Teman Berjalan (4)

Di hari yang menentukan itu, kita sampai untuk memandang pada fajar yang menyingsing dikala pagi yang sunyi dan senyap. Hari ketika akhirnya apa yang kita tetntukan telah tiba saatnya. Meskipun aku telah mendapatkan firasatnya, teman, bahwa harinya telah dekat tetapi, aku tak tahu itu adalah yang terakhir kalinya. Itu adalah puncak tertinggi yang kita tapaki bersama. Sisanya adalah cakrawala yang memerah yang terbentuk dari perpaduan biru dan jingga.

Bulir-bulir dingin dari embun yang serupa bola-bola kristal mengantar pada dua jalan yang berbeda, seolah telah rela melepas kita yang dulu adalah aku dan kamu menjadi aku dan kamu sekali lagi. Dan dua jalan di persimpangan itu sama-sama gelap. Mulai saat itu kita melangkah sendiri-sendiri melalui jalan yang kita pilih.

Dan akhirnya ketika aku telah masuk dalam salah satu kegelapan itu, tak pernah lagi ku lihat kau kini. Di setiap aku menengok ke belakang, maka aku berada di sini, duduk di sebuah kursi dengan halaman-halaman kebun dengan sedikit hiasan berupa air yang menggenang disana-sini. Setiap hari aku di sana bersama rinai hujan untuk menuliskan kisah yang kini kututurkan padamu ini. Dan bersama simponi angin yang berbisik aku tuliskan sebuah lagu, dan bersama dunia yang memudar ku nyanyikan lagu ‘senandung ketika kau datang’ selalu.

Nol Tiga Dini Hari

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s