Yang Lain (Akan) Tumbuh

Suatu pagi di bulan September menjelang matahari terbit, udara spoi-spoi bertiup menyapu ruang kamar mes tempatku tinggal. Partikel-partikel halus itu berhembus menerobos pintu kaca yang setengah terbuka. Awalnya hanya sesekali untuk menyibakkan tirai yang tergerai bebas tak terikat, namun lama-lama menjadi terlalu sering menyapa hingga megibarkan semua benda ringan, bahkan tatanan-tatanan rambutku yang masih sedikit basah.

Ketika itu setengah dari cangkir kopi hitam sudah habis ku tegak. Rasanya aneh, kopi ini tak sepahit hari-hari sebelumnya. Sesuatu sedang tak berjalan seperti biasanya. Sesuatu sedang berubah. Sesuatu yang berbeda sedang terjadi. Mentari terbit lebih cerah dari hari-hari kemarin sepanjang aku memeperhatikan timur jauh itu saban pagi. Sinar jingganya lebih tajam membelah awan yang berarak yang tak berhenti bergerak dan terus berlari-lari cepat menyisir cakrawala. Langit begitu tampak sangat riang menerbangkan burung-burung dan mengajak mereka menari-nari menyambutnya.

Sepagi itu aku sudah lima kali memoles sepatu boot yang tempo hari kubeli di toko “Gaya” dengan kain lap. Senyumku juga terkembangkan ketika kulirikkan mataku kerah kemeja lengan pendek yang tergantung di depan lemari. Rasanya aku kembali seperti dulu, ketika sepagi ini sudah mengelap sepatu, menyetrika baju dan menyemprotkannya dengan minyak wangi sebelum akhirnya mandi dan bergegas mengintari blok-blok perumahan lalu melewati lapangan sepak bola untuk menjemput… menjemput Yunita.

Mengingat Yunita, mendadak aku merasa bosan memoles sepatu itu. Mendadak sesuatu terasa asam di mulutku dan tanpa sadar aku telah melangkahkan kaki keluar dari kamar menuju beranda depan mes dilantai dua yang berpagar teralis dari stainles steel silver yang kemudian berkilauan karena cahaya matahari. Ingatanku pada kisah ketika aku berangkat kesekolah berjalan kaki dengan Yunita masih asik menari-nari dipikiranku. Kenangan yang indah yang pernah kumiliki, kenangan indah yang terkadang larut menjadi mimpi buruk di dalam tidurku, kenangan yang akan menunda rasa pahit dan membuatnya menjadi terasa sedikit asam. Namun aku tak paham, mengapa aku masih saja terjebak pada kenangan itu. Meski ingin sekali kulupakan, aku tak bisa menolak ketika kenangan itu menyelip tanpa malu-malu. Sekali lagi aku larut kedalam kenangan itu.

“Aku lupa kemarin kita berjanji untuk mengunjungi anak-anak itu.” Katanya dengan enteng seoalah itu hal yang sepele.

Itu adalah soal janji kami untuk pergi ke panti asuhan hari terakhir di bulan Desember. Aku habis tak mengerti bagaimana dia bisa lupa dengan janji itu padahal pagi hari sebelumnya aku mengingatkan akan pentingnya kunjungan itu.

“Bukankah kita bisa melakukannya di lain hari.” Katanya

“Bagiku itu bukan soal kita bisa melakukannya kapan saja, itu soal…”

“Cukup. Aku tahu… aku tahu… Komitmen.” Potong Yunita “Itu penting. Ya itu penting.”

Tega sekali dia, memotong sanggahanku bahkan sebelum aku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan. Bukan komitmen yang ingin aku ucapkan, sebenarnya, pergi dengan siapakah Yunita malam itu. Dan mengapa mematikan ponselnya.

“Ponselmu mati?” tanyaku “Aku tak bisa menghubungimu.”

“Ia kalau sedang di charge hapenya selalu aku non-aktifin.” Jawabnya santai.

‘Licik!’ kataku dalam hati.

Setelah dari kunjungan ke panti itu, aku pergi ke rumahnya dan bertemu dengan Aldo, adiknya. Aldo memberitahuku Yunita pergi di jemput seorang laki-laki. Dan sialnya laki-laki itu, kata Aldo, bukan saudaranya dan ia tak mengenali siapa maling keparat yang telah mencuri momen-momen pentingku itu.

Sesuatu membuatku tersenyum dan mengalihkan sibuknya pikiranku selama menyelami potongan-potongan kenangan itu. Sekumpulan anak kecil berseragam putih merah berjalan melintasi bengkel, mereka bernyanyi riang sambil saling berangkulan. Semangat! Mungkin begitu bunyi pesan untukku pagi itu. Kemudian aku akan menunggu seseorang muncul dari sela-sela pohon yang rindang yang menaungi jalan lebar itu, seseorang dengan raut wajah nan ayu yang biasanya melambai-lambaikan tangan padaku, Asri. Anak SMA yang sepanjang tahun ini telah lalu lalang bermain di bengkel tempatku bekerja. Seseorang yang kadang bisa menjadi obat dari kenangan pahitku akan perempuan. Sudah 10 menit aku menantinya. Namun ia tak muncul.

(C) Andy Riyan; ANN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s