Aku & (Bukan) Kisahku : Jatuh Cinta Lagi?

Hallo! Nama saya Andy Riyan, tapi panggil saja Arian. Saya adalah tokoh utama dalam cerita ini. Saya seorang mekanik di sebuah bengkel di Yogyakarta, Anugrah. Sebagai seorang teknisi yang bekerja memperbaiki mobil, penampilan saya terlihat kacau jika dibandingkan dengan penampilan anak kuliahan. Saya bekerja dari hari Senin sampai Jum’at bersama rekan sekaligus sahabat terbaik saya, Deni.

Kehidupan pribadi saya normal, tidak kekurangan makan, tidak kekurangan kasih sayang. Meskipun begitu, saya pikir kehidupan saya sangat membosankan. Bangun pagi, solat subuh, duduk di teras mes lantai dua sambil ngopi, lihatin ke jalan, tersenyum melihat anak-anak berangkat sekolah, mandi, ganti pakaian, turun, buka bengkel, mulai kerja, makan siang di warung PUSPA, solat kerja lagi, bersih-bersih bengkel, tutup bengkel, mandi, nonton tv, maghrib, isyak dan tidur lagi begitu seterusnya.

Sudah selama setahun ini rutinitas yang monoton itu kami jalani, tak pernah berubah, hanya kadang-kadang hari Sabtu dan Minggu yang berbeda dan sedikit bervariasi : Kalau sedang semangat kerja… ambil jam lembur, kalau tidak… tidur. Selalu seperti itu hingga hari itu, hari dimana segalanya berubah.

Hari itu adalah hari Minggu bulan September tahun 2010. Ketika itu, aku dan Deni mengambil kerja lembur. Siang hari ketika udara panas menguap dari jalanan aspal yang terpanggang matahari tiba-tiba aku merasa lelah dan sangat kehausan. Ditambah pengapnya uadara saat bekerja berdiri dibawah mobil membongkar mesin, membuat sup buah terasa semakin liat mengusik kepalaku.

Lelah dan haus yang sudah tak tertahankan membawa kami melenggang pergi menuju warung dengan berjalan kaki menyebrangi jalan depan bengkel, lalu masuk gang yang ditumbuhi pohon mangga. Sekitar sepuluh langkah dari situ, warung PUSPA yang terbuat dari bilik bambu menyerupai gubuk namun dengan desain modern berada. Sebuah warung post-modern yang bergaya tradisional itu milik Bu Nana dan Pak Yoko; orang tua Asri.

Saban siang, kami mengunjungi Warung PUSPA sambil istirahat melepas lelah; mengendurkan leher yang kaku, tangan yang berat dan menikmati sup buah. Di warung itulah – satu tahun yang lalu… aku bertemu untuk pertama kalinya dengan Asri, lalu kenalan – menjadi dekat – dan semakin dekat sampai hari ini. Dan sejak hari itu pula hampir setiap hari aku bertemu dengan Asri tak terkecuali hari minggu ataupun ketika aku libur bekerja. Tetapi hari itu, aku tak bertemu dengan Asri. Aku masih menunggu – lama sekali – Asri belum muncul. Bahkan sampai sendok terakhir sup buah yang kusantap pun, Asri tak juga nampak seperti biasanya.

“Udah yuk!” ujar Deni mengajakku kembali ke bengkel.

“Ah bentarlah!” jawabku agak malas-malasan dan sedikit kesal karena lamunanku mendadak buyar.

“Aha… ketahuan kau, masih nungguin Asri,” seru Deni, girang.“Asri belum pulang… lagi ada kegiatan ekstrakulikuler!” Deni menepuk-nepuk punggunggku keras-keras.

“Sok tahu.” balasku ketus.

“Dibilangin gak percaya, Tadi… bu Nana yang bilang.” Sahut Deni, ia menaikkan alisnya tinggi maksimal.

Lantas aku berdiri dan menghampiri bu Nana.

“Udah bu… sup buah dua, ditambah roti itu,” aku menunjuk keranjang tempat roti di meja terdekat, “Dua.”

“Tiga belas ribu.” kata bu Nana.

Aku merogoh-rogoh saku mencri uang dan memberikannya.

“Bu, Asri dimana ya? Kok gak kelihatan,” Tanyaku pada bu Nana yang sedang sibuk mencari kembalian.

“Asri belum pulang Mas…,” jawab bu Nana sambil memberikan uang kembalian padaku. Tapi aku hanya diam, “Katanya lagi ikut ekstra… kuler… kuler.”

Mendadak aku tertawa demi mendengar jawaban bu Nana, meski terbesit sedikit rasa kecewa.

“Ya udah bu, aku pulang dulu.”

Setelah sekitar lima meter dari warung, aku langsung menyembur Deni, ngumpat-ngumpat.

“Ah shit! Bilang kek dari tadi kalau Asri gak ada… buang-buang waktu aja” gerutuku kesal.

***

Sore harinya menjelang bengkel tutup, saat kami masih bekerja dengan riang diringi gelak tawa sambil sesekali melanjutkan cerita-cerita konyolku hari itu, seseorang dengan langkah berat muncul dan langsung berteriak.

“Deni..!!!” Seru suara berat memanggil dari arah pintu kantor. Dan berdirilah seorang lelaki jangkung dengan kumis melintang yang tumbuh sangat lebat, raut mukanya sangar. Dengan gestur tubuh memerintah, melambaikan tangan menyuruh Deni menghadap. Deni terperanjat mendengar panggilan itu, ia takut sekali karena pekerjaannya hari itu tak satupun ada yang beres.

“Mampus gua, Yuk” Deni sering menyapaku dengan sapaan Yuk, dari kata rayu. Deni kesal denganku, karena aku sulit di rayu, sehingga dia menyapaku begitu. “Yuk! Gimana dong Yuk!” bisik Deni. Aku hanya nyengir dan membalas Deni yang sedang cemas dengan berbisik pula.

“Rasain lo…”

“Apa sih…” gerutu Deni masih berbisik-bisik, ia melempar gombal yang kumal kearahku.

“Deni!” Teriak suara itu lagi lebih keras dari sebelumnya.

“Wah ada orang baru, Yuk…! pasti di pecat nih,” bisik Deni semakin horror dan nyaris tenggelam, “Dan si Bos udah nyariin aku pengganti.”

“Deni…! Sini…!” Seru lelaki yang tadi memanggilnya di sudut yang lain, tangan kirinya berdecak kokoh di pinggang, nampak sangat angkuh dan penuh kesombongan. Walau ragu, tanpa banyak bicara lagi Deni datang menghampiri bosnya, kepalanya celingukan, monoleh kesana-kemari.

“Lama banget!” Bentak lelaki berkumis melintang itu ketika mendapati Deni didepannya.

“Ya pak… Maaf pak, pekerjaannya belum selesai.” Kata Deni gugup, nampak tidak siap didamprat big bos-nya.

“Sudah ndak papa, selesaikan besok saja… Temui Nova dulu sana, ambil gaji kamu…” Kata lelaki sangar itu mendadak kalem, tersenyum hangat dan sangat kebapakan.

“Sekarang pak?” Tanya Deni, suaranya melengking tinggi karena tak percaya.

“Iya sana…” Jawab lelaki itu dengan menyunggingkan senyum yang penuh arti.

“Tapi saya masih pengen kerja disini, Pak. Tolong jangan pecat saya” Kata Deni merengek sambil merapatkan kedua tangannya di depan muka.

“Siapa yang mau pecat kamu? Ini gajian Deni! Gajian! Mau gajian gak?” Timpal lelaki itu dengan heran.

“Gajian pak?” Tanya Deni masih tak percaya.

“Iya sana!” Lelaki itu berubah menjadi galak lagi, mungkin kesal, “Hahahahaha….” Mendadak lelaki itu tertawa tanpa sebab juga. Lelaki itu memang gemar sekali memberi surprise, ia sangat lucu.

Lelaki sangar berkumis melintang itu,Pak Edi namanya. Saudara sepupuku, Anaknya pakdeku. Pak Edi mungkin adalah sederetan bos yang paling baik yang pernah aku dan Deni kenal. Sikap pak Edi yang sangat kebapakan dan penuh pengertian serta tidak mudah marah ini terdidik dari sejak beliau masih kerja di bengkel milik orang lain. Beliau sangat mengerti kesusahan dan penderitaan menjadi seorang karyawan, sehingga beliau memahami menyayangi karyawan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang atasan. Perjuangan Pak Edi untuk mencapai karir segemilang ini tentu tidak lepas dari para karyawannya yang setia menemani beliau. Oleh karenanya menyenangkan karyawan dengan cara meberi kejutan-kejutan bagi beliau rasanya adalah wajib sebagai bentuk rasa terimakasih yang tak terucapkan.

Sebuah lengkungan kecil terlukis di wajah pak Edi melihat bengkelnya yang luas dan bersih. Bengkel ini sudah bergenerasi dihuni oleh banyak karyawan sejak ayahnya Deni masih muda, bujang dan belum memiliki istri. Dan sekarang ayahnya sudah tidak bekerja lagi disana, melainkan sudah di ganti dengan karyawan senior yang lain.

Hari itu hanya aku dan Deni berdua yang yang masuk kerja. Karyawan senior tidak setiap hari masuk. Mereka libur dihari Sabtu dan Minggu. Sabtu dan Minggu itu artinya kesempatan buat kami berdua sebagai karyawan termuda untuk memperoleh kesempatan belajar lebih jauh tentang mesin.

Selain bos yang ramah dan kebapakan pak Edi juga orang yang ringan tangan, ia tak segan-segan turun tangan ketika kesulitan-kesulitan di hadapi oleh anak-anak buahnya yang masih belia dan masih lapar ilmu, ya seperti kami.

“Arian! Istirahat, sudah sore.” Seru Pak Edi kemudian melangkah menghampiriku yang masih sibuk membersihkan kap mobil dengan kompresor.

“Iya Mas, bentar lagi, tanggung.” Kataku.

“Rajin banget nih…” Kata pak Edi, ia tersenyum, namun aku hanya diam, tak tahu itu pujian atau hanya sindiran.

“Aku rasa aku cukup sukses mendidikmu,” Kata pak Edi setelah beberapa saat sambil mengusap usap spion mobil, “Kau tahu…?” Tanya pak Edi dengan wajah yang serius.

Aku membalas dengan menatap wajahnya, dengan ekspresi tanda tanya.

“Ayahmu menitipkan kamu padaku,” Kata pak Edi, “agar kamu rajin dan disiplin dalam bekerja… dalam hal apapun,” Pak Edi mencengkram bahuku erat sekali, “Agar kamu tahu bagaimana susahnya mencari uang. Jika kamu rajin dan disiplin, hidup kamu akan teratur dan mapan, terhindar dari rasa malas.” Kemudian pak Edi menatap kosong kearah udara bebas seakan-akan ia menerawang pada hari esok yang tersembunyi di langit sore itu.

Aku mengangungguk-angguk, dalam hati merenung. Pikiranku juga seolah mengaduk-aduk isi bumi, mencari tahu apa yang sesungghnya terkadung disana dan dihari esok nanti.

“Kapan, kamu masuk kuliah?” Tanya pak Edi tiba-tiba

“Hari senin, Mas.” Jawabku masih menunduk memandangi lantai bengkel, “Tapi gak masalah kan, Mas? Kalau aku tetep pengen kerja disini?” Tanyaku menatap wajah pak Edi, “Gak dibayar gak papa, aku udah cinta dengan semua yang ada disini.”

“Ya gak masalah si… Tapi apa itu gak ganggu kuliahmu? Takutnya nanti kuliahnya jadi berantakan.”

“Ah enggak, Mas. Arian pasti bisa ngejalanin semuanya berbarengan…” kataku menyakinkan pak Edi. “Kuncinya rajin dan disiplin dan… tekun.” Lanjutku, itu adalah kata-kata pak Edi saat pertamakali aku bekerja di bengkel.

“Ya sudah kalau kamu yakin…“ Jawab Pak Edi dengan merekahkan senyumnya juga.

Saat kami asik mengobrol, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara yang memanggil kami berdua.

“Mas…!! Mas…!!” Kata suara itu.

Lantas aku dan Pak Edi menoleh kebelakang mengalihkan pandangan kearah datangnya suara itu. Berdiri seorang perempuan muda berjilbab coklat tua serasi dengan bajunya yang juga berwarna coklat dengan setelan jeans gelap yang longgar.

“Mas… isi angin.” Ujar seorang perempuan berwajah manis. Suaranya terdengar sedikit gugup tapi jernih.

Namun aku bergeming, tak bergerak karena kagum dan hanya melongo terdiam kaku. Kurasakan udara sejuk bertiup membelai mukaku, kurasakan tubuhku di hujani oleh daun-daun dingin yang berguguran. Untuk beberapa saat yang lama, aku terus menatap tajam kearah perempuan bersuara lembut dan jernih didihadapanku itu dan masih belum bisa bersuara. Suaraku hilang, kesadaranku terbang.

“Arian! Tuh!” Teriak pak Edi sambil menyenggolku kuat-kuat. Aku terlonjak kanget. Pak Edi mengangkat sebelah alisnya, ia tersenyum. Senyum dan alis matanya yang terangkat terasa menghentakan meloncat-loncatkan isi dadaku.

“Eh apa, Mbak?” Suarku terdengar gugup. Aku tak tahu mengapa aku sangat gugup.

“Isi angin, Mas. Ban motor saya kempes.” Kata perempuan itu mengulangi.

“Ghemmm… iya…!” Jawabku langsung kalang kabut menyeret kompresor mendekat ke motor bebek putih yang terparkir didepan bengkel dekat jalan.

“Bukan yang itu, motorku yang matik hitam,” kata perempuan itu sambil cekikikan.

“Eh.” Kataku kikuk, menyeret komproser ke belakang. Perempuan itu melangkah mengikuti. Dia adalah perempuan anggun yang tinggi semampai untuk ukuran perempuan seumurannya.

Dug… Dug… Dug. Kurasakan jantungku berdegup… terlalu kecang. Tak Biasa!

“Eh, Mas… kenapa ya ban motor saya kempes terus tiap dua hari.” Tanya perempuan itu tiba tiba, memecah ke-kikuk-anku.

Tanganku gemetaran saat melepaskan tutup dop, dalam keadaan masih bergetar hebat aku mencoba menjawab pertanyaannya.

“Ghemmm… Barangkali… A… itu bocor halus mbak,” Kataku mencoba tetap fokus pada tutup dop, “Ehmmm apa enggak di tembel aja sekalian tuh di sebelah sana…” Tanganku menunjuk sebuah bengkel motor di samping bengkelku. Kulihat dengan jelas jari-ari dan lengan tanganku bergemetar. Aku mengibas-ngibas tanganku sambil sesekali menarik-narik jemariku kanan kiri bergantian.

Perempuan itu tersenyum, kulihat gigi kecilnya menyembul diantara bibir merahnya. ‘Ya Allah cantik sekali’ Kataku dalam hati.

“Nanti aja deh mas, soalnya saya buru-buru nih, mau lihat jadwal dan pengumumaan di kampus” Sahut perempuan itu dengan suara merdunya yang bisa membuat setiap jantung lelaki berdesir tidak karuan.

Sindrom shock yang datang tiba-tiba membuatku tak mampu bicara, aku terdiam seribu bahasa. Tak seperti biasanya… Aku tak tahu kenapa aku gugup seperti ini, persis seperti dulu ketika pertama kali aku bertemu dengan Yunita.

‘Hari Sabtu, Kampus tutup, mau ngapain mbak? Gak waras’ Pikirku.

“Sudah ni mbak…” Kataku kemudian setelah selesai mengencangkan penutup dop. Aku tak berani menatap wajahnya. Lalu perempuan itu mengeluarkan dompet dari tas ranselnya dan memberikan dua lembar uang seribuan kepadaku.

“Makasih mas.” Kata perempuan itu kembali memperlihatkan senyum dari bibir merahnya yang manis. Aku nebatap wajahnya lalu cepat-cepat beralih menatap ketangannya menerima uang bayaran dan hanya menganggukkan kepala sebagai sebuah jawaban.

Perempuan itu kemudian menyalakan motornya dan berlalu meninggalkan bengkel menyisakan aku yang masih berdiri, tatapanku mengikuti kemana perginya perempuan itu. Dan aku masih terus menatap kearah kemana perginya sampai ia hilang ditelan kejauhan, bahkan meski sudah tidak nampak lagi karena jauhnya penglihatan, aku masih terus menatap jalanan kemana perempuan yang telah memenangkan hatiku itu berlalu. Seolah-olah ia masih di depanku.

Matahari telah condong ke arah barat dan burung-burung sudah berterbangan membumbung diangkasa untuk terakhir kalinya – sebelum kembali kesarang sejak perempuan berbaju coklat itu meninggalkan bengkel kami, dan menyisakan bunga-bunga yang berwarna-warni menghiasi lamunanku. Senyum manisnya masih jelas terbayang olehku, meski sudah bermenit-menit yang lalu ia pergi. Suaranya yang jernih dan merdu masih memenuhi gendang telingaku bagai musik yang berharmoni.

Walaupun aku sedang sibuk membersihkan bengkel dan mestinya aku tersibukkan oleh sampah-sampah ini, tapi perempuan itu masih tak enyah dari pikiranku. Ia terus melintas dan malahan membuatku sibuk berangan-angan tentang hal-hal yang indah. Rasanya sudah lama aku tak melamunkan hal indah seperti ini. Mungkinkah aku telah jatuh cinta ‘lagi’?

‘Sampai berjumpa lagi, semoga kita bertemu kembali…’ Kataku dalam hati penuh dengan do’a dan harapan. Aku tak segera beranjak, sampai senggolan pak Edi kembali menghentak dadaku.

“Tiada yang lebih indah dari cinta saat pandangan pertama.“ Pak Edi menggodaku.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s