Penyesalan Saya Karena Telah Mendaki Gunung

Beberapa waktu yang lalu, seorang dari teman saya bercerita bahwa ia telah memutuskan untuk berhenti mendaki gunung, dan aku rasa itu baik untuknya. Semua peralatan di jual—semoga tenda yang di beli dari hasil patungan kami tidak dijual— katanya. Saya belum tahu apa alasannya ia memutuskan untuk berhenti mendaki.

Namun jauh sebelum ia memutuskan untuk berhenti mendaki, saya sudah melakukannya. Lho kok? Saya sudah memutuskan untuk berhenti mendaki pada bulan Maret kemarin (Maret 2016). Gunung Andong adalah tempat pendakian terakhir saya, kalau itu boleh disebut mendaki. Saya merasa itu merupakan hal yang sempurna sebagai penutup dari semua perjalanan yang telah kami lalui karena, di Gunung Andong-lah semua hal itu bermula. Saya belajar banyak hal dari kegiatan Outdoor yang sekarang sangat populer ini namun, ada banyak hal yang saya sesali karena telah mendaki gunung. Dan sebelum mengungkap apa-apa yang saya sesali itu, biarkanlah saya bercerita secara singkat pengalaman saya dari awal. Ini bukan nosltalgia sebab, nostalgia tidak akan cukup dalam 1000 kata.

Perjalanan ini dimulai ketika kami sudah menghabiskan banyak semester tanpa ada jadwal perkuliahan lagi. Jatah SKS sudah habis atau tepatnya sudah memenuhi syarat untuk lulus. Kami hanya mengambil 6 SKS untuk skripsi. Sudah pasti saat skripsi itu ada saja yang namanya masalah—belakangan saya sadar, masalah itu sebenarnya ada dalam diri kita sendiri bukan di luar—dan boleh di bilang saat itu kami belum padai memenejemen masalah. Masalah pertama yang muncul adalah there are many time that we couldn’t dealing gently—ada banyak waktu yang tidak bisa kami hadapi dengan jantan. And we suppose that we have many times to make it all done before deadlock day.

Kami tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik untuk segera menyelesaikan skripsi. Kami lebih banyak kabur dan menghindari dosen pemimbing, lebih parah, kami menjadi mendadak terkena sindrom phobia dengan buku teks; kami takut menyentuhnya dan kami merasa pusing jika seseorang bertanya tentang bagaimana skripsi kami. Kami kabur dari satu tempat ke tempat lain, memasuki omong kosong demi omong kosong, dari satu kesenangan menuju kesenangan lain, pada saat itulah kami terjatuh menuju jurang tak berdasar, hal yang kelak kemudian kami sesali. Yaitu ketika kami—entah ini ide siapa—mengambil keputusan untuk Camping di Gunung Api Purba Langgeran Gunung Kidul Yogyakarta.

Sore hari tanggal 19 September tahun 2014—saya ingat persis, karena saya selalu menulis diary—tujuh orang laki-laki paling bullshit berangkat dari Jogja ke Gunung Api Purba itu. Ketujuh orang itu, Satio, Risna, Zuhri, Yazid, Ben, Musa dan saya sendiri; Dari kos kami merencanakan untuk tinggal selama dua malam disana, sehingga kami membawa banyak perbekalan dan alat masak lengkap. Dan baru semalam saja kami menginap, di pagi harinya Ben, Yazid dan Zuhri mendadak bosan dan tanpa sepengetahuan saya dan Satio—kami berdua sedang turun mengambil air—mereka pulang. Praktis di Gunung Langgeran itu hanya tinggal kami berempat cuma berteman monyet-monyet yang berkeliaran di dahan-dahan pohon.

Empat yang tersisa tetap memutuskan untuk tetap tinggal selama mungkin namun, belum juga ada setengah hari kami diliputi kebibingungan lagi, sekarang apa? Dan entah apa yang saya pikirkan waktu itu, saya menyebut nama Gunung Andong dan mendadak kami berempat meluncur saja ke Gunung yang bahkan mungkin untuk pertama kalinya bagi Satio, Musa dan Risna mendengar nama itu.

The last journey

Jangan tanya persiapan mendaki, kami bahkan tak tahu seperti apa medan yang akan kami hadapi di Gunung Andong. Dan luar biasa kami terkejut telah sampai pada petualangan yang paling gila seumur hidup. Tanpa tenda tanpa sleeping bag dan hanya modal segulung tikar dan jaket—itu pun bukan jaket mendaki, melainkan jaket dolan–kami bertahan selama lebih dari 12 jam di ketinggian lebih dari 1700 MDPL di musim angin yang kencang.

Pengalaman paling gila yang menyeret kami hampir dekat dengan pintu kematian itu menjadi pengalaman yang paling berharga seumur hidup. Kami bahkan tidak merasakan panasnya api telah membakar tangan-tangan kami. Kami tidak merasakan panasnya panci yang tengah mendidih di genggaman tangan-tangan kami. Tagan-tangan serasa mati, bahkan roda korek api gas yang coba kami nyalakan menempel di ibu jari dan melukai kami.

Kemudian saat sinar pagi telah menyemburat menampakkan Gunung Merbabu yang menjulang tinggi di depan kami, serasa kami berhasil melewati rintangan paling dahsyat. Kemudian kami turun dengan membawa harapan untuk melakukan perjalanan selanjutnya.

Tentu saja perjalanan selanjutnya itu menuju gunung yang baru saja kami tatap, Merbabu. Kali ini lebih gila, membawa empat teman perempuan yang untuk pertamakalinya keluar rumah menuju alam liar yang tentu saja tanpa ijin orang tua. Empat perempuan teman kami itu, maaf saya harus mengatakannya, bukan orang yang simple dan krigel, mereka manja, lembek dan sedikit ribet, tapi kami menyukai mereka, sahabat-sahabat terbaik yang (mungkin) pernah kami miliki. Dari perjalanan ini kami memahami banyak hal. Dan satu hal yang paling menyakitkan bagi kami (bagi saya saja sebenarnya) yaitu sadar bahwa kami hanya ikut-ikutan tren dan lifestlye yang sedang populer, bukan karena jiwa petualang kami yang memang membara untuk menyusuri dan mencintai negeri ini. Kemudian petualangan terus berlanjut hingga saya memutuskan untuk berhenti.

Ada banyak hal mengapa saya memutuskan berhenti mendaki. Salah satunya karena kini saya memiliki banyak tanggungjawab namun, alasan terbesar adalah karena kami Satio, Risna, Musa, Hasan dan saya sendiri sudah jarang bertemu dan memiliki tanggung jawab masing-masing.

Kembali kepada penyesalan telah mendaki gunung; PENYESALAN TERBESAR SAYA ADALAH KARENA TIDAK MELAKUKANNYA LEBIHAWAL JAUH SEBELUM MENDAKI INI MENJADI LIFESTYLE. Karena mendaki gunung telah membuatku tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih bisa menghargai juga memahami perasaan banyak orang. Tidak perlu merasa dicintai untuk dapat merasa hidup di hati mereka, hanya perlu merasa kamu cukup besar dan lenganmu cukup kuat untuk memeluk mereka dalam kehidupanmu.

Time to get off from the road

Jika ada satu kesempatan lagi aku ingin mendaki bersama orang-orang ini; Musa, Hasan, Risna, Satio, Zuhri, Nila, Isma, Zakia, Nisa dan Azizah.

Aku merindukanmu sahabat!

(C) Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

18 thoughts on “Penyesalan Saya Karena Telah Mendaki Gunung”

  1. Seru banget mendaki yaa, rata – rata penyesalannya pasti begitu :”)
    Saya mungkin termasuk orang yang menyesal, sampai sekarang belum pernah mendaki nih mas XD

    Liked by 1 person

    1. Wah rata-rata begitu ya, aduh mainstream banget nih 😅 Kalau belum pernah mending gak usah, Mas :v sekarang ini mendaki cuma dapet asik dan serunya aja, beda dengan sebelum pertengahan tahun 2015.

      Liked by 1 person

      1. Dulu belum mainstream banget jadi disana masih belum terlalu ramai dan rata-rata dulu pendakinya serius menaklukan diri sendiri kalau sekarang biasanya demi instagram, alam sedikit sudah mulai tercemar dan banyak tingkah ngeselin pendaki ikut-ikutan. Banyak mas kalau mau disebutin.

        Like

  2. Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengakir indah ke samudra…. Bersama teman bertualang #ninjahatori #ngamen. belum pernah mendaki, cuma bisa bilang wow…

    Like

      1. iya… nggak usah. saya lebih merepotkan dari deskripsi yang kamu gambarkan tentang teman-teman pendaki perempuan yang diceritakan di atas. 😛

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s