Harga Sebuah Dialektika

Suatu ketika kau sedang dalam perjalanan menuruni lembah di utara. Bermula dari hutan dengan pepohonan yang tumbuh rapat berjajar-jajar dan tampak kuat seperti karakter Bima, berdiri angkuh tak tergoyah, hanya ranting-rantingnya yang bergetar dan hanya dedaunannya yang seperti rambut berkibar-kibar. Kemudian kau turun diantara belukar dan kemudian memandang pada dataran luas dan terbentang jauh hingga menyentuh kaki langit. Di hamparan luas itu kau menjumpai sosok yang setiap hari kau amati gerak-geriknya. Hari itu sebenarnya kau akan tetap sama seperti kemarin : membiarkannya sendirian. Namun melihat ia amat tabah kau menjadi heran.

“Kenapa engkau selalu terlihat duduk sendirian di atas rerumputan? Seperti sedang menanti kabar, tanpa segenggam bunga dan terus memandang semak belukar.” Tanya kau dengan wajah terheran-heran.

“Tanyakan saja pada langit… yang kala memerah sendunya tak berlalu.” Jawabnya singkat. Ia bahkan tak menoleh kearahmu.


Bagaikan tersihir, tanpa sadar kau telah menengadah memandangi langit yang kelabu karena berpayung mendung. Kau mungkin berpikir “Bagaimana ia bisa melihat langit yang kelabu itu berwarna merah? Adakah ia mampu menembus payung mendung itu? Ah! Itu pasti senja seperti yang terlukiskan kemarin.” Terilhami bahwa senja adalah waktu yang kehadirannya adalah sebuah keniscayaan; kau berpaling kearahnya.
“Apakah waktu tak memberimu pelajaran?” Tanya kau kemudian. “Bagaimanapun juga ia selalu berlalu pasti dengan alasan.”

“Bukan maksudku tuk mengingkari waktu,” Jawabnya ketika itu. “Tetapi hatiku tentram mengingat kala itu. Meskipun akhirnya pudar saat aku tersadar. Dan semua yang semula terlihat memancar kehangatan menjadi redup dan bahkan gelap sama sekali dan kemudian dingin.

Waktu memang sebuah fenomena yang paradoksal… tapi terimakasih padanya, dengan adanya dia kesedihan dan kebahagiaan tidak menjadi berdampingan. Dengan adanya dia tidak ada hal yang terjdi selamanya. Lihatlah pada hutan-hutan itu, dengan adanya dia, hutan itu terhitung sebagai Diantara Yang Bijak. Pada gunung-gunung, dengan adanya dia, mereka di kenal sebagai Yang Tertua dan mengingat tetesan hujan dikala dunia masih muda.

Dan kau tahu mengapa aku memintamu bertanya pada langit? Karena ia menyimpan ingatan yang paling purba. Tak ada yang bisa berpaling darinya. Hingga hujan yang ia jatuhkan adalah kehidupan. Dan mentari berkelana dengan se-ijin-nya.”

“Bila… datang padamu… tempat… berteduh,” Kata kau terbata-bata kemudian. “Masih-kah kamu… akan… berdiri di bawah hujan? Sementara… angin berlalu dan… masih belum membawa kabar… untukmu.” Semesta melihat raut mukamu tampak cemas; Seperti sedang mengkhawatirkannya jika saja ia sebentar lagi hanya akan tinggal kenangan.

“Siapa pula yang tak akan suka berteduh di saat badai? Menyelimuti diri dengan kehangatan, berkumpul dengan keluarga dan sejenak berbincang-bincang menunggu badai reda, tidaklah buruk sama sekali. Namun bila alasannya agar lara tak terungkap, maka biarlah ia menangis di bawah hujan. Tak ada kemunafikan dan tak ada ke-pura-pura-an.” Jawab ia lirih.

Sejenak hening.

Dan kau mendesah; Mulai mencoba mengeluarkan suara.

Gagal.

Hening total.

“Bila senja terlukis di cakrawala,” Kata kau akhirnya setelah keheningan yang sangat lama. Kau nampak dengan sekuat tenaga untuk memberanikan bertanya hingga bibirmu terlalu jelas nampak bergetar. “Kemudian pudar saat malam tiba, lalu datanglah sinar di kala fajar, apakah engkau tak ingin melihat hari esok?”

Ia menatapmu dan tersenyum, lalu katanya: “Hari esok ku selalu bahagia, karena memiliki suatu rangkaian cerita… Hanya aku masih merasa tenang duduk di bawah kerindangan dahan, pohon-pohon kan kesepian tanpaku bila ku pergi sekarang.”

Itu adalah kata-kata terhebat yang mungkin pernah kau dengar darinya untuk meyakinkan kau. Sebab kau tau, seperti katanya: “Dengan adanya waktu, tidak ada yang terjadi selamnaya.”

Dan dengan tegas kau langsung menyambutnya dengan mata yang sedikit nanar dan baginya itu sangat menjengkelkan. Namun yang kau katakan padanya kemudian sesunggunya lebih menjengkelkan. “Mungkin kau lupa, namamu yang pernah tinggal disana… mungkin tak lagi berada seperti… yang teringat dalam hatimu.”

“Mungkin pula kamu lupa,” pekik dia menyambar pernyataanmu “Bahwa aku tumbuh tidak selalu di bebatuan… Terkadang di gunung, terkadang di tepi lautan… Mungkin kau lupa… tatapan mataku yang selalu yakin akan hari ini juga yakin untuk hari esok… karena ku tahu, kau bersamaku juga berdiri di antara mekarnya bunga, bahkan mungkin bunga yang sama, karena aku-lah Ilalang dan kau Angin Selatan.”

Harga Sebuah Dialektika (C) Andy Riyan
Ditulis dari Antologi Embun Pagi

Advertisements

2 thoughts on “Harga Sebuah Dialektika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s