For Eternity

I walk close to the edge of night.
Didn’t know, it’s skies falling
or I am flying.
That I know, we and the stars
become neighbours.
Bellatrix and Orion
are in the next door.

One day on September.
I was looking for
a moment to remember.
The peace caught my self
and my souls
altogether.
All shall be better.
If they didn’t put on my hands

a giant monster.

I walk head towards tomorrow.
Time it’s only matter now,
but I keep push myself through anyhow.
And time,
the thing I have to decide wisely,
to being becoming with you
to live spare in eternity.

Poem written by jejakandi

Dari Sebuah Kedai Kopi

Dari Sebuah Kedai Kopi
Oleh : Andy Riyan

Desember 2016

Aku datang ke kota ini untuk menemui seorang teman. Kota yang sudah hampir dua tahun ku(lupa)tinggalkan. Kini dihadapanku secangkir kopi terhidanglan dengan sepiring pisang goreng. Bila kedua aroma itu bersatu dalam keadaan kudua-duanya masih panas dan dalam keadaan ketika uap-nya masih mengepul-ngepul menggoda, maka tak ada hidangan yang lebih lezat atau lebih menarik perhatianku, yah setidaknya untuk saat ini. Karena kenyataannya satu jam setelahnya aku dibuat terkagum-kagum dengan seseorang yang bercerita di hadapanku.

Desember 2010

Sore itu, angin dingin berhembus dari celah-celah pepohonan yang banyak tumbuh menjulang di halaman kampus. Deras sekali sapuannya hingga membuat daun-daun pun kemudian jatuh berguguran dan tersapu ke segala arah, menari mengikuti irama ranting-ranting yang mendesah bagai sedang mempersembahkan sebuah background dalam scene musim gugur seperti di banyak film-film roman cinta, dimana tokoh utamanya tidak jarang menampilkan wajah-wajah seperti sedang dirudung nestapa. Dalam pada itu di bawah mentari—yang seharusnya masih—senja, di balik bayang-bayang pepohonan yang tak begitu jelas yang sebentar terlihat lalu detik berikutnya kabur lagi, kurebahkan diriku di atas rerumputan, tangan kuangkat tinggi-tinggi; ingin sekali kuraih puncak-puncak pepohonan itu dan berdiri di tasnya dan memandang luas kesekelilingnya. Di atas tanah ku hanya bisa membuka kedua tanganku, rasanya ingin kutangkapi semua daun-daun yang jatuh laksana hujan.

“Apa yang aku pikirkan sekarang?” Kataku pada diriku sendiri. “Hanya daun-daun yang berguguran di bawah temaramnya mentari senja, mengapa begitu indah?” Aku kemudian bangkit dan mengeluarkan dari dalam tas, sebuah buku ukuran sedang bersampul hitam berbahan kulit imitasi–buku yang kemana-mana selalu ku bawa–lalu menuliskan apa yang baru saja dikatakan itu.

“Apa yang harus kulakukan? Kemana aku harus berjalan menemukan jati diriku?” Sambil berpikir mengapa rata-rata anak kuliahan sering dihantui oleh pertanyaan seperti itu, kembali kujatuhkan lagi tubuh kurus ini ke atas rumput-rumput yang mulai menguning dan terlihat teramat lesu.

Dinginnya udara yang tengah berhembus bercampur dengan banyaknya dedaunan yang menyapa itu berhasil membuat sebuah perpaduan bau-bauan yang harum, dan rasanya seperti sesuatu yang segar atau dingin bila digigit. Dan dedaunannya yang singgah dan menempel di kulit terasa seperti tetesan embun pertama yang jatuh di pagi hari. Perpaduan itu cukup memberi semangat bagi siapa saja untuk bangkit dari keterpurukan di dunia yang telah mati, dunia yang gelap karena mendung yang menggantung dan kabut yang tak berujung, setelah hanya abu-abu yang terlihat di seluruh kota. Berbulan-bulan sudah kota itu tak berwarna selain hanya kelam seperti kisah masa lalu yang putih dan hitam penuh bayang-bayang kesedihan. Berbulan-bulan sudah kota itu lumpuh akibat erupsi gunung berapi yang berkali-kali meletus dan menyemburkan awan Wedhus Gembel dan memuntahkan abu yang tiada henti menghalangi masuknya sinar mentari. Sedemikian parah bencana itu hingga membuat aktivitas di seluruh kota terganggu. Debu-debu di jalanan setebal 5 senti menjadi becek oleh hujan, pasar-pasar sudah lama tutup total, bencana kelaparan mulai menjadi-jadi, wabah penyakit berdatangan, segala kebahagiaan terhisap dalam kehampaan dan tidak sedikit korban telah dilaporkan meninggal. Pendek kata kota itu menjadi seperti bumi Mordor, dengan Ereth Gorgoroth-nya yang menghampar tak berbatas dan tak bertepi. Hanya tarian dedaunan itulah yang hidup, tarian dedaunan itu seperti dua Hobbit kecil merangkak di negeri Mordor, sebuah harapan untuk bangkit dari kegelapan.

Namun, meski kegelapan telah menghampar sejauh mata memandang hingga hanya kabur dan bayang-bayang yang terlihat dan menjadi tak terlihat sama sekali semua gambar-gambar di baliknya. Meski karena kota itu menjadi semengerikan Silent Hill, mengisap seluruh semangat yang dulu pernah membara, menebarkan rasa putus asa yang sangat dalam, dan selalu mengingatkan pada bumi yang seluruhnya adalah surga yang kosong dan membuat penduduknya seperti Zombie. Tak menghalangi bagi seorang laki-laki untuk lahir dan menjadi seorang pemimpi. Yang kilat matanya selalu menyemburatkan cahaya lilin yang kemudian berkobar dan siap membukakan diri dari tirai-tirai gelap hatinya.

Angin, nama laki-laki itu, seorang yang berkharisma. Aku berkenalan dengannya tepat tahun lalu di sebuah kedai kopi.

*Bersambung


Re-edit cerpen yang ditulis tahun 2010. Cerpen yang cukup panjang dan sengaja dipartisi menjadi banyak bagian supaya bisa menemukan feel nya lagi seperti ketika dulu menuliskannya. Dan untuk memberikan nuansa flash cerpen sehingga mudah ditemukan benang merahnya dan mempermudah dalam penyusunan menjadi pecahan yang lebih utuh.

Tentang Petunjuk dan Jalan

A post shared by Andy Riyan (@jejakandi) on Jun 29, 2017 at 4:45pm PDT

 

Tentang Petunjuk dan Jalan
Oleh: Andy Riyan

“Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas.” QS. Al-Fâtikhah : 6

Ada terdapat banyak jalan yang membentang di depan kami. Dan diantara jalan-jalan itu banyak jalan yang menuju kepada Ridho Tuhan, baik itu yang berkelok-kelok naik turun banyak berbasa basi ataupun jalan yang singkat, cepat dan tidak bertele-tele. Sebagian merupakan jalan yang menjauh kepada mengingat Tuhan. Menyimpang dan semakin jauh menuju keaesatan yang sangat dalam. Maka kami memohon petunjuk kepada-Mu ya Allah, Engkau yang Mahasuci dan segala puji menjadi wajar jika hanya milikMu saja. Bimbing (antar)lah kami (memasuki) As-shirat Al Mustaqim. “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” QS. Al Fâtikhah : 7.

Dan kami memohon kepada Allah untuk selalu membimbing kami kepada jalan yang menuju As-shirat Al Mustaqim itu setelah mendapat hidayah, karena sungguh kami tidak tahu diantara banyak jalan yang Allah Ridhoi ini bisa membelok lagi. Karena sungguh “Allah menambah petunjuk untuk orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” QS. Maryam :76.

Sebab bisa jadi kami menjadi sesat setelah mendapatkan petunjuk-Nya. Sebab “Betapapun tajam dan pekanya indra manusia, betapapun tajamnya mata seseorang, ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air.” Tafsir Al Misbah Vol. 1, Quraish Sihab. Kejadian ini hanya bisa dijelaskan setelah mendapat petunjuk, bahwa itu adalah salah satu dari fenomena Fisika.

Tentang petunjuk dan jalan-jalan yang menuju kepada banyak tempat, tentu banyak pula yang menuju As-shirat Al Mustaqim. Hanya saja kami tidak tahu yang mana. Maka tak henti kami memohon. Berulang-ulang Al Fatikhah kami baca setiap harinya karena kami takut kepada kesesatan dan jalan yang jauh dan semakin menghindar dari mengingat Allah. “Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” QS. Ali Imron : 8.


DAFTAR PUSTAKA

Sihab, Q., 2011, Tafsir Al-Misbah Vol.1, Jakarta: Lentera Hati

Hal-hal Sederhana Yang Bisa Dilakukan Utuk Merefresh Pikiran

Membicarakan tentang hal-hal sederhana yang bisa dilakukan untuk kembali menyegarkan otak tentu sangat relatif, berbeda-beda untuk setiap orang. Mood booster, begitu orang-orang biasanya menyebutnya. Mood booster sendiri secara sederhana bisa dimakanai sebagai dorongan untuk meningkatkan mood. Jadi apa relasinya atara mood booster dengan mind re-refresh? Yak betul! Seperti yang pembaca duga, ketika mood baik otak pun maksimal dan pikiran bisa bekerja dengan sangat baik.

Tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk merefresh pikiran salah satunya adalah dengan jalan-jalan, piknik, travelling dan sebagainya. Namun ketika di momen libur lebaran seperti ini, ketika semua orang berbondong-bondong mengunjungi tempat wisata yang menyebabkan jalan-jalan menjadi macet, bukannya pikiran jadi fresh tapi malah jadi tambah stress. Lagi pula liburan ke tempat-tempat seperti itu makan banyak biaya juga, ya gak? Alternatif lainnya yang bisa dilakukan penulis untuk refreshing tentu membaca banyak buku lebih-lebih buku yang masih baru —cukup tau aja penulis sedang menghabiskan The Fall-nya Albert Camus, dan apa cuma perasaan penulis aja, kalau buku itu sangat sulit untuk dipahami seperti hati perempuan eaaaa *curhat–. Namun, itu bukan hal sederhana. Membaca buku bukanlah hal sederhana untuk penulis. Nah pengen tahu hal-hal sederhana yang biasa dilakukan penulis untuk merefresh pikiran? Langsung saja berikut ini…

1. Membakar Sampah

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sumber gambar di sini

Membakar sampah adalah salah satu hal yang sederhana yang biasanya penulis lakukan untuk merefresh kembali pikiran. Biasanya aktivitas ini dilakuakan 3 hari sekali. Tentu mengherankan bagaimana hal sesederhana ini bisa menyegarkan kembali pikiran. Bagi penulis, membakar sampah itu bagaikan membakar kerumitan yang tengah berseliweran di kepala. Continue reading

Sunshine Blogger Award : Dua Puluh Dua Pertanyaan

Hello Amigos! Asal muasal aku menulis Sunshine Blogger Award ini tuh ceritanya begini. Malam itu telah jatuh, ketika aku memutuskan untuk bergumul dengan salah satu hobiku, berselancar di duniaku yang ke-2, di dunia wordpress dan memilih beberapa postingan untuk dibaca. Satu persatu postingan-postingan yang telah terpilih itu pun aku baca dan beri komentar, hingga sampai pada tulisan Mbak Grant alias @bbmagz di blognya yang keren dan penuh cerita itu – dan ini back linknya Sunshine Blogger Award oleh Mbak Grant–.

sun-e1496796801429 Dalam tulisannya, Mbak Grant bercerita kalau ia sedang diliputi perasaan gembira setelah mendapat nominasi dari kawannya –sesama blogger juga–. Menurutnya, Sunshine Blogger Award itu bagaikan surat berantai yang harus diteruskan ke mana-mana –ke penulis-penulis atau bloger yang lain—dan mengajak mereka berpartisipasi di dalamnya dengan menjawab 11 pertanyaan dan melmparkan 11 pertanyaan baru.

Postingan yang cukup santai dan menggelitik, cukup memberi stimulus untuk menulis atau membuat postingan baru, karena saking gampangnya Sunshine Blogger Award ini, kamu cukup menjawab pertanyaan dan melemparkan pertanyaan kemudian menominasikan beberapa teman. Continue reading

Kaum Darurat Bahagia

Akhir-akhir ini terlalu sering menangkap kata ‘Bahagia’ di WP Reader. Seolah-olah kata-kata itu seperti aliran listrik, nyetrum ke sana kemari, dari penulis satu ke penulis yang lainnya. Sepertinya aku pun kali ini kesetrum juga oleh arus utama isu ini. Dan aku berharap tidak nyetrum ke pembaca dan penulis yang kebetulan nyangsang di blog saya ini. Sebab kalau nyetrum itu akan membuatmu menjadi… ah nanti saya ceritakan akan menjadi apa kamu.

Apa definisi bahagia? Banyak yang mendefinisikan bahagia adalah kebersamaan dengan seseorang yang dicintainya. Tidak sedikit juga yang mendefinisikan sebagai perasaan cinta yang membuat hati diliputi rasa senang. Dan teramat banyak yang mendefinisikan ‘bahagia itu sederhana yaitu ketika kamu bla bla bla.’ Dan terdapat banyak versi lain tentang definisi bahagia. Kalau definisi bahagia menurut versimu? (pertanyaan terhadap diri sendiri). Sepertinya aku mulai kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang satu ini, definisi bahagia. Dan jika kamu sedang dalam kondisi yang sama seperti yang aku alami… salaman dulu… kita adalah Kaum Darurat Bahagia.

Ah definisi bahagia… jadi bagaimana definisi bahagia.

**

Beberapa hari yang lalu aku pergi ke suatu toko baju yang dekat dengan rumah. Semula berniat membeli baju koko dan sarung (niatnya dua-duanya mau tak beliin yang warna putih). Sebetulnya sangat beralasan mengapa aku berencana membeli baju koko dan sarung, baju koko yang setiap hari kupakai sudah tidak baru lagi dan warnanya sudah agak pudar—dulu warnanya krem menyala—dan meredup. Pendek kata, sudah tidak gilang-gemilang untuk lebaran. Sedangkan sarungnya—warna hitam—tetap awet; begitulah yang hitam selalu awet. Sesampai di toko, aku melihat kebaya dan baju batik. Aku jadi inget nenek dan kakek. Akhirnya aku membeli keduanya itu di tambah jilbab blouse lalu pulang dan tidak jadi membeli baju koko dan sarung.

“Wah kok putune lanang pinter nukok ke klambi karo ninekne karo kakekne.” Wah kok cucu laki kok pintar membelikan baju untuk neneknya dan kakeknya, begitu kata nenek ketika aku menghadiahkannya sepulang dari pasar.

Aku merasa lega sekali ketika barang yang kubeli disukai oleh nenek juga kakek. Sebab semula khawatir itu gak bagus dan nenek juga kakek enggak suka. Aku pun merasa lega, meskipun hanya sepotong kebaya dan baju batik setidaknya aku bisa menyenangkan mereka berdua. Dan dadaku pun terasa sangat lapang karena aku mampu menahan hawa pengen beli baju karena hanya untuk lebaran. Sudah lama sekali aku belajar menahan untuk tidak membeli barang hanya karena punya uang. Kemudian terlintas dalam benakku akan kenangan-kenangan yang melapis kuat dalam ingatan. Aku terlempar pada kenangan lebaran tahun lalu aku aku tidak membeli baju, hanya membeli sepasang sepatu, karena sepatu lama sudah jebol. Tahun-tahun sebelumnya aku terpaksa beli baju karena untuk menjaga perasaan orang tua.

“Mbok gak harus sekarang to Buk, kan ada hari-hari lain. Masa hanya karena lebaran aku harus ganti baju. Aku tuh males milih baju Buk. Enggak pasar enggak toko semuanya penuh sesak. Belum lagi jalanan macet sopir-sopir dan pengendara motor pada ugal-ugalan.”

“Ri salin ganti yang baru, malu pada orang, jaga perasaan ibu, apa kata orang kalau gak ganti baju, apa ibu terlalu miskin sampai-sampai gak bisa beliin baju untuk anaknya?” Titik air di sudut mata ibu membuatku leleh.

“Oh baiklah.”

Dan tahun ini aku tidak butuh baju lebaran, karena kayaknya aku akan jarang-jarang juga memakainya, baju-baju THR yang tahun lalu saja masih pada tergantung di lemari.

“Gagi golek bojo!” Buruan cari istri, celetuk nenek mengagetkanku.

“Ya, Nek.”

**

“Pak saya punya!” ujar temen sekantor ketika kami sedang istirahat siang.

Aku pun menutup buku yang sedang ku baca, padahal sedang asik-asiknya. Dan aku menoleh.

“Punya apa, Bu?” tanyaku heran dengan pertanyaan yang tiba-tiba yang tak kutahu asal usulnya.

“Punya kenalan…” Ia membuka ponselnya seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Aku diam karena bingung dari mana dan mau kemana sebenarnya arah pembicaraan ini.

“Sepertinya dia cocok banget sama Pak Andi, hobinya baca buku melulu, kemana-mana bawanya buku. Suka banget diskusi… pengen selalu beda dan segala macem. Pokoknya persis seperti Pak Andi.”

“Eeeee jangan!” Pekik temenku yang lain, “Kalau sama-sama kutu buku nanti tak ada komunikasi, dua-duanya diam dan duduk sambil ngopi. Pokoknya suram.”

“Bener tuh, Bu.” Kata temen yang lainnya lagi, “Pak Andi itu harusnya cari yang bertolak belakang, biar lebih berwarna dan saling mengisi.”

“Nah bener kan, Bu? Pak Andi itu harusnya cari yang cerewet, suka jalan-jalan, yang gesit dan lincah, yang sering ngajakin bikin apa gitu, ya.”

Aku cuma bisa nyengir. Dan entah bagaimana aku pengen tertawa ketika mendengar perkiraan-perkiraan tentang diriku. Selama ini aku tidak pernah menjadi topik pembicaraan. Dan itu aneh.

***

Ah jadi apa definisi bahagia?

Setiap hari selama 7 tahun ini aku bergumul ‘definisi’ namun untuk mendefinisikan bahagia ternyata begini sulitnya. Sudah 700-an kata aku tulis tetapi sama sekali belum mendefinisikannya. Pengertian definisi sendiri harus utuh, harus sesederhana mungkin tak boleh lebih tak boleh kurang dan sedapatnya janganlah panjang. Definisi tidak boleh berputar-putar dan jangan negatif. Kamu tak bisa mendefiniskan pintu yang terbuka dengan “Pintu tidak tertutup.”

Jadi apa definisi bahagia? Perasaan senang?! Perasaan puas? Perasaan lega? Perasaan semua tercukupi?

Aku bahagia ketika aku bisa menyenangkan nenek dan kakek dengan membelikannya kebaya dan baju batik. Aku bahagia ketika mendengar teman-teman membicarakan topik perkiraan-perkiraan liar tentang diriku. Itu bukan definisi itu teori yang telah menjadi fakta.

Karena semula ada hipotesis aku akan senang ketika nenak menyukai kebaya yang kubelikan. Hipotesis yang aku buktikan itu ternyata benar, aku merasa senang karena nenk menyukai kebaya yang kubelikan. Jadi aku akan senang jhika membelikan kebaya yang disukai nenek itu adalah teori.

Jadi sampai saat ini aku punya banyak teori tentang bahagia. Salah satunya, orang yang mengadakan Prompt tentang definisi bahagia ini pasti senang karena banyak yang mengikuti jejaknya untuk menulis tentang bahagia. Aku punya teori, seseorang yang bisa selalu berada di dekat orang yang dicintainya akan bahagia. Aku punya teori, seseorang yang dapat melakukan hal-hal sederhana yang membuatnya senang ia akan bahagia.

Meskipun aku punya banyak teori, sampai saat ini aku masih tidak bisa dengan jelas mendefinisikan bahagia. Dan jika kamu ternyata sama dan kesetrum dengan kebingungan untuk mendefiniskan bahagia… aku ucapkan selamat bergabung denganku menjadi Kaum Darurat Bahagia. Maaf aku menjadi begini, menjadi membingunkanmu yang kebetulan nyangsang di blog ini.

Selamat Malam! Kaum Darurat Bahagia! Hah hah hah!

 

(C) Andy Riyan || Kaum Darurat Bahagia || 20 Juni 2017

Gitarku Enggan Berbicara

Aku menutup pintu dan menguncinya. Lalu berpaling dan meraih ponsel di atas meja. Tak ada apapun. Aku kosong dan hampa.

Aku duduk menghadap jendela. Kulemparkan pandangan jauh melintasinya. Menuju kegelapan malam. Bintangnya hanya ada sedikit saja.

Di depanku, di atas meja buku-buku tertumpuk di samping pena yang terlena. Di atas kursi kerja, aku duduk dengan hati yang hampa. Ingin aku merenung namun tak ada apapun untuk direnungkannya.

Aku bangkit dan mengambil gitar yang tergantung di dinding di samping jendela. Aku pergi menuju sofa di ruang depan dan berbaring di sana.

Ke enam senar-senar itu pun ku petik. Namun tak ada nada, tak ada lagu yang menggerakkan jiwa. Aku kosong dan hampa. Bahkan gitarku yang sering mengatakan lebih banyak dari mulutku pun diam seribu bahasa.

Ku coba lebih keras memainkan musik-musiknya. Tak ada getar yang mampu menyentuh perasaan. Ku coba lagi lebih keras dan hasilnya masih sama. Gitarku enggan berbicara, karena aku sedang kosong dan hampa. []

Gitarku Enggan Berbicara © Andy Riyan

Seberapa besar kerinduan…
yang tergantung di langit-langit malam?
Sebesar kegelapannya
yang masih tak mampu
engkau singkirkan.

Seberapa banyak rinduku yang hilang…
sejak kau lepas dari pelukan?
Tak sebanyak bintang yang meredup
Ketika malam telah jatuh.

Seberapa dalam kusesali…
tak menahannya ketika engkau hendak pergi?
Kerinduan yang tak membekas
dalam benakmu inilah
yang hanya ku sesali.
Sebab lukamu yang perih
Tak terhapus maaf dan sesalku.

Seberapa Besar © Andy Riyan

The Time Flies…

The time flies going on and on, leaving they who using it wisely or not. It don’t care about what we do nor what we want to do, nor what we wish had to be done, too.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sekarang kami sudah berada pada pertengahan bulan Juni. Jika kita mau sedikit saja menoleh kebelakang menatap pada awal tahun, menatap pada gambaran-gambaran besar yang kita harapakan akan kita dapati di tahun ini, maka kami merasa waktu bahkan terlalu cepat untuk berlalu. Sebab dari sekian banyak resolusi yang telah direncanakan di awal tahun, masih banyak yang belum terpenuhi. Sudahkah milikimu?

Satu dari resolusi kami adalah menyelesaikan tiga buku. Damn it took giant space of our world. Hingga sampai saat ini kami masih terjebak dengan sebuah ending. Memang kami berhasil membuat elemen dasar dari buku-buku tersebut. Ya! Ketiga-tiganya sudah kami buatkan elemen dasar dan draft pertamanya, namun kami masih terjebak seperti tahun-tahun yang penuh kegelapan itu, ENDING!!!

Ending. Our world know nothing about ending, yet. We only know about goes through on and on.

Kami merasa sangat malu. Malu pada diri sendiri, malu pada semua orang. Setelah ini kami tidak akan menuliskan resolusi lagi tahun baru yang akan datang.

Oh! Aneh sekali rasanya, kami pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dan pernah berjanji tentang hal yang sama untuk hal yang serupa. Benar! Ini pernah terjadi dan kami mengulanginya lagi.

Baiklah kami tidak akan pernah menceritakan lagi kepadamu, tentang sebuah rencana, tentang sebuah proses yang sedang berjalan.

Well, demikian curhat kami! Semoga kamu dapat belajar dari pengalaman kami. Dan tentang jejak yang kami torehkan kali ini masih  sama, agar kamu (kami) membacanya lagi kelak ketika kamu memutuskan untuk kembali menatap untuk melihat bagaimana kamu  berubah.

SORE!

The Time Flies… © Andy Riyan