Teh Pahit Tanpa Gula 

Teh yang terasa pahit ini
adalah rasa getir dari sebuah perasaan dan tanggungjawab
sesekali menusuk
dan menegurku tentang rasa yang sama padamu.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan untukmu, Kasih.

Hujan yang terjatuh dari langit
adalah pertanda bahwa musim telah berganti,
padahal bunga-bunga yang kita taburkan
telah gugur bahkan sebelum bersemi.
Jiwa ini adalah kosong, Kasih. dan tak bisa menghadirkan perasaan yang lembut untukmu.

Puisi-puisi yang mengalir
yang sedemikian lincir
adalah ungkapan yang rumit
yang tak terkatakan oleh mulutku
terbentuk dari jaring-jaring dalam kepala
yang tak berhenti terus memikirkanmu.
Cuma resah, Kasih, yang menghampiriku setiap malam. Tak ada yang lain.

Raut muka penuh canda dan tawa yang kau lihat
ketika diriku hadir dihadapanmu
adalah topeng-topeng palsu yang kaku
yang sejujurnya adalah cermin kebohongan
dari hati yang sangat kesepian.
Tapi, Kasih, aku bisa apa? Mencuri hatimu? Dengan apa?

Yang sedang kucoba lakukan adalah mengahdirkan diriku
untukmu
bukan untuk mengingatkan pada kisah masa lalu,
akan tetapi menawarkan masa depan.
Yang sejujurnya kuharapkan tulus
dann tak perlu kuhadirkan senyumku untuk dunia,
karena senyumku selalu hadir untuk semesta,
selalu dan tepat waktu.​

©Andy Riyan

Teh Pahit Tanpa Gula | @jejakandi

Puisi ini saya tulis dalam Antologi Embun Pagi (yang masih belum selesai).

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

5 thoughts on “Teh Pahit Tanpa Gula ”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s