LGBT

LGBT- Word Cloud

Pict source : click

Lesbian, Gay, Bisekual dan Transgender. Tidak cuma Gafatar, topik ini juga sedang hangat, sehangat kopi pagi ini dan juga sedang marak di berbagai surat kabar baik elektronik maupun cetak.

LGBT, begitu judul yang sedang paling populer. Dalam pandangan saya itu tidak masalah. Kecenderungan seseorang untuk “menyukai” itu adalah Hak Asasi -hak setiap pribadi manusia yang dimiliki sejak lahir.

Adapun lesbian -kecenderungan perempuan mencintai perempuan dan gay -kecenderungan laki-laki menyukai sesama jenisnya yang laki-laki, mempunyai hak yang sama seperti kita, seperti saya yang menyukai perempuan (normal), memiliki hak yang sama dengan mereka, perempuan-perempuan yang menyukai saya (kalau itu ada -dan pastinya ada :v aku kan ora elik banget lah ya).

Namun yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan tindakan amoral yang akan terjadi. Selama mereka yang termasuk dalam golongan LGBT tidak berbuat amoral dan asuila, saya kira itu akan baik-baik saja, seperti halnya kita yang normal.

Selama kita menjaga perilaku, tidak melanggar bataan-bataan norma dan tetap menjaga etika dan kearifan sosial baik lokal maupun nasional, tidak bertentangan dengan agama dan hukum negara -semuanya aman.

Jangan ada diskriminasi!!!

Dan mengenai pernikahan sesama jenis -manusia dengan manusia, saya Yes.

Duh! Kalau saya menentang, aih repotnya nanti, pas pengen nikahi perempuan cantik dan manis seperti kamu.

Jangan ngotot harus beda jenis, “Ngko koe tak nikah-ke karo wedhuse tonggoku malah, gelem?”

Kembali kepada pernikahan atau perkawinan manusia sesama jenis – jenis kelamin sesama lelaki atau sesama perempuan, sebenarnya saya masih “No Comment,” tapi baiklah untuk sementara pendapat saya “Tidak Boleh.” Alasannya sederhana saja, kambing saja -atau biar lebih spesifik, saya sebut kambing jantan -yang konon katanya tidak memiliki akal, tidak mau kawin sesama kambing jantan. Kecuali kita tidak punya akal…

Sekian, saya Andy Riyan.

Advertisements

3 thoughts on “LGBT

  1. Hi JEJAKANDI, salam kenal. Untuk topik ini, opini saya kira kira seperti ini. Menyayangi, mengasihi, mencintai, sahabat erat dan masih banyak istilah lain yang serupa itu, saya rasa itu manusiawi. Tapi kalau berlanjut hingga dinikahkan/menikah sesama jenis, itu sudah melewati batas norma. But it’s depend on how they are feel. Terima kasih tulisannya. I’m leàrn something.

    Liked by 1 person

    1. Hei salam kenal juga holidayplacesblog. If you got the point from what I wrote or even got and learn someting else, it’s sound good and I’m glad to hear that. Well mengenai pendapatmu, saya setuju. Hanya saja masalah batasan norma, saya masih belum paham. Batasan norma itu dibuat oleh hanya beberapa kelompok orang, beberapa kelompok kondisi dan beberapa kelompok agama. Bagaimana dengan beberapa kelompok dan beberapa kondisi yang termarginalkan itu (baca: LGBT) apakah mereka tidak bisa menciptakan norma mereka sendiri? Dan soal agama, memang ada larangan pernikahan sesama jenis ini, tapi lagi-lagi soal agama adalah produk dari pemikiran umat manusia. Mungkin penganut paham LGBT juga sedang membuat agama baru, dan kebebasan paling hakiki manusia adalah kebebasan untuk memilih agama. Memikirkan ini, sebenarnya terjadi banyak kontradiksi dalam pikiran saya. Saya mencoba untuk tidak terikat oleh dogma yang sebelumnya menjamur di kalangan sekitar kita. No offense. Jadi saya mengambil jalan tengah seperti yang sering para pujangga katakan “Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah tempat dan waktunya.” Wkwkwkwkwk

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s