Arian’s People

What a good thing that Arian’s people have? They love others and never mind sharing love again and again. They are very stubborn indeed, but they are have a soft touching. I rarely meet them in life, I am very grateful whenever I meet them in whatever situations.

Advertisements

Kau pikir aku mau menjalani semua ini? Kau pikir kau yang terhebat? Yang terbaik? Yang memiliki solusi? Kau cuma banyak bicara. Aku mau menjalani rasa sakit ini. Sebab diam tak bergerak dan hanya mencibir, di mataku, tak lebih baik dari sampah!

Tak Ingin Risau

Sulit memang. Benar-benar sulit untuk memikirkannya bahwa hal-hal yang kiya yakini itu benar bisa menjadi salah. Itu adalah karena ego yang tumbuh di hati.

Hal seperti ini hampir membunuh saya dan membuat saya gila : Saya takut saya telah melakukan kesalahan. Saya takut saya salah di depan banyak orang. Dan saya tidak ingin salah atau melakukan suatu kesalahan di depan mereka. Sungguh ego itu membuat saya hampir gila.

Hal-hal seperti itu yang memaksa saya untuk selalu memiliki tujuan ketika melakukan sesuatu, untuk selalu memiliki rencana ketika berhadapan dengan seseorang atau beberapa orang sekaligus. Dan ketika saya tidak memilikinya, ketika saya tidak berhasrat, ketika saya tidak punya motif atau tujuan apapun, saya lebih suka meringkuk atau mengasingkan diri. Itu adalah ego.

Padahal sejatinya saya menyukai energi yang berlipat-lipat ketika bertemu atau berkumpul dengan banyak orang, saya menyukai energi dan dorongan murni yang kuat ketika berkenalan dengan orang-orang baru. Sejujurnya saya sangat menyukai keadaan ketika saya berada di tengah-tengah mereka atau saat-saat ketika membicarakan sesuatu yang sama sekali dak penting.

Seseorang yang keras kepala seperti saya, ternyata bisa merasa insecure juga, menggelikan. Apa saya sedang tertawa sekarang? Saya sugguh rindu akan saat-saat ketika saya bisa lepas menjadi diri saya sendiri, bebas melakukan apa saja… mengatakan apa saja.

“Aku ingin bernyanyi seperti burung berkicau, tak merisaukan siap yang mendengar atau apa yang mereka pikirkan.” -Rumi-

Ramadhan Paling Aneh Yang Kualami

Hujan di luar begitu deras, di jam-jam segini langit yang biasanya tampak cemerlang–berwarna lembayung— itu sekarang hanya kelabu dengan berhias noda-noda hitam yang berterbangan. Berbeda dengan burung walet yang sedang berbahagia menyambut hujan itu, aku hanya duduk di belakang jendela mengamati serbuan yang datang beserta deru angin dan gemuruh yang bertalu-talu.

Pada tea time kali ini—ya, meskipun saya maniak kopi, saya masih punya tradisi untuk menikmati saat minum teh panas di sore hari— tidak ada teh yang terhidang di depan saya. Alhamdulillah saya masih bisa bertemu dengan bulan puasa yakni Ramadhan Suci ini. Meskipun Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang paling aneh yang pernah saya alami dalam hidupku.

Tahun-tahun sebelumnya, saya biasa meghadapi Ramadhan dengan penuh antusias, begitu menikmati setiap detik, setiap tarikan nafas… setiap momen yang ada. Sekarang, meskipun baru berjalan dua hari, saya sudah merasakan Ramadhan saya tahun ini begitu berbeda. Jadi begitu bangun—saya sudah terbiasa bangun jam 3 pagi— pada hari pertama Ramadahan, saya bahkan tidak ingat kalau kalau monster dalam tubuh ini harus diberi makan sahur dan beberapa zat cair.

Memang malam sebelumnya saya sudah berniat bersama jama’ah tarawih kalau kami akan berpuasa selama satu bulan penuh. Tapi saya tidak benar-benar merasa telah sampai pada Ramadhan Suci yang sudah saya rindukan begitu Ramadahan Suci ini lewat tahun lalu. Hal ini terbukti ketika pagi tadi (jum’at) hampir saja tidak makan sahur kalau tidak dibangunkan ibu, sebab seperti biasa ketika hari Jum’at alarm dalam ingatan saya yang senantiasa menuntun untuk bangun akan berbunyi sekitar pukul 04.15 tidak pukul 02.45 seperti hari-hari yang lain.

Tidak seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya juga tidak seperti Ramadhan orang-orang di sekitar saya, biasanya Ramadhan adalah bulan yang penuh target, penuh harapan untuk mencapai tingkatan-tingkatan tertentu… kemenangan-kemenangan dalam perlombaan tertentu, harus khatam sekian juz, dan mengalami peningkatan sepiritual, tidak, tahun ini saya tidak mengalami perasaan itu, tida merasakan adrenalin itu. Tahun lalu bahkan saya harus selalu membuat ringkasan untuk disampaikan di majelis taklim di 4 tempat yang berbeda di desa saya, tahun ini saya menolak ketika majelis meminta saya untuk mengisi kultum-kultum. Tahun lalu saya juga menulis dalam catatan dengan topik Ramadahan, jadi ada Ramadahan satu… Ramadhan dua… dan seterusnya. Tahun ini… waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru saja saya Sholat Subuh tahu-tahu matahari sudah meninggi. Rasanya saya baru saja membuat beberapa dokumen tahu-tahu matahari sudah tergelincir. Rasa-rasanya saya baru menelaah dua halaman buku tahu-tahu ayah memberitahuku kalau sirine sudah berbunyi tanda waktu buka puasa. Rasa-rasanya saya baru saja selesai makan malam, tahu-tahu panggilan adzan sudah berkumandang sedemikian menggema di seluruh desa.

Waktu begitu cepat berlalu… bahkan saya belum punya rencana bagaimana mengahadapi pertanyaan yang akan mucul di idul fitri nanti. Tuhan telah menciptakan waktu yang sama bagi makhluknya… tetapi sejauh yang saya pahami waktu setiap makhluk ternyata berbeda. Inikah yang disebut relativitas? Relativitas itu memang nyata.

Catatan :

Sebetulnya ini post yang sudah harus terbit kemarin, tetapi–ya selalu seperti ini, yang membuat saya menjadi sering batal ngeblog–terdapat gangguan internet. menghabiskan terlalu banyak waktu untuk loading. -__- Aku capek kalau gini terus hiks!!

feature image by : sydneyprayertimes.com

Ketika Keran Pertama Terbuka

Suatu hari ketika saya memulai untuk menuliskan ide dalam sebuah lembaran-lembaran buku tulis, kalimat pertama yang muncul begini: “Untuk pertama kalinya aku mempraktikkan free writing di buku.” Sebagai mana yang sudah saya katakan “ketika saya memulai untuk menuliskan ide” sebetulnya saat itu tidak ada ide yang pasti yang ingin saya tuliskan—saat itu yang muncul dalam kepala saya hanyalah : ‘Untuk pertama kalinya aku mempraktikkan free writing di buku’—, tidak seperti kali ini, ada sebuah ide yang pasti yang ingin saya sampaikan, yaitu cerita tentang pengalaman saya ketika untuk pertama kalinya melakukan free writing di buku.

Sekali lagi saya akan mengulang cerita, gagasan utama pada artikel kali ini bermula dari sebuah keran pertama : ‘Untuk pertama kalinya aku mempraktikkan free writing di buku’ yang terbuka. Itu terjadi pada suatu malam ketika komputer saya rusak dan tidak bisa dipakai.

Bagaimana mungkin galon yang berisi air putih akan keluar susu atau kopi? Bagaimana mungkin?

Orang paling sakit pun tidak akan mengkhayal itu—Premis pertama–bisa terjadi dan saat itu saya memang sedang mengeluarkan sumbat itu sambil meminum kopi. Aku pun terus menggoreskan Fountain Pen ku yang terbuat dari redwood dengan nib Iridium Germany–mata pena standar— yang cukup baik karena tidak menghambat tangan saya untuk kosentrasi penuh ketika menggoreskannya dalam jurnal yang kelak ketika selesai akan saya beri judul “Tarian Liar Pena Ku” atau “Ketika Jemariku Menari”. Kadang saya geli sekali setiap membaca konsep judul itu, karena belum menemukan judul lain. Sebab itu seperti judul buku yang ditulis Bambang Pamungkas.

Saya masih terus menggoreskan kata-kata aneh yang tidak berbentuk. Sampai saya menyadarinya, ketika menuliskan begini : “Salah satu keunggulan free writting dengan menuliskan di buku, yang tidak dimiliki ketika menuliskannya di komputer, yaitu tak akan ada ‘typo’ meskipun kamu ‘merem’ ataupun menoleh ke arah lain.”

Ketika saya menyadari hal itu, saya pun tidak menghentikan jemari saya yang sedang menari dengan sangat liar dan gila itu. Sebab pantangan pertama dalam free writing adalah tidak boleh berpikir atau membaca ulang sampai kegiatan free writting itu selesai (aku memberi batasan 10 menit). Membaca ulang, mengoreksi ataupun berpikir saat melakukan free writting hukumnya adalah haram. Kata-kata yang keluar berikutnya pun mengejutkan saya. Si penulis terkejut dengan tulisan yang lahir dari pikirannya sendiri, dapatkan kau membayangkannya?

Tulisan-tulisan berikutnya itu begini : “Kamu bisa membayangkan betapa payahnya menulis tangan hingga typo? Sungguh sangat menggelikan. Tetapi kalau dipikir-pikir berkaitan dengan asal-muasal bahasa, tidak akan pernah ada typo dengan tulisan tangan. Kata typo sendiri berasal dari Bahasa Inggris ‘Type’ artinya mengetik. Jadi, bagaimana mungkin tulisan tangan akan berkorelasi dengan ketikan? Menulis itu bukan mengetik!”

“Jadi,… ini adalah contoh sederhana dari pengaruh Bahasa.”

Bahasa akan turut serta dan memberi andil dalam melatarbelakangi karakter dan perilaku suatu bangsa. Apabila definisi diartikan secara salah maka akan terjadi tumpang tindih suatu makna. Bisa jadi apa yang sebetulnya kita inginkan tidak tercapai karena tidak tepat dalam menggunakan Bahasa.

Misalnya manusia diciptakan itu untuk beribadah dan menyembah tuhannya. Tapi definisi tuhan ( t kecil atau t besar tidak akan menjadi tesis maslah di sini, abaikan saja dulu) yang kita dapatkan dari orang-orang yang—maaf—materialistik, pemahaman kita terhadap tuhan pun menjadi materialistik, yang kita pahami dari pengajian-pengajian dari syair-yair suci dari puji-puji dari mana saja; misalnya kita memberi sedekah atau sumbangan maka kita akan mendapatkan hal yang lebih besar dari sumbangan yang telah kita berikan (materialistik banget). Kita bangun tengah malam berdo’a memohon kepada tuhan agar dilancarkan rezekinya (materialistik tanpa tedeng aling-aling lagi nih ah); jangan-jangan tuhan yang kita konsepkan selama ini adalah tuhan yang materialistik hingga kita sibuk berdebat tuhan siapa yang paling benar. Kita meributkan bagaimana wujud tuhan. Terdiri dari materi apakah ia? Unsur dan senyawanya apakah ia? Kita pun meributkan jumlah tuhan, berapakah jumlah tuhan? Satu? Tiga? Sembilan belas? Atau….?!@#$^&&%(*()($#@!??:”>.

Apa sih yang sebetulnya pengen kamu katakan?

Begini, maksud saya, jika bahasa disalah artikan, jika bahasa tidak digunakan sebagaimana mestinya—kita mengenal warna soklat (sengaja aku menulis begini, bukan coklat) Bahasa Inggris-nya Brown, kemudian orang antah berantah sana memakan makanan yang di olah dari biji Kakao (cocoa) menyebutkan nama makanan itu sebagai chocolate, Bahasa Indonesianya juga Coklat. What the hell! Yeaaaaah!!!.

Analogi di atas, tentu belum menjelaskan maksud saya, dan coklat yang berupa makanan atau coklat yang itu artinya warna, saya kira tak ada yang salah cuma rada anu aja, sih.

Jika bahasa disalah artikan, atau salah namun di-kaprah-kan jadinya ya salah-kaprah (opo sih?! Opo yo mungkin salah terus segojo digawe kaprah?), sesuatu yang sudah disalahkaprahkan itu tidak akan berjalan sebagaimana definisi seharusnya.

Saya mengambil contoh belajar. Belajar, dalam Bahasa Arab, tholabul ‘ilmi, itu wajib ‘ala kulu muslimin wal muslimat. Kemudian pemerintah kita mewajibkan ‘Wajar’, wajib belajar, sembilan tahun? Dua belas tahun? Apa-apaan maksudnya ini? Kewajiban belajar kok jadi kewajiban sekolah? Belajar ya belajar, sekolah ya sekolah! Jadi maunya itu wajib belajar 9 tahun, 12 tahun? Atau wajib sekolah? Jare Cak Nun: “Piye iki rek?”

Belajar kok cuma 9 tahun. Belajar itu seumur hidup! Dari sejak ayunan sampai liang lahat!

Kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya juga, seolah-olah orang yang tidak bersekolah menjadi orang yang tidak terpelajar. Dan orang-orang yang sekolahnya sampai tingkat tinggi tertentu kadang menjadi sok dan bahkan menganggap dirinya sendiri adalah orang yang terpelajar dan wajib baginya mendapatkan kedudukan yang terhormat, merasa perlu aspirasinya lebih didengar daripada orang-orang yang tidak mencapai tingkat setinggi itu.

Kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya juga. Persoalan bangsamu memang komplek sekali, Ndi! Kompleks! Harus ditambah huruf ‘s’ untuk menempatkan kata benda, nomina yang bersifat plural. Karena permasalahan bangsamu sangat banyak dan itu perlu untuk menegaskannya dengan kata yang bermakna jamak. Sudah salah! Belagu lagi! Memangnya kata ‘komplek’ itu nomina? Kata benda? Itu kata sifat lik! Sejak kapan kata sifat mengenal tunggal dan plural? Begitulah persoalan bangsamu!

Lho koe kok ngeyel? Komplek kui kata benda, Lik! Komplek A, Komplek B, Komplek Taman Asri, Komplek Taman Sriwedari? Ha ha ha. Hasembuhlah!!!

Kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya. Banyak instansi dan bahkan masyarakat sendiri menghakimi bahwa orang yang tidak bersekolah adalah orang yang tidak terpelajar. Seorang yang ingin menjadi guru, harus seorang sarjana. Seseorang harus mencapai level tertentu untuk bisa menduduki suatu jabatan. Padahal kalau kamu mau tahu, gadis cantik yang aku jatuh cinta padanya, Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi, tidak pernah lulus SD, tapi bisa menjadi Ratu bagi kejayaan Majapahit.

Sekali lagi, kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya. Seseorang harus mencapai level tertentu untuk bisa menduduki suatu jabatan. Kemarin terjadi sebuah kekosongan kepemimpinan di kampung saya, kepala dusun sudah sepuh dan pensiun dan sampai sekarang kekosongan itu tetap dibiarkan kosong karena tidak ada penerusnya. Selain jabatan itu tidak terlalu bergengsi, jabatan itu menuntut seseorang tamat SMA untuk dapat mendudukinya. Penduduk yang tamat SMA di kampung saya hanyalah orang-orang yang masih muda. Mereka tidak berani menduduki jabatan sebagai Kepala Dusun. Kau tahu? Anak muda yang masih cetek pengalamannya bisa saja di ‘Pret’-in sama warga. Kepala Dusun haruslah seorang yang mempunyai pengalaman yang banyak, berjiwa besar, berpengaruh untuk bisa memimpin Desa. Kalau harus yang tamatan SMA… masih bau kencur begini? Bisa-bisa tidak di dengar tuh, di cuekin dan paling parah kalau sampai di jembelotin—susah nyari padanannya dalam Bahasa Indonesia— dan di ‘Pret’ in. Anjaaaaayyyy!!!

Dari free writting ini, setidaknya, saya belajar bahwa penting sekali untuk membuka keran pertama yang kemudian akan mengalirkan gagasan—yang bisa jadi adalah gagasan orang lain yang kamu olah—yang kemudian menjadi dasar dari pemikiran selajutnya. Menjadikan saya manusia yang senantiasa ingin terus berpikir. Apa gunanya selama ini saya menjaga perut agar jangan sampai begitu kenyang sehingga membuat otak menjadi lamban dan malas berpikir, kalau pada akhirnya aku tidak mau memikirkan hal sepenting ini, berkaitan dengan bahasa? SUDAH TIDAK KENYANG, BERAT BADAN GAK NAMBAH-NAMBAH MALAS BERPIKIR PULA!

Hal sepenting ini, bahasa, mulai harus saya maknai dengan sungguh-sungguh. Sebab sejauh pengetahuan saya, bahasa adalah sesuatu yang sangat sakral yang diajarkan oleh Tuhan sendiri. Bahasa adalah salah satu ajaran Tuhan, yang tanpa-Nya, tanpa campur tangan-Nya, mustahil dapat dipahami oleh manusia. Bagaimana mungkin Tuhan tidak mengajarkan pada bayi untuk menangis ketika ia lapar? Dan dengan kehendak Tuhan, sang ibu memahami bahasa bayi itu dan segera menyusuinya.

Bahasa adalah sesuatu yang sangat suci dan sakral, ajaran yang nyata sangat tampak berasal dari Tuhan, yang entah Tuhan sematerialistik apakah Dia. Yang jika aku meniadakan kematerialistikannya, aku belum memahami seperti bagaimana adan-Nya? Aku hanya percaya bahwa Allah itu wujud, qidam dan baqo’.

Bahasa adalah salah satu ajaran Tuhan yang sangat nyata, yang aku menduga-duganya, maksud dari Surat Al-Alaq itu, yaitu bahwasannya Tuhan mengajari manusia, apa yang tidak ia ketahuinya. Tuhan mengajari manusia melalui perantara qolam. Hurf Qof, qolam, pena? Tulis baca? Bayi bisa membaca? Yang dibaca mungkin bukan huruf dan tulisan yang kita kenal. Bisa jadi apa yang dibaca tidak selalu wujudnya harus materi seperti yang kita inginkan (ah makhluk materialistik). Wallahu ‘alam.

Buah Pikiran Bebas
di tulis oleh : Andy Riyan, 6 April 2018
keyword: Mengalirkan ide, Bahasa, Kewajiban Belajar,
Keran Pertama, Teknik Menulis, Materi, Materialistik,
Filsafat, sosial, sosiologi, free writing
Catatan: Free Writing adalah teknik menulis yang
dikemukakan oleh Pak Hernowo Hasim, seorang penulis yang
produktif dan menghasilkan puluhan karya.

Liebster Award : You Left A Footprint, You Lift Your Own History

Hello Amigos? Afortunedament todos por la felicidad. Siempre por la libertad. How are you today? I hope you are fine. Aren’t you? I’m glad to know if you are okay.

Now, that I have to say to you is no less than anything but thank you. Thank you so much for coming to jejakandi, my lovely personal Blog, and reading some pieces of nothing but random minds. Yes! Random minds. But I always proud with all I have, so these garbages, whatever these garbages may become, I called them articles, ha ha aha.

Now to arrive in this article that I present to you, it’s not easy. As you know, it took way too long to write down my minds and share my thoughts to this world as an honor that has come to me from my friend, Nadya Irsalina a.ka. @wakingupat3am _. I have been so busy lately and still don’t know when I’m ready to come back and stick in here like I used to be in the past. I am too busy or pretending to place my self stuck in busy so I have no time for writing some letters or articles. But I do not remember in what situations I didn’t act seriously for what I love. Writing here in jejakandi is also one thing that I love the most in the world. Again, I say thank you very much to stay with me especially for Nadya that has nominated myself to answer her questions from The Liebster Award, and those questions are like a baby mother who being pregnant my baby minds and to this born as new ideas of articles. It’s not the first time I’ve been nominated an award like this, but it’s the first time I’ve been nominated an award from English version.

The Liebster Award is an article that contains eleven questions you have to answer, then you write down eleven questions too and nominate eleven blogger or friends to answer your questions. Shortly it is like a chain message. For more detailed about this award you can visit her blog in https://wakingupat3am.wordpress.com/ and to get back link click here

So let’s begin from first questions.

  1. Why did you start blogging?

I love it. What else matter? 😀

  1. How long have you been blogging and what has kept you going until now?

I’ve started since 2008, you wouldn’t found difficulties to count it. :v I still love it, the reason I’ve kept going. 🙂

  1. Do you honestly read every post that you like?

Of course.

  1. If you could change one thing about yourself, what it would be?

Nothing. Why I want to change it? I love every single part of mine. Hahaha

  1. What is one interesting fact about you?

Hemmmm. It’s difficult question. If I could change the question, what if… what is one not interesting fact about you? For sure, I will answer : There’s nothing that is not interesting about me. I’m a narcist king. LOL

  1. Do you want to be famous?

Yes, I do. It would be a fantastic way to be immortal. And no I don’t want to be that famous person, I could not imagine how stressed they are to be that famous.

  1. If you could travel anywhere in the world where would you go and why?

London, because there Stamford-Bridge stadium is located.

  1. Do you have any hidden talents? If so, what?

Hidden talents? Hemmm… sixth sense? Yes I have it. LOL. No no no do not have this—whatever shit hidden talent–thing.

  1. What’s your idea of a perfect date?

What date? Date line! Yes it’s a prefect perfect perfect date, you could push your final power out. The Power of Kepepet. Mlipir dulu ha ha ha

  1. What is your favorite way to relax?

Making trashes into ashes. Burning! Burning! Burning your body and soul! Hahaha.

  1. To what extent do you trust people?

There are many variations among one to others. The lowest I trust nothing. The highest, I trust to give my live but not my soul.

***

Those are the answer if you want the simplest one. I know it’s too rude for you after I said that those questions are like a baby mother who being pregnant my baby minds. Moreover those questions come down from the hearts of the smart and beautiful girl. And it’s way too faraway from my attitude to ignore a girl like her. But, I don’t know what the readers expect, I’m afraid the more I speak, the less people want to hear… the more I write the less people want to read my full story. Because many people believe, the more you tell about yourself the more you potent to tell a lie.

However, people nowadays are accustomed with a lie even love a lie, and don’t care of a lie… now safe for me to write down more story. Yeah! If you want to read some more, you can follow this article until the end. There is no surprise just an extended story. And if you want no more… again I say thank you for reading until this time. But one thing that you should know… it’s not easy for me to arrive to this… I always put all my effort for what all I love, you may missed that thing I called a love.

  1. Why did you start blogging?

Yeah… so the extended story begin. Like I said before, I love it and nothing else matter. I love reading and writing. Whenever you read, you think, why I always have to think? Why I have to stuck in thinking? It’s normal when you are a homo sapiens, isn’t it? I have a syndrome, terrible syndrome may I say : I cant stop thinking. While I’m reading or not, I can’t stop it. I have no brainer to live except to think. It’s painful.

I’m glad to know, Rene Descartes said : Cogito Ergo Sum! It make me feel I’m not alone in this world. Why Mr. Descartes have to say it, because he born to say it, become legend and immortal.

So why did I start blogging? To reduce a pain I suffer all along by writing down my minds, so I must not thinking everything, could forgetting a hard thing without insecurity and fear of losing them. It’s the first reason, the more reason is… sometimes I lost in doubtfulness and confuses and I found the most effective drug for losing soul is writing. Writing is a drug for losing soul, yeah exactly like that. So I take blog as like an alternative platform to reduce a pain.

  1. How long have you been blogging and what has kept you going until now?

I’ve started Blogging since I was in vocational high school in 2008. I was still in second grade. Back then I met a friend who had an addiction to visit an internet cafe.

One day he invited me to share money and access internet together. I do remember the default page which was displayed on the Internet Explorer screen… Still MSN. He, then, introduced me to the largest chatting platform in the time, MiRC. Amazing. I didn’t know what he was doing, suddenly he was typing something and the screen changed with the page which full of porn pictures. Suddenly, I was vomiting and want not to continue. I was angry with him, never in my life, I’ve seen such a bad picture like that. I gave my money and went out.

But it was just a beginning of story. Later, I met with a different friend, he invited me to visit an internet cafe that was presented in opening day. I agree. He, then, introduced me with Google page.

“Woww! This fellow is fucking genius.” I said in my heart.

But what the hell! What I found? His mind like many other young man, that day was full of porn. He also accessed porn site. What a unique is he did with the help of search engines. I understand that day and was not angry because I got an idea. With this Google-things, I thought I could search many things beyond my world.

Then I decided to accessed internet all alone. That day I was die hard fan of Chelsea Olivia (later I know, why I do adore her, because she has same name with my club favorite), so I collected her pictures. From day by day when I visited internet cafe, I just wanted to see Chelsea Olivia and I was amazed by personal page and thinking what if I put my pictures there, I would be popular like her, but I don’t know how to do it. Until I met my teacher, Mr. Adi who teach me how to build a free blog. He, although only introduced me with WordPress and how to register and no more, he has become instrumental and integral part of my survival of internet era.

That is my story and what what that has kept me going until this very day? Because I survived through this many things, adventures, and challenges. Blogging has introduced me to many things and challenges and find me to another dimensions. Blogging has met me with other people who is like you do… giving me more challenges. Blogging is full of adventures and with that you can see that you have changed become a man today over yesterday. You left a footprint, you lift your own history.

See yaa, the extended story of remaining questions will be presented in the next post, Insyaallah.

Andy Riyan

Kliwon Brengsek

“Kliwon? Ngapain kamu di sini?” Kataku kaget, ketika tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe yang berada di pinggir jalan di desa kawasan pegunungan berkilo-kilo meter jauhnya dari kota Temanggung.
“Ngopi lah… sesekali cari udara segar di luar!”
Biasanya aku dan Kliwon bersama-sama dengan Kang Paidi dan Kang Paijo sering menghabiskan waktu di brak di perempatan 3/2 yang dekat dengan warung Angkringan Kang Juned. Tetapi hari itu aku ada janjian dengan seseorang. Perempuan. Perempuan cantik kalau harus diceritakan lebih spesifik. Di Kafe itu. Kafe yang sekarang kedatangan seorang manusia yang aku berharap dia tidak ada di sini sekarang ini. Dan dia sekarang ada di sini tepat di depan mataku. Sungguh mengacaukan suasana. Saat itu aku sungguh-sungguh berharap Kliwon tidak pernah dilahirkan. Ya Tuhaaaaaaan! Kenapa makhluk ini ada di sini?
“Kamu sendiri ngapain di sini? Kopi di rumah sudah gek enak lagi ya?” Kliwon nyengir.
Sesungguhnya wajah itu sangat lucu. Giginya yang tidak beraturan membuat definisi yang berbeda tentang wajah yang menyenangkan. Rambutnya yang selalu klimis di potong semi mohawk itu sungguh tidak sesuai dengan tampangnya yang lugu. Tapi betapapun menyenangkannya Kliwon dan betapapun aku sungguh menyayanginya, sore itu aku sungguh-sungguh benci padanya. Hanya benci mengapa ia ada di sini sekarang.
“Hanya kebetulan aja lewat sini dan sialnya ketemu kamu.” Kataku jengkel. Aku berbalik dan pergi meninggalkan Kliwon.
“Woi kok buru-buru, gak mampir?” Teriak Kliwon.
Aku menyalakan motorku dan menatap Kliwon “Enggak. Males!”

***

Mas di mana kamu sekarang? Aku sudah sampai.

Bunyi WA dari seseorang yang kontaknya aku beri nama Pipi Tembem.
Aku menggeser layar ke atas, membaca percakapan sebelumnya. Aku lega. Pada janjian kali itu aku tidak menuliskan pesan seperti yang sudah menjadi ciri khasku setiap kali ada pertemuan dengan siapa saja. Misalnya, 15 menit lagi sampai. Atau, aku sampai di sana dalam 27 Menit. Atau aku akan menunggumu pukul 15. 45 mampir sebentar ke Musholla. Aku tidak melakukannya hari itu karena aku belum pernah memperhitungkan lamanya perjalanan menuju kafe yang memiliki pemandangan langsung menghadap pada lebatnya hijau rerumputan dan pohon-pohon rimbun di kawasan perhutani. Aku bernafas lega. Tapi ini akan menjadi yang pertama kalinya aku mesti berbohong pada PPT (Perempuan Pipi Tembem).

Ketemuannya di cancel aja, ya. Aku baru inget, aku harus ngaji gantiin Ustadzah Arikah.

Aku merasakan tanganku gemetaran cukup hebat. Aku khawatir akan terjadi kebohongan yang beruntun. Beruntungnya percakapan ini melalui pesan teks, coba pesan suara, aku tak bisa membayangkannya. Bodoh! Kenapa malah nyari perkara gini sih! Dasar bodoh! Gali lubang untuk diri sendiri.

Ya sudah! Bilang dong dari tadi.

Aku cuma membalas dengan emot icon tangkupan tangan sebanyak tiga kali.
***

Hari berikutnya.

“Yah kamu, Yan… Coba kemarin kamu jadi nongkrong di Kafe Jeruk Legi itu.” Kata Kliwon tiba-tiba ketika aku sedang asik ngajari Kang Paidi bermain game tetris menggunakan hapeku.
“Memangnya kenapa, Won?” Jawabku acuh.
Kang Paidi tidak peduli dia tampak serius memandangi layar hape. “Piye to iki… kok gak iso di pejet!” Kata Kang Paidi agak gugup.
“Jempol mu gegeden, Di! Gak bakat sampeyan dolanan smartphone.” Ujar Kang Paijo.
“Bukannya nongkrong tapi malah pergi. Memang bukan rejekimu, Yan.” Kliwon terus nyerocos. Aku melirik ke arah Kliwon. Kliwon tersenyum puas, “Beberapa saat setelah kamu pergi, ada cewek cakep datang, Yan! Beneran cakep! C A K E P!”
Nyas! Dadaku berdesir-desir tidak karuan.
“Ha kenalan ora? Ora kenalan percuma…” Sahut Kang Paijo.
“Kenalan dong…! Siapa dulu Kliwooooon!” Kliwon menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan perasaan bangga.
Hatiku terasa sangat panas. Jangan-jangan itu Pipit, kataku dalam hati.
Sopo jenenge, Won?” Tanya Kang Paidi datar tanpa memalingkan mukanya dari layar hape.
“Rini, Kang!” Kliwon tersenyum.
Huh. Aku mendesah lega. Tapi mendadak kepalaku pusing, pandangan terasa sangat gelap. Rini? Pasti enggak salah lagi! Pipit Pusparini!
“Punya fotonya enggak?” Tanya Kang Paijo.
“Punya… untungnya aku sempat nyolong pas dia lewat di depanku.” Kliwon kemudian sibuk mengutak-atik smartphone nya. “Niiiiih cantik gak?” Kliwon menunjukkan foto itu di depan kami bertiga.
Dengan dongkol aku berteriak: “KAMPREEEEEEEET KOE WOOOOOOON!!”

Keterangan, sumber photo : pxhere.com

Tentang Kisah Bu Sarah dan Pak Jono

“Masa njenengan tidak pernah jatuh cinta lagi sejak saat itu, Pak? Apa dia begitu tak tergantikan?” Sarah menatapku nanar.

Aku kira ia memang bersungguh-sungguh untuk membantuku bangkit. Tak sehari pun ia tak pernah memotivasiku. Seolah-olah jika lewat sehari saja, maka aku akan semakin terpuruk dan tenggelam dalam kegelapan.

“Ha ha ha… Cinta… ” Aku tersenyum getir, “Cinta adalah perkara yang paling konyol dalam hidupku… rasanya ah gitu deh!”

“Ah njenengan sok kayak gitu… sok gak butuh… seolah kata cinta itu seperti buah yang terlalu masak hingga rasa aslinya sudah tak mengundang selera untuk membicarakannya. Padahal pun kalau ada jambu yang masak njenengan ambil dibuat jus.”

“Bu Sarah sendiri… Ketika menikahi Pak Jono…” Sarah tampak gelisah, ia menahan napas. Aku ragu. Akankah aku terlalu kejam menyerang sisi ini? Aku kira Sarah lebih suka menghindari topik ini. Aku menahan. Lebih baik tidak dilanjutkan.

Sarah menghela napas panjang. Kemudian sejenak ia tampak berpikir menyusun kata-kata. Sarah menelan ludah, kemudian ia berkata : “Semuanya akan berubah sejalan dengan waktu, Pak!”

Aku menekan kuat-kuat gejolak batin yang akan meledak. Waktu. Waktu adalah hal yang bahkan tiap satuan terkecilnya adalah hal terbesar yang aku miliki. Apa katanya? Berubah sejalan dengan waktu? Apakah aku hanya akan membiarkan waktu berjalan begitu saja? Jika bukan karena Sarah-lah yang membantu membuatku nyaman di tempat ini, mungkin aku tak mau capek-capek mengendalikan diri.

“Siapa pun, pasti akan mengalami sebuah kekecewaan setelah menikah… yang aku rasakan kepada Pak Jono juga seperti itu. Enatah kebodohan apa yang telah membuatku mau menerima lamaran Pak Jono. Rasanya aku seperti tersihir.”

“Tak ada cinta? Ketika menikah dengan Pak Jono?”

“Jangankan cinta, Pak. Bahkan aku tak pernah membayangkan kalau aku akan menikah dengan Pak Jono. Aku selalu selalu menjawab : ‘Wah mboten ah… moso Pak Jono sih. Mboten pokok e,’ Setiap kali temen-temen di sini menggodaku untuk menikahi Pak Jono.

Sarah kemudian menceritakan padaku awal mula kisah pernikahannya dengan Pak Jono, kisah pernikahan yang tidak pernah melewati masa pacaran. Kali itu aku sadar, kalau Sarah tidak menganggapku hanya sekedar partner kerja. Dia bahkan merasa aman dan mempercayaiku menceritakan kisah pribadinya.

Dengan Pak Jono, Sarah tidak mengalami kisah cinta yang berbunga-bunga seperti remaja yang bertemu dengan cinta pertamanya tidak pula mengalami gejolak perasaan yang meledak-ledak seperti kisah cinta orang-orang masa kini pada umumnya. Singkat cerita, pada suatu ketika Pak Jono hanya mengirim sms kepada Sarah. Melalui SMS itu ia bercerita, bahwa ia bermimpi bertemu dengan Sarah. Karena bingung dengan maksud Pak Jono, mengapa ia menceriakan mimpi konyol itu, Sarah tak membalas SMS itu. Selang beberapa hari Pak Jono mengirim SMS ke Sarah lagi. Isinya hanya sekedar permintaan ijin—menurut Sarah— tak kalah konyol dari SMS sebelumnya : “Seandainya saya suka sama Bu Sarah, Boleh?”

Dengan jengkel Sarah membalas : “Pak Jono maunya apa? Kalau Pak Jono mau serius, datang saja langsung ke rumah dan minta ijin sama Bapak.”

Pak Jono yang tidak siap dengan jawaban yang teramat kejam itu, ia membalas kalau ia mau datang ke rumah Sarah sore hari berikutnya.

“Y” balas Sarah.

“Ha ha ha ha…” aku tertawa terpingkal-pingkal, “Sesingkat itu, Bu? Hanya jawab dengan huruf ‘Y’ aja?”

“Iya, Pak. Gak kepikiran waktu itu.”

“Terus… terus gimana ceritanya?” aku penasaran.

“Pak Jono dateng beneran, Pak!” Sarah menepuk bahuku kuat-kuat “Waduh piye kiye…! Perasaannya jan mak nyas! … aku lak bingung to Pak. Tak kiro ora arep teko, jebul teko tenanan.” Ia meraba dadanya kemudian kedua telapak tangan Sarah menempel di pipi menirukan ekspresinya dulu. Kemudian ia tertawa sendiri sampai terbungkuk-bungkuk mengenang masa lalunya. Aku pun ikut tertawa, padahal aku bingung, ia ngetawain apa sih?

Sarah bercerita menurut ceritanya Pak Jono, ketika Pak Jono menyanggupi tantangan Sarah, Pak Jono seperti benar-benar mengalami kengerian yang luar biasa. Lututnya gemetaran dan tubuhnya terasa sangat gerah sekali, kemringet!. Di tengah perjalanan menuju rumah Sarah, Pak Jono sempat ragu dan berbalik arah mau pulang, “Piye kiye, arep sido pora ya.” Katanya. Setelah lama berpikir dan mengumpulkan nyali, Pak Jono berbalik arah lagi menuju rumah Sarah. Tapi baru satu meter ia berhenti lagi, bahkan sampai harus turun hingga berjongkok dan berpikir untuk kesekian kaliya. Rasanya ia mau menangis. Campuran antara isin ditolak atau isin tak sanggup dengan tantangan yang sudah disanggupinya. Akhirnya ia membulatkan tekadnya: “Kalau ditolak, aku mau resign aja. Keluar dai kantor.” Katanya.

 

 

Gambar fitur : Google