Spoiler Memburu Matahari Terbit Di Atas Awan kali ini di posting untuk mengingat momen-momen sebelum (rencananya) reoni akhir tahun ini. Mengingat cuaca yang sangat ekstrem dan kondisi waktu yang masing penuh pertimbangan, aku sih tidak begitu berharap dapat reoni tahun ini. Meskipun pengalaman nanti akan berbeda, spoiler kali ini semoga bisa mengobati kerinduan.

Firefox_Screenshot_2016-11-11T17-57-55.845Z.png

Simak Juga Memburu Matahari Terbit Di Atas Awan

Casting : All member of Math Adventure
Sub Plot : Tangisan Di Belantara

***

Pemandangan langit malam begitu jelas, gemintang menyebar di angkasa luas. Sejauh mataku memandang, rumput-rumput gelap berbaris memanjang ke bawah dan menyebar di lereng-lereng menyamarkan bentuk bukit-bukit yang bergelombang. Diantara itu, gundukan belukar tumbuh dan membentuk siluet di bawah temaram bintang-bintang, menggerombol dalam kelompok-kelompok arogan dan menyeramkan.

Setelah insiden tumpahnya air panas itu, aku duduk menyendiri menghadap ke arah timur. Fajar belum juga terbit, malam sedang merangkak menuju puncaknya. Angin yang mendesir terdengar begitu tenang membawa pada simponi kesunyian malam. Senandung sunyi yang merangkak itu pelan-pelan menghayutkan jiwa dan pikiran untuk ikut menyatu dalam keheningan yang teramat lelap, seperti bersetubuh, terlupakanlah segala penat dan pikiran yang berbeban.

Sementara aku duduk menunggu sahabat-sahabatku yang tengah menikmati minuman penghangat badan, aku pun tak lepas memperhatikan langit dan kelembaman udara. Dalam hati beberapa kali mengucap puji syukur, merasa beruntung, mendaki di saat yang tepat. Untuk bulan November, udara saat itu tidak begitu dingin. Untuk sementara kami aman dari badai padahal curah hujan sedang deras-derasnya. Kelak kami tahu, sehari setelah kami turun, tersebar informasi di ketinggian dimana saat ini kami berada, tengah terjadi badai besar. Sementara jalur pendakian dari jurusan yang lain sedang terjadi kebakaran. What a lucky we are!

“Ndi ayo lanjut…” Gumam Risna, tepukan tangannya di pundakku sedikit mengagetkan membuyarkan kemesraanku, bercinta dengan sunyinya belantara.

Semua orang pun sudah berdiri, melipat matras dan membereskan sampah yang tertinggal ketika kemudian secara mengejutkan udara berhembus membawa titik-titik embun malam. Terjadi sedikit kepanikan, karena khawatir kehujanan lagi, maka kami bergegas secepat kami bisa dan langsung bahu-membahu menapaki jalan setapak yang penuh debu-debu ringan menuju Sabana I.

Tidak memerlukan waktu lama, kami pun sampai di tanah yang luas serupa lapangan yang banyak ditumbuhi rumput-rumput tebal disana-sini, di beberapa tempat sesekali nampak pohon-pohon Edelwais yang kelabu. Di dataran remang-remang itu keindahan gunung menjadi semakin menakjubkan. Gundukan-gundukan bukit nampak begitu anggun karena seperti terlihat berbatasan langsung dengan langit malam yang pucat. Di salah satu celah itu, bulan sudah sedikit tenggelam di barat, dengan nyayian gunung seperti yang di tulis dalam lagu-lagu purba dan dikenang dalam ingatan yang samar-samar. Beberapakali angin lembut bertiup, bergemuruh ringan seperti gema lautan yang terdengar dari kejauhan.

“Bikin tenda di sini aja, Mas.” Saran salah seorang rombongan pendaki yang kami temui di camping ground itu. Terdapat sekitar tujuh tenda di pojokan-pojokan lapangan dengan cahaya yang tergantung di langit-langit tenda. Tapi hanya ada beberapa orang yang masih terjaga.

“Kami harus mengejar sunrise, Mas,” Jawabku. “Sepertinya kami harus terus lanjut, mumpung masih ada tenaga tersisa. Masih seberapa jauh kira-kira… POS berikutya?”

“Lihat itu…” ia menunjuk pada sebuah puncak bukit di sebelah kanan bulan yang sedang tenggalam “Di balik puncak itu masih ada puncak lagi. Nah sebelum puncak nanti ada camping ground lagi disana.”

Aku pun memperhatikan bukit yang dimaksud. Bukit itu lebih gelap daripada malam, paling tinggi dari bukit-bukit yang mengelilingi dataran remang-remang itu. Semula aku berpikir kami hanya perlu menerobos di tengahnya. Namun aku tertegun ketika melihat barisan lampu kelap-kelip sedang merangkak pelan di titik puncak.

“Wah masih jauh dong.”

“Enggak, Mas paling beberapa menit aja.”

“Ah beberapa menit aja, Ya?” Kataku membatin. Beberapa menit berarti satu jam lebih, aku sudah sangat hapal dengan kata-kata model begini yang sering diucapkan oleh sahabat pendaki.

Akhirnya kami pun berpamitan dan kembali menyisir semak-semak belukar yang menanjak tingi. Semula perjalanan terasa mudah. Perjalanan yang sangat menyenangkan—setidaknya bagiku— di temani semilir angin yang berhembus, di bawah temaram bintang-bintang, menyisir lereng terjal sisi luar bukit yang jika berbalik kami langsung menghadap pada pemandangan langit dengan awan tipis di bawah kaki-kaki kita yang tertembus dan menampakkan kerlip lampu-lampu kota. ‘Oke hanya beberapa menit’ kataku mengulangi lagi dalam hati.

Ketika aku menyadari aku hanya berjalan berdua dengan Isma di barisan pertama dan beberapakali terasa menunggu terlalu lama, aku pun berpikir perjalanan ini tidak mungkin di lanjutkan malam ini. Kami harus menuju tempat terdekat untuk mendirikan tenda. Haris dan Zuhri yang paling kuat pun seketika terkapar ketika mencapai tempatku duduk menunggu. Kemudian Satio, Musa dan yang lain pun muncul dengan napas yang tersenggal-senggal dan langsung menjatuhkan barang bawaan mereka begitu saja. Satio dan Risna lantas berjalan tanpa barang menuju tempat yang lebih tinggi. Dengan senter yang tergenggam, mereka mencari dan memilih dataran yang sekiranya layak dan bisa di pakai untuk mendirikan tenda. Antara sabana II dan III inilah kami mendirikan tenda sekitar pukul 2 dini hari tanggal 5 November.

Udara sangat dingin ketika itu, namun angin belum berhembus, mungkin— pikir kami aman— karena terlindung dari bukit yang masih menjulang di belakang, yang kelak terbukti salah. Kelak angin berhembus kencang dari arah sebaliknya.

Setelah tenda berdiri beberapa orang langsung jatuh tertidur, dan beberapa orang memasak Mie. Aku menempati tenda di sebelah kiri bersama Haris, Zuhri dan Musa. Para bidadari kami mengambil tengah dan Satio bersama Risna mengambil tenda sisanya (tenda berwujud Sponge Bob yang gendut 😀 ). Setelahnya aku sudah lupa dengan apa yang telah terjadi dan yang tengah terjadi. Dan potongan-potongan ingatan ini terlalu rumit untuk mendapatkan kejelasan, namun begini saja, entah saat itu jam berapa, Haris menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Ndi…! Ndi…! Bangun!”

Dinginnya malam dan capeknya tubuh setelah perjalanan sejauh itu, tentu saja membuat semua orang malas bangkit atau sekedar membuka mata, termasuk aku yang sudah nyaman dengan posisi tidurku. Tapi Haris terus mendesak.

“Itu siapa yang nangis?”

“Hah ngimpi lu… mana ada orang nangis.” Aku sedikit sebal sebenarnya, di belantara begini, apapun bisa terjadi, makhluk apapun ada di tempat ini, mengapa tidak diabaikan saja “Udah tidur aja! Masih lama.”

Haris pun menjatuhkan badan lagi dan mencoba tidur. Potongan ingatan berikutnya Haris bangkit lagi bahkan sekarang menyeretku untuk beranjak dari tenda. Tentu saja aku menolak. Angin sedang kencang-kencangnya berhembus. Samar-samar aku juga mendengar suara rintihan yang bersahut-sahutan.

“Huuu… huuuu huuuu…!”

“Nghaaaa haaaa haaaaa…!”

‘Gilak! Tangisan dua cewek.’

Tapi aku cuek saja, karena memang tidak ada yang bisa aku lakukan, masih ngantuk pula. Detik berikutnya aku sudah lupa dengan tangisan itu. Aku jatuh tertidur lagi. Sampai ketika tiba-tiba Haris menyeret SB milikku dan memaksa berbagi. Gila! Angin kencang banget begini tenda sampai bergoyong-goyang seperti hendak terbang, aku dipaksa berbagi SB?

Potongan ingatan berikutnya, kudengar langkah seseorang berjalan berkeliling tenda dengan hentakan-hentakan kaki yang menjejak-jejak tanah kuat-kuat sambil merintih keras.

“Ih dingin…! Jalan lagi yuuuk!” Rengekan perempuan itu terdengar dekat sekali, nyaring dan tertekan seperti tangisan yang teredam. Rengekan itu terus berulang-ulang setidaknya 10 kali.

Tenda yang kami pakai itu pun digoyang-goyang, seperti hendak dibongkar dan bermaksud membangunkan kami. Sampai ketika terdengar bunyi tenda di pukul-pukul.

“Cowok cowok! Bangun dong! Jalan lagi yuuuk! Dingin banget ini!”

Aku mengenali itu rintihan Nisa. Kampret! Kan masih jam 3 pagi. Sabar dikit kenapa. Dan aku tidur lagi sampai akhirnya sudah gak tahan lagi karena Musa dan Haris beramai-ramai menggotongku keluar dari tenda.

“Ayo jalan lagi! Kasian sudah pada kedinginan!

IMG_0145.JPG
Momen ketika bongkar-bongkar tenda!
Advertisements

2 thoughts on “[Spoiler lagi] Matahari Terbit Di Atas Awan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s