Matahari baru saja tenggelam. Namun, langit sudah gelap sama sekali. Sulit untuk mengatakan akankah nanti langit ini akan bertaburan bintang. Sebab, mendung ini begitu tebal. Sulit unjtuk mengatakannya akankah seandainya nanti mendung ini berlalu maka akan muncul bulan purnama, sulit untuk mengatakannya jika tak membuka kalender penanggalan Qomariah. Dan Ai tidak ingin repot-repot untuk memastikannya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya. Di belakang jendela, duduk diatas kursi membaca-nya, Ai menatap keluar. Ai sedang memusatkan kosentrasi dalam penyatuan jiwanya untuk menyambut gerimis yang ia ragukan akan datang. Ia tak menyadari seluruh dunia akan tetap berjalan dengan atau tanpanya.

Namun pada akhirnya ada satu yang dia sadari: Sejauh apapun Ai berfikir, sedalam apapun ia bisa merasakan, ia tak akan pernah mampu melintasi lautan hati manusia dan ragamnya pikiran mereka. Sekuat apapun intuisinya, ia hanya mampu menyentuh setitik dari samudra hati dan pikiran mereka. Ai yang malang.

“Mungkin salahku,” sesal Ai. “telah meletakan sendi-sendi harapan pada tulang-tulang yang tak kokoh, rapuh dan usang.”

Sudah bukan lagi menjadi sebuah rahasia; semua orang memiliki perasaan yang berbeda. Dan semuanya pasti sadari; begitu lelahnya sendi dan tulang itu untuk kokoh berdiri disaat letih dan tanpa kekuatan yang ikhlas dan murni. Semua pasti sadari begitu mudahnya hati di bolak balikkan, jungkir balik dari timur ke barat utara dan selatan. Tapi Ai harus menderita terlalu banyak untuk menyadari semua ini. Malang sekali, Ai.

Masih menatap keluar jendela, Ai mulai bersenandung setelah mendengar deru angin yang cukup deras menggampar-gampar jendela yang dibuka hanya setengahnya.

Dan seandainya ku temukan bintang di ujung penantianku, aku pasti tak akan lupa kemana aku pernah mencarinya.

Segalanya menjadi berbeda ketika jiwa di penuhi dengan gejolak dan keinginan yang didasari cinta.

Dan andaikan aku menyimpan seseorang untuk dapat aku memberinya arti, aku tak akan pernah tahu sejauh apa aku akan membawanya, tetapi satu hal yang bahkan tak pernah ku bayangkan aku akan menjaganya, siap mati untuk melindunginya.

Pernah aku menyadarinya bahwa langit dan bumi selalu sama untuk menentang keinginanku, malah kini hal itu lebih sering terajadi di dalam otakku, bergulat bersama waktu sepanjang jalan meniti kehidupan ini dengan atau tanpa mereka.

Oh malang sekali, Ai. Sebaiknya ia berhenti menyalahkan cinta. Jangan salahkan cinta jika terkadang ia menjadi merah ataupun hitam, itu sudah seharusnya, karena cinta adalah satu hal yang akan selalu berdinamika saat segalanya berhenti dan mati. Dan cinta selalu akan mengikuti arus permainan.

Cinta tak akan pernah salah karena bahasa, cinta dapat memahami arti isyarat, hanya saja terkadang pemiliknya di butakan oleh asumsi dan ilusinya. Sehingga terkadang ia tak nampak hitam ataupun putih. Abu-abu.

Suatu hari seseorang akan membaca kisah seseorang yang lainnya dan kisah seseorang akan di baca oleh seseorang yang lainnya, sesepi apapun kisah dia, dia tidak akan tenggelam selamanya.

Aku percaya Tuhan maha lucu, sandiwara-Nya luas dan sekehendak-Nya menuliskan kepada siapa ia mau. Aku percaya pada akhirnya Ai yang malang itu akan akan memiliki kisahnya sendiri. Dan aku tak akan menyalahkan siapapun yang memandang kepercayaanku ini aneh dengan tafsirannya sendiri… Berimajinasilah, terbanglah yang tinggi.. aku tak akan menghancurkan mimpi dan imajinasimu tentang semua ini.

Di Balik Jendela (C) Andy Riyan

rain-20242_1280
Pict: from Pixabay
Advertisements

8 thoughts on “Di Balik Jendela

    1. Pengen banget bisa dibukukan. Tapi belum dapet tema dan feel yang bisa meng-cover semua prosa yang sudah ditulis. Belum bisa menyunting dan menghubungkan antara prosa yang satu dengan yang lain. Sederhananya aku belum mampu menyusun semua naskah ini.

      Liked by 1 person

      1. kalau menyusun sendiri belum bisa, semoga nanti ada yang membantu untuk menyusun. kan mayan, prosa udah banyak, bagus-bagus, dan yang penting ada yg mau baca 😀

        Like

      2. Amin (*padahal gak yakin ada yang sukarela mau bantu)
        Hahaha gak begitu peduli ada yang baca atau enggak, kan tulis aja.
        Wiiiih yakin lo!!! Kok rasanya sarkas banget ya… Pasalnya baru kamu aja, mbak yang bilang (prosa ini) bagus-bagus.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s