Mainkan Peran Sepenuh Hati Di Panggung Sandiwara Ini

Beberapa hari ini aku memang sering absen posting blog. Bukan berarti sedang mengalami writing block akibat kejabisan ide, bukan pula sedang tidak ada waktu untuk menuliskannya. Sekalipun sibuk, tak pernah, sehari saja, aku melewatkan untuk menulis. Karena sangat sadar jika berhenti menulis barang sehari, untuk memulai menulis di hari kedua sering butuh perjuangan ekstra memaksa. Capek dong kalau harus terus-menurus main paksa-paksaan.

Sebenarnya, empat hari terakhir ini aku sedang jalan menulis novel mini tentang perjalananku memburu matahari terbit di atas awan. Kenapa novel mini? Karena kalau disebut cerpen, kok panjang sekali, tapi kalau disebut novel kok cuma 5000 kata (perkiraanku nanti sih, saat ini baru kelar sampai 3500). Insyaallah nanti aku bikinin halaman juga di blog ini. Halaman. INSYAALLAH.

Sedikit cerita… kemarin-kemarin, pas lagi getol-getolnya blogwalking nayri tips produktif ngeblog… sempet banget punya target yang cukup prestisius. Namun target prestisius untuk posting sehari satu artikel, nampaknya sekarang mulai sulit dilakukan. Disamping karena sibuk dengan banyak pekerjaan dari pagi sampai sore yang berlanjut dengan mengasuh santri-santri kecil yang sedang mekar-mekarnya— kan kasihan kalau di tinggal, apalagi mereka sedang lucu-lucunya sangat menggemaskan—. Yah meskipun hanya pelajaran ringan sih yang kuberikan kepada mereka, tapi ternyata cukup melelahkan. Begitulah… mengasuh anak-anak usia 5-7 tahun itu sulitnya duh! benar-benar mengajari saya untuk sabar, dan untuk orang koleris-melankolis seperti aku ini… mengajar santri kecil benar-benar tantangan yang luar biasa. Masyaallah.

Oke selesai curhatnya.

sr-heath-ledger-copy

Beberapa hari yang lalu adik ku pernah berkomentar begini: “Yah sekarang kalo malam hari gak bisa nonton drama korea lagi. Sebel deh!”

“Lho kenapa?” Tanyaku.

“Udah ganti tayangan film lawas, Panggung Sandiwara.”

“Woh begitu?”

Jawaban yang flat banget, maklum aku gak pernah mengikuti acara televisi, jadi aku gak ngerti ada acara apa aja di tivi di jaman sekarang ini. Aku nonton tivi kalau ada siaran sepak bola aja, kadang malah terima streamingan kalau Chelsea lagi main tapi tidak tayang di tivi lokal. Jadi akan tayang lagi film lawas itu?

Mengenai film panggung sandiwara, aku lupa sama sekali kalau pernah nonton film itu, pernah belum ya, kayaknya pernah di jaman tv masih dua warna. Soalnya aku familiar banget dengan judulnya yang berbau musikalisasi kata. Atau mungkin karena aku ngoleksi lagu-lagunya Ahmad Albar, yang bener mana aku kurang yakin. Dan hallo… disini ada yang ngefans sama Ahmad Albar yang berambut kribo itu? tos dulu.

Nah mumpung masih pagi, aku coba mempolitisasi lirik lagu yang populer tahun 90-an itu. Lagu yang di luncurkan dalam album Menanti Kepastian pada tahun 1992. Jangan baper loh…! Apalagi hanya karena baca tulisan Menanti Kepastian.

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani

Dunia ini memang benar-benar panggung sandiwara. Lihat saja siapa presiden Amerika sekarang? Badut yang konyol itu telah memutar balikkan fakta dan berhasil membuat hampir semua lembaga survei kelimpungan kalang kabut. Siapa sangka Donald trump yang di prediksi akan kalah telak oleh Hillary Clinton yang mengantongi angka statistik kemenangan sebanyak 85% malah jadi pemenangnya, kelewat menang pula.

donald-trump-choking

Atau siapa yang menyangka tim semenjana dari pelosok Inggris, Leicester City yang seluruh sekuatnya tidak lebih mahal dari harga seorang Rahemm Stearling itu pada bulan Mei kemarin berhasil menjuarai Liga Primer Inggris? Tim yang di tukangi Claudio Ranieri bermaterikan pemain antah berantah macam Riyad Mahrez, Jammie Vardy, Danny Drinkwater, Ngolo Kante dll. (Sengaja tidak disebut semua, di kira lagi bahas starting XI) itu berhasil mengukir dongeng seindah Cinderella, Siapa Sangka?

Dibandingkan kisah Mahabarata atau Tragedi Yunani, atau jatuhnya Troya, kememangan Donald Trump dan Leicester City itu menurutku lebih epik karena merupakan peristiwa terkini yang kita menyaksikannya bersama sejarah itu di tulis.

Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan

Kisah kemenangan Donald Trump membuatku yakin, setiap kita mendapatkan satu peranan yang harus kita mainkan. Aku sebenarnya tidak begitu peduli siapa yang akan jadi presiden Amerika atau siapa yang akan memenangkan Pilkada di Jakarta besok. Meskipun aku pernah mengatakannya bahwa aku menyukai Donald Trump. Yaitu ketika dunia sedang memusuhinya, ia tetap tegak dan percaya diri dan tetap menjadi dirinya sendiri. Itu yang aku ancungi jempol. Dia benar-benar bisa memainkan peran seperti Joker di The Dark Knight. Ia dengan tegas mampu memainkan The True Villain. Joker maniak jenius yang meskipun licik, dia punya banyak penggemar. Karena sepenuh hati menjalani perannya sebagai musuh Batman.

Ada peran wajar ada peran berpura-pura

Jadi apa peran kita dalam panggung sandiwara ini? Ada banyak peran wajar bisa kita ambil. Menjalani kehidupan dengan normal. Biarkan semua let it flow mengikuti arus. Atau kamu bisa mengambil peran yang berpura-pura. Menyembunyikan identitas aslinya dan memasang banyak topeng kemunafikan. Jadi penjabat yang bermuka manis di depan publik dan menjadi drakula di malam hari. Atau menjadi karyawan yang mengharapkan bayaran tinggi tapi bekerja setengah hati ketika tidak ada atasan dan mendadak terlihat paling rajin dan serius ketik atasan lewat. Atau menjadi guru yang penting berangkat mengajar dan tidak mau tahu muridnya paham atau tidak.

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Jadi mengapa kita harus bersandiwara? Mengapa? Karena mau tidak mau kita harus memainkan peranan ini karena dunia ini adalah panggung sandiwara. Siapa yang memainkan dengan sepenuh hati perannya, niscaya dia akan mendapat penilaian yang bagus dari sutradara dan penonton sandiwara ini.

Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran tercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Kita pasti mengenal seseorang yang bener-bener kocak. Yang entah bagaimana dia bisa begitu saja kocak. Kadang malah kita sudah tertawa terbahak-bahak hanya karena orang itu tertawa.

Dunia ini penuh peranan. Peran di layar kaca pun seolah telah menjadi jembatan kehidupan. Dari menonton di layar kaca kita sering ikut menitik kan air mata atau menjadi gemes dan ribut sendiri (melihat pengalaman temen). seperti peran tercinta bisa bikin orang mabuk kepayang.

Kadang aku tak habis pikir sama gadis-gadis yang sering nonton KDrama, bisa bisanya mereka mantengin cowok-cowok cantik di layar itu tanpa berkedip, bisa bisanya? Tapi sebenarnya tidak hanya kaum hawa yang bisa dibuat mabuk kepayang oleh peran televisi. Aku punya temen… sahabat… yang mereka (bertiga) juga gila karena cewek-cewek cantik di film Kdrama, dan kegilaannya itu seperti menular. Tapi untung aku mempunyai standar, soal gadis di Kdrama, aku cuma suka dan mau copy tuh film kalau gadisnya Park Shin Hye dan itu cewek yang jadi hantu di Let’s Fight Ghost… itu namanya siapa sih? Ah sudahlah jadi ngelantur begini. Mendingan puter musiknya Ahmad Albar dan nyanyi.

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Denia ini penuh peranan
Dunia ini bafaihkan jembatan kehidupan
Mengapa kita bersandiwara

Jadi gimna, Gan? lagunya enak banget kan, liriknya mudah dan tak bersayap namun musikalisasinya dapat… bukan begitu?
Selamat berakhir pekan dan selamat memainkan peranan.

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

4 thoughts on “Mainkan Peran Sepenuh Hati Di Panggung Sandiwara Ini”

  1. Mungkin ada saat dimana orang-orang perlu topeng untuk bertahan. Memainkan sandiwara yang orang-orang lain suka agar kita dapat terus merasa berkawan.
    Tapi orang yang tidak pakai topeng memang lebih bahagia, mungkin. Karena mereka tidak perlu memainkan sebuah peran yang kadang penuh kemunafikan..
    Jadi peran mana yang ingin kita mainkan?

    Like

    1. Tapi buka dulu topengmu… Buka dulu topengmu.

      Ngerti Itachi dalam film Naruto? Orang yang pilih-pilih mungkin cocok memainkan itu.

      Ada saat tertentu ketika menjadi idealis merugikan diri kita sendiri. Sebagian orang, dan rata-rata pemain figuran adalah menjadi pragmatis.

      Dan seorang Itachi adalah seorang idealis yang juga pragmatis. Dia idealis-pragmatis.

      Jadi saya menjawab pertanyaan itu begini : kamu ingin memainkan peran apa? Jadilah!

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s