Tahun Kegelapan, Senja dan Penyesalan

Ia menatapku garang dengan kedua alis mengkerut saling bertautan dan bibir mengkerucut membendung murka. Sorot matanya tajam dan berkilat-kilat memancarkan api hitam dan mengobarkan perang dalam gemuruh hujan yang datang menggempur bersama halilintar yang menyambar bertalu-talu.

“Aku ingin pulang sekarang!” teriaknya ketus.

Kupandangi sekali lagi wajahnya, mencari celah untuk memohon pengertian. Ia membuang muka lalu berjalan menepi mencari tempat berteduh yang lebih aman. Aku berbalik mengedarkan pandangan, memandangi jalanan banjir yang telah meluap setinggi hampir 30 senti. Langit begitu gelap dan kabut kelabu tebal menyelimuti kota kecil itu seolah badai bulan Desember akan terjadi selamanya dan tak akan pernah surut.

 
“Lihat! Jalanan bahkan tak kelihatan.”

“Pokoknya aku ingin pulang!”

Suaranya menggelenggar bersamaan dengan memecahnya kilat dan membelah langit. Kemudian gemuruh beruntun menertawakan diriku yang tak mampu berucap sepatah katapun. Duniaku serasa berhenti dan hening total. Kemarahannya membuatku serasa terjebak dalam tahun-tahun gelap yang membawa butiran hujan tanpa akhir dengan dingin meyelimuti lorong-lorong di depan. Dalam pada itu seketika angin berbisik menghembuskan napas kerinduan pada temaram senja yang bergelimang tawa. Senja yang bersinar merah yang pernah membawaku memasuki lembaran baru dalam hidup. Kemarahannya itu membuatku menyerah terhadap waktu, memupuskan harapanku untuk sampai pada esok hari yang cerah dengan matahari hangat menyinari. Kemarahannya telah menghapus keindahan matahari senja yang tenggelam di danau yang menggemakan suara cinta.

Aku berpaling kearahnya sekali lagi. Ia memejamkan mata dalam diam, meringkuk di kursi panjang di sudut dinding bagunan. Kedua tangannya menyilang di dada memeluk ranselnya yang sedikit basah. Wajahnya yang berbentuk lambang cinta itu kini bersemu merah. Kedua bibirnya mengatup rapat menahan gelombang marah yang kapan saja bisa meledak. Hatiku rasanya bagaikan teriris. Ingin kupeluk dirinya, namum aku tak mampu melakukannya. Jemariku terasa kebas dan seolah darah telah membeku menghentikan aliran putaran otak untuk berfikir. Aku ingin menangis karena tanganku tak mampu menjabat.

Aku datang sejauh ini untuk membuktikan padanya, untuk menunjukkan padanya bahwa dunia di luar sana adalah miliknya. Bahwa gunung-gunung, lautan dan samudera, rumput-rumput yang menari, dan embun-embun yang berteretes akan berhias dalam ingatanya. Dan aku tidak akan pernah berbicara padanya kecuali apa yang akan aku katakan adalah sebuah kejujuran. Bahwa kuncup-kuncup akan selalu tumbuh di pepohonan menggantikan daun-daun yang berguguran. Dan bahwa angin yang berbisik dan mengalun bersama nada-nada adalah sebuah lagu cinta yang pernah memeluk hati di dataran kering dulu.

Namun badai bulan Desember malah menghancurkan segalanya. Ia berbalik meluluh lantakkan diriku dan melemparkan aku ke luar dan hanyut bersama banjir yang melanda, memporak-porandakan usaha nan gigih ku itu. Hujan bulan Desember itu justru berbalik membuktikan padaku, bahwa aku tak pantas pergi sejauh itu untuk maksud itu. Kemudian aku menyadarinya ini akan menjadi hari terakhirku bersamanya. Tak akan ada lagi puisi dan lagu cinta yang akan bisa kurangkai. Aku tahu ini akan menjadi perpisahan yang paling menyakitkan tanpa kata yang akan terurai. Sebuah penyesalan yang tidak akan termaafkan, sebuah penyesalan yang akan terus membayang dalam ingatanku terlebih saat mendengar hujan berjatuhan dari atap rumah dan, akan terus membayang bila tak kusapu mendung di langit saat ku harus melintasinya.

Terimakasih telah bersamaku sejauh ini. Meskipun sudah dua hari tiga malam aku belum memejamkan mata, sudah berkilo-kilo meter aku berkelana dan tubuhku mulai mengkerut tak bertenanga, mataku mulai pudar tak mengingat apa-apa kecuali hanya mengingat keselamatannya. Sekali lagi terimakasih telah bersamaku sejauh ini, meski harus mempertaruhkan nyawaku dengan resiko jatuh karena kehabisan kesadaran, aku akan mengantarmu pulang dengan selamat. Akhirnya kukatakan padanya

“Ayo pulang.”

(c) Andy Riyan

Tahun Kegelapan, Senja dan Penyesalan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

3 thoughts on “Tahun Kegelapan, Senja dan Penyesalan”

    1. Apa kelihatannya memang seperti itu Mas Risna? :v saya kira tidak perlu mengklarifiksai atau memberi penjelasan. Penulis tidak perlu menjelaskan apa yang ia tulis dan pembaca berhak memiliki khayalan tentang tulisan itu, bukan begitu, Mas Risna?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s