Titik Waktu

“Tap… tap… tap…”

Suara titik hujan berdetap jatuh di teras rumah beratapkan fiber beriringan dengan tetes cepat bunyi hujan yang jatuh di lantai halaman depan yang tak terlindung atap, menambah suasana malam yang tenang ini menjadi semakin terasa lenggang.

“Tap… tes… tes… tap… tes… tes.”

Di beranda rumahnya, Ai duduk menghadapi sebuah meja kecil, di atasnya secangkir kopi —masih mengepulkan uap— dibiarkan tak tersentuh. Ai masih terhanyut dengan simponi hujan yang bersambut dengan angin yang mendesau pelan. Pena berada di genggaman tangan kanannya sementara di tangan kirinya, sebuah buku terbuka pada halaman yang masih kosong. Ai nampak jauh memandang pada malam seolah ia bisa menyingkap kabut masa depan.

Masih selalu seperti biasanya, pikir Ai. Tak ada yang berbeda, tak ada kejadian yang hebat ataupun menakjubkan yang bisa membuat pebedaan pada puisi-puisi yang kutulis malam ini.

“Aaaahh…” Ai mendesah pelan. Ai kembali membuka lembaran-lembaran halaman sebelumnya. Ia kemudian terlempar pada keasyikan dan kesusahannya sendiri menghadapi catatan hariannya. Otaknya liar bagaikan berbicara sendiri tanpa pernah mampu Ai kendalikan.

Masih sama seperti hari yang sudah-sudah, masih teratur di garisnya. Kata-kata dalam otaknya mulai berlarian lagi. Masih teratur pada timeline yang silih berganti, saling mengisi di antara kekosongan di sepanjang selang waktu yang terbuka. Tak pernah keluar dari batasan itu. Satu-satunya perbedaan, mungkin, hanyalah caraku sekarang menyikapi seseorang dengan waktu yang kumiliki. Aku tidak akan menatap pada hanya satu titik waktu. Ketika satu titik waktu berhenti, aku tidak akan lagi terpaku padanya, melainkan bergerak menuju titik yang terus berjalan.

“Tap… tap… tap… tes… tes… tes…”

Derai hujan seolah mengamini dan setuju dengan pikiran liarnya. Derai yang sama seperti ketika semua orang mempolitisasi hujan dengan segala sangkut paut terhadap perasaan mereka. Hujan yang penuh dengan senandung dan menginspirasi banyak orang. Juga hujan yang sering membuat orang-orang terjebak dan segala jadwal yang direncanakan terulur bahkan sampai harus ditunda.

“Tap… tap… tap… tes… tes… tes…”

Hujan tak berhenti berdetap. Hujan yang selalu sukses mempresentasikan banyak waktu. Dan di titik waktu yang masih terus berjalan, Ai duduk untuk menulis membuat sketsa tentang kehidupan. Masih sama seperti biasanya, Ai menorehkan tinta dari perasaan getir yang ia sambut dengan secangkir kopi. Masih sama berjalan pada titik waktu yang tak berhenti untuk menikmati setiap detik waktunya meski hingga kopi telah menjadi dingin. Dan entah sampai kapan.

Malam ini pena liarnya menari pada sekeping momen beberapa minggu yang lalu. Menari dan terus menari menguntai banyak kata tentang perjalanan mendaki, mencoba menepis batas zona nyaman. Ia terus menelusuri titik-titik dalam ingatannya dan menorehkan titik-titik itu pada sebuah gagasan, seperti kegiatan men-enkripsi-dekripsi sebuah pola tersembunyi. Dan pada titik ketika perjalanannya membentur badai, Ai tersadar. Bukanlah badai kepingan yang paling berarti dalam perjalanan itu. Tetapi sekeping teka-teki yang tak mampu ia pecahkan hingga saat ini; Belum. Ai terus bertanya-tanya.

“Jikalau semuanya harus berubah, mengapa tiba-tiba?” kemelut kini sedang terjadi di otaknya. Tunggu saja apa yang akan terjadi.

“Sejujurnya aku tak begitu buruk soal teka-teki,” katanya kemudian pada dirinya sendiri “tapi soal menebak perasaan seseorang, well.. kamu tahu… Aku payah!”

Ai menggenggam erat penannya, meremasnya dan kemudian menuliskan ide-nya pada buku itu.

16 Desember 2014, pukul 20:57

Seperti yang sudah ku bilang, satu-satunya perbedaan malam ini : Aku tidak lagi menatap pada satu titik waktu yang berhenti.

Sekeping teka-teki yang sangat berarti untukku itu adalah satu titik waktu yang membuatku berhenti, membuatku tak hanya sekedar rapuh, tetapi membuatku lemah seoalah tak mampu berdiri tegak lagi untuk terus tertawa dan tersenyum.

Tapi itu sudah ku akhiri sekarang. Aku tak perlu menunggu kapan titik waktu itu akan berjalan lagi. Karena aku tidak pernah tahu, apakah titik waktu itu akan berjalan lagi.

Meski aku sangat rapuh, aku sangat kehilangan, aku tak akan mati disini. Dan aku tidak akan pernah kecewa itu terjadi. Aku sudah cukup bahagia mampu menepati sedikit janjiku, aku sudah cukup berusaha membuat titik waktu itu bergerak nyaman, aku juga sudah cukup memastikannya bahwa titik waktu itu aman dengan tak pernah meninggalkannya.

Tak apa-apa, aku baik baik saja. I am the one who always run after tomorrow!

Aku, seseorang yang terlupakan.

Titik Waktu (C) Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

4 thoughts on “Titik Waktu”

    1. Karena aku ingin balas dendam dengan hujan yang pernah meluluh lantakkan semua perjuangan dan usaha ku untuk *eaaaa sensor hanya karena hujan. Semua mimpi-mimpi yang telah aku rajut hancur lebur dan bikin aku seperti sekarang, seperti penyair hampa.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s