Dari Sebuah Kedai Kopi

Dari Sebuah Kedai Kopi
Oleh : Andy Riyan

Desember 2016

Aku datang ke kota ini untuk menemui seorang teman. Kota yang sudah hampir dua tahun ku(lupa)tinggalkan. Kini dihadapanku secangkir kopi terhidanglan dengan sepiring pisang goreng. Bila kedua aroma itu bersatu dalam keadaan kudua-duanya masih panas dan dalam keadaan ketika uap-nya masih mengepul-ngepul menggoda, maka tak ada hidangan yang lebih lezat atau lebih menarik perhatianku, yah setidaknya untuk saat ini. Karena kenyataannya satu jam setelahnya aku dibuat terkagum-kagum dengan seseorang yang bercerita di hadapanku.

Desember 2010

Sore itu, angin dingin berhembus dari celah-celah pepohonan yang banyak tumbuh menjulang di halaman kampus. Deras sekali sapuannya hingga membuat daun-daun pun kemudian jatuh berguguran dan tersapu ke segala arah, menari mengikuti irama ranting-ranting yang mendesah bagai sedang mempersembahkan sebuah background dalam scene musim gugur seperti di banyak film-film roman cinta, dimana tokoh utamanya tidak jarang menampilkan wajah-wajah seperti sedang dirudung nestapa. Dalam pada itu di bawah mentari—yang seharusnya masih—senja, di balik bayang-bayang pepohonan yang tak begitu jelas yang sebentar terlihat lalu detik berikutnya kabur lagi, kurebahkan diriku di atas rerumputan, tangan kuangkat tinggi-tinggi; ingin sekali kuraih puncak-puncak pepohonan itu dan berdiri di tasnya dan memandang luas kesekelilingnya. Di atas tanah ku hanya bisa membuka kedua tanganku, rasanya ingin kutangkapi semua daun-daun yang jatuh laksana hujan.

“Apa yang aku pikirkan sekarang?” Kataku pada diriku sendiri. “Hanya daun-daun yang berguguran di bawah temaramnya mentari senja, mengapa begitu indah?” Aku kemudian bangkit dan mengeluarkan dari dalam tas, sebuah buku ukuran sedang bersampul hitam berbahan kulit imitasi–buku yang kemana-mana selalu ku bawa–lalu menuliskan apa yang baru saja dikatakan itu.

“Apa yang harus kulakukan? Kemana aku harus berjalan menemukan jati diriku?” Sambil berpikir mengapa rata-rata anak kuliahan sering dihantui oleh pertanyaan seperti itu, kembali kujatuhkan lagi tubuh kurus ini ke atas rumput-rumput yang mulai menguning dan terlihat teramat lesu.

Dinginnya udara yang tengah berhembus bercampur dengan banyaknya dedaunan yang menyapa itu berhasil membuat sebuah perpaduan bau-bauan yang harum, dan rasanya seperti sesuatu yang segar atau dingin bila digigit. Dan dedaunannya yang singgah dan menempel di kulit terasa seperti tetesan embun pertama yang jatuh di pagi hari. Perpaduan itu cukup memberi semangat bagi siapa saja untuk bangkit dari keterpurukan di dunia yang telah mati, dunia yang gelap karena mendung yang menggantung dan kabut yang tak berujung, setelah hanya abu-abu yang terlihat di seluruh kota. Berbulan-bulan sudah kota itu tak berwarna selain hanya kelam seperti kisah masa lalu yang putih dan hitam penuh bayang-bayang kesedihan. Berbulan-bulan sudah kota itu lumpuh akibat erupsi gunung berapi yang berkali-kali meletus dan menyemburkan awan Wedhus Gembel dan memuntahkan abu yang tiada henti menghalangi masuknya sinar mentari. Sedemikian parah bencana itu hingga membuat aktivitas di seluruh kota terganggu. Debu-debu di jalanan setebal 5 senti menjadi becek oleh hujan, pasar-pasar sudah lama tutup total, bencana kelaparan mulai menjadi-jadi, wabah penyakit berdatangan, segala kebahagiaan terhisap dalam kehampaan dan tidak sedikit korban telah dilaporkan meninggal. Pendek kata kota itu menjadi seperti bumi Mordor, dengan Ereth Gorgoroth-nya yang menghampar tak berbatas dan tak bertepi. Hanya tarian dedaunan itulah yang hidup, tarian dedaunan itu seperti dua Hobbit kecil merangkak di negeri Mordor, sebuah harapan untuk bangkit dari kegelapan.

Namun, meski kegelapan telah menghampar sejauh mata memandang hingga hanya kabur dan bayang-bayang yang terlihat dan menjadi tak terlihat sama sekali semua gambar-gambar di baliknya. Meski karena kota itu menjadi semengerikan Silent Hill, mengisap seluruh semangat yang dulu pernah membara, menebarkan rasa putus asa yang sangat dalam, dan selalu mengingatkan pada bumi yang seluruhnya adalah surga yang kosong dan membuat penduduknya seperti Zombie. Tak menghalangi bagi seorang laki-laki untuk lahir dan menjadi seorang pemimpi. Yang kilat matanya selalu menyemburatkan cahaya lilin yang kemudian berkobar dan siap membukakan diri dari tirai-tirai gelap hatinya.

Angin, nama laki-laki itu, seorang yang berkharisma. Aku berkenalan dengannya tepat tahun lalu di sebuah kedai kopi.

*Bersambung


Re-edit cerpen yang ditulis tahun 2010. Cerpen yang cukup panjang dan sengaja dipartisi menjadi banyak bagian supaya bisa menemukan feel nya lagi seperti ketika dulu menuliskannya. Dan untuk memberikan nuansa flash cerpen sehingga mudah ditemukan benang merahnya dan mempermudah dalam penyusunan menjadi pecahan yang lebih utuh.

Advertisements

One thought on “Dari Sebuah Kedai Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s