Sebuah Prosa : Sayap Sang Waktu

“Jatuh cinta padanya? Oh tidak!” katamu pada sahabatku ketika kau ditanya perihal tentangku.

Sahabatku itu pun melanjutkannya, menirukan kata-katamu, lengkap dengan ekspresi marah dan semua gerak tubuhmu : “Perlu hati yang telah hancur berkeping-keping, untuk dapat jatuh cinta padanya, perlu tangis yang telah habis untuk dapat memahaminya, perlu ruangan yang telah meledak dalam semestaku agar dia mampu masuk kedalam hatiku.”

Itu adalah sebuah cuplikan obrolan yang terjadi di sela-sela istirahat makan siang, ketika aku menemukan fotomu bebrapa tahun yang lalu dan membicarakannya dengan sahabatku. Bajingan! Sahabatku itu memang sungguh bajingan, ia selalu tahu cara mengolok-olok diriku.

Tentang fotomu itu, aku hanya ingin membayangkan betapa bagus pemandangan itu. Sebuah landskap yang luas. Bagai permadani lautan zamrud, menghampar di depan mata. Tetapi hal terindahya adalah senyumanmu yang terlukis itu begitu tulus menatap padaku. Entah sebetulnya senyum tulus itu menatap siapa, yang jelas itu adalah senyuman di depan kamera, dan aku bukan tukang-foto-nya.

Pernah kau bercerita–walau aku tak pernah tahu—,sebetulnya kepada siapa kau bercerita, betapa kau sungguh menyukai nyanyian hujan. Pernah kau menceritakannya bahwa kau merindukan angin pujaan yang berhembus bersama butiran-butiran bening itu, sementara aku adalah pembaca dari kesunyian. Perlahan aku menelusup di antara lembaran-lembaran dalam kehidupanmu dan kemudian menyadari bahwasannya kau adalah perindu yang kesepian di tengah orang-orang yang mengintarimu. Kau adalah matahari dengan sembilan planet lainnya yang mengintarimu, tapi kau merindukan cerita tentang bintang yang lama telah kau cari.

Kau tahu, bintang yang telah mengalami supernova itu telah mati dan menjadi lubang hitam? Aku berharap kau mulai merasakan letihnya menunggu angin pujaan, sebab angin laut masih berhembus dan kau akan merasakannya hanya di bibir pantai. Kau tidak akan merasakannya di gunung. Atau di tengah ilalang. Bagaimana aku tahu? Kau tak melihatnya? Aku berada di tengah ilalang sekarang, di sebuah negeri yang terlupakan, negeri tempatku besar di tengah pergaulan.

Well, sebagai pembaca dari kesunyian yang terlalu lama menelusup dalam lembaran kehidupanmu… kuharapkan, sekali lagi, sayap-sayap patahmu tersembuhkan dan menerbangkanmu mencapai mimpi yang telah kau cita-citakan sejak dulu. Dan biarkan jemariku menjadi sayap sang waktu, di pagi yang dingin ini aku berdo’a untuk kesembuhan cintamu.

Sebuah Prosa : Sayap Sang Waktu

Andy Riyan

Note: ‘Sayap Sang Waktu’ sebetulnya adalah judul puisi yang aku gubah di hari kemarin. Puisinya masih di simpan, menunggu saat yang tepat. Hemmmm

-Feauture image by : meditainment.com

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.