Musim Penuh Merindu

Sekali lagi kubuktikan bahwa, senja tak selalu merah. Seperti sore ini, hujan telah membuat arah angin berubah, seperti sore ini ketika kunikmati lagumu… hujan deras membasahi bumiku, menggantikan lagumu dengan laguku. Namun entah bagaimana dengan semestamu… semoga tak lagi kering seperti terakhir kali kita bertemu.

tumblr_inline_nm8t38a8tq1rgfkdq_500

Deras hujan ini mengantarkan daku pada bait-bait kata -yang sebentar lagi akan menjadi sebuah lagu baru- mengubah simponi nuansa yang jernih menjadi bermandikan debu. Membakar amarah dan egoku, membangunkan hantu yang berwujud sebagai rasa bersalahku padamu, yang tak akan pernah enyah sebelum kamu memaafkannya.

“Alinda…”

Bisikku padamu, ketika kau baru saja turun dari boncenganku. Yang hanya kau balas dengan tatapan mata yang penuh kesedihan.

“Aku minta maaf… untuk semuanya” Kataku.

Aku begitu bodoh, meminta maaf untuk sesuatu yang aku tak pernah mengerti alasannya.

Membacakah kau kasih? Ingatkah hal itu kasih? itu adalah kata terakhirku padamu, kata terakhir yang ingin ku ubah dan ingin ku ganti dengan yang baru. Sungguh aku rindu, aku ingin bertemu denganmu untuk kuhapus air matamu.

Irama instrumental dari percikan bintang di malam pertama kali kita bertemu, yang berharmoni dengan suara pusaran air di lembah cinta yang sendu. Sebuah irama yang serupa dengan hujan ini -datangnya bertubi-tubi menghujam kalbuku.-  Membawakanku pada rindu diruang yang kita namai sebagai lembah tempat bermuara sungai yang mengalir dari hatiku dan hatimu. Hujan ini kembali menceritakan tentang sebuah lagu tentang kita berdua yang selalu berputar-putar bagaikan anak ayam mencari induknya.

Lagu serupa menjadi terangkai berkat halilintar yang menggelenggar. Sebuah lagu tentang rasa khawatir, kekhawatiranku pada kamu kasih; seseorang yang… semoga seutuhnya menjadi milikku.

Meski serupa, lagu ini takkan mungkin seperti dulu. Sebab arah angin telah membawaku pada musim yang baru. Musim dimana langkah kakiku berjalan seorang diri, yang dalam hati terus berdo’a agar memiliki kesempatan untuk menang bersama waktu.

Aku mengkhawatirkanmu dengan sangat, seiring musim terus berganti, seiring perjumpaanku yang membangkitkan sebuah ilusi. Ilusi takut kehilangan kamu. Dan akhirnya aku kehilangan kamu dari pelukanku. Dan akhirnya kamu hanya menyisakan kupu-kupu ciuman pertama kita terbang melintas sebagai sebuah kenangan yang jauh.

Aku tahu kamu hanya berdiam diri dirumah, memandang keluar jendela pada kenangan dan kemesraan kita berdua. Berlari-lari ditengah hujan, menerjang badai karena kerinduan. Dan pada akhirnya melaju dengan rasa putus-asaku yang tak bisa melunakkan hatimu.

Kala itu, aku enggan untuk menerjang topan, tapi kamu ingin segera pulang mencapai selimut kehangatan. Aku enggan karena aku menghawatirkan suhu tubuhmu saat itu, meski hangat namun kutahu mengalir keringat dingin dari dahimu. Aku tak ingin sakit menerpamu, menerpaku, menerpa kita berdua… dan kejadiannya terlalu cepat, aku tak paham duduk permasalahannya. Dan semuanya… hancur berantakan.

Angin telah berubah. The wind has changed. Membawkanku pada musim yang penuh merindu.

(C) Andy Riyan | Yogyakarta, 3 April 2015

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s