June, 11th 2013
15:30

wp_20161125_18_53_02_pro-copy

Pengapnya udara di penghujung sore itu kian menambah sesak di dada, pikiranku yang sudah sama kacaunya dengan merindu pun serasa menambah penuh seisi kamar yang hanya di terangi oleh seberkas sinar lampu itu. Dan gelap yang ku tatap sekelam ujung lemari yang penuh dengan pakaian yang harus aku kemas untuk segera pergi mengasingkan diri, menenangkan pikiran yang telah segelap tinta yang dengan anggun menetap di ujung meja itu, tinta yang setelah sekian lama menemaniku dalam mengilustrasikan pikiran-pikiran gila ke dalam dinding kosong di depanku.

Baru saja aku merasakan kebahagiaan yang tak terduga. Kebahagiaan yang hanya bisa di raih dengan tangan terbuka, tanpa mengharap sesuatu akan kembali, tanpa menuntut balas untuk dapat menikmati lagi. Kebahagiaan ini jelas-jelas terlukis dalam lelahku saat ia mengantar jiwaku memasuki relung tidur.

Tapi kebahagiaan itu akhirnya terbawa arus mimpi dan menguap setelah ku terjaga sebab, aku tidak menyadari ada sesuatu yang salah yang tak terlihat oleh mataku yang biasanya selalu cerdik menatap. Mata nyalangku itu ternyata dapat di kelabui oleh obsesi. Dan obsesi ini kian membutakan mataku, menjadi terlampau jumawa oleh penuhnya kegemerlapan cahaya. Ya… aku akui kegemerlapan cahaya itu terlalu membuai mataku untuk terus mengawasi sisi gelap yang kumiliki. Padahal bukankah aku seharusnya berjalan menjemput gelap? Bukankah seperti itu yang sedang aku jalani? Berjalan menjemput gelap. Melewati seluruh lorong yang sunyi, yang belum ku ketahui di mana ujung itu akan berakhir. Lorong yang hanya masih aku yakini akan berpintu di ujung dengan cahaya yang indah yang meskipun menyilaukan mata ia tak akan membuat mata menjadi buta karena setelah penantian dan perjalanan yang panjang.

Ya itu kesalahanku. Seharusnya aku menyadari… seharusnya tak mudah bagiku untuk melewati jalan yang ku pilih. Seharusnya aku menyadari, saat aku pergi mengunjungi tempat dimana aku menggantungkan mimpi, bukan di sisi ini aku akan berhimpit menyatukan serpihan yang masih kucari. Bukan di sisi ini aku akan menyatukan serpihan yang belum kutemukan. Seharusnya sebelum menyatukan serpihan yang berwarna merah muda ini aku harus menemukan terlebih dahulu serpihan hijau yang mampu memberi kehangatan, kelembutan dan kedamaian. Seharusnya aku menyadari itu tak wajar karena berjalan terlalu mudah. Karena lelah aku pun lengah.

Dan tenggorokanku kini semakin kering setelah menyadari betapa gersangnya jalan yang akan aku lewati. Setelah gunung-gunung api ku lalui, kini terbentang gurun-gurun di depanku. Gurun pasir yang sangat luas dan jauh —sejauh aku mampu memandang— tiada rumput yang tumbuh, tak ada stepa, tak ada sabana tempat embun-embun kan bernaung. Hatiku semakin bersedih dimana tetes embun pagi akan kudapatkan untuk membasahi tenggorokan ini?

15:49

Setelah semua selesai ku kemasi; dokumen skripsi, notepad, pencil, hand drawing, kertas, bolpoint, ransel. Aku memberikan sentuhan terakhir pada kertas-kertas yang tertempel di dinding. Kertas-kertas yang selama ini membuatku banyak belajar. Kertas-kertas yang penuh cerita.

Sepatu putih ku pakai. Tas ransel ku gendong. Tatapan terakhirku pada ruangan ini tertuju pada bendera biru yang tertempel di dinding dengan singa sebagai maskot utama. Lalu aku mematikan lampu sebelum ku kunci pintu kamar itu… hemmmm… aku menarik nafas dalam dalam… SAATNYA PERGI.

Dengan motor buntut aku bertolak dari kota kenangan dengan semangat yang ku paksakan dalam-dalam untuk tetap tegar dan kuat. Jaket hitam, celana dan sepatu putih, penutup kepala dari wool hitam putih dan helm sedikit membuatku tenang di Juni yang kelabu yang langit pun enggan berwarna biru. Hari yang buruk itu mengiringi langkahku menerobos kerumunan kota.

Belum jauh aku meninggalkan kota gerimis turun demi membasahi tubuhku. Rintik-rintik datang menyerbu dari langit yang kelabu. Sekawanan pengendara banyak yang berhenti di jalan dan buru-buru mengenakkan jas hujan. Tapi aku tidak melakukan hal yang sama. Visiku mengatakan tidak akan terjadi hujan yangg deras; ini cuma gerimis yang rindu terhadap petualanganku. Gerimis ini adalah jawaban. Dengan deru angin yang melawan kecepatan sepeda motor, aku melihat langit, tampak gelap dan sangat pekat. Lagi-lagi visiku mengatakan ini tidak akan hujan deras, ini adalah jawaban rindu gerimis terhadap petualanganku. Dan benar saja, setelah 2 jam mengemudi, hujan tak juga turun.

Aku kini menerobos melewati kota tetangga. Hari sudah menjelang malam. Gemerlap lampu-lampu kota menerangi jalan yang licin dan basah itu. Serbuan angin mulai terasa menusuk tubuh hingga ke tulang-tulangku… DINGIN! Gila dingin sekali…!

Di penghujung kota tetangga aku terjebak kemacetan, sekitar 10 league di depan ada perbaikan jalan. Perbaikan jalan ini sepanjang 20 league ke depan… sialan…!! Tanpa pikir panjang instingku menyuruh aku mengambil sisi kanan. Benar saja sisi kanan kosong tak ada mobil satupun… tapi di kejauhan sana puluhan truk berjalan melawan arahku… Ya sudah aku terjang saja jalan ini… Melalui sisi-sisi yang sempit aku menerobos kemacetan lalu lintas. Setelah hampir selama 45 menit aku bebas dari kemacetan langsung ku pacu motorku dengan kecepatan tinggi…

#Dipersimpangan jalan…

TAMAT???

Aku tidak punya memori tentang kenangan ini. Aku pun tidak tahu mengapa buku yang ku beri judul Catatan Pena Andi Andi Lumut itu hanya menuliskan ini sampai disitu. Aku tak yakin ada halaman yang hilang, sebab jilidnya masih rapi dan masih utuh. Entahlah!

andilumut.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s