Buku Dari Masa Ke Masa Yang Paling Banyak Mempengaruhi Perkembangan Emosi Dan Kepribadian Hidup Saya

Semula ingin menuliskan list daftar buku yang pernah dibaca. Tetapi karena begitu banyaknya buku yang pernah dibaca jadi ide menuliskan list buku malah menohok dan terasa absurd banget. Kebayang kan jadinya? Kalau tulisan itu akan membentuk daftar semacam data di worksheet excell atau database MS Acsess yang memuat nomor, nama buku, pengarang, penerbit dll, lebih-lebih banyak buku yang pernah dibaca itu kini jejak fisiknya entah berlarian kemana. Sebagian juga buku bacaan itu juga bukan koleksi sendiri melainkan koleksi perpustakaan, jadi gimana persisnya bisa menuliskan judul lengkap dan pengarang serta penerbit apalagi ISBN nya hahaha.

Oh jadi ingat!  Dulu pernah ada wabah rayap yang menyerang lemari buku belasan tahun yang lalu ketika saya jarang tinggal di rumah, hanya sedikit buku yang terselamatkan, mungkin juga beberapa buku yang teraduk-adauk dalam kardus ikut di jual (oleh ibuku tercinta). Dari pengalaman itu aku belajar dua hal. Pertama jangan pernah mengoleksi buku dalam kardus karena akan menjadi tempat kegemaran rayap dan kecoa. Kedua buku yang teraduk-aduk dalam kardus berpotensi terlupakan dan ketika harus di mutasi (kasus bongkar rumah) males memilah-milah dan akhirnya dibuang (dijual) begitu saja.

Well… sebelum kembali ke topik, saya ingin bernostalgia. Kapan persisnya saya sudah bisa membaca buku, jawabannya tidak tahu. Dan buku apa yang pertamakali dibaca, juga lupa sama sekali. Tetapi yang jelas, ketika saya duduk di kelas dua SD, saya sudah bisa menceritakan kembali kisah yang saya baca dari buku pelajaran Bahasa Indonesia. Saya ingat persis itu adalah kisah Khayalan Si Cebol yang ingin pergi ke bulan. Dan di akhir caturwulan ketiga saya sudah menamatkan sebuah novel, NOVEL!! Yang berjudul Bocah Patriot! Kalau tidak salah itu adalah terbitan Balai Pustaka.

Bocah Patriot

Novel yang berkisah tentang bocah yang bernama Yudi di zaman penjajahan. Yudi ialah seorang anak SD yang sangat kreatif dan bahagia tinggal bersama keluarganya di desa, namun tiba-tiba harus terpisah karena sebuah serangan udara. Yang paling saya ingat dari novel Bocah Patriot ini adalah gambar bocah berkepala botak (Yudi, semua bocah dan pemuda di zaman itu harus berkepala botak, lupa alasannya) yang menemukan sebuah pistol jenis revolver milik ayahnya di laci, yang belakangan menjadi sebab ayahnya ditangkap oleh kompeni.

Sejak saat itu kemudian kisah dan tragedi Yudi dimulai, dia menjadi bocah patriot yang ikut maju dalam peperangan (tidak di barisan utama), dia kemudian diasuh oleh seorang prajurit Pembela Tanah Air (PETA) dan diajari bagaimana membersihkan bedil. Ia kemudian maju lagi ke medan pertempuran. Dan ketika bebeberapa tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan suasana telah menjadi damai, Yudi memutuskan untuk kembali ke desanya dan mencari keluarganya. Sialnya, keluarga Yudi sudah lama mengungsi, ayahnya yang dulu ditangkap di desanya itu sudah di eksekusi. Yudi kemudian menelusuri jejak kemana paman, kakek ibu dan adiknya pergi hingga akhirnya mereka bertemu di sebuah desa di lereng gunung. Hati Yudi hancur ketika harus mengabarkan bahwa ayahnya sudah meninggal.

Well, seperti yang pembaca mungkin duga, Bocah Patriot merupakan salah satu buku yang berpengaruh dalam kehidupan saya. Ia adalah salah satu jembatan kehidupan yang mengajarkan aku betapa pentingnya menjadi seorang bocah yang berani dan kuat.

Lima Sekawan : Harta Karun Rockwell

Nah buku yang berpengaruh dalam kehidupan saya yang selanjutnya adalah buku karangan Enid Blyton yang diterbitkan di Indonesia oleh PT Gramedia, dan buku ini masih ada, MASIH ADA! Ketika menuliskan ini, saya merasa sangat bersyukur sebab saya mendapat kesempatan untuk memiliki masa kecil yang penuh imajinasi dan petualangan. Saya merasa tumbuh dalam generasi emas. Namun karena wabah rayap yang saya ceritakan di awal, serial ini kini hanya tingal 2 buku yang tersisa.

Harta Karun Rockwell pertama saya dapatkan di perpustakaan milik sepepu, waktu itu kelas 5 SD. Dan saat kelas 3 SMP, kurang lebih sudah menamatkan 14 Serial. Hemmmmm.

Serial Lima Sekawan Harta Karun Rockwell ini bukan serial yang pertama, tetapi buku ini sangat berpengaruh karena menjadi jembatan pertama saya untuk menyelami banyak petualangan seru-nya gadis tomboi, George (Nama aslinya Georgina) bersama ketiga sepupunya Julian, Dicky dan Anne juga anjing pintar kesayangannya, Timmy. Serial Enid Blyton ini telah membentuk saya menjadi… well, orang-orang yang mengenal saya, mereka tahu saya adalah orang yang pantang menyerah dan tidak mau kalah atau begitu saja menerima kekalahan kalau saya tidak mau dibilang keras kepala. 😀

Khalil Gibran

Selanjutnya adalah buku-buku karangan Khalil Gibran. Sub judul kali ini lebih tepat kalau ditulis The Prophet, tapi biarlah begini saja, sebab suatu kali pernah membaca buku karya Khalil Gibran tak ada cover-nya yang saya temukan di bengkel mobil tempat dulu belajar otak-atik mesin. Pertamakali baca salah satu karyanya itu, saya langsung tergugah dengan kata-katanya yang sangat puitis dan penuh metafora. Jadilah akhirnya saya mencari di perpustakaan sekolah, tetapi tidak menemukan bukunya Khalil. Kemudian pergi ke toko buku, yang rata-rata harganya mahal — belum sanggup beli — akhirnya pergilah saya ke tempat sewa buku, nemu The Prophet. Walau sejujurnya saya sudah sering menulis puisi sejak SMP, namun pandangan saya terhadap puisi sama sekali berubah sejak membaca karya-karya Khalil. Dan sejak saat itulah hari-hari saya selalu penuh dengan puisi dan saya menjadi pribadi yang sedikit melankolis. Dari Enid Blyton saya menjadi Koleris, dari Khalil Gibran saya menjadi melankolis. Mungkin itulah penyebabnya mengapa saya cenderung koleris-melankolis.

To Kill A Mockingbird

Dan akhirnya buku yang sangat sekali terasa benar-benar telah mempengaruhi kehidupan dan kepribadian saya adalah buku legendaris karya Harper Lee. Saya menyelesaikan buku ini sektiar tahun 2013. Beberapa orang mengkritik bahwa saya adalah orang yang tidak bisa menerima pandangan orang lain. Beberapa orang mengkritik bahwa saya terlalu saklek dengan kebenaran versi-ku sendiri. Setelah membaca buku ini, entah bagaimana saya begitu saja tersentuh dengan semua tokoh yang terlibat dalam Novel yang berlatar belakang SARA itu. Walau tidak pernah menjadi tidak saklek lagi dengan kebenaran versi sendiri, saya mulai memahami bahwa semua orang memiliki pandangannya sendiri tentang segala teori kebenaran yang diyakininya. Saya mulai memahami, memang tidak harus secepatnya memberikan penilaian terhadap seseorang yang tidak bisa menerima pendapat kita, suatu kali orang-orang pun akan memahami bahwa selalu ada versi dan sudut pandang yang tidak sama, dan pada akhirnya orang-orang pun pelan-pelan akan memahami, dan seandainya tidak memahami pun itu bukanlah sebuah masalah yang besar atau perlu dibesar-besarkan. Dan cara yang paling jitu untuk membukam orang-orang itu adalah dengan aksi yang nyata, dengan tidakan kita.

Sebenarnya masih banyak buku monumental yang ikut meresap dan mempengaruhi kehidupan saya, seperti karya-karaya penulis yang paling saya kagumi, JJR Tolkien. Buku Cerita Cinta Enrico yang ditulis oleh Ayu Utami, buku-buku karya Takashi Matsuoka, Musashi-nya Eiji Yoshikawa.

Dan saya belum atau sengaja tidak memasukkan buku-buku textbook macam Modern System Dynamic ataupun buku-buku kajian keagamaan karena itu berpengaruh lebih banyak kedalam pengetahuan. Tidak seperti buku-buku yang sudah saya paparkan yang lebih banyak mengaduk-aduk emosi dan karakter saya pribadi.

Selanjutnya buku apa yang akan mempengaruhi saya? Mungkin, MUNGKIN! Madilog yang di tulis oleh Tan Malaka yang sedang mulai saya baca. Dan entah mengapa sekarang saja mulai tertarik pada buku itu, kok enggak kemarin-kemarin pas masih jadi mahasiswa. HANYA TUHAN YANG TAHU!

Well, itulah sedikit cerita saya malam ini, kalau Amigos, pembaca blog jejakandi, buku yang berpengaruh dalam emosi dan kehidupanmu apa? dan mengapa? Boleh share di kolom komentar, kalau sekiranya terlalu panjang boleh tinggalkan link.

SELAMAT MALAM DAN YES SESUK LIBUR!!

24, Mei 2017 | Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

3 thoughts on “Buku Dari Masa Ke Masa Yang Paling Banyak Mempengaruhi Perkembangan Emosi Dan Kepribadian Hidup Saya”

  1. Haloo mas Andy…
    Ingin juga aku menyatakan isi hati yang sudah lama terpendam yaitu kecintaanku kepada cerita cerita berikut inj..

    Like

  2. Maaf nambah kolom..
    2. The Wild Swans by CH.Andersen (baca di SD). Ohhh Princess Eliza and her bro kereen .
    3. First Love karya Ivan Turgenev (waktu kuliah) Lesson is ABG itu berjiwa apa ya..alami aja deh. Evil starts after 17.
    4. Gooong..ini the greatest, yaitu Great Expectation karya Ch.Dickens (waktu kuliah dan …..broken heart 😅.
    Pengaruhnya? Waspada…waspada.
    Learn good judgement…and don’t be a fake.
    5. Semua buku2 di atas selalu membangkitkan feel dan kebaperan yang sama ketika membaca ulang (hingga sekarang). Bukan karena saya pembaca yang pintar. Itu karena pengarangnya apa ya..incredible deh.

    Ya sejumlah itu saja buku yang selalu kusayang. Buku teori2?? Keabsahan teori dengan verifikasi2 membuat saya pusing. Saya membaca untuk kenikmatan membaca itu sendiri…dan belajar mandiri.
    Kata Horatio..seni itu harus mendidik dan menghibur.
    Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.
    Wassalam
    Yanti

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s