Matahari Cinta

Pagi ini matahari bersinar cerah, masih terbit dari timur seperti biasanya. Ia adalah keindahan dan keajaiban yang terjadi di bulan Desember. Beberapa menit yang lalu, cahayanya semula hanya samar-samar, membuat kedudukan bukit cemara itu nampak sunyi dari kehidupan. Dan ketika sinar hangatnya merebak cepat, perlahan-lahan kehidupan mulai bangkit.

Beberapa mansuia pintar percaya, sebuah bola keemasan itu tidak lain adalah bola gas yang terdiri dari 74.9 % Hydrogen dan 23.8% Helium yang sebenarnya luarbiasa panas dan mampu membunuh semua kehidupan di bumi dan membakar seisinya hanya dalam hitungan mili detik. Sungguh keajaiban, bola yang dapat mendatangkan kematian itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Terimaksih untuk jarak yang membentang sejauh 150 juta km yang memerlukan waktu 8 menit dan 19 detik bagi cahaya dengan kekuatan supernya untuk mencapai bumi. Tak akan ada kehidupan di bumi tanpanya.

Ah matahari bulan Desember mengingatkan aku pada hari-hari terakhir tahun 2016 dan harapan-harapan baru untuk tahun 2017 yang akan segera datang. Satu tahun penuh ini terhitung dari perjalanan kesetiaan bumi terhadap matahari dari bulan Januari hingga Desember. Sebenarnya sejak kapankah bumi jatuh cinta dengan matahari dan terus berjalan mengintarinya? Entahlah, mungkin sejak 4,5 miliar tahun yang lalu.

Entah bagaimana Matahari dan bulan Desember selalu mengingatkanku pada tahun-tahun penuh kegelapan dan penyesalan, tentang badai dan tentang Matahari Cinta yang pernah membangkitkan harapan dan kehidupan di hati yang telah dingin. Matahari Cinta yang pernah kuharapkan datang sejak ia di sisiku di kala terbenam di dalam keremangan senja dulu sekali.

Simak juga prosa tentang Tahun Kegelapan, Senja dan Penyesalan

Mungkin untuk sekedar menghibur diriku sendiri saja, aku mulai percaya bahwa matahari dan bumi diciptakan dalam satu waktu, dalam satu cinta yang saling mengikat. Matahari telah memberikan intensitas energi cintanya, dan kehidupan di bumi mengkonversi energi itu untuk kehidupan. Mungkin dia sang Matahari Cinta datang untuk membangunkan lagi kehidupan di hati yang sudah sangat dingin itu. Dan kali ini Hati Bumi dan Matahari Cinta terhalang oleh gerhana. Sebuah fenomena, dimana langit menjadi gelap, matahari seolah menghilang dari pandangan. Itu adalah bulan yang bergerak diantara dia dan bumi.

Sebuah gerhana dari cinta yang terluka yang tak akan terus terjadi selamanya. Bukankah sekali lagi matahari dan bumi diciptakan dalam satu waktu 4,5 miliar tahun yang lalu? Seberapa sering gerhana telah terjadi? Gerhana itu tak akan selamanya. Seperti sebuah tirai gelap gerhana untuk cinta yang terluka itu pada akhirnya akan tersingkap, ia harus meyakininya.

Mungkin aku telah di takdirkan untuk jatuh cinta pada Matahari Cinta itu dulu dalam satu waktu sebelum semesta tercipta. Jadi padanyakah aku dulu di takdirkan untuk mencintai? Aku tak mengingat kejadian itu. Atau aku harus mulai percaya bahwa Matahari Cinta yang tidak akan selalu berada disisiku. Seperti ketika malam datang, ia kembali dalam pelukannya. Dan esok pagi ia akan datang kembali. Mungkin! Tapi bagaimana jika seandainya akulah sang malam?

Matahari dan sang malam tidak akan menjadi satu kesatuan waktu layaknya bintang yang dapat berpadu dengan malam, yang dengannya kita mengenal Sirus adalah yang paling terang diantara bintang-bintang yang kita lihat di malam hari. Matahari bukanlah bin… Hei bukankah Matahari adalah sebuah bintang? Seperti halnya Bellatrix satu dari bintang yang membentuk konstalasi Orion?

Ah ya, aku tak perlu merasa kehilangan matahari sebab, ia hanyalah bintang yang tak berpadu pada malam dan masih ada Sirius, Bellatrix atau 70.000.000.000.000.000.000.000 bintang lain di alam semesta. Tapi sekali lagi tanpanya, tak akan ada kehidupan di bumi. Matahari cinta adalah wujud sempurna dari tahun-tahun kegelapan dan penyesalan.

Namun, jika matahari adalah bintang dengan bumi yang mencintainya yang senantiasa mengintari bersama 8 planet lainnya dalam solar sistemnya. Dan bersama-sama dengan solar sistem lainnya dan nebula-nebula yang tersebar bagaikan pasir berterbangan, matahari mengedar dalam Milky Way. Sangat mungkin miliaran bintang lain di alam semesta juga punya sistem tata suryanya sendiri. Sangat mungkin aku adalah salah satu bintang dan err… well, kecuali aku memang telah menjadi supernova.

Ah matahari kini telah naik, menguapkan butiran-butiran embun pagi. Setelah melihat matahari pagi ini, rasanya aku sangat bersemangat dan kembali menjadi manusia yang penuh cinta. Seperti Matahari, cinta adalah sesuatu yang pada dasarnya tidak ada pada diri kita—keinginan untuk bahagia— ia terdiri dari lebih banyak rasa sakit dan penderitaan. Matahari yang berusia lebih muda dari cinta—sebab cinta yang telah menyebabkan matahari dan alam semesta tercipta— telah menjadikan perbedaan sudut pandang antara Galileo dan Gereja dan berakhir dengan Galileo mati dalam tiang Guilloutine. Dan Nicolaus Copernicus dengan ilmu matematikanya telah mengubah pandangan Geosentris dan menjadikan Heliosentris menjadi pandangan paling umum. Bagaimana cinta yang lebih purba? Ia menyisakan lebih banyak misteri.

Jika cinta memang se-purba itu, seperti terciptanya matahari dan bumi karena cinta-Nya. Aku pun percaya matahari yang terlihat kecil adalah sesuatu yang sangat luarbiasa yang pengetahuan tentang cinta sama atau lebih luarbiasa dari pengetahuan kita. Bahwa Matahari Cinta-ku adalah sebuah misteri yang cepat atau lambat akan mengungkap perannya. Atau telah mengungkap perannya menghidupkan hati yang dingin itu.

Jika cinta memang se-purba itu lebih purba dari matahari, aku percaya cinta memiliki lebih banyak warna dari matahari yang telah memiliki berjuta warnanya yang karena menembus lapisan atmosphere terlihat menjadi putih dan menjadi keemasan di kala sudut pagi mebiaskan salah satu warnanya dan berubah menjadi jingga kala senja. Dengan pengetahuan akan lebih banyak warna, aku jadi lebih bersemangat untuk mengungkap misteri Matahari Cinta yang tersimpan. Kurasa Indonesia ataupun Eropa tidak sejauh 150 juta kilometer. Ia pasti dekat.

Matahari Cinta ©Andy Riyan

matahari Cinta2.jpg matahari Cinta21.jpg

Note : Kok Warnanya berubah ya, ah lupa save ke CMYK bukan RGB, aslinya seperti gambar fitur.. ganti nanti lagi sajalah.

 

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

5 thoughts on “Matahari Cinta”

  1. Kalau cinta sepurba itu, perasaan kita sebagai manusia modern tentang cinta, sudah sedalam apa? Sejauh apa pengetahuan kita tentang jaman purba? *lah*
    Btw mas, aku ndak tau ini bacanya gimana –> 70.000.000.000.000.000.000.000 😦

    Like

    1. Seharusnya sedalam lautan yang tak dapat di duga. Tapi ngomongin perasaan ah gelap 😂
      Pengetahuan kita tentang jaman purba mungkin bagi muslim sejauh yang difirmankan dalam Al Furqon, sedangkan umat Kristiani mungkin sejauh yang di yakini dalam kitab penciptaan dan kitab kejadian.
      Hahahaha sudah baca aja Tujuh terus nol nol nol sampai 22 kali xD

      Liked by 1 person

      1. nah!
        kalo injil belum sejauh itu mbacanya, huehehe.
        penciptaan sama kejadian itu nama suratnya juga kan ya kalo gasalah? *lupa*
        eh, ada 22 ya nolnya? aku malah ndak hitung hahahaha

        Like

      2. Kurang paham sih setahuku itu bagian dari Al kitab, dan sering disebut Kitab Kejadian atau dikenal dengan istilah Genesis yang berisi tentang penciptaan.
        Ia 22, ah coba dihitung lagi wkwkwk…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s