Hujan dan Soal Rindu

Hujan dimana-mana selalu sama kasih… jatuhnya kebawah. Seperti sore ini ketika butirannya jatuh membasahi setiap inci jalanan kota.

Advertisements

Hujan dimana-mana selalu sama kasih… jatuhnya kebawah. Seperti sore ini ketika butirannya jatuh membasahi setiap inci jalanan kota. Jalanan menjadi basah dingin dan anyep. Dan soal hujan yang sama, pasti terdapat banyak kenangan. Banyak yang bisa melukiskan kenangan tentang keindahan pelangi, tentang keindahan kerinduan oleh pertemuan karena disatukan di bawah atap saat berteduh di pinggir jalan. Banyak orang bisa melukiskan hujan dengan kenangan-kenangan yang romantis tapi… ingatanku pada hujan adalah menahan amarah, membunuh egoku hingga yang terasa sakit hanya ulu hatiku saja. Dan engkau tahu itu kasih… hujan adalah perihku. Lebih baik aku berlindung darinya dan terbunuh waktu. Tapi demi kamu…  aku pun pergi.

Memperdengarkan soal rindu, bukan hanya hujan yang sanggup ciptakan itu. Bukan hanya mimpi buruk yang bisa membuatku terbangun dan terjaga di hari yang masih buta. Soal rindu adalah mendengar suaramu memanggilku, bisikan hatimu yang memperdengarkan nyayian kasih dan rindu. Ketika hening yang menenggelamkanku, membuatku larut dalam kesunyian, melihat jelas kedalam kegelapan yang semakin kelam. Itu adalah soal rindu yang melukiskan sekelabat bayangan yang kemudian lalu-lalang di hadapanku, timbul tenggelam malu-malu tapi mau. Bayangan soal rindu itu adalah nampakkan wajahmu dari memori ingatan ingatan hari-hari yang telah lalu. Dan hujan selalu bisa menciptakan semua ilusi itu.

Soal rindu, bukan mentari senja yang mengingatkan daku pada dirimu, bukan gerimis dan hujan yang menyadarkanku tentang kehadiranmu dulu. Tetapi selukis senyummu yang tulus dan secercah tawamu yang murni dan kegembiraan sejati yang menghiasi wajahmu itu yang membuatku rindu. Dan hujan selalu bisa menciptakan semua ilusi itu.

Seperti adakalanya senja tak memerah di cakrawala meski datangnya pasti. Sebab hujan dan mendung kelabu terkadang menyelimuti langit hingga ufuk bumi. Seperti sore ini, meski aku tak melihatnya karena aku tidur setelah kecapekan seharian dan akibat sakit kepala yang tak mengenakkan. Tak pedulikan? Senja yang merah ataupun hujan yang deras yang berganti, tetapi soal rindu ini tetap terjadi.

Itulah mengapa soal rindu tidak harus hujan ataupun senja, tetapi setiap butiran yang jatuh dari langit sore ini, membekas, menampakkan bayangmu yang datangnya bertubi-tubi. Relung hati ini merasa penuh dengan kerinduan yang tertulis dengan pasti berhias butiran hujan. Itulah soal rindu, karenamu kasih.

12 Maret : Hujan dan Soal Rindu
Oleh Andy Riyan

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s