Jembatan Kehidupan

July, 15th 02:35 PM

“Halo? 30 Menit lagi aku sudah berada di stasiun.”

Laki-laki itu melihat arloji hitam di tangan kirinya kemudian melirik pada secarik kertas bernomor 49, nomor urut antriannya. Ia menghela dan menahan nafas lebih lama dari waktu yang diperlukan oleh jarum detik untuk bergerak dari angka 7 menuju angka 8.

“Hemm baiklah, kita segera bertemu di sana.”

July, 15th 04:15 PM

Di dalam stasiun, di depan loket, pada barisan kursi-kursi kosong, seorang perempuan terlihat sedang duduk, wajahnya kusam kelelahan, dan ia tampak sangat kesal. Ada banyak orang di stasiun itu, namun ia memilih untuk mengasingkan diri bersama carrier besarnya. Ia telah lama menunggu seseorang yang berjanji untuk menjemputnya. Beberapa saat yang lalu ia tampak gembira tiba di stasiun kota itu. Ia memandang kesana-kemari mencari-cari dari arah mana penjemputnya kira-kira akan tiba, ia bahkan telah memilih tempat yang paling strategis agar keberadaannya mudah di temui; di lorong stasiun yang paling dekat dengan tempat parkir. Namun setelah meneit-menit yang terlalu lama bagi orang yang paling sabar sekalipun untuk menunggu dan menyadari tak seorangpun datang menjemputnya ia menjadi begini; duduk menahan amarah dan menjadi cuek, jutek dan sangat judes terhadap semua orang yang berada di sekitarnya.

“Ardi!” teriak seseorang.

Perempuan yang dipanggil Ardi itu menoleh. Seorang laki-laki datang dari kejauhan, ia melambaikan tangan dan tersenyum. Tapi perempuan itu mengabaikannya.

“Hallo, sudah tiba sedari tadi kah?” Laki-laki itu memulai basa-basi.

“Tau lah, gelap!” Jawabnya ketus.

“Ayolah, dunia tidak akan kiamat hari ini hanya karena aku terlambat beberapa menit saja.” Katanya merayu.

“Kamu itu gila apa sinting sih!? Jauh-jauh aku kabur dari rumah ke negeri asing ini, tempat yang pertamakali kudatangi, tak seseorangpun ada yang ku kenal di tempat ini… tempat… hiks!” Bagaikan tercekik, perempuan muda itu mendadak tak bisa menyelesaikan umpatan kekesalannya. Air mata banjir di pipinya. Ia telah kehilangan kata-kata untuk melampiaskan semua kemarahan yang menggumpal di dadanya.

“Gila atau sinting… karena dua kata itu bersinonim, well… aku tidak punya pilihan.” Lelaki itu menyeringai lalu memeluk teman perempuannya tanpa sedikitpun merasa bersalah. “Hemmm.. Tak ada seseorang yang kamu kenal di tempat ini, katamu? Itu tidak sepenuhnya benar…” Lelaki itu menepuk punggung temannya lalu melepaskan pelukannya. “Mungkin kamu sendirian di antara jutaan bintang di tengah galaksi yang luarbiasa luas ini. Tetapi kamu mengenalku, kamu mengenalku dengan sangat baik, sebaik kamu mengenali Venus dimanapun ia muncul; di barat ketika senja mulai temaram ataupun di timur ketika fajar terpecah.” Ia menatap perempuan itu lekat-lekat lalu menghapuskan air mata yang masih terus mengalir dengan punggung jarinya yang dingin.

Perempuan itu mengangguk.

“Well, kamu sudah makan, Ardi?”

“Ardilla!!!” Pekik perempuan itu marah-marah lagi “Kamu jadi orang gak ada benernya sih! Namaku Ardilla! Jangan sembarangan ganti nama!”

“Yah bukan salahku dong, kan ada Ardi nya… biar singkat… ha ha ha.”

“Gak mau! Itu nama laki-laki!”

“Halah wujudmu aja yang perempuan… gaya dan temperamenmu kayak laki gitu…!”

Ardilla tidak menjawab lagi melainkan mengeratkan gigi dan berpaling.

Lelaki itu mengambil carrier yang tergeletak terbaikan lalu menggenggam erat tangan Ardilla dan menariknya keluar dari stasiun menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan.

 

***

 

“Hemmm… Mas Riyan!” Kata Ardilla beberapa saat setelah mobil melaju di tengah keramaian.

“Ya…!”

“Mengapa kamu terlambat menjemputku? Kamu tahu aku sangat ketakutan… pikiranku kacau sekali. Tidak pernah sebelumnya aku datang ke tempat asing dalam kekalutan seperti ini.”

“Ah itu… Tadi antriannya lama, maafkan aku ya.” Jawab Riyan datar.

Ardilla hanya mengangguk lalu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi, sebentar saja kemudian ia terlelap. Sambil mengemudi, Riyan sesekali mengamati wajah Ardila yang kelelahan dan berleleran keringat.

‘Maafkan aku, Ardila… maafkan aku. Tidak pernah dalam hidupku, aku setega ini berbohong.’ Kata Riyan dalam hati.

Rollback, July, 15th 02.37 PM

 

“Silakan antrian nomor 49.”

Riyan berdiri dan bergegas masuk kedalam ruangan kemudian langsung duduk menghadap meja yang tengah ditinggalkan pemiliknya. Belum lama ia menunggu, seseorang menyapanya.

“Selamat sore.”

Melihat siapa yang menyapanya, Riyan terlonjak, ia kaget bukan main.

“Mbak Vivian? Mbak Vivian yang kutemui ini?”

“Ya ampun! Andi! Sudah lama sekali… Apa kabar?” Seru Mbak Vivian senang dan langsung menjabat tangan Riyan erat-erat.

“12 tahun…” Sahut Riyan.

“Maksudnya?” Mbak Vivian tidak paham.

“12 tahun sejak terakhir kali kita bertemu.” Jelas Riyan mantap.

“Benarkah?” Bola mata mbak Vivian membesar dan tersenyum lebar. Ia kemudian mempersilakan Riyan duduk lagi dan Mbak vivian mengambil kursi kerjanya.

“Aku perlu dokumen Surat Keterangan Berbadan Sehat.”

“Sepertinya kamu baik-baik saja.” Canda Mbak Vivian sambil mengambil peralatan medisnya.

Baca juga kisah Mbak Vivian di cerpen ini : Aries vs Aries

***

 

“Ehmmm… Mbak bisa kita…”

“Jam 3 , Andi. Aku ganti shift jam 3.” Sahut Mbak Vivian dengan tenang dan mantap.

“Baiklah kalau begitu, aku tunggu di luar.”

Mbak Vivian mengangguk dan tersenyum kemudian mereka berpisah.

 

***

 

“Aku tidak tahu sudah selama itu kita tidak bertemu, 12 tahun… waktu yang cukup lama, bukan?” Gumam Mbak Vivian ketika akhirnya mereka berdua berjalan-jalan di taman. Riyan diam tak menjawab. Ia hanya terus berjalan menyamakan langkah dengan perempuan yang 1 tahun lebih tua usianya itu. “Cukup lama untuk melihat bahwa seseorang telah berubah. Seingatku kau adalah anak yang banyak bicara, Andi. Seorang anak hyperaktif dan ada-ada saja kelakuannya.” Dua sejoli itu kemudian duduk di kursi taman di bawah rindangnya pohon beringin. Angin sepoi-spoi bertiup mengalirkan lagu-lagu yang memuat bait-bait tentang kenangan.

“Aku bukan anak-anak lagi, Mbak.” Kata Riyan kalem. “Kalau dihitung, cukup lama, memang, namun setelah berjumpa dengan mbak tadi, 12 tahun itu rasanya baru seperti hari kemarin ketika kita bertemu di kelas bahasa Inggris.” Dua sejoli itu sama-sama tersenyum.

Angin kembali bertiup, kali ini lebih kencang dan terasa begitu dingin menggigit tulang. Dua anak manusia itu sangat menikmati kebersamaan setelah terpisahkan begitu lama. Tak ada yang berbicara, mereka diam mendengarkan simponi ranting-ranting yang bergesekan dan desahan daun-daun yang bersentuhan sebelum akhirnya jatuh dan terhempaskan. Lama mereka hanya saling menatap dalam bahasa diam, keduanya saling mengerti bahwa kisah yang pernah mereka ukir dulu kala tidak ada yang sia-sia.

“Ah itu mereka..” Kata Mbak Vivian merujuk pada seorang putri kecil yang berlari-lari menghampirinya. Di belakangnya ayahnya mengikuti dengan senyum yang hangat. Putri kecil itu langsung melompat ke dada Mbak Vivian. “Ibu, barusan aku beli ini sama ayah… gimana bu? Bagus tidak.” Celotehnya menunjuk pada pensil yang berwarna-warni di genggaman tangannya yang mungil. “Aih, catik banget..” Balas Mbak Vivian dengan nada ke-ibu-ibuan.

 

Selesai

Takdir Kehidupan (C) Andy Riyan
Mei 2017

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s