Calista dan Pahlawan Kecil

“Di suatu taman yang indah, matahari merah bersinar. Cahayanya jatuh menimpa bunga-bunga yang beraneka rupa. Burung-burung pun bernyanyi gembira.

Advertisements

Namaku Calista, aku adalah ratu terindah di taman ini. Sejak menjadi ratu, tak ada lagi sedih ataupun tangis yang mengiringi hari-hariku. Selamanya aku akan sangat berterimakasih pada manusia, sebab tanpanya aku tidak akan menjadi seperti kali ini. Jika aku harus menyebutkan satu pahlawan yang paling berjasa dalam hidupku, tentu aku akan menyebut manusia sebagai pahlawanku nomor yang satu. Bagaimana kisah kepahlawanan manusia itu? akan ku ceritakan begini.

Dulu, di suatu senja yang temaram, dingin dan sepi aku terbangun dari tidur yang panjang. Tak ada siapapun di sisiku. Tak ada ibu, tidak ada bapak, tak pula kakek, tidak juga nenek. Aku terbangun di atas pecahan berwarna kelabu dan berbau amis yang kelak aku tahu itu adalah cangkang telur yang telah membungkusku selama berhari-hari. Aku sangat sedih dan putus asa ketika itu; aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk menghadapinya.

Lalu aku berjalan dan terus berjalan dalam kebingungan dan tanpa tujuan, mengintari selembar dunia yang sangat sempit; hanya dibutuhkan waktu 10 menit untuk mengelilingi dan menjelajahi seluruh dunia itu. Sialnya, tak ada apapun yang ku temukan kecuali hanya kesunyian. Aku pun menangis sejadi-jadinya, namun tak ada yang mendengarkanku kecuali hanya angin yang sesekali berbisik diantara dedaunan, membuat suasana semakin mencekam.

Tak lama kemudian malam pun jatuh. Dunia menjadi gelap sama sekali dan aku hanya bisa menangis dan menangis hingga akhirnya sebuah sinar memecah di timur yang sangat jauh. Lalu datanglah dia, pahlawanku yang nomor satu itu.

27746730-funny-little-power-super-hero-child-girl-in-a-blue-raincoat-stock-photo
Calista dan Pahlawan Kecil Photo Source : di sini

Pahlawanku adalah seorang gadis kecil yang sangat manis. Ia menghampiri taman ini dengan membawa ember yang penuh dengan air. Sambil menyanyi dan menari ia memercikkan air itu ke seluruh duniaku bagaikan karunia dalam hujan di bulan Desember.

Ketika matahri mulai naik, ia duduk dengan santai dan membacakan padaku sebuah kisah.

“Di suatu taman yang indah, matahari merah bersinar. Cahayanya jatuh menimpa bunga-bunga yang beraneka rupa. Burung-burung pun bernyanyi gembira. Belalang menari dan kupu-kupu melayang-layang sempurna. Di taman itu kupu-kupu betina yang cantik jelita hinggap di dedaunan dan bertelur. Dalam tiga hari telur itu pun menetas dan menjadi larva mungil yang kemerah-merahan. Larva harus bertahan hidup dengan memakan daun. Larva akan berubah menjadi kepompong dan kemudian terbang menjadi kupu-kupu menjadi ratu untuk taman itu.”

Mendengar kisah itu, aku bagaikan tersambar petir. Aku tidak percaya ibuku telah meninggalkanku sendirian di tempat yang sepi ini. Aku sangat benci mengetahui kisahku itu. Namun, di sisi lain aku sekarang tahu apa yang harus dilakukan. Aku harus mengejar cita-citaku, menjadi kupu-kupu dan terbang menjelajahi dunia.

Sejak hari itu dimulailah petualanganku. Sambil berjalan ku gigiti duniaku yang sempit, agar aku bisa bertahan hidup dengan harapan sebelum duniaku habis kumakan, aku sudah menjadi kupu-kupu. Namun aku salah dunia tak semudah yang aku kira. Duniaku telah habis bahkan sebelum aku dapat berganti kulit untuk yang kedua kalinya. Pada saat itu aku melihat puncak yang sangat hijau dan ranum. Aku pun menuju kesana.

Perasaanku sangat senang setelah berhasil menicicpi pucuk yang segar itu.

“Tidak perlu aku menjadi kupu-kupu, begini saja sudah cukup untuk kebahagiaan hidupku.”

Berhari-hari aku hidup hanya untuk makan dan tidur, lupa sudah dengan cita-citaku untuk menjelajahi dunia.

Suatu hari aku mendengar kabar, bahwa ada kawan sejenisku yang harus mati karena memiliki penampilan yang mengerikan. Aku pun mengamati diriku dari tangan sampai kaki. Tubuhku di penuhi dengan bulu yang sangat lebat. Aku pun mulai khawatir makhluk asing juga akan datang untuk membunuhku. Lagi-lagi pahlawanku datang.

Ia datang lagi di suatu pagi untuk membacakan padaku sebuah kisah, bahwa larva harus berpuasa dan berkosentrasi untuk menjadi kepompong.  Bagai diingatkan, aku pun kembali merajut cita-citaku untuk terbang menjelajahi dunia.

“Puasa? Apa sih susahnya. Aku pasti bisa menjalaninya.” Pikirku waktu itu.

Hari pertama puasa sangat menyiksa, perutku bagaikan dipilin. Namun, setelah tiga hari  aku pun mulai terbiasa. Seminggu kemudian puasa menjadi sangat menyiksa dan membosankan; tak ada perkembangan apapun pada diriku. Aku masih sama seperti sebelumnya, mengerikan penuh dengan bulu-bulu lebat. Sepuluh hari kemudian aku sudah mulai tidak tahan lagi. Pada hari kedua belas, dalam semadi aku melihat seekor hewan buas dengan paruh yang sangat kuat hendak membantuku keluar dari penjara yang bernama pupa itu.

“Ayo tolong aku! Keluarkan dari sini, cepat tolonglah!” harapku dalam hati dengan cemas bercampur gembira. Tapi gadis kecil itu buru-buru mengusirnya. Aku pun menjadi sangat marah.

“Dasar penghianat!” jeritku dalam hati. “Dia benar-benar telah memperdayaiku! Penghianat!”

Hal buruk semakin menjadi-jadi. Setiap hari gadis itu mengunjungiku seperti yang lalu, bedanya sekarang ia tidak membaca kisah-kisah yang menghibur. Dan ia senantiasa menjaga agar aku tetap dalam penjara. Ia sekarang bagaikan sipir yang angkuh, sombong dan keras kepala. Aku terjebak dan tidak bisa melakukan apa-apalagi dan akhirnya membuatku pasrah dengan nasib hidupku.

“Krak! Krak!”

Pada hari ke-21 ketika matahari terbit, bunyi sobekan terdengar. Aku tidak menyangka. Akhirnya aku bebas dan terbang menjelajahi angkasa.

Aku terbang sejauh mungkin merayakan kebebasanku itu dengan menjelajahi dunia. Hingga aku sampai di taman ini. Semua kupu-kupupun memuji kecantikanku dan menobatkan aku sebagai ratu di taman ini.

Pada suatu hari aku melihat pupa yang menggantungsedih di dahan sedang dipaksa keluar dari semadinya. Setelah beberapa lama ia pun keluardengan sempurna. Ia memang berhasil menjadi kupu-kupu yang indah namun ia tidak bisa terbang. Kini aku tahu mengapa gadis kecil itu dulu menjagaku. Agar aku tidak menjadi kupu-kupu yang lumpuh.

Mei, 24th 2017
Calista dan Pahlawan Kecil | (C) Andy Riyan

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s