Gerimis Pagi

Kau telah jatuh cinta padannya dalam gemuruh tawa. Seketika ku tergoda untuk menjemput kata-kata yang sempat melintas di depan mata dalam kepala saat aku bertanya-tanya dulu kala.

Lama berselang ku menutup telinga, kini terbayang mendengarkan suaranya sebuah derai yang menggema di dalam rongga dada. Membayang sebuah lagu ketika hujan dan bumi beradu dalam selang waktu yang dulu memaksaku tuk menunggu.

Semua orang menyebutnya sebagai perasaan dilema. Seperti tercerabutnya akar cinta yang kita bisa mati tanpanya. Bukan sesuatu yang buruk untuknya, rasa. Sebenarnya hanya tidak baik bila menginginkannya sangat. Seperti sebuah candu yang tak bisa menunggu apalagi berpaling darinya, aku menjadi gila.

Kau permainkan kata-kata seolah rasa telah menjadi jiwa, terhubung kepadanya, tanpa suara. Mendamaikan dirimu dengan masa lalu. Seolah perjalanannya adalah menemukanmu sebab, dia mencurahkan rasa yang… hanya sedikit mirip dengan milikmu. Namun bukan cinta jika ia tak bisa memercikkan api dari gumpalan-gumpalan es yang telah lama membeku. Bukan cinta jika ia tak bisa membuatmu mencucurkan darah dari nadi-nadimu.

Dari gerimis pagi yang menitik, kau persembahkan padanya satu kata. Lalu ia menjelma menjadi seribu nyawa kemudian berlinang darinya, seketika, air mata yang… tanpa dosa telah kau cumbu mesra.

“Biarkan aku tertawa denganmu.”

“Tidak. Kau telah merampasnya dariku.”

“Biarkan aku mati untukmu.”

“Tidak. Kau telah lama membunuhku.”

Advertisements

3 thoughts on “Gerimis Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s