Kemanusiaan Yang Memudar

Hallo Amigos! Aku sangat menyesal telah begitu lama tidak menyapamu. Aku sangat menyesal tidak menyempatkan diriku sendiri untuk menuangkan hal-hal kecil yang melintas dalam imajinasiku dan membagi pada dunia kedua ini. Sungguh aku sangat menyesal! Tetapi betapapun besar sesalku ini akan menjadi tidak berarti jika pada akhirnya tidak aku temui akhir dari penyesalanku.

Orang-orang mengatakan bahwa selukis indah masih mampu tercipta bahkan ketika matahari telah menjadi senja. Senja mampu mengembalikan mereka, robor-robot kehidupan, kepada keluarganya; mengembalikan burung-burung kepada sarangnya; mengembalikan jiwa yang lelah pada kesempatan yang lebih baik untuk esok yang akan tiba. Namun, tidak bagiku. Senja yang sama, masih tetap luka yang sama. Senja tidak mengembalikan diriku pada kemanusiaanku yang semakin memudar. Sebagaimana aku masih terjebak pada pencarianku. Aku yang masih belum menemukan arti pulang meski kakiku telah menapak pada lantai-lantai di seluruh rumah. Aku masih belum merasakan pulang meski jemariku telah menyentuh dedaunan dari tanaman-tanaman yang tumbuh di halaman, yang senantiasa tercium dingin rerumputan sekalipun telah menjadi kelabu. Aku masih gamang dengan aroma pulang meski paru-paruku telah penuh dengan manis dan sedapanya aneka masakan di dapur tempat pelipur lara itu.

Seharusnya hanya segelas kopi yang terhidangkan sementara aku menceritakan kisah-kisah pengembaraanku dan menemani dunia yang sepi ini dengan semua cerita apa saja yang mampu memninggalkan jejak agar ku kenangkan. Seharusnya sedikit saja tertulis sedihku ketika Chester Bennington, seseorang yang telah menulis banyak hal dan memperkaya masa mudaku, dilaporkan mengakhiri hidupnya. Mungkin aku bisa berbagi rasa yang sama dengannya ketika, tidak menemukan rumah sementara senja memudarkan kemanusiaanku yang semakin merenta.

Amigos! Tanpamu, aku telah menjadi mesin yang membosankan. Hanya ketika aku bermain dengan tempat dengan pola-pola rumit dalam sebuah jejak sederhana inilah aku merasa menjadi manusia. Satu garis yang menyimpang dari pola yang seharusnya urutdan runtut inilah yang justru membuatku menyadari bahwa aku bukanlah mesin, meski harus kuakui jika kemanusiaanku semakin memudar.

Kemanusiaan Yang Memudar
© Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s