Monolog Rasa : Merancang Kesangsian

IMG_20180126_084528

Aku menjadi suamimu, dan kamu menjadi istri yang mencintaiku dengan tulus dan apa adanya, adalah angan yang paling jauh sekarang. Karena tidak mungkin bagi dua manusia yang berada di ujung masing-masing kutub dengan jarak terjauh itu untuk menjadi satu bangunan dalam rumah tangga.

Sebab ada jarak yang tak bisa dilipat sedemikian sehingga begitu rapat dan saling memeluk satu sama lain dengan cinta. Aku yang tak pernah berani merangkul pundakmu dan mengajakmu membaca sebuah kisah yang membentang di cakrawala. Dan kamu dengan segala keterusterangannya mengungkap rasa tidak suka pada semua yang melekat bersama ragaku hingga nurani dan ketulusanku dalam semua kata-kata pun akan kau campakkan, tak menyisakan satupun bahasa yang akan membuat mu menarik semua kebencian yang telah kau alamatkan untukku.

Tidak ada satu rahasia yang terjadi pada manusia yang secara kebetulan akan mempertemukan mereka dengan yang lainnya. Dan sudah tidak lagi menjadi rahasia bahwa semesta tak akan berkonspirasi untuk menyatukan kita. Jauhnya jarak dan ketidakmungkinan pada waktu untuk kebetulan saling membutuhkan adalah hal yang paling jelas yang kita miliki.

Sebab, sekali lagi maaf, aku tidak percaya kebetulan.

Walau terkadang aku menyadarinya, kamu pun tidak pernah terlambat untuk menyadarinya, bahwa terdapat banyak kesamaan antara aku dan dirimu. Tetapi semakin banyak kesamaan itulah kamu akan semakin tidak menyukainya. Sebab kamu akan terus melihat hantu dalam dirimu setiap bertatapan dengan sosok yang mewujud dalam diriku.

Aku tak pernah lari dari siapapun, aku tak pernah lari darimu. Aku tak pernah sembunyi dari siapapun, aku tak pernah sembunyi darimu. Ada terlalu banyak langkah-langkah yang cepat, tentu mudah untuk menangkapku. Ada banyak mata yang melihat tuk menjadi saksi, bahwa jatuh cinta padamu adalah hal yang paling sia-sia.

Terakhir kali kita melangkah menapaki jalan yang sama, aku terus menjaga jarak, tujuh atau sepuluh langkah di belakangmu. Aku mengunci mulutku tuk tak bersuara, sebab terlalu agung keindahan yang menghampar di depan mata kita untuk dirusak oleh dua manusia yang tak pernah berdamai. Dua orang yang sama-sama gengsi, satu sisi gengsi untuk mengakui kekalahan sisi yang lainnya gengsi untuk menyatakan bahwa tidak ada alasan yang paling masuk akal kenapa membenci.

Dan tahu kenapa monolog rasa masih merancang kesangsian pada manusia yang sangsi, bahwa aku menjadi suami dan kamu menjadi istri yang mencintaiku dengan tulus adalah angan yang paling jauh? Satu sama lain belum pernah lagi bertemu.

PS: Picture, Pixabay

Monolog Rasa : Merancang Kesangsian

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.