Bukan Serigala Berbulu Domba

Jika terkenang akan kata-kata mutiara,
bijak seperti kawanan domba
yang merumput di padang stepa.
Seputih bulu domba mutiara katanya
bersih nan melejit dan
menggunggah semangat.

Maka terkisahkan pada diri seorang pecundang.
Serigala-serigala liar yang lapar.

Aku serigala itu.
Seorang pecundang, yang ujung-ujungnya
peduli hanya dengan keadaanku sendiri,
pada hanya jiwaku dan pada
hanya kesenanganku.

Aku seorang pecundang,
mencoba tidak mencintai seorangpun
sebab tak ingin waktuku terbuang sia-sia.

Sang pemenang adalah serigala berbulu domba,
tapi aku
seorang pecundang.

Sebab aku seorang pencinta yang buruk,
tak bisa mengambil hati.
Aku seorang aktor yang buruk,
tak bisa bersandiwara
untuk menyenangkan para drama mania.
dan mereka tidak akan senang
dengan keterusterangan,
mereka tidak akan senang
karena aku tak sekalipun ingin berkorban
demi kata-kata manis.

Bayak darimu memandangku berkharisma,
menawan dan penuh cinta
itu sebab karena kau tak mengenaliku sejak semula.
Aku seorang pecundang, pencinta yang buruk,
aktor yang buruk
dan seorang yang tidak menyenangkan.

Aku bukan serigala berbulu domba
Aku adalah masa lalu yang menyedihkan,
seorang yang paling beruntung
menjadi paling tidak beruntung.
Seorang yang berjalan menuju gelap
untuk memudar dan semakin terlupakan.

Aku adalah ingatan yang mengerikan,
mimpi buruk bagimu karena pernah mencintaiku.
Yang pernah bersinar diantara bintang-bintang,
tapi aku melesat menjadi supernova
kemudian mati dan menjadi lubang hitam.

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s