Motivasi Menulis

Ada beberpa kekosongan yang saya tinggalkan tanpa jejak. Ada beberapa waktu dimana saya berhenti menuliskannya. Pernah saya memiliki masa dimana saya berhenti menulis di blog, di jurnal harian, bahkan di status update facebook dan twitter. Masa-masa itu adalah masa-masa dimana saya merasa tak mempunyai motivasi apapun untuk menulis. Saya kehilangan gairah. Saya kehilangan sebab, kehilangan inpirasi, kehilangan tujuan dan kehilangan banyak hal setelah kepergian seseorang dalam ceritaku (dasar blogger baper :v tapi ini serius kisahku bukan kisah Keenan yang kehilangan Kuugy.)

Saya ingin tertawa kali ini. Benarkah saya pernah mengalami hal-hal semacam itu? Aih memalukan, penulis baper ini! Dulu saya bisa dengan sangat lihai menulis puisi hanya dalam 10 menit—urusan bagus atau buruk itu urusan belakangan, yang penting saya terpesona dengan tulisan saya sendiri—, karena ada maksud tertentu yang ingin saya sampaikan dalam puisi itu. Membuat cerpen—yang meskipun konyolnya gak ketulungan *duh—tak lebih dari 45 menit pun jadi. Bahkan bisa membuat tulisan bergaya monolog dengan pilihan kata yang rumit dan tentunya hanya saya sendiri yang bilang “WOW.!!” Semua itu bisa saya lakukan karena saya mempunyai motivasi untuk… well pamer. Mempunyai alasan untuk menyindir seseorang. Dan ketika seseorang yang menjadi ladang inspirasi itu tiba-tiba menghilang… semua alasan saya pun hilang dan produktivitas menulis saya pun langsung terjun bebas. Saya berhenti total!

Namun kini saya kembali menulis, dan sekali lagi saya bertanya pada diri sendiri “Masih adakah motivasi-motivasi lama itu?”

“Saya kira tidak!”

Saya kira inilah alasan saya menulis lagi, saya menjadi mengerti bahwa saya telah berubah dan telah berkembang saat ini–baiklah ini masih namanya pamer–. Saya senang mampu menertawakan kebodohan yang dulu, mampu mengasihani betapa memalukan menjadi antek-antek Laki-Galay – – laki yang galau dan lebay -nya sungguh terlalu–.

Alasan saya menulis sekarang agar, saya bisa membacanya lagi suatu hari nanti dan melihat lagi apa-apa yang bisa saya lakukan terhadap tulisan-tulisan saat ini nanti, mungkin untuk menertawakan diri seperti kali ini. Dan itu membuat saya berani untuk mengatakan bahwa sekarang saya telah menjadi orang yang berbeda yang setiap hari berusaha menjadi lebih baik. Walau masih ada satu yang tetap untuk saati ini, saya masih menulis untuk diri saya sendiri. Tapi kita lihat apakah nanti saya sudah menulis untuk orang lain, untuk negeri ini, atau masih menulis untuk diri sendiri lihat saja nanti.

Dan berharap dari tulisan ini saya bisa membaca lagi perkembangan setiap harinya. Seperti kali ini saya menulis jurnal, hari ini saya menyelesaikan satu chapter dari karangan fiksiku yang mbuh nanti mau jadi apa lagi.
Saya Andy Riyan

Memenuhi janji saya untuk menulis yang kemarin saya galaukn

Advertisements

2 thoughts on “Motivasi Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s