Pelangi Malam

Pelangi Malam

Senja sudah semakin berlalu, warna lembayung dilangit perlahan memudar oleh gelap malam yang perlahan turun. Taman kini sudah kosong, rerumputan berubah kelabu dan pagar-pagar telah menghitam, namun belum ada tanda-tanda akan kehadiran Yunita-untuk menemuiku disini.

Sick smile Sick smile

Berulang kali aku mencoba menghubunginya, namun selalu gagal. Beberapa pesan telah ku kirim, notifikasi masih tertunda. Beberapa kali pula kupandangi nomor kontak yang tertera dengan nama ‘Senja’  itu, lama kutatap dengan jari yang bergerak-gerak cepat, bergerak kesudut sebelah kanan-bawah layar, ragu, masih gensi… untuk menekan tombol call.

Sesuatu kemudian dengan keras menyodok dadaku, mendadak merasa sangat kesal, mendadak merasa marah, mendadak menjadi bodoh.  Aku menyesalinya, mengapa aku masih saja percaya pada omong kosong yang telah beberapa kali berlaku bejat. Mengkhianatiku tanpa pernah sekalipun berbelas kasih.

“Arghhhhhhhh….!”

Kemarin, rasanya begitu senang, hatiku berdebar-debar begitu hebat, saat Yunita menginginkanku untuk menemuinya, di tempat ini, di taman kota yang kini dingin dan gelap.

Aku masih saja tak mengerti, mengapa aku masih saja mempercayainya, bahwa ia akan berada disisni setelah ia meninggalkanku tanpa alasan disore itu… dulu sekali. Aku menyesalinya, hal ini membuatku semakin sulit untuk melupakan dirinya.

Kenyataan ini membuatku menjadi semakin terasa menyakitkan, kenyataan ini telah membuktikan bahwa cintaku pada seorang Arini, tak pernah tulus.

Kenyataan ini membuatku menjadi semakin merasa sangat bersalah, ternyata cintaku masih berbagi —padahal Arini, sang gadis sendu jelas-jelas tulus mencintaiku. Betapa dalam ia menyanyangiku, seperti bulan dimalam hari, meski lelah ia tetap menemani tidurku, cintanya sudah tak bisa ku ukur lagi, seperti samudra dalam di ujung dunia.

Arini selalu mempercayaiku, selalu bisa memahamiku… Selalu mencoba menahan amarah, menahan rasa cemburu… dan hari ini aku telah berbohong padanya —sore ini aku tak bisa hadir untuk ujian skripsinya, tak bisa menemani, datang memberi semangat, semua itu terjadi, karena tingkah bodohku hanya untuk bertemu Yunita… Seorang perempuan, seorang hantu dari masa-masa yang telah kelam.

Berjam-jam sudah aku duduk menunggu, senja pun telah berlalu.

Aku hanya terus berusha menegarkan diri, menghela nafas dalam-dalam, memejamkan mata, meyakinkan diri, mulai hari ini tak akan bisa dibodohi lagi. Menguatkan hati untuk dapat melupkan, menolak setiap permintaan Yunita.

“Yunita…” Kataku pada bayangan dirku yang terbentuk karena  rembulan, ”Aku baru saja menyadarinya.. Aku telah kalah dalam cinta… Aku tak bisa menaklukkan harumnya, indahnya serta kehebatan rasaku padamu.. Namun mulai saat ini semua itu harus berlalu,”

Meski pucat, sinar rembulan begitu jelas, Mengingatkanku pada wajah sendu Arini. “tak mungkin lagi aku meninggalkan Arini. Ia membutuhkan ku. Aku harus ada untuk dia.”

“Yunita maafkan aku.. Aku tak bisa kembali mengulang kisahku padamu.. Meski aku tak pernah mampu untuk melupakanmu. Biar sakit ini aku yang menanggungnya. Biar beban itu aku yang memikulnya. Aku tak ingin Arini kecewa. Aku tak ingin Arini tahu,”

“Sekarang aku pergi, ku tinggalkan mawar ini, biar layu, biar hatiku padamu juga layu bersama mawar kesukaanmu.”

Saat itu aku sudah berdiri dan beranjak pergi, namun baru beberapa langkah, seorang perempuan berteriak memanggilku.

“Ril…. Aril!”

Sial, mengapa harus begini, mengapa harus selalu begini.” Gerutuku dalam hati. Jelas aku mengenali suara itu. Suara yang sudah lama tenggelam. Namun memori lama itu kini mengapung, mengapung jelas di depan mataku. Itu suara Yunita. Saat-saat seperti ini, adalah saat yang paling kubenci. Dilema !

“Riel!”

Suaranya kini parau,  namun aku tetap bergeming.

“Riel…! Ini aku,!”

Sekali lagi  aku luluh. Inilah saatnya aku bertarung lagi. Aku berbalik, berusha tersenyum menyambut Yunita yang cantik senja itu. Ya dia memang selalu cantik seperti dulu.

“Hai Yunita..” Kataku “Apa kabar… Sudah lama yak kita tak berjumpa..” Aku hampir merasa yakin, itu adalah hal yang paling bodoh yang pernah terjadi sepanjang hidupku. Aku hampir yakin suaraku terdengar sangat ganjil.

Yunita terdiam.

Kulihat matanya berkilauan dibawah sinar rembulan, air mata perlahan membanjir disudut matanya, lalu mulai tak terbendung dan akhirnya pecah jatuh di pipinya. “Astaga… mengapa harus begini?” kataku dalam hati, dengan raut muka yang seperti itu, semua lelaki di dunia pasti akan bertekuk lutut, air mata yang jatuh basahi pipi terlihat sangat bening dan melengkung seperti pelangi dibawah sinar bulan.

“Kenapa menagis?”

Yunita membungkam.

Meski ragu, aku tak tahu apa yang mendorongku untuk mendekatinya, aku tak tahu apa yang terlintas di kepalaku, aku memeluknya, dengan sangat erat,

“Riel…”

“Ya.”

“Aku merindukanmu,”

“Diamlah.”

“Tak pernah ku sangka.. Kamu tak berubah, Ril.. Kamu masih seperti yang dulu.. Tak ku sangka aku masih dapat berjumpa denganmu yang masih Ariel yang selalu ku kenal.

© Andy Riyan : Pelangi Malam


Mau lanjut gak nih? Sebagai lelaki diposisinya Ariel, aku harus gimana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s