Dalam sebuah kisah, katanya dari sebuah kitab suci, entahlah yang pasti bukan dari cuitan burung biru buatan orang Amerika, pun bukan dari pembaruan status dari media sosial yang berlogo huruf F itu; tersebutlah Nishadha, negeri yang sangat jauh di sebuah lembah di pegunungan Vindhya, mungkin salah satu anak gunung yang berada di lereng gunung Slamet. Dahulu kala, seorang Presiden diangkat dari rakyatnya—suku Nishadhas—setelah menang dalam pemilu, namanya Wirasena dan ia adalah seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Wirasena memiliki seorang putra, Nala namanya, dan ketika ia kemudian wafat Pangeran Nala menggantikannya menjadi raja bukan presiden lagi. Nala seorang lelaki yang tampan dan seorang pemimpin yang arif lagi bijaksana. Walaupun ia adalah seorang raja yang masih muda, ia dianugrahi berbagai kemuliaan dari para dewa : pengetahuan yang sangat luas, jenius dan kaya. Kemuliaannya tidak hanya kekayaan dan martabat status rajanya, namun juga anugrah keindahan fisik, Ariel Noah dan aktor-aktor drama Korea tidak ada apa-apanya. Nala sangat ahli menunggang kuda. Dan dia dapat berbicara dengan bahasa mereka dan memikatnya. Dan ketika ia memacu kudanya, maka binatang yang tak berpusar itu berlari kencang secepat angin. Selain itu, Nala sangat pandai memasak.

Segala anugrah dewa, memiliki kekayaan kepandaian, kehormatan dan wajah yang tampan bukan jaminan bagi seorang pria untuk mudah mendapatkan pasangannya, itu juga berlaku pada Nala. Ia masih saja jomblo dan belum beristri meskipun ia di gilai banyak perempuan di seluruh negeri. Dan karena masih tenggelam dalam urusan kerajaannya ia belum menemukan bayangan seperti apa pasangan hidup.

Suatu hari seorang Brahmana datang menghadap Prabu Nala. Prabu Nala selalu memperhatikan dan menghormati para Brahamana, ia menjamunya dengan baik. Dan selagi mereka duduk di halaman istana yang penuh dengan rumput dan bunga, Nala bertanya pada Brahmana:

“Ada kabar apa? Apa yang bisa engkau ceritakan dari pengalamanmu di negeri yang jauh?”

Sang brahmana menjawab “Wahai Raja! Hamba mempunyai kabar yang harus diceritakan kepada engkau, Baginda Raja yang mahir berkuda. Aku telah mengujungi kerajaan Vidarbha dan berjumpa dengan Putri Damayanti. Ia cantik berseri-seri seperti bunga seroja dan ia paling cerdas yang pernah hamba temui. Dalam pengembaraan yang telah hamba lakukan, hamba belum pernah melihat putri yang secantik dan seanggun Putri Damayanti.

dscn1090_edited

Sang brahmana kemudian merogoh-rogoh kedalam jubah dan mengeluarkan Tablet Android lalu menunjukkan pada Nala foto Putri Damayanti.

“Wow…!” Nala ternganga tak berkedip.

“Username twitter dan facebok-nya apa, Wahai Brahmana?”

Sang brahmana menggeleng.

“WA atau pin BBM?”

“Ampun, Baginda,” Jawab sang brahmana “Jangankan twitter, facebook, WA ataupun BBM. Di negeri Vidarbha tidak ada sinyal, tidak ada koneksi internet.” Lanjut brahmana dengan muka yang bersedih.

“Yasudah di Bluetooth aja fotonya.”

Nala menjadi gundah dan galau, menjadi semakin sering update status sambil memandangi foto Damayanti. Karena pada waktu itu sangat tidak biasa bagi seorang pria untuk mengajak kencan. Dia harus menunggu perempuan, atau ayahnya, untuk melakukan langkah pertama. Nala menjadi merana karena pujaan hati yang belum pernah ia temui itu dan mulai mengabaikan tugas kenegaraannya. Dia menghabiskan berjam-jam di taman istananya melamunkan Damayanti.

“Bagaimana jika Damayanti memilih untuk menikahi pria lain? Oh aku harus mengatakan padanya betapa aku mencintainya. Aku harus tahu jika ia juaga mencintaiku. Tetapi bagaimana?”

Sekelompok angsa yang hidup di danau di taman kerajaan setiap hari mengamati raja yang merana membuang-buang waktu. Lalu pada suatu malam pemimpin angsa mendekati raja dan bertanya:

“Wahai Raja! Engkau sedang dalam kesusahan. Engkau tampak sunguh sangat mencemaskan. Apa yang sedang terjadi, Wahai Rajaku?”

“Ahhhhhh! Aku jatuh cinta pada seorang putri yang cantik jelita yang belum pernah kutemui,” Jawab Raja, “Aku ingin mengatakan padanya bagaimana perasaanku – dan mengetahui bagaimana perasaannya terhadapku – tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya.”

“Wahai Raja! Aku tidak sanggup melihatmu dalam masalah. Aku akan terbang pada sang putri dan akan mengabdi sebagai pembawa pesanmu. Aku akan menceritakan pada sang putri betapa tampan dan betapa baik engkau.”

Wajah Nala berubah berseri-seri, akhirnya masalahnya akan segera selesai. Karena tidak ada cara yang lebih romantis untuk merayu seorang gadis, malam itu juaga Nala mengirim angsa ke Vidarbha. Kemudian saban pagi dan sore Nala pergi ke taman untuk melihat apakah angsa itu telah kembali namun kemudian ia kecewa, sudah seminggu lamanya angsa itu belum kembali sejak terbang dengan gembira melintasi gurun, padang rumput pegunungan dan hutan-hutan.

Perjalanan itu sangat jauh dan memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya ketika sang pembawa pesan itu tiba di tujuan ia langsung bertengger di istana kediaman Damayanti.

Sang putri sedang membaca buku ketika ia melihat keluar jendela melihat angsa berbulu emas. “Betapa cantiknya angsa itu.” Pikir Damayanti. “Apakah aku bisa memeliharanya.” Dia kemudian melangkah keluar untuk menangkapnya.

Sang angsa mulai berbicara. “Oh putri yang cantik!” Damayanti kaget demi mendengar ada seekor angsa yang berbicara. “Aku berharap bisa menceritakan kepadamu tentang Raja Nala.” Damayanti mengangguk. “Beliau adalah raja yang paling pemberani, dan penyanyang terhadap rakyat dan hewan. Lebih tampan dari pria mana pun yang ada di jagat raya! Beliau memintaku untuk menceritakan padamu bahwa beliau mencintaimu dengan sagat.”

Damayanti telah mendengar tentang Raja Nala yang terkenal. Ia terlampau bahagia ketika mendengar raja yang agung mencintainya.

“Oh, Angsa berbulu emas! Aku juga membalas dengan cinta pada Raja Nala. Kembalilah padanya dan sampaikan pesan ini, Sang Raja harus segera datang ketika Sayembara diumumkan.”

Sang pembawa pesan sangat bahagia membawa berita ini. Ia kemudian terbang melintasi padang rumput dan hutan kembali ke Nisahada.

Untuk mengadakan dan mengatur Sayembara ternyata tidak semudah yang dipikirkan Damayanti. Damayanti tidak bisa secara langsung mengutarakan niatnya itu pada kedua orang tuanya karena itu akan menjadi sangat memalukan bagi martabatnya. Akhirnya Damayanti mulai berulah. Ia pura-pura kehilangan gairah, bersandiwara seolah tampak apapun yang dilihatnya itu suram dan hampa. Ia kemudian makan lebih sedikit dari biasanya dan kehilangan berat badan dan banyak tingkah aneh lainnya. Akhirnya ibunya melihat bahwa Damayanti tidak seperti dirinya yang dahulu kemudian ia mengutarakan pemikirannya itu pada suaminya. Sang raja kemudian segera memerintahkan dokter kerajaan untuk mencari tahu penyakit apa yang mengganggu putrinya. Segera setelah dokter menarik kesimpulan nihil, raja menyadari bahwa putrinya itu sekarang telah tumbuh menjadi gadis dewasa dan sudah waktunya baginya untuk menikah.

Sayembara diumumkan.

Nala segera pergi. Karena dia adalah seorang Esquestarian-penunggang kuda yang mahir—Segeralah ia mencapai Vidarbha.

Kabar mengenai sayembara juga telah mencapai langit kediaman para dewa. Empat dewa yakni, Indra, Agni, Varun, dan Yama.

“Bro, Ayo turun ke Mayapada,” kata Indra. “Artis kita sedang mengadakan sayembara.” Dewa-dewa yang lain mengangguk. Akhirnya turun ke bumi untuk mencoba peruntungannya.

Ketika dalam perjalanan keempat dewa itu bertemu dengan Nala dan menegurnya. Mereka membuat sebuah permintaan pada Nala. Nala memprotes, ia harus tahu apa yang diminta dari mereka sebelum menyanggupi permintaannya. Indra marah.

“Manusia menganggap itu suatu kehormatan ketika kami meminta mereka untuk melakukan sesuatu. Tapi kau membuat keributan. Apa kau tidak tahu kekuatan kami? Kami bisa menghabisimu dan tidak mencapai Sayembara sama sekali,” gelenggar Indra seperti guntur.

Nala kemudian menerimanya dengan patuh.

Lalu Indra bersabda agar Nala mendekati Damayanti dan memohon kepadanya untuk memilih dari empat dewa.

Nala terperanjat. “Bagaimana aku bisa bertindak melawan kepentinganku sendiri,” pintanya.

Indra mengulang ancamannya. Nala memutar otak.

“Kami diperbolehkan di istana hanya pada hari ketika Sayembara diadakan dan pada hari itu juga sayembara diadakan,” katanya, “Bagaimana aku menemui Damayanti?”

Indra mengingatkan Nala bahwa ia adalah raja para dewa dan akan mengatur pertemuan.

Seketika Nala patah hati demi tugasnya menyampaikan pesan itu kepada Damayanti, tetapi ia tidak bisa menolak para dewa. Lalu pada malam hari sebelum Sayembara, secara rahasia Indra mengirim Nala ke kamar Damayanti menggunakan kekuatan ilahi-nya. Disna, untuk pertama kalinya ia melihat perempuan yang dicintainya. Dia terpesona! Dia lebih cantik daripada yang di deskripsikan oleh kata-kata, lebih cantik dari foto yang pernah dilihatnya. Begitu pula Damayanti, ia langsung mengenali Nala. Mereka langsung berpelukan lama sekali.

“Oh Damayanti, Kekasihku!” kata Nala “Aku datang ke hadapanmu dengan membawa sebuah pesan dari para dewa. Mereka meminta engkau untuk memilih satu dari mereka sebagai suami engkau.”

Damayanti sangat marah. “Tetapi bagaimana aku bisa memilih mereka? Hanya engkau yang aku cinta!”

reunion_of_nala_and_damayanthi

“Oh, Putri! Bagaimana bisa aku, manusia fana, dibandingkan dengan Dewa? Mereka bisa membawamu ke Nirwana, dimana kamu bisa membaca buku-bukumu diantara danau yang bersinar keperakan dan bunga-bunga yang semerbak harum. Apa yang bisa ku berikan padamu yang sebanding dengan Nirwana?

“Hanya kamu yang aku cinta,” Kata Damayanti mengulangi. “Dan kamu yang akan aku pilih. Mereka tidak bisa menyuruhku untuk tidak melakukan sesuatu.”

Nala kemudian kembali kehadapan para dewa yang sudah tidak sabar menunggu. “Lalu, bagaimana tanggapannya? Apa yang dia katakan?” Tanya mereka.

“Dia berkata bahwa dia hanya akan memilihku.”

Para dewa kecewa. Namun Indra lah yang paling kecewa.

“Baiklah, kau telah menepati janji hanya dalam nakotah dan tidak dalam roh,” Indra menyatakan, “Sekarang aku akan melakukan apa yang harus dilakukan.”

Pagi berikutnya sebuah galaksi pangeran berkumpul di pergelaran Sayembara. Nala duduk di salah satu sudut untuk menghindari para dewa, tetapi mereka menemukan Nala lalu duduk di sampingnya.

Ketika waktunya tiba, Damayanti memasuki aula diapit oleh ayah dan ibunya. Ia mengenakan blus sutra dengan pernak pernik emas dan ia tampak cantik berseri-seri. Dia sangat heboh karena ini adalah hari dimana dia akan memilih Nala sebagai suaminya. Tetapi kemudia ia shok ketika melihat ada lima Nala duduk di sudut aula. Damayanti menyadari bahwa para dewa mencoba mengelabuhinya. Bagaimana ia bisa mengetahui mana Nala yang Asli?

Ia kemudian berbalik memunggungi para peserta sayembara dan mengeluarkan hape android-nya dari tas kecil yang selalu ia bawa.Walau tak ada koneksi internet ia memaksa mengetikkan pada mesin google “Bagaimana membedakan manusia dan dewa?”. Damayanti beberapakali tampak sedang menggoyang-goyangkan gadget lalu kemudian kecewa dan marah.

Damayanti berpikir sangat keras apa yang harus ia lakukan. Lalu ia memandang lekat-lekat pada lima Nala yang sama persis itu. Setelah beberapa menit, ia menyadari keempat Nala menatap tak berkedip sedang ke-lima berkedip secara teratur. Dan pakaian lelaki itu sedikit lusuh dan bunga yang dijepitkan ke dadanya sedikit layu. Keempat Nala yang lain tidak berkedip, dan bunga-bunga yang ada di dadanya tampak segar dan sempurna.

“Itu dia!” pikir Damayanti. “Nala bukan dewa. Dia tidak sempurna seperti dewa, dan juga dia berkedip dan pakaiannya serta bunganya tidak sempurna. Aku tahu ia lah Nala yang sebenarnya!”

Damayanti melangkah menghampiri lelaki yang berkedip dan mengatakan, “Kamu adalah Nala yang asli. Kamu yang aku pilih.” Kemudian ia mengalungkan karangan bunga padanya. Nala dan Damayanti tersenyum satu sama lain kemudian melangkah menuju singgasana dimana Ayah dan ibu Damayanti bertahta. Keempat dewa berubah ke wujud aslinya dan pura-pura memberkati pasangan pengantin dan kembali ke surga. Sang raja dan ratu merestui lalu pesta perkawinan digelar dengan meriah.

Nala dan Damayanti | diceritakan kembali oleh Andy Riyan
Dengan judul Damayanti Wiwaha @jejakandi

Advertisements

9 thoughts on “Damayanti Wiwaha “Pernikahan Damayanti”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s