Breakin’ Record : Di Gunung Sumbing

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, bergulir setiap detiknya mencatatkan gap dan jarak yang semakin lebar dari jejak dalam ingatan yang satu dengan ingatan yang lainnya. Dalam ingatan yang telah jauh menerobos sekat yang dalam, jauh kedalam ingatan perjalanan kami di bulan Agustus tahun lalu. Ah…! sudah hampir setahun ternyata, namun rasanya seperti hari kemarin. Ketika debu-debu yang berterbangan di engkol-engkolan membuatku sulit bernafas, ketika puncak 3371 membuatku merasa kerdil di tengah semesta.

Dan mengenai kenangan itu, bagaimana bisa baru saja menuliskannya disini? Ah itu cerita panjang. Namun kuceritakan begini saja, saya terinspirasi oleh penulis blog ini riniarr.wordpress.com – Rini, namanya. Siapa Rini? Nanti akan saya ceritakan.

img_20150917_205232

Gunung Sindoro via Sumbing, source: klik disini

Ini adalah perjalanan yang sangat panjang dan karena ini sangat sepesial (kembali update setelah sekian lama hanya menulis di buku dan komputer) akan saya buat cerita yang panjang. Dan ceritanya begini…

Ketika matahari 21 Agustus telah kembali pada peraduannya dan menyisakan jingga yang memercik di ufuk barat, di kos Arjuna yang legendaris, kami, Satio, Risna, Ian dan saya sendiri duduk manis menunggu Rini dan Dhani; dua personil cantik yang akan berpetualang bersama menerobos lebatnya hutan, tidur dan makan di alam liar.

Tepat pukul 17.30 Rini dan Dhani menampakkan batang hidungnya dengan persiapan yang… ternyata perlu ditata ulang. Saya… ah aku saja; sebelumnya belum pernah mengenal mereka berdua dan sampai tulisan ini dibuat aku hanya berjumpa dengan mereka dalam perjalanan itu. Dan ya, Rini ini penulis blog yang sudah aku sebut sebelumnya. Packing selesai. Adzan Maghrib berkumandang. Baiklah! Kita sholat Maghrib dulu! Bukankah perjalanan ini adalah utuk mengagumi ciptaan Tuhan? Lalu mengapa harus ada alasan untuk meninggalkan Dia yang telah menciptakannya? Tidak!

Setelah tiga rakaat selesai; pukul 18.15; widih waktunya apa gak ngarang tuh? Enggak! Aku si Tompi yang di ceritain Rini di blognya, yang katanya setiap waktu bawa notebook dan pulpen. Mbak Rini! Aku malu, bawa notebook dan pulpen cuma buat nulis kayak gituan dan nulis detail-detail untuk puisi, aku ini-kata Risna, sebenarnya dia menyebut dirinya sendiri sih- adalah blogger baper yang sudah lama gak update. Tapi setelah baca blog Mbak Rini, aku terinspirasi untuk menulis perjalanan itu menurut versiku dewe. Dan karena perjalanan ini adalah perjalanan yang sama juga agar lebih irit hosting photo-photonya aku ngambil dari kamu ya, Mbak 😀

Baiklah, kembali ke Jogja. Pada pukul 18.15, kami berenam berangkat berpasangan mengendarai sepeda motor. Satio berbagi motor dengan Rini, Ian dengan Dhani dan aku berbagi ‘kesialan’ bersama Risna; iya sial, di tengah jalan lampu sepeda motorku jebol.

Ketika akhirnya malam telah jatuh, pukul 20.06, kami sampai di Temanggung -yeay sampai di tanah kelahiranku- berhenti di warung yang berada di sebelah selatan AlunAlun untuk istirahat makan malam. Kami menikmati santapan makan sederhana ketika bulan sabit mengintip diatas kota; sinarnya menembus rerimbunan daun-daun pohon Bramastana yang berbisik, bernyanyi dan menari bersama angin malam. Kota ini memang sangat istimewa, bunyi jangkrik akan terdengar merdu, mendayu indah bahkan ketika di tengah suasana kota. Aku, Andy Riyan bersama lima teman lainnya kemudian melanjutkan perjalanan menuju arah barat mengambil jalan Manding-Bulu-Parakan untuk menggapai keindahan atas dasar cinta terhadap negeri ini.

Dalam selimut dingin udara Temanggung kami terus memperlebar jarak dari jogja, menggenapi langkah-langkah melewati Kledung Pass dan kemudian berbelok ke kiri ke arah timur menuju desa Garung Wonosobo. Dan tepat pukul 21.30 kami sampai di Basecamp pendakian gunung tertinggi ke-dua di Jawa Tengah. Sesampainya di sana kami langsung melemaskan otot-otot yang tegang, rebahan di lantai beralas tikar meluruskan punggung sambil bergantian menunaikan shalat Isya’, packing ulang dan melakukan registrasi. Berapa tarifnya? Lupa eh. Seingatku, termasuk parkir tidak lebih dari 10.000, murah memang.

Pukul 22.47 Kabut tebal telah turun membawa butiran-butiran embun yang menusuk-nusuk hingga ke tulang-tulang. Dan diawali dengan berdo’a memohon kepada Sang Penguasa Jagatraya, kami bertolak dari basecamp mengintari rumah-rumah penduduk. Pada kesempatan ini saya di buat terheran-heran dan terbengong-bengong; penduduk desa Garung jam segitu masih sibuk bekerja, memotong-motong daun tembakau dan ‘menjereng-jereng’ (apa sih bahasa Indonesia-nya? 😀 ) -di ‘Rigen’, anyaman bambu jarang-jarang dan berbentuk persegi panjang untuk dijemur keesokan paginya. Kami menyempatkan sesekali menyapa (kebutuhan etika, Brooooo!.) Semula perjalanan dari basecamp ke pos I ini menyenangkan, kami lalui sambil mengobrol gembira, namun 30 menit, 40 menit mulai terasa perjalanan ini aneh -mendaki di jalan-jalan berbatu yang… well, sangat-sangat terjal tanpa basa-basi.

“Nek gak pengen pegel mending turu wae ning kos, penak! Ngopo adoh-adoh rene?”

Awalnya kami menyangka ini jalan iseng banget -batu semua- dan berpikir di depan akan ada bonus dan sedikit jalan yang lunak untuk kaki-kaki kami. Lalu… Ah yang benar saja! Kami sudah berjalan di antara tanaman-tanaman tembakau dan kubis juga pohon-pohon pinus dan perdu… tapi ini masih jalan yang sama? Masih mendaki 50 derajat? Bener-bener gila. Belum sampai pos I, sudah kehilangan semangat, nyali semakin ciut tak tahu harus berapa lama lagi mendaki jalan batu sial ini. Lalu sekonyong-konyong ketika membaca peta, basecamp – pos I, jarak : 3 Km !!! Ya sudahlah. Waktunya baca mantra : “Nek gak pengen pegel mending turu wae ning kos, penak! Ngopo adoh-adoh rene?” kalau tidak mau capek, mending tidur saja di kos, enak! Ngapain jauh-jauh kesini. ALHAMDULILLAH! Mantra itu berhasil mengangkat beban-beban di pundak kami. Mantra itu memang paling ajaib, mantra yang telah kami pakai sejak petualangan pertama. Semangat kita bangkit seiring bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit. Dengan teknik jalan ala Satio, jalan nyisir-nyisir serong kiri-serong kanan 😀 pukul 00.45 dini hari kami sampai di POS I; MALIM. Bekerjasama, kami mendirikan tenda, ngemil dan becanda hingga jatuh tertidur beralaskan matras.

Bersambung dulu ya… panjang ini ceritanya, ini baru POS I malam pertama pula

Advertisements

One thought on “Breakin’ Record : Di Gunung Sumbing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s