Foto Bercerita : Tentang Romantika

IMG20170423072050.jpg

This trip has learned him, that romanticsm won’t be repeated 
for a second spell. However, the thing that called as love is
one thing which will remain last forever.

And that reunion has given him many things, more strength, more
power and, demands him the evidence of his determinations to
achieve what he loves. And by chance, don’t know why, that
reunion just offered him a lot of confident to achieve it.

Sore itu tanggal 22 April. Dia sedang sibuk dengan pekerjaanya di depan komputer, menginput ratusan data dan membuat laporan mingguan.

Segerombolan biri-biri di luar sana sedang merencanakan muslihat yang keji.

“Fix! Merbabu, berangkat jam 5!”

Dia berpaling dari komputer, lie down in the sofa, tend to rest the mind he grab the phone, membuka grup Kadal Balap. Tiba-tiba dilema melanda. Ia mendadak gundah gulana bagaikan air dalam baskom diguncang gempa. Ia pergi ke arah meja yang penuh dengan makanan. Tanpa jeda ia menghajar sepotong roti, segelas teh yang mendingin seperti di rumah-rumah duka, dan tiga potong puding kuning membara. Dadanya terbakar termakan kelicikan biri-biri pendosa.

Dia :
“Yok mangkat! Maghrib kumpul di titik temu, bangjo MGL-Selo!”

Biri-biri :
“FIX!”

Pukul 18.12

Dia :
“Sudah di titk temu, kelen nendi?”

Biri-biri :
“Sik lagi mau ngambil keril.”

Dia :
“WEDHUS!!”

Pukul 20.25

Mereka bertemu. Di bawah lampu-lampu jalan, gerimis serupa benang-benang emas berjatuhan. Tidak banyak kata terucapkan, berjuta rasa tak kan bisa terungkapkan. Hanya pelukan dan erat jabatan. Mereka berdiri diam, saling bertatapan, tersenyum dan mendadak tertawa tak terkendalikan. Sejenak dan hanya sejenak saja, karena cinta adalah luapan yang sederhana. Semakin kuat jalinan cinta yang terikat, maka semakin sederhana cinta itu terlihat. Selebihnya meresap dalam jiwa-jiwa dan tersimpan tetap hangat. Sesederhana itulah cinta, karena cinta harus sederhana, yang boleh rumit atau kompleks adalah definisinya.

Pukul 22.00

Mereka tiba di basecamp. Dingin merambat, udara menipis, berat untuk bernafas. Memori-memori lama mengapung dari kedalaman di dasar ingatan. Dia beranggapan roman cinta akan terulang. Namun sejauh mereka berjalan, roman itu tak pernah kembali.

Hujan deras pun datang, gunung-gunung berdendang, dinding-dinding menyempit dan mereka pun berhimpit dalam lagu cinta dan kemudian terlelap pergi menuju mimpi.

Pukul 01.30 Dini Hari

Merekat bangkit berdiri. Di luar basecamp mereka berdo’a dan perjalanan pun dimulai. Dan di sinilah cerita itu ditulis, dalam jejak yang dimaksudkan untuk kembali menatapnya di masa-masa yang akan datang. Perjalanan itu memberi tanpa pernah diminta sebuah pelajaran, bahwa romantisme tidak untuk terulang yang kedua kalinya. Namun sesuatu yang disebut dengan cinta itu adalah hal yang akan tetap abadi selamanya.

Dan reoni itu telah memberinya banyak hal. Lebih banyak kekuatan dan lebih banyak daya untuk meraih apapun yang ia cintai.

Tentang Romantika, 27 Mei 2017
(C) Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

One thought on “Foto Bercerita : Tentang Romantika”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s