Politik, Seburuk Itukah?

“Politik itu tai!” kata salah seorang teman saya.

Saya pun mafhum. Dengan keadaan politik di negeri ini yang begitu carut marut sehingga sulit menemukan celah untuk kita mengomentari ‘politik’ ini dengan komentar yang positif. Dalam pentas ‘pertarungan politik’, semua kubu saling menyerang dan menghujat untuk menjatuhkan citra dan mental lawan, dengan harapan ketika citra kebaikan lawan turun maka pendukungpun akan meninggalkannya. Padahal sebaik apapun juga seseorang jikalau kita niat untuk mencari kelemahan dan kekurangannya pastilah ketemu. Tak ada manusia yang sempurna. Jadi politik itu memang tai!

Tapi sik… ojo ngono… ojo kebakaran jenggot ngono sik!

Dalam ilmu matematika—ya, lagi-lagi matematika telah membantu saya untuk tetap bisa melihat dalam sudut pandang yang berbeda—’ada’ dan ‘setiap’ itu jauh berbeda, sama jauhnya seperti kata ‘atau’ dengan ‘dan’, sama jauhnya antara langit dan bumi. Karena jika hanya ‘ada’ itu tidak berlaku untuk ‘setiap’.

Politik menurut KBBI adalah sebuah nomina yang berarti 1) Ketatanegaraan; 2) garis haluan, kebijakan, strategi. Tapi kita kemudian hanya terpusat pada strategi, parahnya malah strategi dengan menghalalkan segala cara.

Tapi mari kita lihat sambil berpikir dengan kepala dingin. Tanpa politik kita mungkin tidak akan mengenal walikota sebagus Kang Emil; gubernur yang lucu, cerdas dan merakyat seperti Ganjar Pranowo; bahkan tanpa politik kemunculan perempuan-perempuan hebat di pentas republik ini macam Risma dan Kofifah itu nyaris mustahil. Mari kita lihat kepada orang yang paling berpengaruh pada umat manusia, Muhammad Bin Abdullah, apakah ia bukan seorang politikus ulung? Tanpa politik, mustahil beliau bisa menyatukan seluruh bangsa Arab—walau semula tidak pernah terpikirkan oleh Rosull Allah itu untuk menjadi pemimpin politik—.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Republic’, seorang filosof terkemuka di muka bumi, Plato, pun menyatakan tanpa politik tidak akan ada sistem pemerintahan ideal. Yang kemudian kelak terbukti dari muridnya, Aristoteles, ia mengajari Alexander sehingga ia memiliki gagasan untuk menaklukkan semua dataran di belahan dunia. Dari Plato pula, Julius Caesar mendapat gagasan untuk memimpin kekaisaran bangsa Romawi dan menjadikannya negara Democratic. Dan puncak perenungan filsafat Plato akhirnya terwujud oleh pemimpin yang persis dengan karakteristik yang disebutkannya yaitu Muhammad bin Abdullah.

Jadi politik itu tai itu… iya! tapi tidak semua politik itu seperti itu. Mari kita belajar berpolitik yang baik seperti yang di contohkan Nabi Muhammad itu : berpolitik dengan kebijaksanaan dan tidak menjatuhkan lawan dengan kecurangan, ia senantiasa jujur dan berpandangan jauh kedepan. Politik memang selamanya praktis, tetapi tidak sepraktis itu juga, menjatuhkan lawan dengan citra buruk dan kedengkian pada akhirnya akan menjatuhkan diri kita sendiri.

Saya Andy Riyan Salam Politik… TAI!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s