Suatu sore di hari sabtu aku berjalan-jalan menyusuri kota yang ku kenal baik setiap sudutnya namun tak ku kenal namanya. Kota itu telah tercipta dalam fantasiku sejak lama. Lampu-lampu akan menyala ketika gelap karena mendung menyelimuti kota itu atau ketika keremangan senja telah menjemputnya.

Seperti biasanya ketika aku menjelajah kota itu, aku berjalan sendirian di antara keramaian. Hiruk-pikuk yang sangat aku sukai : sedikit kendaraan yang berlalu-lalang, kalaupun ada lebih banyak kendaraan, mereka tidak akan membuat kemacetan lalu lintas dan membuat keributan yang sangat berisik yakni membunyikan klakson. Membunyikan klakson di kota itu termasuk kejahatan moral yang bisa dipidanakan.

Orang-orang akan sangat berhati-hati, dan sepanjang ingatanku akan kota itu, bunyi klakson hanya pernah terdengar 3 kali. Insiden pertama terjadi ketika seorang anak muda yang sedang terburu-buru tengah menyebrang jalan tidak di tempat seharusnya, ia menyebrang 4 meter dari Zebra-Cross di sekitarnya. Ketika bunyi itu terdengar, semua orang menoleh ke arah kejadian. Yang sedang duduk-duduk santai menikmati kopi lantas berdiri menjulurkan leher mereka, berlomba-lomba siapa lebih dulu menengok yang akan menjadi juaranya. Para penjual gorengan sore yang tengah sibuk melayani para pembeli, sementara berhenti bekerja dan kemudian ikut meninjau keadaan. Bahkan orang-orang yang sedang makan malam di restoran di dekat situ berlarian keluar, penasaran dengan apa yang tengah terjadi. Si pemuda kemudian menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada semua orang yang berada di sana khususnya pada pengendara yang tadi memperingatkannya.

Insiden ke dua terjadi di pagi hari di bulan Agustus. Seorang penjabat kantor pemerintahan mengaku habis bertengkar dengan suaminya ketika ia sedang diadili di pengadilan negeri atas kejahatan membunyikan klakson pada seorang penarik becak. Sang hakim bergeming, ia tidak peduli bagaimana kondisi sang penjabat pemerintahan. Pak Hakim pun tetap memvonis sang penjabat telah melakukan kejahatan moral.

Kejadian itu bermula ketika ibu penjabat pemerintahan tengah mengemudikan mobilnya di antara hiruk-pikuk keramaian orang-orang yang hendak berangkat menjalankan aktivitas. Seorang penarik becak tengah bersusah-payah mengkayuh pedal mengfantar 3 anak SD berangkat sekolah. Di tengah jalan pak tua yang mulai kelelahan, menghela becaknya dengan lamban. Ibu penjabat yang tengah dalam suasana murung mengemudikan mobilnya tepat di belakang pak tua dengan becaknya itu pun dengan jengkel membunyikan klakson sampai 3 kali. Mendadak keramaian pagi yang damai itu pun menjadi ribut. Semua orang di dekat kejadian langsung beramai-ramai mengarak-arak ibu penjabat menuju pengadilan negeri.

“Penjarakan dia seumur hidup!” teriak salah seorang penggeber.

“Satu bunyi klakson adalah kejahatan moral yang keji, 3 kali? Itu terror paling kejam! Penjarakan dia seumur hidup!” Gerutu penggeber lain di sampingnya.

Para penggeber terlihat sangat kecewa ketika si ibu penjabat hanya divonis lima tahun penjara.

“Itu terror paling keji yang pernah terjadi di kota ini.” Komentar salah seorang jurnalis yang menghadiri sidang kasus perkara itu. Namun Pak Hakim bersikukuh ia menegakkan keadilan setegak-tegaknya berdasarkan undang-undang yang berlaku. Mendengar penjelasan pak hakim yang teguh itu, perlahan-lahan kemarahan orang-orang pun surut. Mereka sangat mencintai hakim kota yang sangat adil itu.

rain-1776587_1920
pict Source Pixabay

Insiden ketiga akan terjadi beberapa saat lagi dalam cerita ini. Kembali pada cerita ketika aku sedang berjalan-jalan menyusuri kota suatu sore di hari sabtu. Mendung terlihat menggantung tebal-tebal di seluruh langit kota. Gerimis yang tersisa setelah hujan lebat sepanjang siang terlihat seperti jarum-jarum emas yang jatuh di bawah lapu jalanan. Jalan-jalan juga terlihat mengkilap memantulkan lampu-lampu dari toko-toko dan rumah makan yang berdiri di sepanjang jalan itu. Aku tengah berjalan di trotoar ketika ku lihat dari kejauhan seorang gadis sedang duduk melamun di atas kursi beton berwarna pucat di pinggir jalan. Dari gayanya duduk dan caranya memandang ke seluruh kota itu, aku tahu gadis itu adalah seorang penulis. Ia lebih dari hanya seorang yang memburu tempat-tempat hanya untuk Instagram-nya.

Very interesting!” Kataku dalam hati. Seketika aku pun tergoda untuk mendekatinya.

Gadis itu… well, seperti yang kalian duga, tampilannya seperti kebanyakan gadis di generasi sekarang, seperti yang sudah jamak kalian temui. Gadis berjilbab dengan stelan kaos atau sweeter dan mengenakan jean. Namun menariknya gadis ini, ia pintar. Aku tahu ia pintar dari caranya memilih pakaian yang pas dengan parasnya. Ia tidak memilih kaos dan jean yang ketat yang senantiasa memperlihatkan lekuk tubuhnya.

Aku berjalan mendekat dan memilih duduk di kursi beton lain berjarak satu meter dan berseberangan dengan tempat duduknya.

“Tempat yang menarik.” Kataku memulai pembicaraan. Aku sengaja tidak memandang pada gadis itu, melainkan ikut memandangi apa yang ku kira sedang gadis itu pandangi.

“Tempat yang damai dan sangat menenangkan. Orang-orang terlihat sangat bahagia dan penuh dengan hal positif.” Katanya mengungkapkan pandangan pribadinya.

“Bukan hanya terlihat, tetapi itu memang faktanya begitu. Orang-orang di sini bahagia dan mereka yang beraura negatif tidak akan bertahan di tempat ini.” Kami saling berpandangan. Gadis itu tersenyum. Matanya berkilat-kilat seperti bintang timur. “Selamat datang di kota kami yang indah.”

“Terimakasih kau telah menyambutku dengan ramah.”

Kami pun kemudian berkenalan sambil mengungkapkan pendapat kami masing-masing dengan setiap hal yang tertangkap dari kota itu. Selama bercakap-cakap aku menelusuri kisahnya dan dari caranya bercerita aku tahu gadis cantik itu adalah seorang gadis yang tengah terluka. Gadis dengan senyum yang terluka, ku kira begitu. Ia selalu mencoba terlihat tegar, yang justru membuatku merasa kasihan padanya. Tapi aku sangat senang dengannya, setidaknya ia berani menghadapi lukanya.

Simak juga Prosa Ilmu Rumput

Ketika aku tengah membacakan padanya prosa tentang ilmu rumput yang kutulis. Di kejauhan terdengar bunyi klakson meraung kecang. Tanpa ku sadari aku telah menggenggam erat tangan gadis itu dan bersama orang-orang lain aku mengajaknya berlari menuju tempat kejadian. Aku terus menggenggam tangannya dan tak pernah melepasnya menerobos keramaian. Itulah insiden ketiga, seorang pengemudi mobil menekan klakson untuk menegur pengemudi motor yang lupa tidak menyalakan lampu zen ketika hendak berbelok. Pengemudi motor adalah seorang lelaki muda usia sekitar 23 sampai 25. Ia kemudian dengan sangat menyesal meminta maaf kepada orang yang terganggu dengan ulahnya.

“Ini insiden yang ke-ketiga yang pernah ku ingat di kota ini.” Kataku pada gadis itu.

Gadis itu hanya memandangku. Pipinya merona merah. Ia tersenyum malu-malu. Lalu pandangan matanya jatuh ke tangan kami yang saling menggenggam. Sontak aku melepaskan genggaman tangannya. Aku tak tahu warna muka ku saat itu. aku jadi salah tingkah.

“Eh, maaf… maaf, Mbak!”

“Gak papa, Mas” Katanya lembut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Senyumnya sangat sejuk seperti rumput musim semi yang tumbuh dan tengah bernyayi di sekitar kami.

Rumput Musim Semi (C) Andy Riyan

*Note : Ini cerita yang berkembang setelah prosa Ilmu rumput 
yang sudah di tulis kemarin di sini. It’s just ridiculous...
I found myself happy and wrote this such a weird short story
because of ridiculous feeling since yesterday. This feeling
can’t be last, otherwise I will became insane fantasy lovers
Advertisements

10 thoughts on “Rumput Musim Semi

    1. Beberapa orang sangat terganggu dengan bunyi klakson bahkan cenderung stress mendengarnya yang dibunyikan tanpa alasan yang masuk akal. Dan sebenarnya klakson memang di bunyikan pada keadaan ‘sangat’ darurat saja. Aku punya teman yang pernah hidup di Australia, dia mengatakan klakson hanya dibunyikan untuk menegur orang yang melanggar lalu lintas. Nah di Indonesia, orang seenak udelnya menekan klakson bahkan dianggap hal yang wajar dan biasa. Hak Asasi Manusia memang bersifat universal, namun ke universal an itu tak berlaku absolut. Orang boleh mengklaim membunyikan klakson sebagai hak asasi namun ia juga bisa terancam telah melanggar hak asasi orang yang terganggu dengan klakson itu, makanya di kota fantasi ku, membunyikan klakson tanpa alasan yang benar di anggap terror dan kejahatan moral.

      Liked by 1 person

  1. Oke… Jadi yang ini fiksi ya? Hahaha… Kalo kamu memilih musim semi sebagai judul, saya pernah memilih musim gugur sebagai judul. Entah kenapa, ngerasain aja belum pernah tapi yakin musim gugur adalah musim favorit saya!

    Like

    1. Aduh aku membuat kesalahan besar, membuat footnote dan memberi interpretasi yang seharusnya hanya boleh diimajinasikan pembaca. *yowis lah. Hahahaha ya itu 1/8 real 7/8 fiksi.

      Hemmm Autmn, aku membaca tulisanmu tentang autmn, jadi kamu benar-benar menyukainya? Oh ayo dong bikin cerita berlatar itu, mbak. Aku ingin tahu siapa tahu nanti aku juga terinspirasi. Tidak Spring melulu.

      Like

  2. Penasaran sama kelanjutan ceritanya. Eh, ya itu kotanya mirip negeri Jiran ya. Kan, disana juga sama. Gak boleh ngeklakson sembarangan. Kecuali emergency gitu katanya. Oia, salam kenal dari newbie diblogger

    Like

    1. Terima kasih, Mbak Sarah, sudah mampir. 🙂

      Wah mau lanjut kemana hehe, ini ide tunggal yang di dapat begitu saja.

      Aku kurang tahu, itu negeri seperti apa. Dibayangku itu seperti di pelosok Inggris di kota kecilnya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s