Teman Berjalan (2)

Ketika pertama kali bertemu, aku tahu engkau berbeda, teman. Jutaan jiwa telah berjalan, berkelana kemana kaki melangkah, memandang kemana mata melihat. Aku tahu engkau akan menjadi sahabat. Bukan seorang yang sekedar tegur sapa kemudian sepintas berlalu. Bukan jiwa yang lewat yang dalam ingatan tak pernah mengingat.

Sore itu, simponi ranting-ranting yang terdengar bergemerisik oleh angin menandai pertemuan kita. Dan tarian daun-daun berguguran yang menjadi latar belakang kesahduan itu.

Aku lupa, apakah kita tersenyum saat itu? Tapi yang ku ingat kita tak banyak berbicara, melainkan beberapa patah kata seperti perkenalan biasa. Dan aku tahu, teman, kita akan bertemu lagi. Aku tahu karena seperti yang kelak kau katakan padaku di malam kita merajut impian-impian kita. Bahwa kamu dan aku telah menyentuh perasaan yang sama : Menyentuh kehilangan; menyentuh kehampaan. Kita menceritakan luka, orang yang sama-sama baru saja berpisah dari sahabat kecil dan kita, seperti yang kelak terjadi, bersama-sama mengobatinya. Dan simponi angin yang berbisik dan tarian daun-daun berguguran itu adalah : simponi tentang kebahagiaan ketika kau datang.

Nol Tiga Dini Hari

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

2 thoughts on “Teman Berjalan (2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s