Detak Jiwa: Rompalan Kayu Bakar

Ketika gitarku katakan lebih banyak dari mulutku.
Apa yang membuatku terbungkam?
Adalah bahkan santunku tak menyentuh hatimu.
Hanya rindu yang berharap,
hati mampu melihat
serpihan kering rompalan kayu bakar.

Advertisements

Kalkulasi Keyakinan

Teknologi informasi zaman now ini memang luar biasa sekali. Bicara keakraban soal IT dan media sosial, aku paling akrab dan suka mengakrabi Twitter. Dari sejak aku membuat akunnya tahun 2009, sampai hari ini, yang aku paling konsisten di sana, paling loyal dan paling banter update-nya ya Twitter itu. Itu cuma bias pribadiku ya. Nah soal penyebaran hoaks, soal twitwar, nyinyir-nyinyir sampai mambu anyir dan berbagai hal negatif itu, sebetulnya semua itu ya terserah kita. Di sana memang ada yang negatif tetapi ada yang positif juga. Jadi ya terserah kitalah. Suka-suka kitalah mau positif atau negatif.

Kalkulasi Keyakinan

Dan menariknya kata Gus Mus ketika di singgung tentang positif dan negatifnya media sosial (twitter, instagram, facebook) beliau menjawab bagi beliau adalah hal yang positif. Kurang lebih begini kata pengasuh Pondok Pesantren yang terkenal di Rembang itu :

[…] karena yang di twitter itu orangnya hebat-hebat. Di sana ada ahli politik, ada ahli diplomat, ada bahkan ada ahli busana, ada ahli teknologi […] banyak sekali. Jadi saya dengan di sana bisa ngaji ke mana-mana. Ya jadi tinggal follow aja ini ini […] setiap dia ngomong saya perhatikan. Tak harus mondok seperti dulu jauh-jauh… kan tinggal buka; klik […] ada yang ahli fekih, ahli tasyawuf. Ada keahlian-keahlian yang saya gak mungkin ngerti… .”

Nah pengalamanku ketika bertwitter kurang lebih sama. Ada banyak hal positif yang aku dapat di sana, seperti ngaji dengan Gus Mus ini. Ngaji sama Mbah Tejo, Mbak Najeela… banyaklah gak bisa sebutin satu-satu. Dan yang aku sering banget memperhatikan ya twit-twitnya Pak Haidar Bagir. Aku follow Pak Haidar itu awalnya karena aku membaca buku-bukunya yang merupakan buku yang sering aku baca selain buku-bukunya Pak Quraish dan Mbah Nun. Tak bisa dipungkiri lagi, di twitter itu banyak sekali orang hebat. Di sana juga ada dosen filsafat seperti Pak Tommy dan Rocky Gerung. Ada seorang jurnalis kawakan yang kritis banget dengan isu-isu yang terjadi di Indonesia, namanya Dhandy Dwi Laksono, dia tuh concern banget dengan lingkungan hidup, yang bukunya telah aku masukkan kedalam salah satu buku yang wajib dibaca sebelum mati; Indonesia For Sale.

Nah pada suatu malam, yang agak membingungkan apa faedahnya ngaji gak jelas seperti itu, ketika ngaji di Pondok Jami’ Al-Twitter, di dalam sebuah diskusi di ponpes sejuta umat antara Mbah Tejo dan Rocky Gerung—menampilkan cuplikan program Q&A—mengenai kitab suci, aku tercenung. Kata Rocky Gerung kitab suci itu fiksi. Dan beliau mewanti-wanti dengan tegas untuk membedakan fiksi dengan fiktif, soal ini aku sudah lewat setelah berdiskusi dengan teman saya.

Aku tercenung ketika Mbah Tejo menyinggung kitab suci kira-kira begini : bagiku kitab suciku adalah apa yang aku yakini. Entah mau disebut comberan atau apa, soal kitab suciku, tidak akan menambah keyakinanku ketika banyak fakta terbukti dan tidak akan mengurangi keyakinanku ketika banyak disangkal kebenarannya. Kalau keyakinanmu itu bisa bertambah atau berkurang karena suatu hal, bagi Mbah tejo itu bukan keyakinan, tapi Kalkulasi.

Entahlah apa yang dimaksud Mbah Tejo dengan kalkulasi kitab suci ini. Aku tetap saja tercenung dengan soal ini. Walau jauh-jauh hari sudah aku mantapkan, sudah aku katakan pada diriku sendiri ketika belajar Logika Agama-nya Pak Quraish Shihab dulu, bahwa kelak ketika banyak ayat Al-Qur’an terbukti secara ilmiah, kami tidak akan pernah menyangkut pautkan Al-Qur’an dengan pembuktian. Al-Qur’an tidak perlu pembuktian. Dan apabila secara ilmiah banyak hal bertentangan dengan ayat Al-Qur’an, sekali-kali aku tidak akan mempertentangkan hal tersebut. Itulah hakikat iman terhadap Al-Qur’an bagiku. Hanya harus percaya dan tak perlu pembuktian. Tetapi alrm di dalam diriku berbunyi dengan sangat nyaring.

Aku masih tercenung soal kalkulasi ini. Karena bagaimana mungkin aku bisa mengalkulasi pemahamanku, mengalkulasi keyakinan dan proses belajar. Aku tidak mempertentangkan dan menguatkan keyakinan dengan melakukan sekian penelitian terhadap Al-Qur’an, karena bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Namun yang aku pelajari, dalam Al-Qur’an banyak sekian ayat yang mengajarkan untuk memperhatikan, untuk memikirkan ciptaan Allah lewat redaksi bertanya apakah mereka/kamu tidak berpikir? Dari sini seharusnya wajar ketika bertambah iman atau keyakinan seseorang setelah melalui serangkain proses belajar dan memahami. Dan aku mungkin salah satu dari banyak orang yang dulu menolak dengan sangat keras teori evolusinya Darwin, “The Origin Of Species”, setelah direcokin doktrin ketika menonton video-video dan pemaparan Harun Yahya yang mengungkapkan penyangkalan yang keras. Namun sekarang aku sangat terbuka dengan kemungkian itu, walau aku tidak menyakini betul. Setidaknya aku tidak menolak dengan sangat keras, karena bisa jadi teori Darwin itu benar, bahwa dulu kala di zaman Pra-Sejarah ada manusia purba yang kemudian berevolusi menjadi Homo Sapiens atau Manusia Modern. Bisa jadi teori itu salah. Itukan ilmiah. Menolak atau menyakini teori itu… jangan dibentur-benturkan dengan Al-Qur’an-lah. Jadi jelaskan? Yang berbahaya itu doktrin dan indoktrinasi, karena bisa menyebabkan mati akal dan sikap fanatik yang berlebihan.

Aku masih tercenung dan bagaimana mungkin aku mengalkulasi keyakinanku. Bukankah di dalam hadist pun disebutkan? Salah satu tanda iman adalah ketika hatinya bergetar setiap mendengar ayat Allah dibacakan dan dia bersegera memenuhi seruan panggilan itu. Bukankah sudah sangat populer? Bahwa ada pernyataan iman Nabi itu akan senantiasa terus bertambah tetapi tidak berkurang, iman para malaikat tidak bertambah dan tidak berkurang, iman setan tidak bertambah tetapi terus berkurang sedangkan iman manusia adalah bisa bertambah atau bisa berkurang; naik-turun sesuai kualitas manusia itu sendiri.

Lalu bagaimana mungkin aku mengalkulasi keyakinanku. Andai yang ketika dulu aku masih kecil, belum bisa berpikir dan tidak memahami apapun, tidak memiliki keyakinan selain apa yang disampaikan orang tua dan guru ngaji. Dan setelah beranjak dewasa, mendewasa dan mulai berpikir malah bisa menjadi sebodoh ini? Mengalami pasang surut berpikir. Aku kira itu adalah kodrat manusia; mencari.

Sekian Saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

Rindu

Wahai Muhammad, Kekasihku.

Sungguh aku merindumu.

Tak ada puisi yang sanggup kulukiskan untukmu,

oleh karena kerinduanku yang begitu dalam.

Wahai Muhammad, Kekasihku.

Engkau telah berkata, engkau akan bersama orang-orang yang mencintaimu.

Bilakah engkau akan bersamaku?

Wahai Muhammad, Kekasihku.

Sungguh air mataku telah berlinang,

Kerinduanku ini telah begitu dalam.

Mengatasi Kesulitan

Ketika aku menulis artikel ini. Aku berpikir, pokoknya hari ini aku harus bisa posting satu tulisan di blog. Aku ingin mempublikasikan blog. Mengapa aku harus mempublikasikannya? Karena aku harus menerima kenyataan bahwa mempublikasikan tulisan di blog adalah salah satu bentuk aneh, gaib—gak gaib-gaib amat sebetulnya sih ini kan jelas banget faktanya—, benda kasat mata yang dapat membahagiakan aku.

Pertama yang aku lakukan adalah membuka keran pikiran dulu. Karena sesungguhnya banyak sekali hal yang ruwet dan berseliweran di kepala yang perlu diurai satu-persatu. Banyak hal yang pengen langsung aku tumpahin di word prosessor. Tapi kenyataannya itu tidak mungkin dan tidak akan bisa terjadi. Lha mana mungkin segala pikiran dengan berbagai tema bisa langsung berhamburan seperti acara pengajian yang tiba-tiba langsung sepi ketika sang Da’i menutup dengan salam. Padahal kan acara belum selesai tuh. MC-nya masih pegang microphone dan belum melaksanakan acara terakhir; penutup. Wong yang satu tema dan maunya langsung sepi dari pikiran aja enggak bisa apalagi yang ragam tema. Pelik.

kesulitan2

Nah pada saat ingin mempublikasikan blog tentau banyak kesulitan-kesulitan. Anehnya para kesulitan ini—kesulitan kok para iki piye? Mbuh!— tidak ada sangkut pautnya dengan tidak adanya ide.

Halo apakah cuma aku sendirian di sini yang merasa kalau telah punya banyak bahan tulisan tetapi belum bisa mempublikasikannya ke atau di blog?

Ada banyak kendala tentunya mengapa sulit sekali untuk bisa posting di blog. Kalau masalahku sudah jelas pada kegiatan editing. Aku ini kurang piawai, kalau tidak mau dibilang ‘sangat payah’, dan kurang cermat. Aku ini sering kali gagal menyambungkan, menghubungkan, mengalirkan antar kalimat yang ada, antar pargraf yang sudah tersusun untuk dijadikan satu artikel untuh dan bermakna.

Artikel yang baik kan harunya antara pembukaan, isi dan penutup itu nyambung. Tapi pada kenyataannya sulit untuk tersambung.

Waktu yang digunakan untuk mennyunting benar-benar yang paling krusial dalam istilah ngeblog ataupun menulis artikel lain. Mengapa? Karena lewat kegiatan editing inilah tulisan menjadi berkualitas dan terlihat lebih baik walau dengan konten yang sedanya. Melalui serangkaian penyuntingan, delete sana-sini, tembel sana sini inilah suatu tulisan menjadi sempurna. Pernah ada yang bilang, kalau tidak salah mbak Weiland, ia bilang gini… Novel Harry Potter yang pertama… philosopher of the stone/ batu bertuah itu sebelum masuk dapur editing seperti tulisan sampah. Gak tahu aku itu benar atau salah.

Saya pun hampir putus asa kalau melihat dan ingin seperti para conten writer yang cukup apik, piawai dan cukup luwes dalam mempublikasikan artikel di blog mereka. Tetapi berdasarkan yang saya baca, lupa baca di mana, kalau tidak salah ini adalah konten-nya si Paul Jarvis, satu blogger idolaku, yang tulisannya rutin aku baca, beliau mengatakan, para blogger dan content writer profesional itu sesungguhnya tidak bekerja sendirian. Mereka punya tim yang solid. Mereka mampu membayar editor kelas wahid dan mereka memiliki tim ahli agar tulisan-tulisannya dapat menjangkau sasaran pembacanya.

Jadi kalau mimpimu menulis blog adalah untuk seperti mereka, namun kamu kere, miskin dan tidak sanggup membayar editor yang ecek-ecek sekalipun. Lupakan saja! Buang-buang waktu. Kata dia.

Oke itu benar-benar buang-buang waktu. Dan mimpi ini akan sangat berdarah-darah jika kegiatan menulis blog adalah untuk tujuan komersial atau menjadi pekerjaan. Jadi ketimbang berdarah-darah dan buang-buang waktu mendingan mengikuti saran dari Mark Manson : “Jangan Berusaha” Ha ha ha ha. Saran yang paling keren kayaknya jangan berusaha, seperti di paparkan dalam bukunya The Subtle Art of Not Giving A Fuck atau dalam bahasa Indonesia diubah menjadi sangat aneh : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.

Nah sekarang ini, aku sedang bersikap Bodo Amat. Aku menulis ya cuma untuk bersenang-senang. Sekarang ini adalah menulis untuk berbagi sebuah kenyataan yang aku alami. Memang sih dari awal tidak pernah punya niatan untuk menjadi penulis konten atau blogger professional. Aku rasa, ngeblog adalah satu dari banyak passion aku. Yang istilahnya untuk mendistraksi setress berkepanjangan karena bekerja dan melakukan rutinitas monoton dan menjemukan yang benar-benar membuat mati kutu karena BOSAN.

Percaya enggak percaya ini adalah kenyataan, ngeblog adalah satu dari kegiatanku untuk mengusir sepi. Ya kadang aku bisa sampai 3 jam an hanya memandang laptop dan berinteraksi dengan blogger lain. Saling balas komentar dan membaca artikel-artikel mereka. Jadi serasa kesepian ini teratasi. Serasa punya banyak teman yang sebetulnya juga sedang kesepian di sana.

Halo apakah kamu salah satu dari mereka? Blogger yang kesepian? Wkwkwkwk

Namun lagi-lagi ketika aku terjebak di dunia aneh ini, kemudian ingat jika masih banyak hal yang belum dibereskan, mata rantai setan bodoh itu dimulai lagi.

Yah seharusnya ada keseimbangan ada balance. Ya begitulah. Namanya juga abal-abal yang serba bodo amat. Penting terus belajar saja lah. Dan sialnya sampai kapan masih mau pakai kata ‘masih terus belajar’? LOL

Kalau misalnya ada pertanyaan, kamu itu ngapain sih? Kok tidak malah mengedit naskah yang sudah ada saja dan memperbaiki dengan perlahan-lahan apa yang sudah ditulis kemudian baru dipostkan, daripada posting yang enggak jelas gini?

Aku jawab begini.

Dalam diri manusia itu pasti tersimpan sebuah ego. Entah sekecil apapun ia pasti memiliki sebuah ego. Nah posting enggak jelas gini, cerita enggak jelas gini, sebenarnya adalah untuk memberi makan pada monster yang bernama ego itu. Harapannya kalau monster itu sudah kenyang, nanti aku bisa melayani suatu hal yang lebih besar dan bisa lebih banyak berbuat sesuatu yang lebih besar manfaatnya.

Rasanya selalu ada kepuasan pribadi ketika mampu mempublikasikan—sik mempublikasikan atau memublikasikan sih sebenarnya?—hal yang enggak penting seperti ini. Ada semacam kepuasaan seperti ketika seseorang bisa bercerita banyak hal pada orang lain, padahal ia tahu kalau orang lain itu sebenarnya sangat jenuh, eneg dan bahkan muak. Tapi kamu terus memberondong mereka dengan ceritamu sendiri. Kamu suka menceritakan dirimu sendiri bahkan sampai sangat berlebihan hingga sampai ngarang yang enggak-enggak. Nah karena aku pada kehidupan aslinya, tidak bisa melakukan hal yang serupa, karena aku cukup pengertian hahaha, makanya aku memuntahkan saja isi omong kosong dan basa-basi ini di sini saja. Kan bebas. Ha ha ha.

Selamat Sore, Saya Andy Riyan di Desa Hujan.

Kesalahan Yang Serius

Merupakan suatu kesalahan yang serius juga ketika seseorang berhenti menuliskan pemikiran bebasnya, ketika ia tidak membiarkan pikirannya menari, memuntahkan segala isinya. Ketika ia lebih banyak menahan diri karena ingin selalu positif sedang negatif adalah elemen terpenting yang dimilikinya. Ketika ia bayak melawan dirinya sendiri di tengah gelombang pasang yang bergunung-gunung menerjang.

kembali

Seperti saya hari ini, saya seperti sedang kehilangan kendali diri. Yaitu lesu yang menguasaiku. Kelelahan yang berganda dan kemarahan yang tak ada ujungnya. Tak tahu dari mana kemarahan ini datang. Dan kelesuan-kelesuan yang membuatku malas bangun pagi. Dan kelesuan-kelesuan untuk menyelesaikan semua tugas dan kewajibanku.

Tak tahu dari mana semua ini datang.

Aku merasakan kelelahan dan terkuras sudah kekuatan ku ini. Aku merasa kosong dan berantakan.

Kelelahan-kelelahan ini semakin bertumpuk-tumpuk karena semua hal menjadi banyak tertunda. Atau semua ini disebabkan karena aku terlalu banyak menunda apa yang harus diselesaikan, walau pada faktanya aku memang tidak menyukainya.

Tetapi semua hal itu, suka tidak suka pada akhirnya harus diselesaikan dan aku menjadi semakin marah kepada semua orang yang menambah bebanku.

Semua ini adalah karena aku tidak segera menyelesaikan apa yang telah menjadi kewajibanku untuk menyelesaikannya.

Aku tahu itu.

Tetapi aku memang jenuh.

Dan ketika jenuh telah mengusaiku, aku tidak bisa menyelesaikan semuanya.

Dan semakin lama semakin menumpuk dan lingkaran setan pun dimulai.

Ketika aku telah terjebak dan semua jadwal yang telah aku susun terbengkelai. Aku pun mengalami segunung masalah yang kian meninggi. Dan sumber masalah itu sesungguhnya ada dalam diriku.

Mengapa aku selalu gagal melihat ini?

Karena ketika semua ini mengangguku, aku tidak menuliskannya seperti malam ini.

Aku hanya fokus pada kegiatan menulisku yang lebih banyak menahan diri untuk tidak membiarkan jemariku menari bersama otak yang tak terkendali.

Jadi aku kembali menuliskannya malam ini adalah satu langkah yang tepat untuk segera menyelesaikan masalahku. Aku sudah seringkali mengatakan semua ini pada diriku sendiri, bahwa menulis dapat membantuku memberikan dorongan moral dan mengembalikanku pada track yang benar
untuk memulai dan mengakhiri hari dengan benar dan dengan aman agar tidak terus mengalami stress berat.

Pada akhirnya, suka atau tidak suka semua hal yang telah menjadi tanggung jawabku, entah aku bisa dengan sangat jauh meninggalkan mereka atau aku dapat lari darinya begitu jauh, jauh sampai tak terlihat jejaknya dan tak terlihat seperti pernah singgah di suatu tempat. Pada satu titik tertentu, ia pasti mengejarku lagi, pasti mendapatiku lagi dan
aku pun harus berhadapan dengan semua itu di waktu yang lebih ketat dan lebih berbahaya. Karena aku tidak bisa mengendalikan waktu.

Semoga catatan malam ini mengurangi perihku.

Dan dengan catatan harian tanggal 17 Maret ini, aku pun sejenak kembali kepada jejakandi, menengok dari kegelapan malam ketika mulutku pun terbungkam dalam jalan gelap yang sunyi tanpa puisi.

Dan sejak terkahir kali aku menulis puisi di blog ini, aku pun masih bertanya-tanya. Perjalanan meniti jalan gelap ini masih belum menemukan gerangan di mana nyala terang berada. Jalan ini semakin gelap, Kekasih. Namun aku menyadari satu hal… di hidup ini lebih
banyak pertanyaan daripada jawaban. Dan aku semakin yankin akan satu
hal… melalui serangkaian pertanyaan seseorang akan menemukan…**(sebaiknya tidak dilanjutkan)

Saya Andy Riyan, kembali menyapamu Amigos. Tentu masih dari Desa Hujan. Do’akan aku semoga aku terus memiliki energi dan kesehatan untuk mengedit catatan, sehingga aku bisa terus mengisi menyapamu, kawan. Terlebih lagi ketika kata “kematian” yang lebih banyak bergema di kepalaku sekarang.

Sampai jumpa di tulisan-tulisanku berikutnya.

 

[Detak Jiwa] Ku Mencarimu

Ku mencarimu, Kekasih.
Bintang di segala malam,
mentari di segala musim
hujan di segala cuaca
hangat di segala suasana
mencari untuk temani
meniti jalan gelap ini

Jalan gelap hidup,
penuh bahaya dan penuh berduri.
Ancaman kematiaan setiap saat
kehancuran yang mengintai begitu dekat.
Telah kupilih
dan memang aku yang memilih.

ku mencarimu
Credit Picture : Pixabay : Fairy tale

Telah kudengar betapa berbahayanya.
Kegelapan yang meliputi seluruh hari
telanjang, kelaparan, kehausan, kesepian
tak berteduh, tersengat panas dan tertusuk dingin.
terjangkit penyakit, terminumkan racun.
Hanya sedikit, teramat sedikit
manusia yang selamat
hingga mencapai tujuan akhir perjalanannya

Tapi pernah juga kudengar
seorang manusia
dengan akal dan logika.
Bersama akal budinya yang lembut
daya juang meliputi hatinya.
Penuh kegembiraan memilih penderitaan
Akhirnya telah sampai di pantai-pantainya.

Telah kudengar
Seorang manusia
yang pernah mencicipi manis
dalam samudera cintanya
Rusak dan hancur binasa
Kerinduan…
Hanya kerinduan yang tersisa

Biar!
Biar tubuhku kan hancur binasa
setelah bersamamu.
Hancur binasa bersamamu
di jalan gelap ini lebih aku sukai.
Telah lelah aku dengan kepalsuan ini.
Ku mencarimu kekasih
Yang akan membimbingku
Menempuh jalan gelap hidupku.

–Andy Riyan–

Rahasia Bagaimana Cara Agar Konsisten Menulis Jurnal

Menulis adalah obat bagi jiwa yang tersesat. Oleh karena itu keberhasilan menulis menjadi sangat penting agar bisa terus menemani jiwa sebagai dokter yang memproduksi sekaligus membawakan obat. Jadi inilah cerita—yang tidak hanya—mengenai rahasiaku bagaimana aku tetap bisa konsisten menulis jurnal setiap harinya—lebih dari itu—.

Aku mempunyai sebuah kewajiban yang aku sendiri yang membebankannya padaku. Yaitu setiap hari aku harus menulis. Tetapi beruntungnya kewajiban itu tidak diikuti dengan embel-embel harus sekian kata perhari. Aku telah belajar dari kebodohanku di masa lalu. Pernah aku membebankan kewajiban pada diriku sendiri untuk menulis 1000 kata perhari. Dan aku belajar dari hari-hari yang aku alami, dengan melihat batasan dan kemampuanku sendiri, yaitu aku tidak menambahkan beban untuk membuat tulisan yang bagus dan bermutu.

psx_20190107_210638

Aku pun menahan untuk sekaligus menantang diriku sendiri untuk minimal sekali saja sehari menerbitkan post di blog. Sebagai seorang Arian, sebagaimana para Arian lain di belahan dunia selalu gila tantangan, aku hapir saja kalap dan hilang kendali untuk mendorong diriku lebih jauh sampai di ambang batas kemampuanku.

Aku tahu, kebahagiaanku akan berlipat ganda hingga 10 sampai 100 kali bahkan berkali-kali lipat hingga tak terhitung lagi ketika aku berhasil menyelesaikan tantangan yang aku sanggupi; menulis blog adalah salah satu kebahagiaanku itu. Bisa dibayangkan bagaimana api akan menyala di tubuhku seandainya aku bisa melakukannya setiap hari.

Di sini aku merasa, menjadi dewasa dan menjadi penakut itu perlu. Aku menjadi lebih bijak untuk mengendalikan api keinginan yang berkobar-kobar dalam diriku ini. Walau di sisi lain aku tersenyum kecut; menjadi bijaksana itu melelahkan, karena menjadi sangat lamban dan gairahnya selalu tertahan dan menyebabkan tidak mencapai puncak. Tetapi lebih dari apapun, aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan aku sesali.

Kembali lagi kepada keharusan menulis yang aku bebankan sendiri atas diriku. Keharusan ini sudah tidak menjadi masalah, bahkan keharusan ini telah menjadi sahabat yang baik untuk diriku sendiri. Keharusan ini sudah tidak sampai harus menguras pikiran, menyita waktu dan menyiksa batin, sebab bagaimana kamu akan merasa terbebani, tersia-siakan dan tersiksa dengan sesuatu yang sudah kamu lakukan bertahun-tahun?

Menulis jurnal adalah sutu kegiatan yang sudah aku lakukan bertahun-tahun itu. Menulis cerpen, puisi atau prosa itu perkara lain. Perkara yang membutuhkan eleman lain untuk sampai pada kemampuan menuliskannya setiap hari; ide dan ilham. Menulis setiap hari sudah tidak menjadi masalah sebab, menulis jurnal telah menolong keharusanku untuk memenuhi kewajiban itu. Yang menjadi masalah adalah ketika harus mengembangkan tulisan-tulisan tersebut menjadi layak dan terdokumtasi dengan baik, minimal untuk diriku. Menjadi masalah adalah ketika aku tidak puas jika tidak mendorong diriku untuk menjadi penulis yang dalam arti benar-benar penulis yang tulisannya layak dan memenuhi standar tulisan untuk pembaca di luar diriku. Aku ini seleranya terlalu bagus. Tidak puas jika hanya mampu membuat pembaca tersenyum saja. Terlalu mendambakan sesuatu yang estetis. Perfeksionis. Dan menyukai detail-detail yang remeh. Jadi disitulah yang berat. Artinya aku harus membuat apa yang aku lakukan itu paling tidak memuat instrumen penting pada hari-hari yang aku jalani. Sehingga ketika aku menatap ke belakang, melihat jejak pada hari ini yang telah menjadi masa lalu di hari-hari mendatang, ada suatu kesan mendalam dari apa yang aku tuliskan di sana.

Seperti yang aku lakukan saat ini, setiap hari aku harus menyalin tulisan tangan ke komputer selama lebih kurang 1 jam. Dan kemudian mengedit dan mengembangkannya selama satu jam juga. Jika beruntung aku bisa mengembangkan lebih jauh dengan menggunakan ungkapan-ungkapan lain dan menyisipkan manfaat untuk diriku sendiri dan syukur kalau ada yang orang lain yang mengambil manfaat, tidak ada tidak apa-apa. Kemudian aku akan merevisinya dan menyusun ulang agar selaras dan bermakna. Tapi apakah benar, sebagai seorang Arian kata tidak apa-apa itu cukup? Aku katakan pada diriku sendiri… sudah cukup untuk Arian yang bijak.

Setelah itu kemudian aku akan kembali menuliskan jurnal harian. Menuangkan segala unek-unek dan ide yang berseliweran. Lalu aku akan merefleksikan dalam jurnal juga apa yang aku lakukan seharian itu. Apa yang aku lakukan sehari sebelumnya dan apa yang akan aku lakukan sehari berikutnya. Pun kemudian lebih jauh lagi, seminggu ke belakangan dan seminggu berikutnya. Kemudian makna-makna sebulan kebelakang dan makna-makna untuk sebelan selanjutnya.

Ya Allah aku seperti enggak sanggup untuk menjalani semua ini. Karena aku juga punya dahaga lain, dahaga baca buku, yang juga harus di puaskan ditambah lagi, setelah aku belajar dari kebodohan diriku, aku harus mengikatkannya makna-makna yang kuambil dari buku yang dibaca tersebut agar tidak lepas lagi, seperti yang sudah sering terjadi ribuan kali. Sungguh semuanya bisa berantakan ketika ada satu atau beberapa hal goyah. Padahal di sini aku sedang dalam posisi ingin menumbuhkan lagi rasa kemanusiaanku di waktu-waktu seperti sekarang ini.

Saya Andy Riyan dari Desa Hujan

7 Blog dan Website Yang Asik Dijadikan Tempat Nongkrong Ketika Sedang Jalan-Jalan di Internet (Bagian II)

Ya hallo semuanya! Sesekali biarlah saya berbagi sesuatu yang lebih berbobot sedikit ya, biartidak melulu receh. Well, seperti yang saya janjikan kemarin bahwa saya akan menerbitkan bagian kedua dari 7 Blog dan Website Yang asik Dijadikan Tempat Nongkrong Ketika Sedang Jalan-Jalan di Internet. Oke, bagi yang belum tahu, penjelasan alasan saya menerbitkan blog bagian kedua ini bisa dibaca pada bagian pertama silakan klik link di sini.

Dan sekarang langsung saja berikut nomor dua dan selanjutnya.

2. Cak Nun

Seperti yang kemarin sudah saya jelaskan di bagian pertama, jadi saya rutin mengunjungi blog caknun.com ini sejak pertama kali saya membaca buku seri Daur yang jumlahnya 4 jilid itu. Sudah cukup lama sebetulnya, sekitar satu tahun yang lalu. Ceritanya semula pas membeli buku Daur, saat saya menyempatkan untuk membaca—[selalu sempat sebetulnya, karena jangankan isi atau halaman tertentu, kata pengantar atau pendahuluan yang sering orang-orang skip, saya mencoba memahaminya lebih awal sebelum membaca isinya. Sudah menjadi instrumen yang paling penting dan haram hukumnya jika dilewatkan saat membaca buku—bahasan mengenai pentingnya membaca kata pengantar ini sudah saya tulis di buku harian, kapan-kapan lah kalau saya punya waktu akan saya sempatkan untuk mengeditnya dan menyajikan untuk pembaca semuanya.] Saya ulangi, saat saya menyempatkan untuk membaca halaman-halaman belakang buku, di sana telah disinggung dari mana buku ini (serial Daur) ditulis, yaitu dari catatan harian Cak Nun yang sudah dipublikasikan di portal Cak Nun Dot Com.

blog template 2

Dari buku itu, saya mengunjungi dan menemukan website-nya. Kemudian dalam hati saya bilang: “Jadi buku ini sudah ditulis di web? Aduh ngapain saya beli bukunya kalau gitu ya? Mbok yo tinggal baca aja gratis begini.” Tapi memang pada dasarnya kalau ada versi cetaknya, saya tetep lebih puas dan lebih nyaman membaca versi cetak. Jadi saya tetep suka dua-duanya. Malah saya jadi tambah cinta dengan blog itu dan 4 seri Daur tetap mendarat di rak bukuku dan memeluk indah hati dan jiwaku. Sehingga pembacaanaku semakin kaya, semakin luas dan semakin menantikan gagasan-gagasan baru yang tertuang di sana.

Aku sudah lama menyukai caknun dan maiyah sejak zaman kuliah dulu. Jadi awalnya karena saya follow twitternya mbah tejo jaman 2010-an. Nah ketika itu ternyata mbah tejo ini karibnya Cak Nun, [seringnya ngaku-ngaku sebagai gurunya caknun 😀 ] dari sana saya menelusuri Cak Nun dan suka sama beliau juga jamaah maiyahannya yang mesra, yang sempat beberapakali saya ikut dalam kemesraannya. Read more

7 Blog dan Website Yang Asik Dijadikan Tempat Nongkrong Ketika Sedang Jalan-Jalan di Internet (Bagian I)

Ternyata pergantian tahun baru dari 2018 ke 2019 terjadi begitu cepat, lebih cepat daripada yang saya duga. Saking cepatnya bahkan lebih cepat dari pada saat saya terbangun dari tidur ayam-ayam. Tahu kan tidur ayam-ayam? Kalau orang jawa bilangnya tidur lap-lap an; keadaan antara tidur dan bangun yang tidak jelas. Seperti tidur namun masih mendengar suara-suara luar, seperti bangun tapi sudah tidak sadarkan diri. Pada waktu dekat dengan saat tidur ayam-ayam itu, saat malam pergantian tahun baru, yang terakhir kali kuingat, saat itu saya sedang membaca blognya Trinity di the naked traveler dot com. Kemudian beralih blogwalking pada postingan-postingan terbaru yang muncul di wordpress reader, yang muncul lebih cepat dan lebih banyak dari biasanya. Lalu sampailah pada giliran saat aku kudu membaca portal caknun dot com.

Kredit gambar dari google klik langsung ya https://blog.sepulsa.id/wp-content/uploads/2017/11/tempat-nongkrong-di-jakarta-4-1138×493.jpg

Kenapa kudu? Karena sesungguhnya sudah menjadi rutinitasku untuk membaca caknun dot com setiap harinya. Selain tulisannya memang padat dan berisi—lebih padat dan lebih berisi dari kue donat yang bolong tengahe itu—benar-benar bikin kenyang. Portal cak nun dot com ini pun update setiap hari. Bahkan sehari bisa lebih dari dua kali bisa sampai 5 atau 10 kali. Jadi istilah kekurangan bacaan itu sak jan jane ki yo aku rak ngandel. Dan kadang aku sangat berharap ada lebih banyak lagi postingan-postingan seperti portal caknun ini di luar sana; gratis tinggal baca, tak ada clickbait, bersih dari iklan dan yang lebih penting lagi adalah tulisan-tulisan ini mengutamakan kemanusiaan. Mendidik, mengajar juga berbagi tanpa batas.

Setelah menemui keseriusan ingin lebih banyak membaca konten-konten yang bermutu, saya sampai pada blog pribadinya pak Dahlan Iskan di disway dot com itu. Dan pada minggu yang sama saya juga sampai pada blognya Trinity, the naked traveler, setelah sebelumnya beberapa waktu yang lalu saya sudah rutin mengunjungi blognya Kick Andy. Jadi blog-blog atau website-website semacam itulah yang akan memenangkan hatiku dan yang saya akan mengunjunginya berkali-kali.

Tentu blog atau website yang seperti itu yang banyak menginspirsiku. Namun sampai pada kali ini, aku belum bisa atau belum berniat untuk menirunya. Karena bagaimanapun juga saya pasti kebanting dengan tim-tim penulis yang keren seperti itu. Hanya saja saya terisnpirasi untuk mencari gayaku sendiri, karena belum mampu untuk membuat tim sendiri. Juga karena seperti diketahui semua blog yang aku kunjungi itu mempunyai gaya khasnya sendiri, dan tak mungkin toh kalau aku meniru gaya sana-sini. Dan nah gaya yang khas inilah yang sedang aku cari untuk tulisan-tulisanku, tidak hanya untuk blog tetapi juga untuk gaya tulisan yang akan mewarnai gagasan-gagasan di buku-buku harianku. Read more