Belum ada lima menit kami berjalan meneruskan perjalanan dari POS I MALIM menuju pos-pos berikutnya, saya memperhatikan tingkah Satio. Baca Breaking Record (2) Satio, sahabatku yang satu—diantara kami yang berbadan paling besar—ini selalu mempunyai hobi sibuk dan kusut dengan perlengkapannya sendiri. Ia sering berhenti soal remeh-temeh yang seharusnya sudah beres sejak packing ulang dan membuat langkah pertama dalam perjalanan. Carrier-nya kurang kenceng dan perlu di tarik adalah alasan yang paling klasik. Setelah beberapa saat ia akan mulai meributkan atribut yang seharusnya di kantongi. Pada saat seperti itu ia akan menurunkan ranselnya dan kami diam menunggu.

Untitled-1.jpg

“Ris hitung, Ris!” kataku pada Risna beberapa saat setelah melihat Satio kembali menggendong Carrier-nya.

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga…”

“Hoeeeek… haik… hoek juh!”

Serentak saya dan Risna menertawakan Satio yang muntah di gunung. Kami sangat mengenali Satio, si sindrom Jet Lag, ia memang perlu beradaptasi dengan perjalanan; bahkan saya tidak ingat kapan Satio tidak muntah dalam setiap perjalanan kami, ah ya di perjalanan Tragedi Kosakora dan Trip ke Dieng saja Satio tidak muntah tapi, itu bukan perjalanan mendaki gunung sih. Secara ajaib Satio menjadi segar bugar dan penuh tenaga setelah menembakkan isi perutnya dan menyumbang asam di gunung itu.

Perjalanan kami kemudian berlanjut menyusuri jalananan setapak di tanah-tanah merah diantara pohon-pohon pinus di perbatasan ladang petani. Kawasan ini oleh penduduk setempat di kenal sebagai kawasan Bosweisen. Sebentar kemudian kami mulai terus mendaki konstan di kawasan Genus diantara pohon-pohon perdu, lamtoro dan pohon kayu yang berderet-deret sepanjang jalan dan bercabang (namun masih satu arah) dan berhias rumput-rumput yang selalu menyapa dengan goyangannya yang anggun nan manja.

20150822_112117.jpg
Setiap Keindahan Tidaklah Diraih Dengan Mudah di engkol-engkolan

Tak terhitung berapa kali kami break dan uniknya setiap berak kami tidak terburu-buru untuk melanjutkan perjalanan, sebab perjalanan ini memang di desain untuk perjalanan yang teramat sangat santai. Dari awal kami merencanakan perjalanan selama tiga hari dua malam. Masih banyak waktu.

Medan yang kami lewati terus berubah dan bervariasi tetapi hampir tidak ada bonus—sahabat pendaki pasti tahu yang di maksud dengan bonus ini 😀 dan untuk yang belum tahu saya beri hints yang dimaksud bonus itu adalah medan jalan yang relatif mendatar atau sedikit menurun yang sangat bermanfaat bagi kaki-kaki kami yang sudah teramat sangat pegal, jadi sudah tahu kan sekarang dan bisa bayangin seperti apa perjalanan kami itu?—dan kemarau bulan Agustus yang terlampau parah menyebabkan kegersangan terjadi dimana-mana walhasil, debu-debu sepakat melayang dan hanya sedikit tanah yang benar-benar padat. Ketika sudah sampai di medan yang cukup ekstrim ini, berarti sahabat sudah sampai di wilayah Sedelupak Roto, on the way akhir kilometer V.

Karena memang menjalani saja semua hal yang sedang kau tapaki itu lebih mudah dari apa yang selalu kita duga. Pandangilah saja apa yang sedang kau tapaki, dan abaikan sejenak yang (jauh) lainnya. (Andy Riyan)

Dan puncak dari kegersangan dengan kombinasi jalan yang nyaris vertikal—dan hampir mustahil di lalui dengan posisi kepala masih tegak lurus dengan tanah pijakan—terjadi di engkol-engkolan. Dibawah terik matahari pukul 11.45 dan debu yang selalu senantiasa awas yang seketika akan menyerang mata-mata kami jika kami lengah, kami bahu-membahu— yang diatas menarik yang dibawah dan yang membawa kamera motoin 😀 —mendaki medan yang kalau hujan akan menjadi medan lumpur terhebat untuk mewarnai pakaian kami nyaris sama seperti kerbau. Kami berjuang keras di sana dan sesampainya diatas kami langsung disughi dengan pemandangan yang paling menakjubkan, saking menakjubkannya kami bahkan lupa untuk memfotonya.

20150822_122545
Di Lereng Sunyi

Pemandangan itu memang hanya sebuah lereng yang tidak seberapa luas cukup datar menghampar memandang kebarat dengan hiasan pohon-pohon yang sudah hitam terbakar. Saya membayangkannya seperti di film silent hill (bukan di kota hancurnya,tapi di hutan yang kosong dan rapuh itu) keadaan benar-benar sunyi. Beberapa gambar sempat tertangkap, namun hanya bagian yang masih selamat dari kebakaran, disana cukup rimbun dan hening. Kami berhenti disana dan bergantian menunaikan sholat dzuhur. Lebih dari setengah jam setelah sholat pun kami tetap berada disana diam seribu bahasa. Hanya sesekali yang terdengar dari mulut kami adalah bunyi-bunyi remah roti dan kacang yang berdecak membaur dan berharmoni dengan desahan angin yang bertiup.

Kemudian dengan tangan yang saling menjabat, menarik dan membantu berdiri kami meninggalkan lereng sunyi itu dan bergerak menembus daun-daun berduri dan terus berjalan satu-satu dengan kekaguman diri masing-masing dengan segala keajaiban yang berkecamuk. Belum selesai kami dengan ketakjuban kami sendiri kami di hadiahi dengan pemandangan alam yang terbuka. Kawasan yang saat itu terlihat paling terbuka, kering dan sangat mengancam karena angin bertiup sangat kencang dan sering terjadi badai.

20150822_131037.jpg
Mas Ian dan Trio Matrixx

Inilah Pestan dan Pasar Watu. Saya berharap Mbak Rini nanti bisa melengkapi photo-photo antara Pestan dan Watu Kotak ini, dimana saya belum sempat memiliki salinannya, kalau tidak salah ada di hapenya mbak Dhani. Ada foto saya dan mas Ian juga yang lagi berdiri di sebuah batu di pinggir tebing (bukan di puncak), dan berharap Mbak Rini bisa melengkapi Photo senja terindah di Watu Kotak itu.

Jika nanti saya kembali ke tempat itu, saya akan benar-benar menikmatinya lagi *Ayooook kesana lagi aja yoook*. Rumput-rumput pendek yang telah kering disna sesekali menyanyikan sebuah lagu untuk saya. Kemudian kabut tebal turun seolah menyambut saya untuk segera berpelukan dalam mesra sebagai kekasih lama yang di pertemukan dalam kerinduan diatara matahari yang bersinar putih murni. Dan di perjalanan antara Pestan-Pasar Watu-Watu Kotak kami berhenti untuk memasak tepat pukul 14.00 WIB. Sungguh santai sekali kami ini, berhenti di celah jalan air hujan yang penuh dengan batu berserakan. Dulu sebelum kami memiliki tenda sendiri, mana terpikir oleh kami untuk menikmati hal seperti ini. Dulu perjalanan kami adalah Puncak secepatnya dan turun secepatnya sebelum deadline sewa perlengkapan habis 😀

20150822_132616.jpg
Karena Kenyang Semua Pun Senang di PESTAN

Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan dengan sedikit suasana yang lebih gembira. Matahari mulai berubah dari putih murni menjadi teduh kekuningan dan semakin pekat menjadi jingga seiring bola api itu jatuh kearah barat. Dalam pada itu kami berjalan kadang merangkak mencari pijakan dan pegangan di antara bebatuan yang di sepanjang sisinya terdapat pohon-pohon puspa gunung berdaun hijau tua. Sebentar kemudian kami berjalan di sisi tebing yang sangat aman. Memandang ke seberang hamparan rumput jauh dibawah yang mulai berpendar kekuningan dan kemudian meredup diantara celah pertemuan bukit.

20150822_135422.jpg
Mas Ian

Dan kemudian sampailah kami di Watu Kotak di bawah senja terindah yang mungkin pernah saya lihat seumur hidup. Berbaring di rerumputan kami menikmati bola api yang terlihat bulat sempurna tanpa menyilaukan mata. Bola api itu menyala di atas lautan awan tanpa meninggalkan jejak bayang persis di samping gunung Sindoro. Perlahan dengan sangat perlahan sang Raja siang kemudian menjadi temaram dan menyisakan garis cakrawala yang indah yang senjanya tak pernah bisa ku sentuh. Yang jingganya kadang menyisakan luka untukku yang berjalan menuju gelap. Bagiku keindahan senja adalah sebuah paradoks, karena di setiap senja yang sama masih terdapat luka yang sama.

Di Watu Kotak inilah kami bermalam lagi. Puncak tinggal selangkah untuk kami nikmati hari esok. Malam ini kami akan berjuang melawan dinginnya malam dalam cahaya bintang-bintang yang tersebar di seluruh langit dalam nebula-nebula tak bernama.

Sekian dulu, selanjutnya posting terakhir menuju puncak tertinggi ke dua di Pulau Jawa dan perjalanan turun serta mungkinkutipan dan cerita rahasia ritual-ritual kami dalam setiap perjalanan.

Saya Andy Riyan

Saat kami merasa berat dan tak akan sanggup mencapai sebuah titik yang kita tuju yang berada jauh di atas, kemudian kita ingat titik yang sedang kami pijaki merupakan titik yang semula kita tak akan sanggup mencapainya lalu ketika melihat hamparan yang telah kita lewati kita baru sadar bahwa apa yang telah kita lalui terasa begitu mudah.

 

20150822_133127.jpg
Tebak Ini Siapa…
20150822_130928.jpg
Abaikan Gaya-nya, sik penting poto ning Gunung :v
20150822_112243.jpg
Abaikan si Ninja, perhatikan yang sedang berjuang di belakang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s