Dia hidup lama dalam liku-liku kehidupan di sebuah gubuk tua bekas gudang aspal. Sebuah gubuk yang dulunya sering di pakai untuk menimbun drum-drum berisi getah pinus yang diangkut dari hutan.

Gubuk itu berada di sisi selatan kota kecil di sisi yang salah dari trek jalan. Sehingga bangunan kayu yang reyot itu terisolasi dan sepi dari hingar bingar keramaian.

home-555820_640

“Mama dapatkah kita berhenti dan memberinya tumpangan?”

Kata seorang bocah kepada ibunya ketika sedang dalam perjalanan menuju kota dan kebetulan melihat perempuan itu yang sedang berjalan sendirian menyusuri jalan yang bobrok. Namun sang ibu malah mengangkat tangan dan membelalakkan matanya.

“Merry itu sangat gila dan pandangan matanya liar.” Desis sang ibu dengan mengeratkan gigi-giginya.

Tentu saja bocah kecil itu menjadi takut meskipun sebenarnya arti gila dan pandangan matanya yang liar itu berbeda dengan yang di maksud oleh orang yang sudah dewasa.

***

Aku terus bergerak turun di balik lindungan pohon-pohon besar dan semak-semak perdu, mengikuti jalan panjang kotor yang ku duga akan melewati rumah Perkin Chow. Sekitar satu jam lamanya aku menyusup dan mengendap-endap tersembunyi 5 meter dari jalan utama, aku berhenti.

Akhirnya kulihat dari kejauhan rumah Perkin Chow berdiri agak terpisah dari rumah-rumah sekitar. Rumah yang berada di belokan jalan itu berhalaman luas, sebuah mobil tua berwarna biru yang biasa kami gunakan untuk balapan bersama Philip, putra bungsu Mr. Chow, terparkir disana.

Keadaan rumah Mr. Chow yang sekaligus digunakan sebagai toko kecil khas pedesaan itu masih sama seperti yang kuingat. Dindingnya kotor seperti biasa, terdapat banyak bekas tempelan kertas semacam poster iklan yang di robek namun tidak tuntas. Tidak jauh dari situ ada sebuah tanda yang dipaku disisi balok kayu yang berfungsi sebagai tiang dari sebuah shelter yang terkadang mendadak menjadi sebuah pos. Tanda itu berbunyi

”DILARANG BERKELIARAN”

Dibawah tanda itu, juga masih sama, selalu berkumpul banyak orang dan penuh sesak mengelilingi sebuah meja. Sambil berteriak meledak-ledak seseorang menyuruh yang lainnya diantara mereka untuk membeli minuman keras. Tak lama, kemudian orang datang membawa beberapa botol yang jumlahnya lebih sedikit daripada sekumpulan orang-orang yang berpenampilan hampir serupa : setelah jaket yang dibiarkan terbuka membungkus kaos oblong dan celana jins panjang serta sepatu bot yang berlumpur. Masing-masing menyimpan sepucuk Revolver dalam sarungnya yang tergantung di paha.

Begitu botol itu datang mereka berebutan mengambilnya lalu menegaknya seakan-akan itu hanya air minum kemasan yang digunakan untuk mengobati rasa haus, kemudian mereka menggilir botol itu kepada temannya sambil mendiskusikan sesuatu. Biasanya membicarakan kekacauan di kota atau menggunjingkan pelacur yang paling menyenangkan yang telah mereka setubuhi. Terkadang mereka bertaruh siapa yang akan memenangkan balapan kuda atau mobil esok hari.

Ketika malam telah jatuh dan toko Mr.Chow sudah tutup, aku keluar dari persembunyian. Berdiri di balik pohon dan mengawasi keadaan sekitar. Semua orang sudah jatuh teler karena alkohol itu. Keadaan sedang berpihak padaku, shelter itu tidak cukup terang hanya berpenerangan bohlam 5 watt dan mendung gelap menyelimuti bulan yang seharusnya sedang purnama.

Masih menghindari tatapan langsung di lapangan terbuka, aku mengendap-endap pelan melewati pematangan sawah padi. Sesekali aku berdiri mengamati sambil menghitung-hitung resiko dan peluang untuk menerobos tanpa ketahuan. Menit-menit yang berlalu terasa sangat lama. Keadaan yang gelap yang semula membantuku bersembunyi berubah mencekam dan menghambatku untuk melangkah dengan cepat.

Sekarang aku sudah semakin dekat dengan ruang antara Shelter dan toko Mr. Chow. Jantungku berdetak sangat keras hingga membuatku merasa cemas takut-takut membangunkan gerombolan yang sudah pulas dalam mimpi-mimpi mereka. Aku mengintip lagi kearah Shelter, hanya ada dua orang yang terjaga yang sedang sibuk berain kartu. Aku mempunyai peluang menerobos celah dengan cepat dan langsung menuju pintu belakang rumah Mr. Chow tanpa ketahuan, tapi resikonya sangat besar, jika dua orang itu melihatku akan terjadi keributan dan aku akan gagal.

0b44b1edba3349b74566c95e1f6f9e79

sumber gambar : disini

Aku memutar dan mengambil jalan di atas pematang yang bercabang, menjauh dari Shelter dan rumah Mr. Chow. Sekitar dua puluh meter dari Shelter aku langsung memotong jalan menuju sawah yang berada di sisi rumah Mr.Chow. Kemudian dengan cepat aku mengintari sawah itu lalu berbalik arah lagi menuju kebun tebu.

Dari kejauhan aku melihat lampu yang menyala dari jendela kamar kaca bening di lantai dua. Aku tahu persis itu adalah kamar Philip. Tanpa membuang-buang waktu aku berlari dalam senyap ke arah itu memotong melewati pohon-pohon tebu yang seandainya itu adalah siang hari seseorang pasti akan tahu ada orang yang berlari-lari di sana karena tidak mungkin ada celeng di kota kecil itu.

Ketika sudah dekat aku kembali bingung bagaimana caranya menemui Philip. Kamar yang ada di lantai dua itu berdinding tinggi tanpa sekalipun tonjolan yang bisa kugunakan untuk memajat. Jika aku berteriak, sebelum Philip mendengar aku pasti sudah mengejutkan orang-orang yang sedang bermain kartu di depan dan akan membuat keributan lagi. Aku berjalan mondar-mandir dengan sedikit frustasi. Terpikir olehku untuk masuk melalui pintu dapur namun, jika yang ku temui disana bukan Philip atau Mr. Perkin, maka tamatlah riwayatku lebih-lebih jika Cristopher, putra kedua Mr. Perkin, dia pasti akan langsung mencabut pistolnya dan tanpa peringatan akan menembakku.

Aku diam duduk di atas rumput yang tumbuh dibelakang rumah sambil menajamkan pendengaran, barangkali aku mendengar suara Philip. Dulu ketika aku masih bermain bersamanya aku sering tidur di kamar Philip berbagi juga dengan Alan kakaknya langsung.

Sekarang aku tidak punya pilihan. Aku mengambil kerikil dan menggenggamnya erat sekali. Dalam hati sangat berharap Alan akan melindungiku, atau yang lebih baik, Philip menyadari aku sedang mencarinya. Pelan sekali aku melempar benda kecil yang hanya sebesar kelereng itu ke arah jendela kamar. Aku menunggu dengan perasaan yang berdebar-debar. Tak seorang pun muncul. Aku melakukannya sekali lagi. Ku lihat bayangan Alan mendekati jendela dan hendak membukanya. Aku lari melompati parit kecil dan menuju kebun dan bersembunyi di balik pohon. Aku terus mengawasi kamar itu dan waspada jika kemudian tiba-tiba orang-orang berlarian kearahku karena Alan mengadu. Kepala Alan keluar dari jendela, ia beberapa kali mengedarkan pandangannya mencari tahu ada apa gerangan. Alan kembali tetapi tidak menutup jendelanya.

country-store-memories

sumber gambar : disini

Aku tak berani keluar dari persembunyianku sekarang. Aku bahkan merasa tak aman lagi berkeliaran di sekitar rumah itu. Alan pasti mencurigai sesuatu.

Tak lama kemudian aku mendengar sebuah kunci diputar. Pintu dapur terbuka. Seorang pria keluar dengan korek api menyala di tangannya yang digunakannya untuk mengobori kegelapan. Rasanya aku mengenal postur itu dan itu terlalu pendek untuk Alan. Alan pasti telah memberitahu seseorang. Jantungku seakan mau melompat keluar. Pria itu kemudian bergerak mendekat ke arah tempatku tadi berdiri di bawah jendela kamar. Bayangan pria itu memberitahuku bahwa ia hanya berpakaian seadanya seperti hendak tidur. Ketika akhirnya semakin mendekat dan cahaya dari korek api itu mengenai wajahnya, aku berlari.

“Philip!” geramku sepelan mungkin “Philip, disini!” geramku sekali lagi sambil mendekat keluar dari persembunyian.

“Romeo, kaukah itu?” desisnya pelan sambil mendekatiku.

Aku langsung meraih tangan Philip dan menariknya masuk kedalam persembunyian di antara kebun tebu dan parit dan terus menyeretnya jauhke dalam ladang belakang rumah. Setelah merasa aman aku menoleh dan memandangi wajah Philip dan langsung merangkulnya. Aku sangat gugup, campuran antara perasaan bahagia dan ketakutan.

“Astaga! Romeo kenapa kau kusut dan kotor sekali?” Pekiknya pelan dengan suara yang sedikit tertahan.

“Apakah Alan memberitahu semua orang?”

“Tidak, ia sudah menduganya, kau akan datang, apa yang terjadi kenapa kau membahayakan diri menuju tempat ini?”

“Aku tidak punya banyak waktu, Philip. Aku takut Cristopher sedang mencarimu.”

“Dengarkan aku.” Kataku lagi ketika Philip membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu.

“Kau pasti tahu kemana perginya Teddy. Katakan padaku!”

Philip seperti terguncang, raut mukanya tiba-tiba berubah tegang.

“Kau tidak perlu memburu Teddy, Romeo!” kata Philip kemudian. Ia kemudian berbalik membuang muka dan memandang kepada Rembulan yang kini tersingkap dari balik awan gelap. “Ia telah menghasut semua orang, aku khawatir sekarang kau tidak punya teman selain diriku dan Alan.”

Aku diam sedikit terkejut dan agak kurang senang mendapati Philip berbicara sambil memunggungiku.

“Bahkan jujur saja…” kata Philip ragu-ragu.

Aku diam menunggu.

“Aku mulai tak mempercayaimu, Romeo.”

Aku tak tahu warna perasaannya. Aku menjadi semakin sedih ia tak menunjukkan wajahnya saat mengatakan itu. Aku sulit menembak maksut kata-katanya.

“Baik!” kataku tegas “Kenapa tidak kau beritahukan kepada semua orang jika sekarang aku disini, Philip!”

“Aku tidak pernah melihat Philip, sahabat terbaikku, berbicara sambil memunggungiku! Sekarang aku menjadi semakin sedih,” kataku menahan amarah.

“Aku pergi sekarang, Philip! Selamat tinggal!”

“Romeo!” teriak Philip. Ia menatapku. Ku lihat ekor matanya berkilau oleh sinar rembulan. Air mata telah pecah disana.

“Teddy semalam berada disini, tetapi aku tidak tahu kemana ia pergi sekarang.” Katanya kemudian.

“Baik tidak apa-apa, terimaksih Philip, Andai saja aku tahu dimana Merry, aku tidak akan tanpan tujuan seperti ini.”

“Tunggu! Kau mencari Merry?” tanyanya terkejut.

Aku mengangguk.

“Perempuan sundal itu?”

Aku hanya menatap Philip, aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Merry tidak seperti yang Philip pikirkan.

“Kurasa kau harus pergi kearah barat melewati ladang ini. Temukan sebuah rumah di bukit, aku pernah mendengar dari ibuku, seorang perempuan gila tinggal disana, ku tidak tahu apakah kedua putrinya juga tinggal disana.”

Aku terperanjat.

“Mereka tidak ada di ledeng busuk itu?”

Philip menggeleng.

“Baiklah, terimakasih Philip, aku pergi sekarang, terimakasih.”

Tanpa menunggu jawaban dan mengamati warna perasaan yang terlukis di wajah Philip aku berbalik dan melesat pergi ke arah yang di maksud Philip.

Aku terus berlari menerabas kebun tebu, mengambil arah sembarangan di hutan lalu memasuki ladang-ladang gandum. Aku tidak mempedulikan jalan yang ku ambil aku hanya mengikuti arah Rembulan tenggelam.

Ketika kurasakan kakiku mulai letih dan malam menjadi gelap lagi karena awan yang lain menutupi sang dewi malam itu aku berhenti dan berteduh di sebuah pohon yang besar dan kemudian jatuh tertidur.

***

Dalam tidur aku bermimpi disuatu malam ketika guntur memecah dilangit aku melihat Merry berdiri di ambang jendela rumahnya. Aku terbang tinggi di atas pohon-pohon yang tuMbuh di sebuah bukit dan ku arahkan pandanganku kebawah kedalam rumah Merry. Kemudian mimpi itu berubah secara acak. Sebuah bohlam gundul dalam koran yang menutupi dinding. Di depannya Merry sedang duduk menghadap semua bekas koran yang ia tempel sendiri. Raut mukanya keras seakan mengutukinya. Ia membenci sekaligus menyayangi tempelan-tempalan sampah itu.

Pagi berikutnya aku terbangun. Angin malam masih kencang berhembus membawa butiran-butiran embun. Fajar belum lagi memecah di timur. Aku kembali bergerak melanjutkan perjalanan.

Aku menuruni alam liar yang hanya di tumbuhi pepohonan. Sesekali daun-daun yang berguguran membuatku tergelincir. Sekitar satu jam lamanya aku sampai di sebuah sungai yang jernih dan berkemilau kekuningan memantulkan sinar pagi yang telah terbit. Di tepinya rumput-rumput hijau tumbuh subur sangat menyenangkan. Sebuah pemandangan yang indah di dunia yang kelabu ini.

Aku berhenti. Membasuh muka dan meminum air itu sampai puas lalu mengedarkan pandangan mengamati sekeliling. Aku telah sepenuhnya tersesat dan tak tahu dimana rumah Merry. Namun lengkungan diantara dua bukit itu sangat menarik perhatianku. Aku bergerak kearah sana.

Sesampainya disana aku menemukan jalan setapak. Ketika kudekati, aku menemukan sebuah tanda-tanda bekas orang tergelincir. Aku bergerak mengikutinya.

Jalan yang hampir pudar karena tertimbun daun-daun itu mengarah dalam lengkungan-lengkungan sisi bukit. Kemudian aku melihat sebuah gubuk reyot dengan dua jendela tertutup. Seluruh tubuhku bergemetar. Apa yang paling aku takutkan kini sudah setengah jalan menemukanku. Teddy atau Merry di rumah itu? Atau keduanya? Aku tidak tahu.

(C) Andy Riyan
No Tittle Yet | @jejakandi
Sebuah draft yang saya kembangkan dari narasi
awal yang berjudul Bukan Pendosa Pertama
Draft ini dengan bangga ku persembahkan untuk
pembaca-pembaca setia blog yang saya semenjana ini.
Kita lihat bersama-sama bagaimana perkembangan
selanjutnya cerita ini. Semoga nanti bisa membuat halaman
khusus untuk cerita ini.
Memperkenalkan Merry, Philip & Romeo

Advertisements

One thought on “Perkin’s Country Store and Merry’s House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s