Segi Empat #1

21 Juli 1996

Berantakan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan itu, keadaan ketika pertama kali Ai masuk kedalam ruang kelas satu; Bangunan di ujung undakan paling barat dari bagian sebuah gedung sekolah.

Ai berdiri di depan pintu memandang kedalam kelas. Meja belajar tampak semrawut tak teratur, bukan, lebih tepatnya hancur, seperti isi kapal yang pecah: kursi-kursi yang seharusnya menjadi pasangan meja-meja–yang tercerai-berai–telah berlarian hingga ke sudut-sudut ruangan dan sebagian besar menumpuk di tepi dinding ujung kelas.

Debu-debu tebal jelas kentara sekali melapisi lantai ubin yang semula berwarna gelap kini merah pudar agak kecoklatan. Sebagian debu-debu itu seketika berterbangan dan menempel di dinding-dinding kelas bertepatan dengan terbukanya pintu ketika Ai mendorongnya untuk kali pertama. Butiran-butiran debu menjadi semakin terlihat jelas berterbangan seperti hujan di sisi timur kelas di bawah cahaya matahari pagi yang menerobos melewati empat jendela dari kaca berukuran 100 kali 180 sentimeter yang sudah sedikit buram dengan banyak meninggalkan goresan.

Kelas ini sudah tak terpakai selama sebulan liburan penuh. Tak heran ventilasi-ventilasi yang berada di dinding tinggi bagian barat pun menjadi tempat menempel sarang laba-laba. Laba-laba memang suka membuat sarang di antara celah seperti itu, terlebih lagi di luar kelas sana di sisinya adalah sebuah kebun tempat nyamuk liar berkembang biak. Laba-laba itu tidak bisa disalahkan karena membuat sarang di sana. Itu adalah alasan yang paling rasional untuk mendapatkan lebih banyak mangsa. Dan dari kebun itu juga samar-samar terdengar suara arus air yang bergemericik indah berharmoni dengan burung-burung yang berkicau riang di dahan-dahan pohon mangga di samping sekolah.

Sedikit kencang, angin pagi berhembus. Debu-debu kembali berterbangan. Sebutir buah mangga jatuh berdebam. Ai tidak menghiraukannya. Ia masih terkesima melihat ruang baru itu. Mata Ai berbinar-binar tampak sangat bersemangat, tak henti-hentinya ia menjelajahi seluruh isi ruangan dengan bola matanya yang berwarna coklat gelap. Pandangannya jatuh menyeluruh kedalam isi kelas melewati papan tulis kusam yang tak lagi hitam. Di atas papan tulis, dua sosok pemimpin negeri ini bertengger disana mengapit maskot burung garuda–yang entah mengapa kepalanya menoleh ke sisi kanan. Dua orang paling penting di negeri ini itu tidak bertengger sendirian, pun seperti mereka, gambar-gambar pahlawan menempel di sisi dinding yang lain. Ai mengenali salah satunya sebagai Raden Ajeng Kartini. Ia juga telah menghafal satu lagu tentang pahlawan wanita itu dari ibunya.

Ai melangkahkan kakinya ragu-ragu, beranjak setapak demi setapak masuk dan menggantungkan tasnya di ganggang pintu. Ia berdiri diam. Memejamkan matanya rapat sekali. Ia sedang berkosentrasi. Ia menghela satu tarikan nafas penuh lalu dengan mantap melangkah mengambil sapu ijuk dari tumpukan sapu lidi yang berada di lemari coklat di sebelah pintu diantara dinding tembok yang catnya sudah banyak mengelupas disana-sini.

Dalam pada itu, ketika Ai sedang menyapu sekaligus merapikan meja dan memasang-masangkannya dengan kursi-kursi yang ada, seseorang bocah masuk dengan tergopoh-gopoh.

“Ai? Kau?” Seru bocah itu.

Hidungnya kembang kempis, terdengar bunyi napasnya terengah-engah satu-satu, dada dan bahunya naik turun cepak sekali. Keringat meleleh di sekujur wajahnya yang lonjong.

“Galang?”

Mendadak suasana menjadi hening.

Dua bocah yang datang pertama dan kedua itu berdiri mematung di tempatnya masing-masing. Mata mereka beradu memandang satu sama lain. Tak ada senyum yang tersimpul dari keduanya. Takada yang membuka suara.

Sapu di tangan Ai melorot dan jatuh. Ketika bunyi sapu terdengar menghantam lantai, dua bocah itu serentak lari kearah lawannya masing-masing. Mereka kemudian melompat dan saling berpelukan.

“Apa kabar, kau, Galang si Pecundang?” Ledek Ai kemudian setelah saling melepas pelukan.

“Huh! Sudah tak sabar untuk perang? Hei, kau, Arian si Gila!”

Keduanya tertawa dan saling memeluk lagi dan menepuk-nepuk punggung lawannya.

***

Ai Arian dan Galang Satrio adalah dua orang sahabat sejak masih bayi. Sebenarnya kalau ditelusuri persahabatan mereka sudah terjalin jauh sebelum mereka lahir. Persahabatan itu menurun dari kedua ibunya yang sudah bersama-sama sejak mereka duduk di bangku yang sama disekolah dasar dari kelas satu hingga kelas 6.

Suatu hari ketika baru berusia 4 tahun, Ai mendengar cerita —dari Mahasiswa yang sedang mengikuti program KKN di desanya— tentang H.O.S Tjokroaminato dan murid-muridnya —Bung Karno, Semaun, Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo—. Mereka H.O.S Tjokroaminato dan murid-muridnya menjadi tokoh penting bagi bangsa ini, karena mereka adalah orang-orang yang cerdas, pintar dan nomor satu di sekolahnya. Dari cerita itu, timbullah gagasan pada diri Ai bahwa dirinya harus bisa menjadi seperti mereka, menjadi nomor satu. Dan semangat serta cita-cita itu ditularkan kepada sahabatnya, Galang. Dan dari sejak saat itu keduanya rajin belajar dan saling bersaing untuk menjadi yang nomor satu. Mereka belajar mengenal huruf latin dan arab dan hitungan dasar juga lagu-lagu perjuangan dari ibunya.

“Setelah hari itu, tiba-tiba kau pergi, bahkan tidak berpamitan, kenapa?” Tanya Ai menyinggung tentangperpisahan mereka sekitar dua setengah tahun yang lalu.

Namun Galang hanya diam saja, pikirannya melayang kembali kepada kenangan tentang seekor ular phyton yang sangat besar dan panjang, kira-kira 5 meter.

Hari itu sesaat sebelum senja menghias ufuk barat. Ular itu yang entah dari mana datangnya itu tiba-tiba berada di dalam rumah, di dapur, diantara rak piring dan gelas. Ular itu ditemukan ibu galang sedang melilit tiang rak. Melihat itu, seketika ibunya keluar rumah sambil menjerit ketakutan.

“Ular! Ulaaaaaar! Ular besar dirumahku!” teriaknya pada tetangga.

Orang-orang berlarian masuk rumah Galang dan memburu ular itu dengan benda seadanya —yang menemukan bambu membawa bambu, yang sedang memegang golok dan sabit membawa golok dan sabitnya, juga yang menemukan timbangan yang tergantung pada besi di langit-langit juga membawa benda itu entah apa maksudnya, aku tidak tahu— , walau sadar sedang diburu ular itu diam saja, dan bersamaan dengan ketika ular itu di arak-arak keluar, berhembus desas-desus entah siapa yang memulai lebih dulu.

“Itu pasti ular siluman.” Kata seorang pria berumur sekitar 30 tahunan.

Namun yang lain hanya melongo.

Tak jauh dari situ hewan ternak pulang ke kandang masing-masing tak mau tahu dengan keributan yang tengah terjadi. Di langit sekawanan burung emprit juga tak mau tahu, mereka malah membentuk skuadron memamerkan kemampuan terbangnya kesna-kemari dari pohon cengkih yang satu ke pohon cengkih yang lain yang kemudian malah menyebabkan kesialannya, karena meanarik perhatian bocah bocah usil menjdaikan dan sekawanan burung itu tidak berhenti menjelajah karena setiap pohon cengkih yang merekakunjungi di goyang-goyangkan, Ai ada diantara mereka bocah usil itu.

“Bagaimana coba? Ada ular tiba-tiba ada di dalam rumah?” kata seorang pria yang berdiri di tengah kerumunan di sebelah kanan Galang. “Desa kita ini… meski berada di pelosok negeri, namun kampung kita ini jauh dari sawah dan hutan, terlebih lagi rumah Mbok Bayan ini berda di tengah desa, tidak mungkin itu benar-benar ular.” katanya semakin menegaskan pemikirannya.

Mendengar desas-desus itu Galang tidak mau pulang kerumahnya lagi. Ia menangis dan merengek minta diantar ke rumah kakeknya di kota besar malam itu juga. Dan sejak saat itu Galang berpisah dengan Ai.

“Aku sangat ketakutan,” jawab Galang setelah lama terdiam, kepalanya menunduk “Aku tidak punya waktu untuk berpamitan, Ai, bahkan tidak kepada pamanku.”

Ketika menceritakan itu wajah galang nampak sangat serius, tidak ada selukis senyum ataupun mata yang bercahaya dan tiba-tiba menjadi merah padam ketika menoleh ke arah Ai yang malah tersenyum mengejek mendengar ceritanya.

“KAU TAHU! AKU SANGAT KETAKUTAN! ITU MUNGKIN BENAR-BENAR SILUMAN!”

Ai tidak tahan lagi membendung tawanya. Ia meledak tergelak-gelak. Galang diam tersinggung. Namun, seketika wajah gelapnya kembali terang ketika Ai kembali melempar pertanyaan.

“Lalu… kenapa kau pulang?”

“Ayah menyuruhku pulang.”

Ai memelengkan wajah dan mengerutkan keningnya menunggu penjelasan.

“Ayah menyuruhku pulang.” Ulang Galang lagi setengah berteriak.

“Ya? Terus?” Ai masih tidak mengerti.

Galang tampak ragu-ragu.

“Kalau aku tidak pulang…” kata Galang kemudian dengan sangat hati-hati “Kata ayah, aku tidak akan disunat dan tidak akan diberi hadiah!”

(C) Andy Riyan
Segi Empat | @jejakandi
Sebuah draft random dari cinta dan jiwaku yang
tersimpan di drive.
Memperkenalkan Ai Arian & Galang Satrio

Advertisements

One thought on “Segi Empat #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s