Story Of Unfinished Book : Telah Menjadi Debu

Pada suatu pagi aku sempat bertukar kabar dengan seorang teman, seorang penggemar puisi-puisi ku yang dulu sering aku pamerkan. Sejak aku tidak lagi sering memamerkan puisi, dia menanyakan kabar tentangnya. Dia tahu aku masih menuliskannya, tetapi dia tidak tahu bagaimana kondisinya. Andai dia tahu, puisi-puisiku yang sekarang sangat kering dan tidak bernada, mati dan tidak memiliki jiwa. Dia pasti tidak akan mengatakan “puisi-puisimu bagus, An. Aku merindukannya”. Aku merasa sangat tertekan.

Di depan layar komputer aku merenung. Sejenak mengasingkan diri dari kegaduhan yang kualami, mencoba berdamai dengan semua suasana hati. Aku menelusuri kenangan tentang bagaimana meledakkan perasaan dan dengan caranya sendiri puisi mengalir: hadir sangat lincir. If you know how I missed the way I wrote prose and poem; I was suffering too much only to know how love must be started and how it shuld be ended.

Merindukan bagaimana ketika aku mencurahkan segenap perasaan, maka aku merindukan seseorang yang bagaikan kabut pelan-pelan terlupakan. Tidak tahu, apakah aku menyesal sekarang, ketika sadar aku tidak pernah berusaha untuk menghalangi sebuah keadaan dan keadaan itulah yang mengantar hati dan pikiranku untuk melupakannya. Aku tidak pernah benar-benar mencintai seseorang sebelumnya, tapi aneh… Aku dengan begitu saja bisa melupakannya. Seperti apa yang telah terjadi seoalah hanya mimpi. Dan aku terbangun, menyesal tidak tidur lebih lama, tapi andaikan kembali tidur… mimpi-mimpi pun tak akan lagi berlanjut. And as you know precisely, how long you can remember the dreams? Until one hour later? Two? Three? Only five minutes after we woke up. Shameless!

Mungkin benar kata orang, cinta tidak mati karena tersakiti namun cinta bisa mati karena terabaikan. Love never dies because of sufferings but love dies because of ignorant.

Aku mengabaikannya. Aku tak pernah berusaha untuk masuk menjadi bagian dari hidupnya. Rasa sayangku padanya meruntuhkan segalanya. Aku membiarkannya melakukan apa yang ia suka. Tak menunjukkan rasa cemburu ketika ia berada diantara orang-orang yang menyukainya. Aku menunjukkan bahwa aku orang yang bebas. Aku pikir akan menyenangkan jika ia memiliki kekasih yang memberi kebebasan. Dan betapa naifnya… aku tak menyadari arti dibalik kesukaannya memakai jilbab sewarna kuning telur, mengenakkan pakaian yang menurutku sangat norak—bergelimangan warna—yang jika kau ingin melihat pelangi kau cukup hanya memandangnya kapan saja. Aku tak menyadari semua itu sampai semuanya telah menjadi debu.

Betapa bodohnya… ia adalah perempuan sebagaimana perempuan lain di dunia. Ia menginginkan perhatian dan mendambakan perasaan lebih hanya sekedar dicintai, ia yang telah memiliki setiap mili dari jiwaku ingin dimiliki seutuhnya. Ia selalu ingin mencuri perhatian di setiap pertunjukan. Dan… aku tidak seperti ayam tak berkepala, yang begitu saja berlari dengan gila, yang sanggup melakukan apa saja tanpa rasa malu. Leherku terlalu angkuh untuk menunduk dan kakiku teralalu rigid untuk berlutut dan menghambakan pada yang paling kucintai. Mulutku terlalu pelit untuk memuji ia yang semua kekurangannya dapat aku miliki, ia yang kelebihannya senantiasamembuatku jatuh cinta setiap hari. Dan semua keangkuhan dan ketidaktahuan-diriku itu murni karena kebebasan yang melekat pada alam bawah sadarku. Aku tak menyadari sampai semuanya telah menjadi debu.

Aku tak pernah berusaha mendapatkan cintanya. Aku hanya pernah mengungkapkan bahwa aku mencintainya dengan sungguh-sungguh suatu sore di musim pancaroba. Sore itu, sangat jelas aku melihat pipinya merona merah dan matanya berpijar, Oh my dear! It’s the most beautiful face I’ve ever seen, yellowish stars sparkling in her eyes! No no no I never again wish any better than it!. Dan aku merasa cukup dengan itu tak pernah memintanya menjadi kekasihku. Setelahnya aku hanya membawanya melihat sudut terindah yang kumiliki di bumi. However, all those sweet memories got their end only because of my ignorant. Aku tak menyadari sampai semuanya telah menjadi debu. It’sjust ridiculous. Isn’t it?

All those sweet memories… dia pasti menggap cuma gombal! Setelah stereotip yang berkembang, bahwa lelaki suka main rayuan gombal.

But! Hey! I’m not like that!” I screamed like hopeless fool.

Dan sampai hari ini aku masih tidak tahu apa yang terjadi dengannya dan rumor apa yang telah mempengaruhi penilaiannya terhadapku. Aku tak tahu bagaimana mulanya semua ini terjadi. I just remember that she mad when I met her in the noon of November. And all went ruin in the last week of December. Dan di bulan Januari tahun berikutnya semuanya benar-benar telah menjadi debu. All I did and done went to nothing but, she trashed it like dust. And since then, both, poem and prose that I wrote became unfinshed book.

Story Of Unfinished Book : Telah Menjadi Debu (C) Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

10 thoughts on “Story Of Unfinished Book : Telah Menjadi Debu”

  1. gombalan?… aku pikir itu adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki seorang laki-laki bahkan mungkin perempuan. #hahaha #doyangombalan

    Like

    1. Aku tidak terkejut kamu doyan gombal, Mbak. Orang ini punya tanda bintang yang sama dengan milikmu :v
      Yak benar kemampuan itu penting untuk memikat perempuan. Tapi ah ayolah… Aku ingin berbeda. Menggombal itu pekerjaan yang melelahkan. Harus bersandiwara dan segala macam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s