Kehidupan Dalam Pusaran Waktu

Sedetik tak mampu berpaling. Mengerjap, mengerling dan bertahan. Pikiranku kembali menembus ruang dan waktu, menduga-duga apa yang kemudian akan terjadi hari ini, esok hari dan suatu hari nanti. Dimanakah hati ini nanti akan tertanam? Untuk menancapkan akarnya, menulis syair kehidupannya dan mngukuhkan dirinya dalam legenda. Dan pada siapakah dia akan melabuhkan hatinya, mencurahkan jiwanya dan hidup disisinya.

Sedetik kemudian aku terhenyak, terjengkang, terseret masuk kedalam alur waktu melewati masa kini dan terus mundur jauh ke belakang. Tubuhku berputar-putar, bergetar hebat dan perut rasanya seperti dipilin dan ingin memuntahkan segala isinya.

Tepat saat aku hampir mencapai titik nadir, titik terakhir, titik terkuatku untuk dapat menahan segala sensasi dari berjalan bolak-balik menebus waktu, aku terjatuh di suatu tempat yang sangat kukenal. Di tepian sungai berair jernih yang mengalir membelah hamparan luas sawah yang hijau. Jauh di tepian sana, bertahan dengan gagah pohon-pohon mahoni yang besar. Mahoni-mahoni itu membentuk barisan menjadi bukit yang sunyi.

Di sudut alam luas yang lain, di sebelah barat, terdapat hamparan tanaman jagung berderet hingga sampai ke sela-sela bukit. Palawija itu mula-mula nampak menjuntai-juntai dan mengayun ayun bersama angin lembut hingga memudar dalam putih dan kelabu karena kabut yang tebal dan terpantul siluet di bawah matahari yang hampir mencapai ufuk barat.

Kemudian di tepian sungai itu, duduk seorang remaja di atas batu granit besar dan berwarna hitam yang permukaannya bergerigi dan bergelombang dan hampir menyerupai gundukan gunung, atau lebih tepatnya gundukan batu itu adalah sebuah miniatur gunung berapi yang tingginya hanya sekitar 3 meter dan membujur kemudian melandai masuk agak kedalam sungai. Laki-laki itu masih sangat muda sekitar 16 tahun. Rambutnya hitam kemerah merahan karena sinar pantul matahari. Ia mengenakan sweeter merah dan celana jeans hitam. Kepalanya nampak menunduk, memandang jauh kepada kedalaman air yang sedang mengalir dan bergemuruh. Yang gemriciknya penuh dengan nada harmoni dan selaras dengan pemandangan sore yang jingga dan senyap, damai penuh ketenangan.

Bersama harmoni air, desahan angin dan kicauan burung anak itu bersenandung.

“Kehidupan akan terus mengalir bagaikan air sungai ini. Tiada akan terputus alirannya meski kemarau musimnya. Sejuk dan dinginnya air ini akan senantiasa memabasahi kerongkongan bagi siapa saja yang kehausan.

Hidup akan terus memberi arti. Sepanjang waktu, sepanjang usia tiada akan ada hal yang tak berguna selama manusia masih bisa menghargainya. Hargai kehidupan dan waktu yang telah diberikan kepadamu untuk memutuskan apa yang akan engkau lakukan saat ini dan esok hari. Dan bila kau gelap sama sekali tentang hari esok, jadilah sungai yang mengalir pada kodratnya. Dan bila kau sedang terang maka putuskanlah untuk membuat legenda kehidupan.

Jangan kau sesali, setiap kecil aliran kehidupan selalu bernapaskan bumi. Saat kau melihat lagi ke masa ini kau akan memahami betapa berharganya waktu. Dan waktu tak akan pernah menunggu untuk terulang. Sesal tiada akan ada arti melainkan jika dapat kau ambil hikmah daripadanya yaitu sebagai pelajaran yang berharga dan guru yang terbaik bagi kehidupan.”

Selesai bersenandung anak itu berpaling dan menatap tajam langsung ke arahku, melihat jauh ke dalam jiwaku. Detik berikutnya sesuatu bergerak menarik dari pusat perutku, membentuk gelombang spiral yang berpusat pada pusar dan menghisapku kembali dan melemparku ke waktu demi waktu yang telah ku lalui hingga aku kembali pada masa ku saat ini.

Aku tersentak demi memahami pusaran waktu. Anak muda 16 tahun itu adalah aku 8 tahun yang lalu.

Ya aku harus terus memberi arti untuk hidup. Seandainya langit tak akan memberiku sebuah arti lagi, maka akan ku cari sendiri arti di balik angin dan aliran sungai yang tiada henti arusnya dan terus mengalir dari tempat-tempat yang lebih tinggi.

*Note :
— Ketika aku lagi capek pikiran, capek hati dan merasa kehilangan gairah, aku sering menyempatkan membaca tulisan yang aku tulis dalam buku “Complicated Pena” ini. Kemudian kembali merengkuh semangat yang sama ketika aku berani menantang ketidakmungkinan yang pernah ku alami. Aku tahu ini bukanlah sebuah prosa yang berbunga-bunga. Bukanlah sebuah pemikiran filosofis nan idealis. Namun aku pernah menaruh jiwa dalam tulisan ini, aku pernah mempertaruhkan cinta dalam semangat ini. Dan aku menyalin untuk blog jejakandi yang semakin aku cintai untuk melengkapi sebuah kepingan yang dulu pernah kucari. Aku Andy Riyan menyapamu semesta.

— Tak ada gambar illustrasi, karena memang sulit untuk di ilustrasikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s