Prosa Di Hari Senja

Aku masih bersama senja setelah langkah kita tak lagi menapak di tanah yang sama, tak kusangka artimu sebagai tanda henti. Pernah ku kira itu hanya sebatas tanda koma, namun ternyata ia bersama malam menuju titik nyata, Ah! Sayang sekali padahal malam sedang sahdu-sahdunya.

IMG_20160912_175225[1].jpg

Ungu! Bukankah dulu kau berjanji setia padaku “Biarpun jingga menyentuh cakrawala tak akan pernah aku melupakan barisan kata yang ku tulis bersamamu, Kelabu, yang telah merangkai menjadi kalimat bermakna.” Tapi kini kau, Ungu! Tak ku sangka artimu ikut tenggelam bersama senja yang temaram.

Harusnya engkau disini, Ungu, sebab cakrawala masih mengagumi dan di sisinya kejora berpijar sebentar lagi. Setelah itu malam kan bernyanyi dan pada keheningannya kita kan bercinta dalam dekapannya di bawah cahaya cinta Sang Rembulan.

“Kelabu,” bisik Angin yang menyapaku ketika itu “Mengapa engkau biarkan air matamu menggenang?”

“Hatiku sangat bersedih, Wahai Angin.”

“Wahai Kelabu, lihatlah dirimu…” meski berat, aku berdiri tegak bercermin pada matahari senja. “Indah nian kemilau bintang di matamu itu, jatuhkan saja air mata yang menggenang dan biarkan kemilau itu lenyap berganti menjadi pelangi di pipimu… di kala kau sadar tatapi lah sekali lagi pada temaram senja sebelum ia memudar, pasti akan dikau temukan sebuah penghiburan.”

“Wahai Angin, bagaimana aku akan mampu bertahan? Jika sehari tanpanya seperti selamanya… karena bukan arti dirinya yang terus berjalan, melainkan hanya kenangannya yang semakin samar, bagaimana, Wahai Angin?”

Karena tak ada jawaban, maka ku tangisi lagi kepergianmu bersama senja yang berlalu, ku tangisi lagi artimu yang berhenti, ku tangisi lagi ungu yang memudar kedalam kegelapan menuju titik pada malam hingga kering pipiku dan tak lagi ada air mata yang kan menjadi pelangi.

“Wahai Kelabu,” aku terlonjak mendengar suara itu, itu bukan angin yang sesaat menemani, sesaat kemudian aku tahu bahwa mentari senja yang sedang berbicara. Aku tengadah memperhatikannya.

“Wahai Kelabu,” bisiknya lagi

“Ya, Wahai Senja.”

“Tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan aku pasti akan tenggelam tapi usah kau merisaukannya esok aku pasti kembali lalu mengapa engaku bersedih? Biarkanlah waktu yang mengobati, biarkanlah luka itu meluluh bersamanya.”

(C)Andy Riyan
Prosa Di Hari Senja @jejakandi

Note :
Gambar dan kalimat pertama nyomot dari Mbak Listi
:v

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s