Bukan Pendosa Pertama

“There must be the world that I fail to understand even for only small piece about it. If evil must be come down to this world why they appear as human born.” __Andy Riyan

Aku terbangun di pagi hari. Sendirian di sebuah rumah tua yang lebih mirip kandang daripada sebuah rumah yang paling lapuk sekalipun. Keadaan masih sangat gelap. Hanya keremangan fajar di luar, yang seperti pencuri, diam-diam melesak kedalam melompati jendela-jendela kayu yang tak terkunci. Dan ketika angin bertiup, engsel-engsel jendela berkarat itu menjerit dan berkeriut seperti bayi-bayi kelaparan yang seringkali membuatku terlonjak dan seketika dada terasa bagai tersengat.

home-555820_640.jpg

Perlahan-lahan aku bangkit dari tidur. Mengangkat kepalaku yang terasa berat dari bantal yang tidak lain adalah jubah tua berbau apak yang terlipat tak beraturan. Dan tempat tidurku adalah bumi yang hanya beralaskan jerami-jerami kotor. Seperti malam-malam sebelumnya, aku bersembunyi di banyak tempat lain  yang serupa ketika malam telah jatuh.

Tidak tahu kemana aku akan pergi. Hanya melangkahkan kaki, sebisa mungkin menghindari keramaian dan menjaga agar tetap tersembunyi. Hanya Tuhan yang tahu darimana asalku. Aku tidak pernah mengingatnya darimana aku berasal. Aku adalah seorang iblis dalam pelarian, maniak Revolver dengan enam peluru, terlahir dari kekosongan, kehampaan yang gelap, tak mengenal orang tua dan belas kasihan. Aku tak tahu tujuan hidupku, hanya mobat-mabit seperti lilin di terpa angin.

“Ketika kamu dilahirkan kedunia ini,” katanya “Kamu terlahir menanggung dosa.”

Jalinan mantra itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku sepanjang waktu. Satu-satunya pengetahuan yang kumiliki yang kudapatkan dari mereka yang memberiku sebuah benda dari perak dengan enam butir peluru ini. Yeah! Lebih terdengar seperti jeritan keputus-asaan daripada sebuah harapan atau suatu tujuan. Tapi setidaknya mereka memberiku sesuatu yang tidak perlu ku curi atau ku menangkan dari pertarungan.

Mereka menceritakan padaku bahwa ada seseorang yang memburuku. Aku adalah buronan seorang pria dengan banyak lencana di dada.

“Dia hanyalah kuda jantan di dalam kandang,” Katanya di setiap serapah yang dilontarkannya ketika sedang dalam pengejaran memburuku. “Dia bukanlah kuda liar yang pintar… tunggu, bahkan sepintar-pintarnya kuda liar, ia hanya pandai berlari.” Ia tak akan pernah kehabisan ide untuk mengolokku.

“Tapi apakah akan semudah itu kau merantaiku? Hei, Pak tangkap aku kalau bisa.” Teriakku parau.

Aku bukanlah anak laki-laki dari seseorang. Aku di kandung dalam peperangan dan di lahirkan dalam kenistaan. Aku adalah iblis yang haus darah mencari pembenaran akan ketidak-adilan.

Kau mempertanyakan hati nuraniku. Dan untuk keadilan aku menawarkan jiwaku. Kau memintaku jika aku tumbuh menjadi bijak. Aku hanya akan tumbuh menjadi tua. Tidak mati dalam penghinaanmu. Kamu memintaku jika saja aku mengenal cinta. Dan itu seperti menyanyikan sebuah lagu-lagu dalam hujan. Aku telah melihat ketika cinta itu datang. Dan aku telah melihatnya ia tertembak. Aku telah melihatnya mati sia-sia di tanah-tanah tandus tak bernama. Aku mencari pembenaran dalam pembunuhan yang ku lakukan. Aku bukan pendosa yang pertama. Dan kini aku telah menjadi pendosa. Menumpahkan darah.

Setiap malam, setiap aku akan pergi tidur. Aku berdo’a kepada Tuhan dari jiwaku untuk selalu menjaganya. Tidak! Aku tidak memohon pengampunan. Namun sebelum aku terkubur sebagai pendosa. Tuhan! Aku harus membuat sebuah permohonan. Dan aku berharap Engkau akan mengerti. Sebab aku telah menjalani kehidupanku sepenuhnya. Biarkan anak laki-laki ini mati seperti seorang pria. Biarkan aku membuat keputusan final. Mati tertembus peluru dan darah mengucur dari tubuhku menyatu dengan bumi pertiwiku.

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Pendosa Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s