Aries vs Aries

Diantara banyak kisah tentang cinta pertama yang pernah kubaca, aku menyimpulkannya semua penulis sepakat bahwa cinta pertama selalu tak terlupakan, cinta yang indah dan selalu mampu bertahan meski tak pernah bisa memiliki. Atau cinta pertama adalah cinta yang sempurna.. Tetapi tidak dengan cinta pertama ini..

aries-and-pisces2.png
ARIES Vs. ARIES

Ketika itu hari sudah menjelang sore, jam sekolah sudah bubar beberapa menit yang lalu. Saat itu aku sedang berada di sebuah ruang kelas yang bersih dan sejuk. Jendela kaca yang tembus pandang menampakkan rumpun bambu di samping sekolah, dan jendelanya yang setengah terbuka menghembuskan udara dingin yang mengalir dari hamparan sawah yang mulai menguning. Sawah itu menghampar luas sampai sejauh mata memandang dan berakhir tertelan halimun di kaki gunung. Pemandangan yang ikonik dari sebuah desa kecil yang di lalui jalan raya. Aku duduk sendirian diantara tujuh gadis yang juga sedang memenuhi undangan dari Pak Abdul, guru utama mata pelajaran bahasa Ingriss. Mereka gadis-gadis itu adalah kakak kelasku, hanya dua yang duduk paling depan disebalah kanan yang seangkatan. Aku satu-satunya siswa laki-laki yang berada disana jika kakak kelas yang saat itu belum ku kenal namanya tidak masuk hitungan.

Di antara gadis-gadis senior itu, ada satu gadis yang ku kenal; Alfiani Zulfa. Aku memanggilnya Mbak Vivian. Ya dia memang terkenal di sekolah. Seorang primadona yang tidak hanya berparas cantik jelita tetapi juga yang menyabet gelar juara peraih peringkat satu di angkatannya, tak hanya diangkatanya, ia juga menyandang nilai tertinggi dari ujian semester dari tiga angkatan yang ada. Saking terkenalnya dia; aku pun dengan mudah mengetahui hari ulang tahunnya, 1 April.

Aku mengenalnya ketika upacara pengambilan rapot semester lalu, saat kepala sekolah mengumumkan para juara. Namanya disebutkan tiga kali oleh kepala sekolah, dan tiga kali pula gadis itu maju menerima penghargaan dan trophy bintang kelas: Juara kelas, Juara angkatan dan Juara Umum. Sedangkan aku, hanya maju sekali meskipun namaku di sebut tiga kali : sebagai juara kelas, juara ke dua angkatan dan jura ke enam secara umum.

Kami berada disana bersama Pak Abdul, karena dipromosikan oleh guru bahasa inggris kelas kami masing-masing. Kelas ekstra ini di bentuk sebagai persiapan untuk mengikuti kejuaraan bahasa inggris kabupaten dan nasional. Dan aku sebetulnya sangat heran, mengapa aku dipromosikan? Apa yang sebenarnya dinilai dari guru bahasa Inggrisku itu? Padahal bahasa Inggrisku payah! Ku kira guruku itu sedang tidak waras atau jangan-jangan beliau keliru dengan nilai bahasa Indonesiaku yang mendapatkan 8, sebab beliau juga yang mengajar kami pelajaran Bahasa Indonesia? Entahlah.

Berada di kelas ekstra itu menjadi berkah tersendiri bagiku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa sekelas bersama gadis paling terkenal di sekolah, Mbak Vivian. Ketika kau menggilai seseorang, kemudian kau memiliki waktu melihatnya lebih dekat, apa yang kau rasakan?

Dan saat itu kebetulan aku mengambil tempat duduk satu meja di belakang di sebelah kirinya. Aku berada disudut yang tepat utuk melihat kearah papan tulis sekaligus bisa mengagumi parasnya tanpa harus bermanuver.

Dan ketika pelajaran sedang berlangsung, aku sama sekali tidak menduganya, sang primadona yang pastinya selalu fokus kedepan itu megalihkan padangannya dari papan tulis langsung menatap kearahku dan menyapa.

“Andi… Sini. Kamu duduk disini aja sebangku denganku.“

Padahal saat itu aku sedang memandangi wajahnya, saat yang penuh bunga-bunga karena mengagumi seseorang, saat yang tepat karena aku telah jatuh cinta. Aku tak bisa membayangkan bagaiamana warna muka ku ketika itu. Dan itu adalah pertamakalinya aku berhadapan langsung dan mendengar suaranya yang benar-benar jernih.

Aku tak tahu perasaanku saat itu tetapi detik berikutnya aku sudah bergerak melangkah mendekatinya dan langsung duduk di sampingnya. Jantungku berdebar-debar entah membayangkan apa, semua yang kutahu saat itu hanyalah aku sedang duduk disamping gadis yang paling cantik di seluruh dunia.

“Aku sudah hampir yakin.. Kamu akan masuk kelas ekstra ini.”

katanya dengan raut muka yang berseri-seri.

“Darimana kamu tahu?“ jawabku ragu “Ehm maksudnya darimana kamu tahu namaku?”

“Siapa sih yang gak kenal geng paling rusuh di kelas dua?”

Kali ini suaranya tidak sejernih tadi, agak sedikit serak dan kering. Mungkin karena kami memang harus berbisik-bisik. Tetapi mata hitamnya yang bersorot tajam sedikit mengganggu, membuatku kikuk tak berdaya. Ku pikir dia sama seperti guru bahasa inggrisku.. Sedang tidak waras.

“Tapi itu tak menjelaskan, bagaimana kamu tahu namaku.“

“Diantara mereka kamu yang berpenampilan paling rapi. Jadi aku bertanya-tanya tukang rusuh rajin menyetrika baju juga ya?”

Kampret! Maki aku dalam hati. Itu karena aku baru di hadiahi setrika baru oleh ibuku di usia 13.

first_love_kl_950px_20121223123555
Sumber gambar Klik

Hari-hari berikutnya aku dan Mbak Vivian kerap kali dipertemukan oleh ketidaksengajaan. Ya memang dua orang yang sudah saling mengenal biasanya sering bertemu dimana-mana. Bahkan sepertinya sekenario tuhan (t kecil) belum cukup jika hanya menuliskan pertemuan kami berdua sebatas di kelas ekstra seminggu tiga kali; Sama sekali tidak cukup. Sebab setelah dua minggu sejak pertemuan pertama itu, hampir setiap hari Mbak Vivian menghabiskan waktu istirahatnya bersamaku di kantin sekolah. Sambil makan jajan, kami bermain “Scarble”. Mbak Vivian sih yang sering menantangku memainkan kotak-kotak alfabet itu. Katanya untuk melatih otak mengingat banyak kata dan memperluas vocabulary. Terkadang Mbak Vivian terlihat sedang main di kelasku. Karena dia memang memiliki banyak teman dari semua angkatan. Tapi ujung-ujungnya melihat-lihat catatan-catatan pelajaran milikku yang jelek dan PR-PR matematika ku yang payah.

Jika tidak ada jadwal kelas ekstra, sepulang sekolah, kami sering menunggu angkot sambil belajar bersama. Padahal Mbak Vivian dan aku berbeda jurusan angkot, mbak Vivian pulang ke arah barat, sedang aku ke timur. Sebenarnya itu bukan belajar bersama tetapi Mbak Vivian yang membantuku mengerjakan PR-PR matematika. Terkadang kami sengaja melewatkan angkot sampai tiga kali karena berbagai alasan, alasan yang konyol ku kira; ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama. Aku sama sekali tidak pernah menahannya. Aku kira Mbak Vivian telah menemukan sosok seorang sahabat dalam diriku. Sebab yang kutahu, seperti kebanyakan orang jenius, Mbak Vivian tidak benar-benar dekat dengan temen-temennya. Dan sejak saat itu aku lebih sering bermain dengan Mbak Vivian daripada teman gaul yang mirip geng.

Hampir lima bulan lebih aku bersamanya menghabiskan masa-masa terindah di sekolah dan di luar sekolah dengan damai dan tidak pernah bertengkar. Setidaknya sampai hari itu, hari terakhir kelas ekstra bahasa Inggris. Ketika pulang sekolah seperti biasa, sore itu aku menyerahkan sepucuk amplop berwarna hijau.

“Tolong baca ini dirumah.” Kataku singkat “Aku pulang dulu, Mbak!“ Aku langsung melompat naik angkot yang sudah siap melaju.

Hari berikutnya, aku tidak lagi menemukan mbak Vivian di kantin sekolah, tidak juga di kelasku. Bahkan mbak Vivian tidak lagi ada disana menunggu angkot seperti biasanya. Itu adalah pertamakalinya aku merasa seperti kehilangan. Hari pertama tidak bertemu mbak Vivian, masih belum terlalu mengusik pikiranku, hanya gelisah.

Satu minggu pertama, aku masih belum menemukan mbak Vivian. Aku mulai merasa ada yang salah, namun aku belum berpikir untuk mencarinya di tempat lain. Terlebih lagi aku saat itu sibuk mempersiapkan diri kejuaraan Takraw antar kelas.

Satu bulan berikutnya aku masih belum bertemu mbak Vivian. Membuatku bertanya-tanya. Dan aku rasa kini sudah waktunya untuk mencari Mbak Vivian. Hanya ada satu cara untuk menemukannya mengunjungi kelas 3 tempat Mbak Vivian.

Saat bel tanda istirahat pertama berbunyi, dengan bergegas aku pergi menyusuri kelas dan menaiki undakan ubin dan langsung menuju lantai dua, kelas yang berada di sebelah barat gedung utama. Di depan kelas di serambi, aku menemukan Mbak Vivian sedang bercanda dengan teman-temannya. Ia terlihat sangat baik, wajahnya cerah dan bersemangat seperti biasanya. Senyumnya hangat seperti biasanya bahkan hari itu aku melihat ia sedang tertawa keras sekali.

Namun mendadak wajah idolaku itu menjadi gelap. Ia cemberut marah saat melihatku berdiri mematung beberapa meter darinya. Aku berjalan mendekat. Ia menghindar dan bahkan melewatiku begitu saja.

Mbak..!!? Teriakku tak peduli dilihat banyak orang.

Mbak Vivian terus ngeluyur menjauh pergi, menyelinap menghilang ke kamar mandi.

Aku bergeming tidak ada keinginan sama sekali untuk mengejar mbak Vivian. Sudah jelas bagiku : Mbak Vivian tidak igin lagi bersahabat denganku seperti dulu. Mungkin isi amplop yang kuberikannya terakhir kali telah menyakiti hatinya. Dan aku bergeming, menyerah untuk menayakan semua alasannya.

Hari-hari berikutnya aku masih melakukan kebiasaanku seperti dulu ketika masih bersama Mbak Vivian. Mengunjungi kantin sekolah, sambil makan dan main Scarble, Ya aku masih memainkannya meski tanpa Mbak Vivian. Tapi kini aku menantang seseorang, seangkatan, yang ku kenal dari kelas ekstra bahasa Inggris itu juga. Dan bersama teman-teman yang lain. Aku tidak lagi berdua atau berempat tapi berenam. Aku mengusir kesepian dengan tetap melakukan kebiasaan lama dengan cara yang berbeda.

Aku pun masih terus belajar matematika di sisa istirahat dan sepulang sekolah sambil menunggu angkot, kadang saat mentok, aku mengalihkan perhatian dengan mengisi Teka-Teki Silang (sampulnya sudah ku robek, tentu saja 😀 ). Dan saban sabtu sore sebelum kegiatan PMR di mulai, masih juga ku sisakan sedikit waktu untuk mengunjungi kebun belakang sekolah tempat dulu aku duduk bersama Mbak Vivian menikmati udara yang sejuk dan bersih.

Hingga tibalah pada saat upacara purnasiswa tahun itu. Mbak Vivian telah lulus dengan peringkat terbaik (sempurna) dan akan meninggalkan sekolah itu. Sementara aku masih harus melanjutkan setahun lagi. Di hari terakhir itu mbak Vivian menemuiku dan mengajak mengunjungi kebun belakang sekolah untuk yang terakhir kalinya.

Kami berdiri di bawah rumpun bambu yang rindang, menatap jauh ke sawah yang gundul, hanya ada genangan air yang memantulkan langit biru. Di kejauhan terlihat petani sedang mambajak sawahnya dengan dua kerbau. Angin bulan Mei bertiup kencang, menyibakkan rambutku yang selalu tertata rapi. Batang-batang bambu berkeriut berharmoni dengan burung-burung greja yang berkicau riang. Kadang deru motor di jalan terdengar riuh menyemarakkan pertemuan yang pilu itu.

“Sudah lama sekali kita tidak di sini bersama-sama.“ Katanya memulai basa-basi.

“Aku sudah membaca tulisanmu.” Kata mbak Vivian, ia kemudian terdiam tampak seperti sedang menungguku merespon ucapannya, tapi aku bergeming lidahku seakan kelu, tak sanggup berbicara meski hatiku meledak-ledak.

“Puisinya indah.. Aku menyukainya.” Lanjut sang primadona.

Kami saling bertatapan. Matanya yang jeli itu lekat menatap mataku tanpa goyah. Tetapi aku masih belum bisa berbicara, aku masih tak kuasa berkata kata.

“Aku salut dengan kebulatan tekadmu untuk menulis puisi itu untukku.“ Kata-katanya sangat dramatis seperti membaca puisi, penuh nada penuh penghayatan jiwa. “Perasaanku padamu… Sama seperti perasaanmu padaku. Namun maaf aku menghindarimu selama ini karena aku tak sanggup menahan kesedihan yang lebih besar, aku akan meninggalkan kota ini, pulang ke rumah ayahku.”

Terjadi keheningan yang luar biasa. Karena aku masih tak bisa berbicara sepatah katapun.

“Terimakasih untuk segalanya. Kamu telah menjadi sahabat yang sangat baik dalam beberapa bulan kebersamaan kita.“ Mbak Vivian merekahkah senyumnya.

Senyum terindah yang pernah ku ingat. Ku lihat ada air menitik di sudut matanya. Matanya bening berkilau seperti embun di pepohonan selepas hujan. Kemudian tak kusangka Mbak Vivian mmencium pipi kiriku dan mengucapkan kata terakhir.

“Selamat tinggal.“

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

11 thoughts on “Aries vs Aries”

      1. Mbak Vivian jahat. Wkkwkw.
        Dia menghindari karena takut kesedihannya akan tambah lebih besar nantinya. Tapi kenangan manis yang pernah ada itu mahal harganya..
        Uh uh..

        Like

      2. Mbak Vivian baik loh, Mbak. Dia membantu adik kelasnya ngerjain soal-soal matematika. :p

        Yah gimana lagi ya, Mbak. Setiap diri manusia itu unik, dan ternyata ada yang begitu.. Uh uh mau gimana lagi.
        :v

        Liked by 1 person

    1. Orang aries gampang akrab sama orang, itu bener mas. Meskipun hanya sedikit orang aries yang pernah saya temui. Dan kalau aries pendiam, kayaknya enggak. Aries yang saya temui rata-rata suka berterus terang, to the point dan doyan debat. Yak kambing jantan doyan adu kepala.

      Dan soal ini cerita nyata atau fiksi, saya tidak bisa dan tidak mau mengklarifikasi… Biar begini adanya 😀

      Liked by 1 person

    1. Soal ramalannya aku juga gak percaya, mbak. Tapi suka dengan cara orang menggambarkan karakter lewat zodiak itu. Zodiak sebagai alternatif untuk menghidupkan karakter fiksi. Lagian pada tulisan ini gak menyinggung ramalan kan?

      Ah terimakasih mbak rini. Ini pujian pertama.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s