Segi Empat #2

Duri,2019

Pagi itu gerimis hujan turun, rintik-rintik lembut seperti jarum tumpah di seluruh desa. Mula-mula hanya dedaunan di pekarangan rumah yang berkilauan seperti perak cair tertimpa sinar matahari. Sinar emas itu menembus di sela-sela gerimis yang lamban; pagi yang indah, garis halus yang merinai-rinai.

Namun tak lama, selokan mulai tergenang oleh air yang beriak-riak mengalir menembangkan nyanyian sendu. Di sisinya pembatas-pembatas jalan yang berlapis semen terlihat berpendar, mengkilap dan sangat bersih tak berdebu. Di sepanjang pembatas jalan itu, pepohonan yang tumbuh rimbun menjadi dingin karena hujan mulai deras dan menebarkan aroma segar, seperti gabungan bau hujan pertama dan aroma padi yang menguning tertiup angin seminggu sebelum musim panen tiba—jika harus di deskripsikan secara sederhana itu seperti harum semerbak khas udara musim semi. Sementara di atas cakrawala sinar yang semula mampu menembus kabut berangsur-angsur pudar sebelum menjadi gelap sama sekali.

Pemandangan-alam-yang-indah-di-desa.jpg
Sumber gambar : disini

Langit begitu kelam, awan hitam bergulung-gulung tak tertembus mata memandang. Dari atas hujan tumpah semakin deras turun ke bumi membasahi pelataran rumah dan jalan-jalan beton yang pucat masai —jalan yang sangat kokoh hasil dari kemajuan pembangunan dan semangat swadaya masyarakat Duri. Meski hujan semakin lebat datang bertubi-tubi, hanya sedikit air yang menggenang di jalanan dan pelataran rumah-rumah itu. Sebab jalan-jalan yang berlapis beton itu telah dibuatkan parit-parit yang selalu dijaga kebersihannya. Sehingga air hujan begitu lancar, mengalir hingga Kedung Biru yang terletak di arah timur-laut sebelah desa.

Bagi seorang lelaki muda yang kini tengah berdiri di beranda rumahnya, pagi itu tidak hanya sekedar indah, tetapi juga istimewa. Setelah sekian tahun berlalu meninggalkan jejak kaki disana, pagi itu menjadi awal baginya -pemuda yang telah berusia sekitar 30-an tahun- untuk kembali melahap semua kesejukan, dan mengikuti jejak kaki lama yang telah ia torehkan di kampung halamannya. Pemuda yang gagah dengan sorot mata nan tajam dan berkilat-kilat bagaikan api lilin yang liar itu, kini tengah memandangi bentang alam yang telah bertahun-tahun hanya hidup dalam kenangan.

Ia menyongsong angin yang berhembus dari selatan, lalu memandang lekat-lekat ke arah kebun kopi -milik salah seorang warga Duri- yang membawa keharuman nuansa desa. Lalu ia memejamkan matanya demi menikmati udara desa yang sangat sejuk, segar dan dingin. Sepontan ia membayangkan andai saja kebun kopi saat itu sedang berbunga, ia pasti bisa memanggil kembali kenangan lama yang sudah hampir terlupakan. Kenangan-kenangan ketika memotong daun pisang–bersama kawan kecilnya—guna melindungi seragam putih merah dan tas Kura-Kura ninjanya dari hujan selepas sekolah bubar ketika tidak membawa payung dari rumah.

Dan ketika arah padangannya kini jatuh ke utara, ia menyapu keramaian. Di sepanjang jalan beton itu sesekali terdapat toko dan warung bakso. Di sepanjang jalan beton -bukti dari kemakmuran warganya- itu pula banyak warga berlalu-lalang dengan mengangkat payung dekat dengan kepalanya untuk melindungi mereka dari terpaan hujan. Ada pula yang berjalan memakai mantel. Pun ada yang sama sekali tidak melindungi tubuh mereka dengan payung ataupun mantel, mereka itu anak-anak yang berlari-lari bermain bola di salah satu halaman rumah di pinggir jalan yang tak seberapa luas. Yang paling menarik adalah diantara orang-orang yang berlalu-lalang itu, sekalipun sibuk, mereka sempat saling tegur sapa. Orang-orang sangat ramah, melempar senyum yang akrab, kadang hanya sekedar basa-basi yang tidak perlu -ya tentu saja, jika sahabat memandang melepas kecanggungan tidak terhitung sebagai sebuah keperluan. Suasana yang sejuk ramai namun tidak padat akan membuat siapa saja betah tinggal di desa ini.

Gambar-pemandangan-alam-gunung-dan-sungai.jpg

Kini sang pemuda mengambil payung yang tergantung di sisi dinding rumahnya dan bergegas pergi ikut menyambut keceriaan orang-orang yang telah lebih dulu tumpah disana. Selagi berjalan, ia membuat rencana, pertama-tama bergabung dan berbasa-basi dengan keramaian di warung bakso, kemudian berjalan-jalan lebih jauh, mengunjungi mereka yang ia rindukan. Sekarang ia pasti penasaran, seperti apakah orang-orang yang dirindukan kini, pasti telah banyak berubah seperti desanya kini yang sama sekali berbeda dari semula ketika ia mengukir cerita di desa ini bertahun-tahun yang lalu.

“Permisi, Pak Im? Baksonya satu, ya.” Katanya kepada sosok bapak berusia sekitar 40 tahun yang sekarang tengah sibuk mempersiapkan lapaknya.

“Ya, sebentar…” jawabnya tanpa menoleh kepada pemuda itu. “EH KAMU…!!!” teriaknya kemudian tiba-tiba ketika melihat siapa yang datang. Dan sang pemuda hanya tersenyum nyengir sambil menyalami uluran tangan Pak Im.

“Ku kira siapa… kapan kamu pulang?” tanya pak Im dengan senyum yang sangat lebar dan mata yang berbinar-binar.

“Dini hari tadi… sebelum subuh, baru sampai. Baksonya laris, Pak?” sang pemuda mencoba mengalihkan topik, sepertinya ia kurang berkenan menjadi objek obrolan.

“Ah ya begini, Dik. Sudah lama sekali tak melihatmu, sudah berapa tahun, ya, sejak kamu berangkat ke Australia?”

“Sekitar empat tahun, Pak.”

(C) Andy Riyan
Segi Empat | @jejakandi
Sebuah draft random dari cinta dan jiwaku yang
tersimpan di drive.

*Note:
Chapter ini meski diposting dengan tagar #2 di drive merupakan storyline 1
baca yang lain di Segi Empat #1

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

One thought on “Segi Empat #2”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s