Kopi Fisika

Hai! Kopi apa yang kamu minum hari ini? Grade berapa? Disajikan dengan metode apa?

Hah pertanyaan macam mana pula ini? Kopi apa yang aku minum hari ini? Apa kopi memang harus punya nama-nama, ya? tidak bisakah jika aku hanya menyebutkan kopi saja? tidak bisakah jika aku bilang aku sudah minum kopi hari ini, 6 gelas, kalau kamu mau tahu. Tidak bisakah begitu saja? Walah untuk peminum kopi macam aku ini, menurutmu penting membicarakan grade dan metode? Minum kopi ya minum kopi saja.

Aku punya cerita, suatu hari, well… suatu hari seperti yang kamu duga, aku pergi ke sebuah kafe yang sangat modis bersama sahabat-sahabatku untuk menikmati, well, sajian kopi yang katanya sangat berkelas. Kafe itu sangat indah, dari luar sudah kelihatan sekali, desainnya mewah. Kaca-kaca bening yang tebal, berukuran besar dan tentunya bersih telah menjelaskan semuanya. Di situ terdapat meja dengan kursi-kursi yang berpasangan, terbuat dari kayu jati, ku kira, dipoles dengan plitur hingga mengkilat dan bercahaya oleh sinar mentari senja. Sudah banyak sekali pengunjung di sana, seandainya saja kami sedikit terlambat, kami tidak akan menempati tempat duduk yang paling nyaman itu. Tempat duduk berlatar sawah padi yang menghampar luas, sedang mentari senja tengah masuk ke dalam peraduannya untuk merapatkan dirinya yang lelah ke dalam pelukan sang malam.

IMG_20170921_165408.jpg

Begitu kami masuk, kami langsung berhadapan dengan meja pemesanan yang elegan, langsung disambut dengan senyum yang menawan. Hal yang paling menarik… terdapat banyak kopi dalam toples-toples (gelas jar) yang tersusun rapi dan sejajar. Sejenak aku terpana, ternyata ada banyak nama-nama di situ dan aku bingung mau minum kopi apa? Ada Gayo, Mandailing, Kintamani, Lombok, Java.. wah banyak sekali macamnya. Temanku pesan satu cangkir Kopi Gayo dengan French Kiss! Aku gak yakin mengapa temanku memilih itu dan aku pun turut ingin memesan kopi itu juga.

“Yang lain lah… jangan sama.” Ujar temenku dengan nada mencibir.

“Wah aku harus pesen apa ini?”

Yo sakarepmu, tapi ra keno podo!” Ia mengambil toples yang berisi Kopi Gayo itu dari tanganku. Aku pura-pura berpikir sambil menghirup green bean itu satu persatu. Baunya memang beda dengan kopi-kopi yang selama ini ku temui.

“Mandeling, Mbak. Satu” Kataku. Mbaknya tertawa. Karena heran, apa begitu lucu mengapa dia tertawa, aku kemudian mengambil toples yang ku maksud dan mengejanya lagi. Oh ternyata aku salah mengucap namanya.

Kami akhirnya memesan tiga gelas kopi dan segelas Es Jeruk! Iya ES Jeruk… satu temenku tidak doyan kopi dan gak ngerti harus belajar ngopi dari mana, makanya dia pesen Es Jeruk aja. Aku pikir lucu juga. Dan Kopi yang ketiga… ah lupa namanya, pesen kopi apa ya? Apa Java ya? Ah pokoknya aku lupa, yang aku ingat… 3 Gelas Kopi dan Segelas Es Jeruk itu harganya… 90 Ribu! Buseeet kopi apaan ini kok harganya seperti sudah menjajikan surga yang telah dirindukan. Menjanjikan Cyntia Bella di pelupuk mata.

Kami kemudian pergi menuju tempat di pinggir sawah itu, di bawah temaram senja sambil kangen-kangenan dan bergosip! Iya bergosip macem emak-emak rempong lupa belanja… Sepertinya dunia memang sedang terbalik seperti yang diucapkan temenku ketika bahas satu sinetron yang belum pernah aku tonton itu. Yang katanya, dari ceritanya yang kudengar, dunia sudah berubah… yang kerja si istri jadi TKI dan si suami kerjaannya bergosip selama menunggu kiriman tiba. Tapi keadaan itu, menghabiskan waktu, aku lewati dengan senang-senang saja, melupakan semua penat yang berminggu-minggu membebani relung pikirku, sambil berharap aku akan minum kopi yang sangat enak, berharap kopi paling enak di dunia.

Setelah menunggu lama, kopi pun tiba.

IMG_20170921_163132.jpg

Aku deg-deg-an, macam perawan yang di dekati lelaki cinta pertamanya, ketika menuangkan kopi itu kedalam gelas-gelas kristal yang cantik. Kopi macam manakah yang aku minum ini? Sebelum ku sruput, aku coba menghirupnya dengan perlahan, menikmati sensasi seperti para profesional –Edan pikirku, macam mana pula, mengapa aku harus akting begini? apa hidup memang harus palsu seperti ini ya?– Sruuuuuuuuuuup!! Kopi panas itu aku sruput.

Aku tertegun.

Diam.

Hening.

Sruuuuuuuuup! Aku seruput sekali lagi.

Aku berpikir apa yang salah dengan kopi ini? Apa yang salah dengan aku?

Aku menegakkan badan, bersandar pada punggung kursi. Melirik ke arah teman-temanku. Memandang senja yang tengah jatuh dalam merah jingga, langit menjadi ungu. Apa yang salah? begitu pikirku. Di hadapanku, sahabat-sahabat yang paling riang yang ku miliki, yang tak pernah menampakkan raut yang palsu, tenang-tenang saja. Wajahnya berseri-seri, kadang tersenyum dan tertawa. Mereka melanjutkan pesta minum kopi itu. Tetapi aku, terdiam di sudut dunia. Aku teransingkan dari duni ini. Aku sendirian di antara jutaan manusia.

Aku mencoba merenungkannya? Apa yang salah?

Jika aku harus percaya pada kekuatan rerata yang dibentuk oleh normalitas sehingga orang-orang yang berada pada sebaran yang jauh dari puncak lonceng kurva akan dianggap sebagai orang yang terbelakang, maka sesungguhnya aku sedang menghadapi kenyataan itu. Dan aku bukan jenis manusia yang mau diajak kompromi soal cita rasa, soal ideologi dan soal idealisme. Kemudian aku menyadari dengan rerata yang pada akhirnya dibentuk oleh orang-orang yang selamnaya akan bersebrangan dengan idealisme yang ku percayai, aku akan tergerus dan akan semakin terasingkan oleh peradaban.

IMG_20170921_163138.jpgKopi apa yang aku minum hari ini? Grade berapa? Disajikan dengan metode apa? Aku sulit percaya istilah-istilah ini telah membentuk rerata dan kategori baru dalam kamus-kamus normalitas dan semakin mengkerdilkan aku dalam dunia yang bertambah luas saja setiap detiknya.

Jadi apa kopi yang aku minum hari ini?

KOPI FISIKA!

IMG_20171001_120456_HDR.jpg

Hari ini aku membuat kopi dengan mengamati hukum gravitasi dan hukum pascal. Hukum pascal mengatakan, bahwa air akan merambat melalui celah-celah yang kecil, air akan memancar ke segala arah ke dalam ruang-ruang yang bebas, air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dan gravitasi menyebabkan segala benda akan jatuh sebanding dengan massa dan percepatannya. Beginilah aku membuat kopi itu, Kopi Fisika. Dari Kopi merah yang dipetik sendiri dari kebun, kopi pilihan. Di sangrai di tempat tetangga dengan menggunkan open sampai berwarna coklat. Di giling dengan mesin tepung dan inilah KOPI FISIKA. Sebab bagi penikmat kopi sepertiku, peduli setan, itu kopi macam apa, grade berapa dan disajikan dengan cara apa. Peduli setan! Bagiku sangat sederhana, ketika kopi memberimu kekuatan dan kepuasaan hingga mengalirlah nuansa-nuansa ilham, itulah sebenar-benar kopi yang aku butuhkan! APAPUN KOPIMU SELAMAT HARI KOPI INTERNASIONAL!!!

Kopi Fisika (C) Andy Riyan

10 Comments Add yours

  1. momo taro says:

    Zaman now ngomongin kopi udah kaya apa aja 😆😆😆

    Aku nggak bisa minum kopi, sayang sekali 🙄

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Iya! Makanya itu, Mbak, aku hampir gila dengan trend ini. Perasaan dulu ngopi gak seheboh ini. Dan untuk orang-orang yang suka menikmati kopi secara konvensional dan tradisional sepertiku, mendadak tersisihkan gegara istilah itu. Palsu dah… Pemuda zaman now ini, kebanyakan gaya.

      Ah minum tinggal minum aja kok, Mbak.

      Eh, Mbak sudah lama sekali gak saling sapa. Salah situ sih blog barunya sulit dikomentarin. Ngapain pakai dot com segala! Ho!

      Like

      1. momo taro says:

        Wqwq… tinggal di buka di web saja. Emang sih blogku dikatain mulu nggak ramah fans. 😥😥😥

        Nggak bisa Ndi, aku maag akut soalnya. 😫😫😫

        Like

  2. BigBangJoe says:

    setuju. kadang orang (yang katanya penikmat kopi) punya ketakutan tersendiri kalo ga ngerti istilah2 itu. aku sendiri cukup bahagia bahkan jika hanya bisa minum kopi sachet, dan aku sendiri ga pernah tau nama2 kopi. Bagiku, selama kopi itu bikin bahagia, itulah kopi. dan aku menikmatinya.

    kadang aku mikir, sebenarnya orang itu mau menikmati kopi atau menikmati pujian dari orang lain yang menganggap dia itu keren sih?

    Like

    1. jejakandi says:

      Aku kurang tahu kalau itu, Bang. Tapi kalau kopi sachet dengan kopi asli, kalau aku, jelas beda, Bang. Karena kadang aku gak suka banyak gula.

      Jadi menurutku, bagi orang-orang tertentu semua kopi punya cita rasa sendiri, lebih pekat lah lebih asam lah. Tapi yang aku gak ngerti itu pada orang yang ikut-ikutan… Harus ngopi ini dengan cara ini… Wah itu yang seribu kali aku mikir tetep gak paham. Demam kopi baru-baru ini kan?

      Liked by 1 person

  3. Yanti says:

    Kayaknya jaman now orang pergi buat makan atau minum..bayar mahal..itu buat bayar sensasi , metode dan judul dari sesuguhnya itu…

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Kadang berpikir kearah situ juga, tapi… Setiap manusia punya pandangan mereka. Tidak tertarik untuk menghakimi. 🙂

      Like

  4. ini baru minum kopi dr pada kopi kopi sachetan kae

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Hehe iya, tapi aku juga sangat berterima kasih lho sama pabrik pembuat kopi sachet… Ah!

      Eh, Pak. Blog mu saya klik kok sekarang empty post eh..

      Like

      1. empity pos piyee loo?.

        iso di bukak kok

        Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.