Aku dan Miyamoto Musashi

Setiap peristiwa yang kamu alami harus memberi ilmu dan hikmah kepadamu. Kalau tidak, sia-sia saja kamu menjalaninya. Terlanjur stres, terlanjur pusing tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Muspro! Setiap kali aku memosisikan diri bersiap untuk belajar dari peristiwa yang kualami, dari kejadian sehari-hari, dari realita dan fenomena yang terjadi di sekitar, aku selalu ingat dengan seorang Ronin dari…

Bangunkan Tidur dari Mimpi

Kutuliskan puisi cintaKemana hati masih mengembaraDi sini, seperti seharusnyaKerinduan itu sirna Kini kau tahu ku tahuKupandang dikau di antara mentariKuselimuti dikauDari dinginnya mimpi Iqbal dan Rumi telah menungguDi satu titik di perjalanan waktuHalusnya seni dan cintaHempaskan kata-kata menjadi debu Kubentuk ulang semua untuk mengulangTelanjangi tabir kepalsuan, tidur bangun dari mimpi. Andy Riyan, Desa Hujan, 2021

Terkikis habis sopan santunku

Mari kembalikanKita tulis puisiPada bentuk asalnya;Suara kehidupan Sebab terkenangkanOlehku, harumnya rerumputanIndahnya nyayianBisikan keqadiman. Layu tubuku, meluruh hatikuKering dan kosong jiwakuTak kuasa membendungnyaNurani dan pemberontakannya Terkikis habis sopan santunkuMuak sudah dengan segala ketakjujuranmu. Andy Riyan, Desa Hujan, 2021

Menoleh Sebentar

Sudah bulan Desember aja ini. Aku [dalam rentang waktu yang cukup lama] masih belum menuliskan sesuatu untuk blogku. Beberapa menit yang lalu, aku menyempatkan diri, meluangkan waktu untuk membaca jurnal yang kutulis di awal tahun 2021 ini. Aku sedikit terkesima. Jurnal yang kuberi judul “Menjalani Mimpi” ini benar-benar bukan jurnal omong kosong. Judul yang kupilih…

Tak Pernah Kehabisan Ironi

Dunia ini sudah benar-benar gila kali ya. Kenapa jadi terbolak balik dan menyebalkan begini? Sungguh sangat menyebalkan! Orang yang paling menyebalkan adalah mereka yang membuat kita menunggu padahal mereka (orang yang kita tunggu) adalah yang paling membutuhkan kita, yang membuat janji, mengundang, meminta dilayani, meminta pertolongan dengan wajah paling memelas. Sungguh aku tak pernah kehabisan…

Ide Itu Hanyalah Ilusi Jika…

Catatan Harian Andy Riyan, Desa Hujan, 12 Juni 2021 Menulis bagiku selain masuk dalam kategori ranah kerja intelektual, juga bisa dimasukkan dalam ranah kerja psikologis. Menulis seringkali telah membuktikan begitu ampuh untuk menjadi sebuah start, awalan, dari berbagai proyek dan renungan. Senyum mengembang, pagi ini, seiring dengan mentari yang menyembul di atas cakrawala dari balik…

Surat Untuk Sahabat: “A Letter From Me to Me 10 Years From Now

Ha ha ha! Halo, Bro. Apa kabar? Ha ha ha! Maafkan aku yang tiba-tiba menyapamu dengan tawa. Tapi jika kamu ingat hari ini (10 tahun yang lalu) kamu pasti maklum, karena memang kita, entah sudah berlalu sejak berapa lama, selalu suka begini; suka menertawakan diri sendiri. Kuharap kamu di sana masih suka tertawa dan menertawakan…

Mengapa Menulis Dibandingkan dengan Media Ekspresi Lainnya?

Mengapa menulis dibanding media ekspresi lainnya? Itu adalah pertanyaan yang cukup menarik yang diajukan oleh seorang komentator pada postingan yang berjudul Tanpa Sekat Tanpa Pembatas di jejakandi ini; Nita. Kurasa ini adalah komentar pertamanya di sini. Silakan Amigos bisa mampir di blognya Nita, di sini https://jnynita.com/ Sebagaimana telah kujawab di sana, bahwa menulis adalah media…

Melankoli Cinta Segitiga

Aku tak pernah melihat seseorang dengan raut muka yang lebih sedih dari seorang yang kutemui di suatu senja, di salah satu gerbong kereta api, dalam sebuah perjalanan antara Malang-Jogja. Perempuan yang kutemukan duduk menghadap diriku di sisi jendela itu terlihat begitu pucat dengan sinar mata yang redup. Aku tak ingat di mana perempuan yang berpakaian…

Naomi, Oh Naomi

“Biarkanlah terik mentari membuat kering berdua hati kita,” Rodrigo menatap wajah Naomi begitu lekat. Namun, Naomi membuang muka. Matanya tertuju pada barisan bukit di sisi utara kota. Ingatannya tertuju pada Jay, seorang pria yang telah ia kenal sejak Sekolah Dasar. “Di mana dia sekarang?” Naomi bertanya-tanya dalam hati. “Naomi…” panggil Rodrigo lirih. “Suatu hari tetesan…