Ramadhan 2 : Suara

Suaraku habis, seharian teriak-teriak mengendalikan bocah modern. Bocah modern — anak-anak usia dini, usia pertumbuhan, pra-remaja yang keninian — benar-benar berbeda dengan semasa kecil ku dulu. Bodoh aatau naif aku tidak tahu, mencoba mengendalikan anak-anak kreatif usil dan bertingkah seperti kuda binal itu.

Suaraku habis. Mengenggbala domba mungkin jauh lebih mudah daripada menggembala anak-anak manusia. Suaraku habis direnggut oleh cinta. Cinta yang kubaktikan untuk anak-anaku tercinta. Biarpun suaraku habis namun itu sebanding dengan kebahagiaan yang kudapatkan. Aku hanya bahagia melihat mereka tumbuh di lingkungan ini. Aku bahagia, mampu sejenak memisahkan mereka dengan televisi, tab dan ponsel, walau hanya sejenak.

Suaraku habis. Bocah-bocah modern teriak-teriak tak mau mengalah ketika aku menceritkan kepada mereka sebuah kisah. Suaraku habis, namun sore ini selesai kuceritakan kepada mereka kisah Nabi Idris.

Suaraku habis, malam hari harus lantang berteriak menjadi bilal untuk meramaikan ramadhan malam.

Suaraku habis, entah besok bagaimana. Esok biarlah esok yang terjadi… hal terpenting Final Piala FA sebentar lagi. Come on Chelsea!!!

27 Mei 2017 (C) Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

5 thoughts on “Ramadhan 2 : Suara”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s