Full Day School, Pro atau Kontra?

Pagi ini saya membaca sebuah berita, katanya disana penjabat pemerintahan negeri Indonesia kita tercinta, Pak Menteri Kemindikbud (Kementrian Pendidikan dan Budaya) sedang menggodok wacana untuk menerapkan Full Day School (FDS) atau sekolah seharian penuh.

141019151928_sekolah_640x360_bbc_nocredit

sumber photo : disini

Belum sempat sebaiknya saya berkomentar bagaimana, belum jauh saya menganalisa, terlintas di pikiran saya “Wah bagus tuh rencana Pak Menteri, full day school dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Saya sudah biasa menjalaninya dulu pas masih sekolah, bahkan tetangga sebelah lebih keren lagi gak cuma full day school tapi long life study alias belajar penuh dari subuh hingga tidur lagi.”

LAH DIA DI PESANTREN! WOOOO BEDA! (?)

Oke-oke beda.

Semua orang tahu, saya senang mengambil sudut pandang yang berbeda, nah niat hati mau kontradiksi dengan pendapat Pak Menteri, eh gara-gara (sengaja) baca alasan penolakan yang banyak dan pintar-pintar… dari sekian juta komentar rakyat indonesia, “Wueeedan…” pikirku “Rakyat kita ini udah pinter-pinter loh soal kritik kepada Pak Menteri, ada juga yang gak sungkan-sungkan menuding Pak Menteri sudah gak waras.”

Wah terus gimana dong? saya harus mengambil sudut pandang dari mana sekarang? Tidak jadi berkomentar ah!

“Wah harusnya kamu punya pandangan dan komentar sendiri.” Itu pasti saran yang akan dilontarkan temen-temen pembaca.

Saya maunya sih begitu, berkomentar menurut pandangan saya pribadi, tapi apalah saran saya ini benar-benar bisa menjadi alternatif? belum-belum di timbang masak-masak jangan-jangan ada yang berujar “HALAH CUMA TEORI!”

cpzkz0hwiaadgau

sumber photo : disini

Tapi baiklah kalau temen-temen tetap memaksa bagaimana pandangan saya terhadap wacana Pak Menteri ini.

Begini; Soal wacana rakyat Indonesia saat ini sudah lebih pintar dari menterinya. Tidak ada kebijakan menteri yang 95% akan di setujui rakyatnya, yang ada mungkin 95% di tolak–kalau menterinya terlalu ngawur, mungkin.

Berarti saya harus mengambil jalan tengah, begitu?

Maunya Pak Menteri gimana? maunya rakyat gimana? Bisalah temen-temen membaca selengkapnya di artikel yang sudah banyak bertebaran di media juga komentar rakyat yang dapat dijumpai di medsos. Disini biar saya sederhanakan dan singgung sedikit saja.

Maunya Pak Menteri full day school itu sebagai pendidikan karakter, dan ini memberi keuntungan bagi orang tua yang bekerja seharian (8 jam), katanya. Oke lah kalau begitu, berarti Pak Menteri harus siapkan dulu fasilitasnya, dari sarana bermain, olah raga, pendidikan agama dan sebagainya, juga guru penunjang.

Pendapat rakyat, full day school itu edan, apa ya tidak bikin anak-anak stres, katanya, iya stress kalau full day school nya mempelajari mata pelajaran seperti pada umumnya di sekolah dari 7 sampai jam 5.Sebenarnya wacana Pak Menteri full day school itu materinya apa sih? Belajar dikelas dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore? Well saya belum tahu itu.

Komentar lain, ada masalah dari para orang tua, katanya: “Kedekatan dengan anak menjadi jauh berkurang (waktu) terutama ibu rumah tangga yang full day mom. Urusan ini saya tidak bisa berkomentar (saya belum pernah jadi orang tua).

Masalah yang lain lagi, sebagian murid di tanah yang jauh di bumi Indonesia perjalanan untuk mencapai sekolah sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 4jam. jika full day school diterapkan di khawatirkan murid akan pulang terlalu malam sementara belum ada yang menjamin keselamatan mereka.

Jalan tengah saya bagaimana?

Begini saja deh, saya curhat saja, sebenarnya ada yang lebih mengesalkan daripada wacana FDS ini, yakni, untuk membaca artikel online yang tidak lebih dari 1500 kata, mengapa harus di potong menjadi 7 halaman? Supaya jumlah klik lebih banyak? KAN NORAK!!!

Bye bye

Saya Andy Riyan.

Advertisements

7 thoughts on “Full Day School, Pro atau Kontra?

  1. Lhoo setuju ajah kok sama FSD asal udah mateng baru dilempar ke masyarakat. Aah iyaa artikel berhalaman-halaman padahal pendek demi klik iklan itu norak bin kampret.. *shakehand

    Like

    1. Di beberapa tempat FDS sudah jalan, seperti di sekolah saya dulu. Di tempat lain sulit dijalankan. Yang absurd itu jika ingin di nasional kan seperti UAN.
      Wkwkwkwk norak bin kampret nya Tos ✋

      Like

    1. Hahahaha tapi pengalaman saya lho ya, sekolahnya saya itu main melulu lho ya 😂😂 untungnya FDS nya pas udah gede aja, jadi pas kecil masih bisa banyak belajar (ngaji).

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s