Hal-Hal Tak Terduga Ketika Menjadi Penulis

img_20141105_075713
Gambar adalah dokumen pribadi

Menulis merupakan kegiatan yang sangat sederhana : hanya duduk diatas kursi (atau lesehan) dan kemudian menarikan sebuah pena pada lembaran-lembaran kertas. Menuangkan apa saja yang terlintas dalam kepala, mengeksprsikan unek-unek yang bermacam segala rasanya. Kadang menulis itu kegiatan menumpahkan kekesalan yang sebelumnya hanya bisa terpendam (hayo ini kerjaan siapa? uring-uringan di blog dan twitter atau di media sosial lainnya? Ngaku lho… kalau gak ngaku, nanti gak dapat hadiah 😀 ).

Menulis adalah kegiatan yang holistis, dapat menjadi ajang untuk mencurahkan sebuah gagasan dan mengembangkannya menjadi suatu hubungan yang memiliki makna. Juga menegaskan bahwa antara pikiran dan anggota tubuh ini terdapat sebuah keselarasan otomatis, jemari dapat menari dengan indah tergerakkan oleh pikiran, melenggak-lenggok indah meski tiada musik atau kendang yang mengiringi. Subhanallah… maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dusatakan?

Namun sekarang kegiatan menulis sudah menjadi lebih mudah, semuanya sudah dapat dilakukan di depan komputer, jadi istilah menarikan pena seperti tadi terkesan jadul, tapi apapun itu, kegiatan menulis tersebut entah dengan cara klasik atau dengan menumpahkan langsung di word prosessor, menulis menyimpan banyak kejutan.

Baca : Kapan Harus Ganti Paragraf Baru?

Kejutan-kejutan selama menjadi penulis abal-abal terkadang sulit atau bahkan nyaris untuk di ulang pada kesempatan yang lain. Jadi saran saya ketika temen-temen sedang mendapatkan momen itu, nikmatilah dan segera tuangkan semua kejutan itu dalam lembaran yang lain, sebab ketika momen itu sudah pudar, sulit sekali untuk menghadirkannya dan menampilkan dalam kemasan yang penuh emosi.

Menulis Bukan Tentang Kata-Kata

Hal yang paling mengejutkan yang pernah saya alami ketika sedang tenggelam dalam kesibukan itu, menulis ternyata bukan tentang-kata-kata. Kata-kata hanya sebuah media perantara antara dunia pikiran dan imajinasi; kata-kata hanyalah perantara antara perasaan yang bergelombang yang menjadi ihwal awal terangkainya huruf-huruf menjadi kesatuan yang berpola.

Lebih dari itu menulis adalah tentang sebuah gairah ketika kesadaran menulis lahir karena hanya kita memang menginginkannya. Kemudian menulis menjadi sebuah tuntuan yang melelahkan ketika mengejar sebuah pencapaian, statistik blog misalnya. Kemudian menulis berevolusi lagi menjadi sebuah seni yang pada titik ini dapat diapresiasi oleh para pembaca atau bahkan di caci maki dan mendapatkan respon negatif. Dan pada posisi ini menulis telah menggerakkan orang untuk menulis (komentar nyinyir yang kadang sulit dipikir jalan logikanya, soalnya tak ada logika yang jalan di dengkul.)

Menulis Adalah Perjalanan Mencapai Suatu Titik Yang Tak Pernah Berakhir

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kegiatan menulis cukup sederhana hanya duduk dan menarikan pena. Namun lebih dari itu kegiatan menulis seperti sebuah petualangan menemukan sebuah harta karun yang hilang. Mungkin ketika hendak menulis, kita sudah tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana akhir dari sebuah tulisan tersebut. Namun percaya atau tidak? Terkadang dalam perjalan itu kita sampai pada titik ketika harus berganti haluan atau tujuan sebab ada sebuah cabang yang tidak disadari sebelumnya. Dan untuk mencapai titik akhir, percaya atau tidak, biasanya terdapat sebuah kekosongan, dan secara tidak sadar kita telah masuk dalam kekosongan itu dan mencapai petualangan yang mendebarkan.

Kita tahu bahwa perjalanan itu harus berakhir pada satu titik yang ditetapkan semula, tapi untuk merncapi titik itu ternyata perlu melewati hal-hal yang tak pernah dibayangkan. Bayangkan begini, kita sudah tahu pasti perjalan kita akan mencapai pintu akhir. Tetapi tak disangka pintu itu ternyata terkunci. Kita harus menemukan kunci sialan itu yang tak disangka lagi ternyata kunci itu telah patah (seperti hati yang hancur berkeping-keping karena baper-nya keterlaluan). Kemudian kita harus pergi kepada tukang kunci untuk mereparasi atau membuatkan duplikatnya. Setelah selesai dan pintu akhirnya terbuka, ternyata hati dan perasaan kita telah berubah; sesuatu rasanya tidak berjalan pada trek benar jika hanya berakhir disana. Maka kita melangkah lebih dalam melalui pintu itu menuju petualangan lain dan begitu seterusnya.

Menulis Bukan Selalu Tentang Plot Atau Cerita

Pernah menulis cerpen? Pernah menulis skenario? Atau bahkan pernah menulis novel? Belum? Minimal pernahlah menulis… apa saja. Perhatikan! Apakah selalu yang ditulis itu mengandung plot atau cerita? Kalau saya membaca catatan-catatan milik saya sendiri, terkadang saya geli… ini apa sih yang ditulis. “Kumbang-kumbang bersarang, daun-daun berguguran, kehidupan memiliki maknanya.”

Menulis Bukan Tentang Untuk Ditunjukkan Kepada Semua Orang

Ini adalah sebuah kejutan tak terduga yang sulit saya sadari. Jadi mengapa saya menulis jika tidak untuk dibaca orang lain? Mengapa tidak mengingatnya saja? Ingatan saya toh tak buruk juga… mengapa saya menulis? Ya menulis saja.

Bayangkan begini, suatu ketika… kamu mengambil handphone, membuka word prosessor, mengetiknya, kemudian dilupakan begitu saja… dan kemudian kamu bersemangat untuk melakukan kegiatan lain yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tulisan itu.

Subhanallah ternyata menulis itu luar biasa… selamat sore!

Advertisements

2 thoughts on “Hal-Hal Tak Terduga Ketika Menjadi Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s