Bagaimana Kamu Ingin Mengisi Hari-harimu?

Bagaimana kamu ingin mengisi hari-harimu? Sebuah pertanyaan yang mengejutkan. Pertanyaan yang kuajukan sendiri untuk diri-sendiri, yang tak tahu darimana datangnya dan mengapa datang. Kalimat tanya absurd yang sebelumya tak pernah kutanyakan baik kepada diriku sendiri ataupun kepada orang lain. Pertanyaan yang belum kujawab, belum tahu arah jawaban dan pertanyaan yang belum kudapat jawabannya dari orang lain. Bagaimana orang lain akan mengatakan ini kepadamu? Sementara kamu tak pernah menanyakan hal ini kepada mereka. Bagaimana orang akan menceritakannya? Sementara kamu sama sekali tidak antusias dan sedang tak peka dengan semua hal yang sedang terjadi sekarang?

Jika demikian, bagaimana kamu ingin mengisi hari-harimu?

Terkejut! Ya terkejut demi terjebak dengan pertanyaan yang sesungguhnya mudah ini. Pertanyaan yang sebetulnya bisa kuajukan untuk siapa saja… namun tak mampu kuajaukan untuk seorang saja… aku, akhir-akhir ini tak pernah menayakan apa-apa kepada orang lain di sekitarku. Tidak menyakan kabar, tidak menyakan sedang ada masalah apa sekarang, tidak menyakan bagaimana suasana hari ini, tidak menyakan APAPUN! Oh damn! Now I’m growing in the selfish way! Aku bahkan tidak menyakan bagaimana rasanya sambal tomat yang kita makan akhir-akhir ini!—tentu saja sambal itu pedes, oh piye sih?– Oh it’s not the nicest attitude, being careless… being very introvert person. What?! Ah ya.

Ketika menulis hal ini, penulis menyadarinya sekarang… sekarang aku cenderung introvert. Entahlah mengapa sekarang cenderung nyaman sendirian di alam bebas, cenderung nyaman bekerja sendirian atau lebih ingin mengerjakan apapun sendirian daripada harus bekerja dengan tim. Lebih nyaman menyelesaikan projek tanpa diganggu siapapun, tanpa ada yang meng-interupsi atau mengajak bicara tentang… tentang apapun. Tak ingin membicarakan apapun. Sungguh ini sangat bertolak belakang dengan sifat alamiah penulis selama ini. Sungguh! Ini bukan diriku!

Dulu, aku mungkin orang yang paling senang berjumpa dengan orang-orang baru, paling senang membicarakan segala hal… apapun topiknya. Dulu aku paling suka memberi referensi dari apapun yang sudah kubaca dan paling senang memberikan sebuah pokok masalah yang kemudian berkembang menjadi beberapa sub masalah dan terjadilah kusir endless-debate yang cukup seru. Dulu aku adalah orang pertama yang dengan senang hati akan menjadi tokoh oposisi dalam percakapan, entah sebenarnya aku sepakat atau tidak dengan opini yang sedang berkembang. Dulu aku adalah orang yang selalu ingin berperan menjadi sisi kontra untuk membuat dialektika berjalan dua arah. Dulu aku adalah orang yang paling senang mempermainkan logika, membolak-balikkan fakta dan mengukur segala kemungkinan agar terlihat gila.

Dulu yang kumaksud ini… entah kapan. Rasanya sudah lama sekali tidak mendapati diriku dalam suasana itu, dalam peran itu dan dalam emosi itu. Rasanya sudah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang aku mendapati diriku menahan amarah ketika terusik sedikit saja. Aku sekarang benar-benar sensitif. Arghhhh! Ini bukan diriku!

Apakah karena ini bulan Desember? Memangnya kenapa kalau bulan Desember… ada alasan yang logis, gitu? Ataukah karena musim hujan? Musim manapun tidak pernah menghalangiku untuk melakukan atau memposisikan diri dalam suasana yang aku mau, kan? Ataukah makanan yang kutelan mengandung bayak pengawet, tidak aku selalu berhati-hati memilih makanan, itu tidak mungkin. Lalu karena apa? Lihat alaminya aku harus menegasikan semua pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang tepat, bukan?

Tapi bagaimana kamu ingin mengisi hari-harimu? Harus me-negasi-kan dulu kah? Misalnya… aku tidak ingin melakukan apapun yang akan kusesali? Aku tidak ingin mengecewakan semua orang yang berada di sekitarku? Aku tidak ingin membuat orang-orang merasa tidak betah hidup mengorbit bersamaku? Aku manusia dengan segala khilafku… aku tak mungkin mampu menyenangkan hati semua orang. Aku manusia dengan segala khilafku tak mampu membuat semua rencana berjalan sesuai kehendakku.

Lalu bagaimana rencanamu untuk mengisi hari-harimu, kalau begitu?

Rencana? Ah rencana… Aku ingin merencanakan sesuatu. Aku ingin melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupku. Apa itu? Pertanyaan apalagi ini. Apakah aku telah menjadi pengembara yang tersesat sekarang?

Hemmmm terakhir kali aku punya rencana adalah untuk menghabiskan waktu bersama dengan ayahku. Kapan itu? Sudah lama sekali, awal bulan Juli, mungkin, tapi sampai hari ini aku belum mendapatkannya. Dulu kami berencana untuk membeli pipa pralon dan kabel kuningan, kemudian akan menghabiskan waktu seharian untuk memperbaiki seluruh intalasi listrik di rumah; mengganti semua kabel lawas—yang sudah terpasang sejak tahun 1996—, yakin aku ingat betul kabel ini usianya setua itu. Ah kapan aku bisa melakukan ini? Aku selalu memiliki hal-hal yang bagus dengan ayahku. Dan dengan ibuku aku selalu—setidaknya sampai sebelum kekacauan ini terjadi padaku—memiliki dialog yang indah. OHH!!!

Oh ya sekarang hari ibu, ya?!

Apa yang bisa dilakukan di hari ibu?!

Membuat puisi? Menulis lagu? Memasak untuk ibu? Mengucapkan selamat? Damn! Ini konyol sekali.

Bagaimana kamu ingin mengisi hari-harimu?

Aku harus membebaskan diriku dan memiliki imajinasi sepenuhnya, atau mengubur imajinasi yang nanggung itu lalu keluar mencari tantangan, berkumpul lagi dengan semua orang, membebaskan diri dalam kerumunan orang-orang baru dan menceburkan diri dalam keramaian, terlibat di sana, aktif, ekspresif dan melupakan semua pertanyaan yang menganggu pikiran. Membunuh sepi yang menggerogoti hati, membelanjakan uang dengan transaksi tawar menawar yang lebih sengit—aku jarang menawar— apakah harus kucoba? Mungkin pula aku hanya harus berhenti memikirkan keadaanku sendiri seperti yang sudah-sudah kujalani, mengorbankan hidup untuk apa saja yang aku sukai, yang tidak dan yang tak tentu.

Aku mungkin masih sungkan untuk menanyakan pertanyaan ini kepada orang-orang di sekitarku, mungkin Amigos yang kebetulan mampir punya ide yang bisa dilakukan untuk mengisi hari-hari menjadi lebih menyenangkan, penulis akan sangat senang untuk mengetahuinya. Bagaimana kamu ingin mengisi hari-harimu? Tinggalkan komentarnya ya.

quote-if-you-don-t-fill-your-days-with-love-you-are-wasting-your-life-james-broughton-3-75-351
Sumber gambar AzQuotes di sini

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.