mengurangi manfaat dari sesuatu itu. Jelasnya tidak menjadikan sesuatu masalah menuju masalah lain.

Lebih lanjut profesor menerangkan bahwa seseorang di tuntut, paling tidak, menjadi saleh, yakni memelihara nilai-nilai sesuatu sehingga kondisinya tetap tidak berubah sebagaimana adanya, dengan demikian sesuatu itu tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat.”

“Itu menjadi semakin cocok dengan cerita Kang Paijo mengenai Pak Habib yang bilang tidak boleh berbuat aniaya.”

“Seseorang yang telah berbuat aniaya menurut pemahaman saya berarti tidak saleh lagi, sebab perbuatan aniaya telah menjadikan sesuatu kurang manfaatnya, atau telah menjadikan sesuatu nilainya atau bobotnya tidak seberat sebelumnya, telah berkurang manfaatnya. Perbuatan aniaya itu banyak sekali macamnya, seperti yang sudah di jelaskan Kang Paijo, yaitu misalnya mencederai sesuatu bahkan benda mati sekalipun yang tak punya salah, yang tak bersalah apa-apa sama si pembuat aniaya.”

Kami semua termenung.

“Menganiaya diri-sendiri, menurutku adalah hal sederhana yang sering kita terlewatkan untuk menyadarinya.” Kataku menyambung diskusi yang terlalu asik dan membuat jengah ini.

“Misal, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya artinya tidak menjadikan diri kita menjadi saleh, karena tidak bisa membuat waktu yang kita miliki menjadi lebih bermanfaat, bahkan cenderung melakukan hal-hal yang tak ada gunanya. Apalagi di zaman teknologi yang serba cepat ini, ironinya, malah banyak melalaikan kita untuk segera mengakhiri banyak hal yang tidak ada gunanya, semakin menjerumuskan kita kepada hal-hal yang lebih sedikit gunanya.. Internet, misalnya, yang telah berkembang menjadi semakin ngebut malah membuat kita asik di dalamnya. Tau-tau satu jam dua jam sudah terbuang sia-sia untuk perang verbal, perang kata-kata untuk nyinyir dan segala macem keasikan di sana. Dengan semakin mudahnya komunikasi, semakin mudah pula memicu kontroversi dan konflik semudah memencet jempol pada tombol send. Melalaikan dan mebuai diri kita di dalamnya. Kita terpaku dan terjebak dalam keasikannya. Ah benar-benar aniaya.

Berbeda jika komunikasi dengan alat teknologi yang canggih itu digunakan untuk hal yang penting. Berbagi ilmu, koordinasi antar lembaga, kolega, sesama litas kerja, atasan bawahan dimana lebih menekankan pada efisiensi dan anggaran, jual beli online yang telah cukup sarat dan rukunya dan lain lain. Yang sifatnya dalah tidak membuang-buang waktu sedemikian sehingga membuat kita malas beranjak karena terbuai kenyamanan di sana.

“Alhamdulillah…..” Seru Kang Paijo dan Kang Paidi serempak dan itu membuat aku dan Kliwon heran dan bertanya-tanya.

“Aku ora kenal internet…!” Seru Kang Paidi

“Aku yo ora nduwe semartphone.”

“Wooooooooooo generasi zaman old!!!” Kata Kliwon tepat ketika Adzan Maghrib terdengar. Kang paijo mengajak kami bubar meninggalkan brak lalu mengingatkan kami untuk segera pergi ke masjid.

Orang-Orang Muslih dan Para Perusak
Oleh Andy Riyan
Maret, 7th 2018

Ketengan:

*Brak : Pos temapt berkumpul, biasanya terdapat di pertigaan-pertigaan atau perempatan-perempatan di sebuah desa. Menjadi pos tempat orang-orang melakukan kegiatan ronda.

Daftar Pustaka : Tafsir Al Misbah, Quraish Sihab, Lentera Hati

Guruku Adalah Setan

“Sinau kok ora karo guru, berarti sinau karo setan.” Kata ibuku beberapa hari yang lalu ketika kami sedang duduk-duduk di ruang makan. Aku bercerita kepada ibuku kalau sekarang rasanya aku mulai menyesali masa mudaku yang hilang entah kemana. Seharusnya ada banyak hal yang bisa ku pelajari di masa- masa yang masih, katakanlah, selo, sempat, ada banyak waktu luang untuk membacanya, untuk menekuninya sebagai pelajar full-time.

Sejak aku telah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan melakukan perbuatan yang akan aku sesali, aku pun menegaskan bahwa, sekarang pun masih belum terlambat. As vivid says “Long life study.” Aku masih bisa belajar secara mandiri, berguru pada alam, berguru pada buku-buku dan bermain-main dengan apa yang aku pikirkan. Kemudian tibalah pada saat-saat seperti ini, aku mesti bertingkah seperti pelajar yang sesungguhnya. Sudah terpikirkan di benak ku sekarang untuk memulai membaca ngemil, seperti yang disarankan Pak Hernowo Hasim, lain kali aku tuliskan review bukunya, Free Writing, yang sebetulnmya sudah selesai ku baca dan buatkan reviewnya, tapi masih ada di jurnal. Dari membaca ngemil itu pun aku juga ingin mengikuti teknik yang dikemukakan oleh Pak Hernowo, yaitu ‘Mengikat Makna’. Teknik itu beliau pelajari dari penulis-penulis yang kemudian ia terapkannya dan telah dijabarkan secara ringkas dalam buku-bukunya. Secara garis besar beliau memahaminya dari perkataan Khalifah Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajha (599-661 M) : “ Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya.”

Lebih Lanjut, Pak Hernowo, menyampaiakn perkataan Imam Syafi’i (767-819M) :”Ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya. Maka, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Alangkah bodohnya jika kamu mendapatkan kijang (binatang buruan) tetapi kamu tidak mengikatnya sehingga akhirnya binatang buruan itu pun lepas kembali.”

Tetapi lagi kata ibuku, belajar tidak dengan seorang guru adalah belajar dengan syetan. Aku membaca ngemil, belajar dari alam, belajar dari orang-oarang yang aku temui, belajar dari buku yang ada seperti idolaku Musashi, Ronin di zaman Shogun Tokugawa, lalu aku pun mulai menuliskannya, pertanyaannya siapa guruku? Guruku adalah SETAN!

Salam hangat dari saya Andy Riyan, tulisan selanjutnya, insallah mengenai para perusak dan orang-orang muslih.

Temanggung, 9 Februari 2018

Note :

  1. Bisa direnungkan, Guruku adalah Setan? atau Setan adalah Guruku?
  2. Gambar fitur The Crabby Cook

Aku tak pernah mewakili perasaan siapa pun ketika jatuh cinta. Namun,  lebih sering, aku tidak mewakili diriku sendiri ketika maju selangkah menuju apa yang ku cintai. Semua puisi yang merangkai kisahnya adalah bukti yang paling otentik mengenai perasaan itu dan prosa yang merangkai perjalanannya adalah bukti yang paling munafik akan semua hal itu.