Berperang Melawan Dendam

Pernah aku berdiri pada keadaan yang salah. Wait! I’m not too eager dealing with judgment about the truth and false. Aku tak terlalu berhasrat untuk menilai sesuatu sebagai hal yang benar atau salah. Kalimat pertama itu aku ubah menjadi begini saja: Pernah aku berdiri pada keadaan yang aku tak pasti. Atau begini saja, pernah aku berdiri pada keadaan yang membuatku tak pasti. Yaitu ketika semua yang ku hadapi mulai menampakkan ilusi-nya. Sesuatu yang terdengar bijak namun berbalut kepalsuan dan sesuatu yang baik namun berlumuran dengan kotoran. Aku berdiri pada keadaan bimbang atau keadaan yang membuatku bimbang seperti sebuah kapal layar yang terombang ambingkan ombak tanpa nahkoda.

Suatu hari, well… suatu hari suatu ketika di siang hari yang kelabu. Tiada sinar matahari yang menembus mendung di langit dan jatuh di bumi. Tetapi tidak cukup gelap, lebih seperti warna yang telah mati. Keadaan itu sedang menggerogoti pikiran, yang sesungguhnya adalah nahkoda dari kapal yang berwujud diriku. Sementara keadaan itu juga tengah menyelimuti hati, yang tidak lain adalah peta hidupku yang digunakan untuk bernavigasi melintasi samudra yang terbentang penuh misteri.

Perasaanku tak terhapuskan, pikiranku tak tertenangkan. Aku pun berlayar meninggalkan tanah tempatku berpijak, meninggalkan kenyataan dimana semua realita terjadi. Kenyataan dimana Hukum Newton berlaku, benda yang jatuh pun menjejak bumi. Aku berpaling darinya menuju negeri yang aku tak tahu itu negeri mana. Namun ketika kau terbang, berapapun nilainya, besaran masa dan gravitasi tak akan melukaimu lagi.

Dengan layar terkembang kapalku melaju di hamparan samudra yang luas. Pandanganku senantiasa mengintari apa saja, seperti bulan yang kehilangan lintasannya, ia tak hanya mengintari bumi, melainkan Jupiter dan Saturnus juga. Mars pun tak ia lewatkan, bahkan hingga tujuh kali telah ia kelilingi. Aku melihat bulan merah memendarkan cahaya matahari di atas cakrawala. Cahaya yang telah ia simpan sepanjang hari, kini memantul di lautan gemerlapan seperti sinar abadi yang tak kan gelap dan memudar. Awan berarak yang menggantung di langit membuat suasana menjadi mempesona sejenak lupa pada kebimbangan yang tengah melintang. Kemanakah aku akan berlayar? Kemanakah perahu ini akan berlabuh? Dimana saja kah perahu yang tanpa cadik ini akan berlabuh? Aku pasti gila membayangkan perahu sebesar rumah dengan 7 keluarga memerlukan cadik? Akankah perahu ini nanti akan melewati hutan bakau? Rawa-rawa? Atau berlayar melewati celah-celah sempit di antara bukit-bukit tinggi dan lembah-lembah sunyi yang tenteram dan menenangkan? Aku pasti gila membayangkan perahu sebesar rumah dengang 7 keluarga bisa berlayar di perairan dangkal. Ternyata bukan hanya Hukum Newton yang tak berlaku lagi, hukum sebab akibat pun tak berlaku di sini.

Beberapa menit kemudian, pertanyaan-pertanyaaku mulai terjawab. Aku berdiri di atas kapal, bukan di buritan, bukan di haluan. Aku berdiri di puncak tertinggi dari kapal, di atas tiang bendera dan melihat pada pemandangan yang luas lalu seperti kamera yang terpasang di drone, pemandanganku mengikuti film itu: terbang ke angkasa melihat bukit-bukit berbaris dari ujung yang paling tinggi kemudian secara tiba-tiba menukik ke dalam lembah. Melayang-layang, meliuk-liuk seperti burung walet menjelajah tepian-tepian dan muara-muara pantai. Kemudian melihat rawa-rawa gelap di negeri entah. Aku tengah gembira tetapi tiba-tiba kapten kapal mengajakku kembali agkat sauh dan melayar ke utara.

Kini bulan ada di sebelah kananku. Angin berhebus membelai wajah yang telah sayu dan mulai merenta ini. Angin yang sama mengibaskan rambutku seperti kekasih yang senang mengacak-acak rambut gondrong ini dengan sangat lembut. Udara yang sejuk pun membantu pernafasan untuk bermeditasi menuju kedalam kedamaian jiwa seperti suara musik, mengalun lembut meresap ke dalam secara perlahan. Dendam yang sangat kejam tengah menguasai emosiku yang tak stabil. Dan dendam yang sama itu kini tengah berperang sendiri dalam batinku. Aku tak pernah bisa menuntaskan perasaan sakit yang melanda. Hingga perang itu menjadi semakin membara seperti perang yang di kobarkan oleh Thariq bin Ziyad di Jabal Thariq setelah sebelumnya membakar kapal-kapal kaumnya sendiri dan disebut gila. Perang itu sendiri behasil melepas kemarahan yang termat sangat, dendam yang teramat kejam. Kadang aku merasa sangat benci terhadap sesuatu dan dendam itu selalu bertarung sendiri di dalam kepalaku, seperti saat ini. Aku seperti sedang bertikai, dua panglima besar sedang salingmembantai. Kepalaku sedang mencari cara untuk melampiaskan dendam itu. Otakku berfikir dan bekerja lalu dengan sepontan otakku juga menemukan jawaban. Kemudian jawaban-jawaban itu saling beradu dan bertempur hebat dalam pikiran yang kalut. Dua panglima paling berbahaya itu sama-sama mati. Keduanya tidak ada yang menang dantidakada yang kalah. Otaklah yang menang dalam menumpas dendam. Sehingga kebencian yang amat mendalam terhadap seseorang atau sesuatu selalu berakhir.

Kini kapal berlayar pulang. Semua hukum fisika di kembalikan. Aku kembali menjejak bumi dan bermaksud untuk mencumbui imajinasi lainkali lagi. aku tak berniat untuk kembali berpijak pada keadaan yang membuatkutak pasti. Namun andai itu tak bisa di hindari, mungkin aku akan menggila seperti kali ini.

Berperang Melawan Dendam (C) Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

2 thoughts on “Berperang Melawan Dendam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s