Concerning Romeo (1) : Jurang Yang (tak) Ada

Romeo bukan pemuda tampan seperti ia yang telah merebut hati kekasihnya — Juliet — sebagaimana kisah mereka yang di tulis oleh William Shakespeare. Romeo yang satu ini, wajahnya dulu mungkin berbentuk bulat telur dengan garis-garis maya yang sempurna. Namun kini garis di pipi kirinya sedikit melesak kedalam, seperti buah pepaya yang penyok lantaran tertindih beban. Dan di sisi penampang pipinya — yang berwarna kecoklatan karena seringnya terpanggang matahari — ada sebuah luka misterius selebar 3 mili yang memanjang dari sudut bibir hingga hampir menyentuh ujung telinganya. Sementara rahang di bawah pipi kanannya menonjol keluar seolah sebuah benda yang berat telah di pukulkan secara paksa pada tulang itu dari dalam. Romeo sebenarnya mempunyai hidung yang bagus: tirus, panjang nan ramping dan sangat sesuai—tidak terlalu besar pun tidak terlalu kecil—namun luka sayatan berwarna hitam yang melintang pada tulang hidung itu benar-benar telah merusak keindahan saluran nafas yang dimilikinya.

Penggalan dari cerita sebelumnya, Perkin’s Country Store and Merry’s House, Bukan Pendosa Pertama

Dan entah bagaimana dengan tampilan yang mengerikan itu, bagi beberapa perempuan Romeo masih terihat sangat menarik. Mungkin karena mata indahnya dan keningnya yang lebar. Mata lebar itu sangat jernih seperti lensa bening yang masih baru, Iris-nya coklat lembut nan begitu hidup dan selalu memberi pandangan yang teduh. Sementara keningnya seperti patung lilin yang terpahat sempurna tanpa guratan usia, garisnya bagus dan nampak simetris.

Romeo juga bukan pemuda yang gagah. Tingginya sedikit lebih pendek dari tinggi rata-rata pemuda di usianya; hanya 167cm. Tubuhnya kurus kering karena beban penderitaan yang dialaminya.

Romeo selalu menjadi gusar dan gelisah ketika seseorang menanyakan siapa dirinya, keluarganya dan dari mana ia berasal. Maka otot-otot di lengan-nya kemudian menjadi tegang, matanya yang lembut bergerak-gerak lebih cepat dan isi dadanya bergemuruh meluap-luap.

“Terkutuklah para dewa! Terkutuklah ayah laknat yang tak bertanggung jawab! Terkutuklah para bangsat yang telah menyia-nyiakan air mani dalam rahim wanita jalang! Terkutuklah ibu yang menelantarkan anak tak berdosa di dunia yang penuh dengan duka dan nesatpa! Terkutuklah kau anjing-anjing hina dina!”

Ah tentu saja ratapan kemarahan itu hanya bergejolak dalam dirinya, tak ada yang mendengar kecuali dirinya sendiri, kemarahan itu terngiang-ngiang dalam kepalanya sendiri. Romeo seorang penipu ulung, terlatih selama bertahun-tahun untuk menyembunyikan emosinya. Namun sepandai-pandainya penipu, gejolak batin selalu memberi pengaruh pada gerak tubuh. Ia berpaling dan berpura-pura tuli. Lalu ketika melihat Romeo hanya membatu maka para penerka itu akan kembali acuh dan kemudian meninggalkannya begitu saja dan mungkin tanpa disertai rasa bersalah karena telah mengacak-acak kedamaian yang telah nyenyak di dalam hati seorang pemuda malang itu. Kemudian di saat Romeo kembali sendirian, ia meringkuk bersadar pada apapun yang tak akan pernah mengeluh—dinding, pohon, batu—dan menangis merindukan binatang-binatang jalang yang tak pernah dikenalnya, yang telah menganugrahi kesempatan merasakan pahit hidup di dunia.

Dalam kesempatan itu Romeo kembali menelusuri lapisan ingatannya, merenung dan mengingat-ingat barangkali ada pengetahuan yang sekalipun itu samar. Ia selalu berharap memiliki keluarga yang saat ini sedang terpisah oleh jarak dan suatu hari akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan mereka.

Tentang ingatan masa kecil, ia tak pernah mengerti bagaimana mulanya. Yang dipahaminya, ia tiba-tiba saja ada di sisi banyak bocah seperti dirinya. Bersama lima orang bocah lainnya ia menghuni sebuah kamar suram tanpa warna di lantai dua. Sebagaimana sebagian besar kamar lain, kamar mereka begitu kelam, tak ada warna lain kecuali warna putih yang itu pun putih usang seperti mendung. Tembok kamarnya yang paling membuat sedih, terbuat dari batu-bata merah yang plesternya sudah banyak retak dan catnya mengelupas disana sini. Selimut dan kain-kain pembungkus kasur juga berwarna putih seoalah ingin menambah kesedihan anak-anak yatim-piatu itu, banyak berlubang dan menampakkan kapuk-kapuk yang kemudian sering menempel pada baju dan rambut. Tidak hanya sampai disitu baju tidur mereka juga berwarna putih hanya sedikit memiliki corak halus bergaris-garis vertikal berwarna biru. Hanya daun pintu dan rangka jendela yang memiliki warna lain, hitam. Jendela-jendela yang tingginya hampir sama dengan tinggi dinding itu menghadap ke barat. Dan sekalipun menghadap ke barat, cahaya senja tidak leluasa berkelanan masuk ke dalam kamar sebab, kota dimana panti itu berada selalu berawan dan kelabu selain itu pohon-pohon kenari tumbuh rimbun menghalangi sinar senja jika sekali-sekali matahari berkenan mengunjungi mereka.

“Dimanakah sebenarnya matahari itu tenggelam?” Tanya bocah yang paling besar diantara mereka. “Aku ragu ia tenggelam di barat.”

Alan menyeringai. “Ia jatuh kedalam jurang tak berdasar. Di suatu tempat di ujung dunia.” Alan adalah bocah paling pintar yang selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya.

“Dungu kalian semua!” Ledek Romeo. “Kalian dungu sebab tak pernah membaca buku.”

“Jelaskan pada kami! Jika membaca buku bisa membuat kau lebih pintar!” Tantang Alan.

“Di perpustakaan ada sebuah buku geografi.” Jawab Romeo “Jika kalian pernah memperhatikan pelajaran Merry, ia mengatakan persis seperti apa yang di tulis di buku bahwa bumi itu bulat.”

Merry, pengasuh kami, seorang perawat dan guru Sains, masih muda pandai dan cantik tapi dia benar-benar gila, selalu marah-marah tanpa sebab yang masuk akal. Dia akan memukuli pantat-pantat mereka dengan sebuah tongkat dari bambu yang digunakan-nya untuk mengajar di kelas apabila mereka belum mengganti pakaian dengan baju tidur—yang bercorak biru–setelah lewat jam delapan malam. Namun entah bagaimana mereka semua menyayangi Marry, perempuan iblis itu, yang setiap saat bola matanya bisa mendadak meloncat begitu saja tanpa mereka tahu sebabnya.

“Yak aku pernah mendengarkan hal itu.” Sahut Alan, “Tapi aku tidak mengerti bagaimana matahari bisa hilang dan apa hubungannya dengan bumi yang bulat?”

Romeo menghela napas dan menatap tajam kearah teman-temannya. “Aku pun tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tapi setidaknya itu membuktikan bahwa jurang tak berdasar yang kau sebutkan tadi itu tak pernah ada.”

Concerning Romeo (1) : Kelabu (C) Andy Riyan
Yang penting nulis.

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s